Chuzuru seorang wanita cantik di Negeri Sakura, dan selalu membawa pedang Katana Hitam pekat, kemanapun dia pergi. Selain cantik, dia pegang nama besar keluarganya, yang bernama Handoyo, sebagai Samurai Sejati di Tokyo, jelas sangat di hormati banyak orang, bahkan termasuk Kaisar Negeri tersebut, tidak luput dapat hormat darinya. Selain itu, dia sudah bertunangan orang hebat, bahkan kadang-kadang dijuluki pasangan serasi. Akan tetapi hidupnya langsung berubah, saat dirinya melabrak seorang pria pekerja kasar, memukul pantatnya, tanpa pikir panjang, siapa pria yang melecehkan dirinya, ia langsung menyerahkan pihak kepolisian, agar dia di penjara. Hal inilah membuat Kota Tokyo terancam bahaya, oleh pria pekerja kasar, membuat dirinya harus menikah orang tersebut, dan segera memutuskan tunangan yang dia cintai, karena betapa bahaya pria pekerja kasar itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uwakmu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Alat komunikasi
"Baiklah... Sesuai janjiku, aku akan kabulkan permintaan mu." Ucapan Pak Abe, yang begitu tulus.
Akan tetapi, ada ingin membantahnya, dan merupakan salah satu bawahan Pak Abe, di sela pembicaraan Pak Abe dan Tio, dia pun berkata dengan keras. "Pak Kepala... Tidak seharusnya anda menuruti keinginannya, bisa saja, ini jebakan!"
Pak Abe tidak suka dengan ucapan itu, seketika dia marah besar kepadanya. "Kalau begitu... Kalahkan dia, dan segera jebloskan dia ke Penjara, dengan kekuatan mu! Dan jangan bicara omong kosong di sana!"
Sehingga bawahan Kepala Penjaga, yang ngomong tadi, seketika dia langsung terdiam, sekaligus tak tahu, harus berkata apa? Karena sadar betul, atas kekuatan dia sendiri, dan mustahil buat dia, bisa menang dari Tio, dalam hal kekuatan.
Karena diamnya itu, Pak Abe berkata keras. "Tidak bisa kan! Makanya jangan asal bicara!"
Seketika itu juga, Pak Abe pun tersenyum kepada Tio, sambil berkata. "Seperti yang kamu lihat, semua orang yang ada di sini, sangat tidak menyukaimu, maka... Dengan mohon sangat, permintaan yang akan kamu ajukan, setidaknya tidak melebihi batas kemampuan ku kan."
"Tenang saja, aku tidak akan minta aneh-aneh, apalagi meminta menghidupkan orang yang sudah meninggal dunia, itu sungguh mustahil kan." Balasan Tio, sambil menepuk-nepuk, bahu Pak Abe, dengan ketawa kerasnya, sehingga Pak Abe hanya bisa ketawa terpaksa.
"Mungkin itu, salah satu contohnya, baiklah... Kamu minta apa? Pak Tio." Ujar Pak Abe, dan berharap dia tidak minta untuk bebaskan dirinya, kalau dia tetap ajukan itu, nama Asosiasi Hunter Jepang, akan jelek di depan publik, saat itu terjadi, dia tidak tahu harus berbuat apa?
"Bolehkah aku menghubungi seseorang, itu kan nggak pelanggaran kan." Permohonan Tio, dengan wajah murah senyum.
"Kalau soal itu, akan aku kabulkan, tenang saja." Balasan Pak Abe, hatinya merasa lega, karena Tio tidak minta yang aneh-aneh.
"Kalau begitu... Mana handphonenya Pak Abe, aku butuh sekarang." Desak Tio, seolah-olah dia sangat butuh itu.
"Boleh aku tahu, kamu ingin menghubungi siapa?" Tanya Pak Abe, sekaligus ingin tahu, siapa yang di hubungi Tio?
"Kamu akan tahu nantinya." Tanggapan Tio, lagipula cepat atau lambat, mereka akan tahu, jadi tidak boleh beritahu kan sekarang, untuk sementara waktu, anggap ini rahasia.
"Coba aku tebak, kamu ingin nelpon ke luar negeri kan, apakah kamu tidak takut? Pembicaraan anda, dengan si sebrang jauh, di ketahui Asosiasi Hunter Jepang." Ungkapan Pak Abe, dan mereka berdua menuju ke ruangan kantornya.
mendengar ungkapan tebakan itu, membuat mata Tio tak percaya. "Orang ini sungguh pintar menebaknya!" Batin Tio, yang begitu kagum dengan Pak Abe.
Di tambah lagi Pak Abe, memperingati Tio tentang, rahasia pembicaraan, pada saat dia menelepon nantinya, dia tidak nyangka, Pak Abe begitu sangat peduli terhadapnya, dan menurut baginya tidak akan ada masalah, kalau semua orang tahu. "Kamu sungguh pintar mengetahui ya, lagipula pembicaraan aku dengan si dia, tidak akan menjadi masalah, kata Ibuku, tidak perlu rahasia-rahasia segala, akan aku tanggung semuanya."
Mendengar perkataan Ibu, dari mulut Tio, dia semakin penasaran, tampang dan suaranya seperti apa? Apakah layak di pihak manusia? Dan bagaimana dia bisa hidup, di tengah-tengah manusia yang begitu benci padanya.
"Baiklah... Aku mengerti, jangan menyesal nantinya." Tanggapan Pak Abe, sehingga langkah mereka di percepat, seolah-olah, dia tidak ingin ketinggalan Informasi penting, dan membuat atasannya semakin tak percaya, apa yang dia dapat nanti.
Setelah sampai di kantor, dan segera memasuki ruangan ya, Pak Abe berkata. "Silahkan gunakan telepon kantor ku."
Melihat teleponnya, Tio sedikit terkejut, handphone tersebut begitu sangat kuno, dan modern, sehingga tidak tahu cara menggunakan alat komunikasi itu. "Pak Abe, cara pakainya gimana?" Tanyanya.
Pak Abe mendengar itu, justru ketawa, dengan santainya dia pun berkata. "Dasar anak zaman sekarang, sungguh tidak tahu gunakan telepon kuno."
Gimana tidak kuno coba? Teleponnya, masih gunakan kabel, dan butuh antena, untuk gunakan ya, berbeda dengan hp gadget, yang sering di pakai oleh Tio, alat komunikasi ini, benar-benar ketinggalan zaman, dan sungguh tidak praktis.
"Emangnya bisa di pakai" itulah pertanyaan yang dipikirkan oleh Tio, belum lagi, kalau pakai alat komunikasi itu, bisa di katakan, pembicaraan Tio dengan si sebrang, dapat diketahui siapapun, dan sulit untuk di rahasia kan.
"Aku emang tidak tahu, atau... Apakah kamu sengaja menyuruhku pakai alat komunikasi ini." Ungkapan Tio, yang tak percaya, dan dia pikir, ia akan pakai hp gadget yang sering digunakan olehnya, dan kemungkinan sudah di sadap, oleh Asosiasi Hunter Jepang.
"Apakah kamu menyesali ya? Anak mudah, Padahal... Aku berusaha memperingati mu, kamu malah menerimanya, aneh sekali, kalau kamu berubah pikiran." Ejekan Pak Abe, dan berusaha membujuk Tio, untuk menggunakan alat komunikasi tersebut.
"Itu artinya, aku bisa gunakan hp gadget ku, tapi kamu berusaha mencegahnya, sayangnya kamu kurang pintar, aku sudah tahu trik mu, dimana handphone ku?" Tegas Tio.
"Kamu sungguh berubah pikiran." Ujar Pak Abe tak percaya, bahwa Tio, emang tidak gampang ketipu.
"Kalau emang bisa di rahasiakan, kenapa harus buka rahasia segala? Itukan aneh." Ungkapan Tio yang sedikit pintar.
"Kamu...." Ucapan Pak Abe tak percaya, tapi mulutnya terkunci, karena tak tahu merangkai kata, pada akhirnya, dia harus mengalah. "Baiklah... Baiklah... Kamu menang, tunggu di sini, aku akan ambil hp gadget mu." Sambungnya, dengan berat hati, dia melangkah keluar, untuk mengambil hp gadget Tio.
Beberapa saat kemudian, Pak Abe, kembali lagi, dengan hp gadget Tio, yang sudah di sadap.
Walaupun begitu, Tio tetap menerimanya, akan tetapi pada saat Tio ingin menggunakan hp gadget miliknya, dia menggunakan kekuatan tujuh emosi dosa besar, yaitu Kekikiran.
Atau bahasa kerennya, kamu sungguh pelit, dan tidak mau berbagi, dengan adanya emosi tersebut, dia menolak adanya alat sadap, sehingga alat sadap itu rusak, karena orangnya begitu pelit, untuk berbagi informasi, sehingga apa yang dibicarakan Tio dengan si sebrang telepon? Dapat di rahasiakan.
nggak selain itu, kalau Tio keracunan, tubuhnya menolak untuk berbagi, adanya benda asing, sehingga racunnya akan lenyap seketika, dan membuat tubuh Tio, akan sehat selalu.
Itupun di latih, sering makanan-makanan beracun, terkadang di pasang bom di tubuhnya, atau di sadap di kantong celananya, agar tubuhnya selalu menolak berbagi bahaya, makanya keselamatannya terus terjamin.
Asal kamu tahu, saat melatih Kekikiran, Tio tidak merasakan apapun, dan dia terus bersikap biasa aja tuh, sehingga dirinya sering menjadi kelinci percobaan dari Ibunya.
"Halo Ibu... apa kabar?" Tanya Tio, yang sudah terhubung oleh Ibunya.