Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan
"Keluar!" sosok Selir berbentuk Siluman Ular Kobra sedang membawa sebuah tombak Trisula dengan mata memerah dan intimidasi.
Semua para tahanan keluar dengan wajah ketakutan. Terlihat Axel dengan ususnya yang terburai ikut berdiri dibagian belakang dengan membawa sebuah cambuk.
"Kau awasi mereka, dan cambuk jika ada yang mencoba melawan!" ucap sosok Siluman Kobra tersebut.
Axel menganggukkan kepalanya, dan membuat ia merasa besar kepala, karena diberi jabatan sebagai pengawas pekerja.
Nathan yang ikut dalam rombongan tersebut terpaksa patuh dengan apa yang diperintahkan.
"Ayo, cepat!" teriak Axel dengan gaya songong-nya. Ia menatap Nathan dengan penuh dendam.
Saat pemuda itu melintasinya dengan sengaja ia mencambuk punggungnya.
Taaak
"Aaaaargh," Nathan mengerang kesakitan, entah apa salahnya, sehingga membuat Axel begitu membencinya, bahkan setelah menjadi makhluk aneh, ia semakin memperlihatkan ketidaksukaannya.
Para tahanan berjalan keluar dari dalam goa. Mereka melihat sebuah keanehan, dimana yang tadinya ditumbuhi hutan bambu, berubah menjadi sebuah tanah yang sudah rata dan dibersihkan.
Ada banyak bahan bangunan berupa tanah liat, dan juga batu andesit.
"Bangun sebuah kolam pemandian dan juga candi. Bagi yang ahli memahat, siapkan alat untuk memahat!" titah Jhony yang juga sudah berubah menjadi Siluman Kerbau.
"Hei, kamu!" Axel menunjuk ke arah Nathan, dan membuat pemuda itu menatapnya. "Kau cetak tanah liat ini menjadi batu bata, dan ajak mereka untuk mengerjakannya." seru Axel dengan wajah angkuhnya.
Saat bersamaan, seorang pria tua melintas didepannya, dan tanpa belas kasih, ia melayangkan cambuknya dengan sangat keras, hingga melukai punggung sang pria.
Taaak
"Aaaaargh," pekiknya dengan rasa sakit yang cukup perih.
Melihat hal itu, Nathan merasa geram, dan ia sedang memikirkan bagaimana caranya dapat terbebas dati perbudakan para Siluman tersebut.
Nathan merasa jika Axel benar sudah sepenuhnya menjadi iblis, tetapi ia tak melihat Kael dan Kenny, dimana pemuda itu? Ia mengedarkan pandangannya, dan mencari tau, tetapi tak menemukan keberadaannya, hanya Jhony saja bersama Axel yang terlihat sangat angkuh.
Ia bergegas menghampir pria tua yang menjadi sasaran amukan dari Axel, dan bergegas membawanya menjauh dari lokasi tersebut.
"Ayo, Pak," ajak Nathan, lalu menuju gunungan tanah liat yang harus mereka cetak menjadi batu bata.
"Kita harus keluar dari tempat ini, kamu harus menemukan keris Jalak Tilam Sari dan Belati Ra Tanca, serta kitab kuno bersampul hitam dalam ukuran sangat kecil, dan...,"
Taak
Sebuah cambukan mengenai punggung pria tua tersebut, sebelum ia selesai dengan ucapannya.
Nathan tersentak kaget, sebab sang Selir sudah berada dibelakang mereka, seolah mengawasi setiap apa yang mereka bicarakan.
Nathan tersentak kaget, dan belum sempat ia untuk menyadari semuanya, sosok Siluman Ular Kobra itu membelit tubuh pria tua dan mengangkatnya ke atas.
Sang pria tua yang belum sempat ia ketahui siapa namanya menatap Nathan dengan wajah penuh harapan.
"Bebaskan mereka semua," ucapnya dengan lirih, sebelum akhirnya ia ditelan oleh Siluman Ular Kobra.
Nathan terdiam, menatap Ular Kobra bersisik hitam itu dengan wajah geram.
Sosok itu menatapnya dengan sorot ancaman dan intimidasi.
Nathan terlihat geram, tetapi ia mencoba menyimpan apa yang dikatakan oleh sang pria tua.
"Keris Jalak Tilam Sari? Belati Ra Tanca? Dimana aku menemukannya?" gumamnya lirih.
Sedangkan Sosok Siluman Ular Kobra yang merupakan selir dari Raja Kala Gemet bergerak pergi dan mengawasi para pekerja lainnya.
Tak
Sebuah cambukan dibetisnya membuyarkan lamunannya.
Rasa sakit, perih, dan semua itu ia coba tahan, sebab ada hal lain yang harus ia selesaikan. Mencari keberadaan keris dan belati yang dimaksud.
"Hey! Kerjakan tugasmu! Jangan cuma termenung tak berguna!" Jhony berteriak kepadanya, dan membuat ia sangat geram.
Setelah menghardik Nathan, ia pergi berkeliling mengawasi pekrja lainnya.
Saat bersamaan, Sena melintas didepannya, dan tampak membawa bahan sayur dan juga keperluan dapur. Ia mendorong gerobak yang dipenuhi ransum.
Keduanya saling bertatapan, dan Sena melempar gulungan daun pisang, dan disana ada tulisan yang ia tulis menggunakan ujung pisau.
Nathan mengambil, lalu dengan gerakan hati-hati, ia membuka gulungannya, lalu membacanya. 'Jangan pernah makan dan minum dari apa yang disuguhkan, jika ingin kembali,' Pesan Sena, yang saat ini sudah berjalan mendorong gerobak.
Pemuda itu terdiam. Mencoba merenungi apa yang disampaikan oleh Sena, dan ia terus bekerja, sembari mencoba mencari petunjuk keberadaan keris Jalak Tilam Sari dan juga belati Ra Tanca.
"Ya Tuhan, dimana aku harus menemukan semua benda itu? Berilah aku petunjuk," ia mulai mengadon tanah liat, dan membentuk batu bata dengan cetakan yang tersedia.
Sementara itu, Gita, Manda dan juga Alessa pergi ke desa, untuk menculik para warga yang akan dijadikan sebagai pemuas hasrat sang Raja, dan juga menjadi budak dalam pembangunan candi dan juga kolam pemandian aang Raja.
Seorang gadis meringkuk ketakutan, saat melihat sosok Alessa yang bermutasi menjadi setengah Genderuwo.
"Tolong, jangan bawa aku, ku mohon," gadis itu mengatupkan kedua tangannya dibawah dagu.
"Kau akan dijadikan budak pemuas hasrat oleh sang Raja, maka tidak ada yang dapat mencegah!" sahut Alessa dengan senyum seringainya.
Gadis itu semakin ketakutan. Ia sudah kehilangan ayahnya yang juga diculik paksa, tetapi kini ia juga menjadi korbannya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, dan mencoba melarikan diri. Ia tidak ingin dijadikan sebagai budak.
Ia berlari dengan sekuat tenaganya. Nafasnya tersengal menahan rasa takut yang saat ini menyergap seluruh hati dan jiwanya.
Tak hanya dirinya, ternyata seluruh warga sudah disatroni oleh para makhluk mutasi yang berubah menjadi sosok setengah iblis, dari jenis manusia dan juga hewan.
Mereka berlari, berusaha menyelamatkan dirinya. Tetapi kekuatan mereka tidaklah sebanding, dan terpaksa harus menjadi tawanan.
"Tidak, jangan!" teriakan histeris saat mereka dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng yang terbuat dari jeruji bambu
"Diam! Berisik!"
Tak
Alessa mencambuk punggung gadis yang terus meronta, dan melemparkannya dengan kasar masuk ke dalam.
"Jika kau masih berisik, akan ku hisap jiwamu!" ucap Alessa dengan suara yang sangat tinggi.
Gadis itu menggigil ketakutan, dan wajahnya memucat, disertai tangisan yang sesenggukkan.
Kemudian mereka dibawa menggunakan pedati yang mana penariknya adalah Jhony dan juga Axel.
Dengan tenaga dan juga kekuatan iblis yang mereka miliki, mereka berlari sangat kencang dan membawa para tahanan yang sudah tertangkap.
Sementara itu, Alessa dan juga Manda serta Gita kembali menyisir rumah warga, mencari mereka yang masih tertinggal, dan saat ini bersembunyi dipura Giri Selaka, dan berharap jika para iblis itu tak dapat menembus tempat yang dianggap suci tersebut.
"Kita harus mengendus aroma tubuh mereka," pesan Alessa yang memimpin pergerakan tersebut.
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏