Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 03
Samira duduk di sofa ruang tengah dengan punggung tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Dari luar, ia tampak seperti perempuan rapuh yang masih berusaha memulihkan diri setelah jatuh dari tangga. Namun di balik kelopak matanya yang setengah terpejam, pikirannya bekerja dengan sangat jernih.
Ia mendengar langkah kaki mendekat. Langkah yang sudah sangat ia kenali.
“Samira?”
Suara Arga terdengar lembut di telinganya. Sebelumnya ia akan mengira suaminya benar-benar perhatian. Tapi kini, ia tahu bahwa bahwa Arga hanya berpura-pura penuh perhatian.
“Kenapa kau masih belum tidur?”
Samira mengangkat wajahnya perlahan, seolah mencari arah suara. Bibirnya membentuk senyum kecil yang rapuh.
“Aku tidak bisa tidur. Kepalaku masih sedikit pusing,” jawabnya lirih.
Arga mendekat, duduk di sampingnya. Jarak mereka cukup dekat sampai Samira bisa mencium aroma sabun yang biasa dipakai pria itu. Aroma yang dulu membuatnya merasa aman, namun kini justru membuatnya muak.
“Kau pasti menungguku, kau harus segera istirahat agar cepat pulih. Jangan memaksakan diri,” ucap Arga.
Samira mengangguk kecil. Tangannya terangkat perlahan, seolah ragu-ragu, lalu menyentuh lengan Arga.
“Bolehkah kau temani aku sebentar?”
Arga terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya mengangguk dan menjawab, “Tentu.”
Dari balik dapur, sepasang mata mengamati mereka dengan tajam .
Larissa berdiri membeku, tangannya menggenggam kain lap terlalu erat. Rahangnya mengeras saat melihat bagaimana Samira bersandar sedikit ke arah Arga..
Samira merasakan perubahan udara. Ia tahu Larissa ada di sana. Ia bahkan bisa membayangkan wajah perempuan itu yang tegang, cemburu, dan tertahan.
Dan itu membuat sudut bibirnya nyaris terangkat.
“Arga,” panggil Samira kembali terdengar lembut. “Aku takut jatuh lagi.”
Arga langsung menegang. “Jangan khawatir, aku akan memastikan kau aman.”
Ia meraih tangan Samira, menggenggamnya lebih erat dari yang diperlukan. “Pegang tanganku,” katanya perhatian.
Samira membiarkan genggaman itu terjadi. Bahkan, ia membalasnya dengan menggenggam tangan Arga lebih erat.
Sementara itu, di ambang dapur, Larissa menahan napas. Dadanya naik turun kesal, menahan cemburu. Tangannya mengepal, kukunya bahkan menekan telapak sendiri.
“Kenapa perempuan itu selalu terlihat lemah di depan Arga? Dan kenapa Arga selalu bereaksi seperti itu?”
Samira menghela napas pelan, lalu bersandar lebih dekat. Kepalanya hampir menyentuh bahu Arga.
“Aku merasa aman saat bersamamu,” katanya lirih.
Larissa memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Ia melangkah pergi dengan langkah berat, namun suara langkahnya sengaja dibuat agak keras.
Samira mendengarnya. Dan senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya. Ia menegakkan tubuh perlahan. “Arga, kau dengar suara itu?”
“Mendengar apa?”
“Sepertinya Larissa masih di dapur. Aku takut sendirian kalau dia pergi,” katanya polos.
Arga menoleh ke arah dapur. “Larissa?”
Perempuan itu muncul dengan ekspresi tertahan. “Iya?”
“Tolong temani Samira sebentar. Aku mau ambilkan obatnya.” Arga melemparkan tatapan mata pada perempuan itu, meminta pengertian Larissam
Wajah Larissa menegang. Namun ia mengangguk. “Baik.”
Arga melangkah pergi.
Dan udara di sekitar mereka terasa berubah. Keheningan di antara dua perempuan itu terasa berat, penuh listrik tak kasat mata.
Samira menoleh perlahan, wajahnya kosong, matanya seolah tak melihat apa pun.
“Larissa,” panggilnya pelan.
“Iya, Nyonya?”
“Aku senang kau ada di sini.”
Larissa terdiam. “Maksud Ibu?”
Samira tersenyum kecil. “Aku tidak tahu harus bagaimana tanpamu. Kau tahu bukan? Kehadiranmu di sini sebagai asisten rumah tanggaku benar-benar membantu,” katanya sengaja menekankan kata ‘asisten rumah tangga’.
Larissa menelan ludah. “Aku hanya melakukan tugas.”
“Ya, kau benar.” Samira mengangguk perlahan. “Tugas yang kau lakukan dengan sangat baik.”
Keheningan kembali menggantung di antara mereka. Sikap Samira yang tak biasanya itu membuat Larissa bingung. Perempuan itu merasa ada sesuatu yang salah dengan sikap dan semua perkataan Samira.
Samira lalu mengulurkan tangannya, seolah ingin meraih perempuan itu. Larissa ragu sesaat, tapi akhirnya mendekat dan memegangnya.
Dan di detik itu, Samira membuka matanya.
Tatapannya tajam, jernih, dan penuh kesadaran. Tatapan seorang perempuan yang tidak lagi buta.
Larissa terperanjat, refleks ingin menarik tangannya, namun genggaman Samira justru menguat.
“Kenapa kau gemetar?” tanya Samira pelan, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Larissa tercekat. “Kau … kau bisa melihat?!” pekiknya terkejut
Samira mendekatkan wajahnya sedikit. “Apa maksudmu, Larissa? Aku tidak mengerti?” tanyanya polos.
Wajah Larissa memucat. Ia ingin memanggil Arga sesegera mungkin, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Kemudian, langkah kaki Arga terdengar dari arah lorong.
Samira langsung memejamkan mata, tubuhnya kembali melemah, wajahnya kembali terlihat rapuh.
Saat Arga kembali membawa obat Samira, ia menatap keduanya bingung. Apalagi ketika melihat wajah Larissa yang memucat.
“Semua baik-baik saja?” tanya Arga pelan.
“Iya,” jawab Samira lembut. “Larissa sangat membantuku.”
Larissa menunduk, jari-jarinya gemetar. Ia mencoba memberitahu Arga apa yang baru saja dilihatnya, tetapi ia terlalu takut. Alih-alih memberitahu, ia justru kembali ke dapur dengan langkah yang tergesa.
“Ada apa dengannya?” gumam Arga terheran-heran.