Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. KETIDAKBERDAYAAN
..."Ketidakberdayaan adalah luka paling dalam bagi seorang penyembuh."...
...---•---...
Gubuk itu kecil dan gelap. Bau khas kotoran dan keringat menyeruak begitu Doni masuk, menyengat hidung seperti tamparan. Di atas tikar lusuh yang sudah bolong-bolong, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun tergeletak dengan tubuh kaku. Matanya terbuka lebar tetapi tidak fokus, seperti menatap sesuatu yang tidak ada. Mulutnya berbusa, cairan putih mengalir ke pipi. Kedua tangannya terkepal erat, kuku menancap ke telapak tangannya sendiri. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Ibu anak itu duduk di sampingnya sambil menangis histeris, meremas-remas rambutnya sendiri sampai beberapa helai tercabut. "Tolong anakku! Tolong dia! Dia tidak bangun-bangun!"
Doni langsung berlutut, memiringkan tubuh anak itu ke samping agar tidak tersedak ludah atau busa. Ia memeriksa mulut, jari-jarinya cepat membersihkan rongga mulut, memastikan tidak ada yang menyumbat jalan napas. Napas anak itu pendek dan cepat, seperti burung yang kepanasan, tetapi masih ada.
Masih ada.
"Sejak kapan kejangnya?"
"Sejak tadi pagi! Tidak berhenti-berhenti!" Sang ibu menjawab di antara isak tangisnya, suaranya nyaris hilang.
Doni meraba dahi anak itu. Panas membara, seperti menyentuh bara api yang dilapisi kain tipis. Demam sangat tinggi. Tubuhnya sangat kurus, tulang rusuk terlihat jelas di bawah kulit yang pucat. Perut sedikit buncit. Di leher, kelenjar getah bening membesar, teraba seperti kelereng kecil di bawah kulit.
"Dia sakit sudah berapa lama?"
"Tiga hari. Demam tinggi, tidak mau makan, terus menangis. Kemarin baru muncul bintik-bintik merah."
Doni memeriksa kulit anak itu. Bintik-bintik kemerahan tersebar di wajah dan dada, tidak menonjol, tidak gatal. Ia memeriksa mata. Sedikit merah, seperti mata orang habis menangis. Lalu ia membuka mulut anak itu dengan lembut.
Bercak putih keabuan di pipi bagian dalam. Kecil-kecil seperti butiran pasir yang menempel.
Bercak Koplik.
Gabag.
Campak.
Dan kejang yang tidak berhenti ini adalah komplikasi berbahaya. Radang otak. Virus yang menyerang sistem saraf, membuat otak membengkak, membuat tubuh kecil ini memberontak terhadap dirinya sendiri. Angka kematiannya sangat tinggi bahkan di dunia modern.
Di sini?
Doni menutup mata sejenak. Napas dalam.
Tidak ada antivirus. Tidak ada alat penunjang. Hanya tanganku.
Tetapi ia harus mencoba.
"Bambang, rebus air sebanyak mungkin! Panaskan sampai mendidih lalu dinginkan! Cepat!" Doni melepas kain yang membungkus tubuh anak itu, membiarkan udara menyentuh kulitnya yang terbakar. "Ibu, aku butuh kain bersih dan air dingin. Sebanyak yang ibu punya. Sekarang!"
Sang ibu berlari keluar dengan tergesa, tersandung kakinya sendiri di ambang pintu.
Doni tetap fokus pada anak di depannya. Kejangnya mulai mereda, tetapi tubuhnya masih kaku seperti papan. Napasnya semakin lemah, semakin dangkal.
Bertahan. Kumohon, bertahan.
Di rumah sakit modern, ia tahu apa yang harus dilakukan. Obat anti kejang lewat pembuluh darah. Cairan infus. Penurun panas lewat suntikan. Alat pemantau detak jantung dan napas. Oksigen. Ruang perawatan intensif.
Tetapi di sini?
Ia hanya punya tangan dan pengetahuan.
Dan itu tidak cukup.
Tidak pernah cukup.
Sang ibu kembali dengan ember berisi air dan beberapa helai kain compang-camping yang sudah dicuci berkali-kali sampai warnanya pudar. Doni langsung membasahi kain dan mengompres dahi, leher, ketiak, dan lipatan paha anak itu. Penurunan suhu harus cepat, tetapi tidak boleh terlalu drastis karena bisa memicu tubuh kecil ini syok.
"Bambang, mana airnya?"
"Masih mendidih! Sebentar lagi!"
"Begitu sudah dingin, bawa ke sini!"
Kejang kembali muncul. Lebih hebat dari sebelumnya. Tubuh anak itu melengkung ke belakang seperti busur yang ditarik penuh, tangannya terkepal begitu erat hingga kuku benar-benar menancap ke telapak tangannya sendiri. Darah mulai merembes. Doni membalikkan tubuhnya ke samping, tangan kirinya menopang kepala kecil itu agar tidak terbentur lantai tanah yang keras.
Satu menit.
Dua menit.
Kejang tidak berhenti.
Bibir anak itu mulai membiru.
Tidak. Jangan.
"Bertahanlah..." Doni berbisik, suaranya serak, tangannya tetap menopang kepala kecil itu dengan sangat hati-hati. "Bertahanlah..."
Bambang datang berlari dengan mangkuk berisi air hangat, hampir tumpah di tangannya. Doni langsung mengambilnya, meneteskan sedikit demi sedikit ke bibir anak itu, menunggu refleks menelan muncul. Detik terasa seperti jam. Lalu tenggorokan anak itu bergerak. Menelan. Sedikit saja.
Doni memberi sedikit lagi. Lagi. Lagi.
Cairan untuk otak. Untuk tubuh yang kehilangan terlalu banyak air karena demam.
Kejang akhirnya berhenti.
Tubuh anak itu lemas seperti boneka kain yang sudah tua. Napasnya sangat lemah, hampir tidak terdengar. Dada naik turun sangat pelan.
Doni memeriksa nadi di leher. Jari-jarinya menekan dengan lembut.
Masih ada. Lemah seperti sayap kupu-kupu yang basah, cepat dan tidak teratur, tetapi masih ada.
Masih hidup.
Ia mengangkat kepalanya, menatap sang ibu yang menatapnya dengan mata penuh harap yang hampir membuatnya sakit di dada.
"Anakmu kena gabag, Bu. Penyakit bintik merah. Panasnya naik sampai ke kepala, menyerang bagian dalam yang mengatur gerak tubuh." Doni memilih kata sesederhana mungkin. "Kejangnya akan terus berulang. Aku akan berusaha menurunkan panasnya dan memberi minum sebanyak mungkin, tetapi..."
Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu.
Sang ibu sudah mengerti dari tatapannya.
Dari cara tangannya bergetar saat menyeka keringat di dahi anaknya.
"Lakukan apa pun, Tuan Doni. Apa pun."
Doni mengangguk pelan. Ia merogoh kantong kainnya, mengeluarkan bungkusan kecil berisi bubuk sambiloto dan temulawak yang sudah ia haluskan tadi pagi. Ia mencampurnya dengan air hangat, mengaduknya hingga larut, membentuk cairan cokelat kehijauan yang pahit.
"Ini akan membantu menurunkan panas dan melawan penyakitnya dari dalam. Berikan sedikit-sedikit setiap ia bisa menelan. Jangan dipaksa kalau ia tidak sadar."
Sang ibu menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar, seperti menerima sesuatu yang sangat berharga dan rapuh. "Terima kasih... terima kasih..."
Air mata jatuh ke dalam mangkuk.
Doni menghabiskan sisa pagi dan siang itu di gubuk tersebut. Bergantian mengompres, memberi minum setetes demi setetes, dan memantau setiap perubahan sekecil apa pun. Napas yang sedikit lebih dalam. Kelopak mata yang berkedip. Jari yang bergerak sedikit.
Kejang datang tiga kali lagi. Setiap kali, Doni merasa seperti sedang menonton nyawa kecil ini perlahan memudar dari tangannya. Setiap kali, ia hanya bisa menopang, mengompres, dan berbisik kata-kata yang mungkin tidak terdengar.
Sore hari, demam akhirnya turun. Tidak banyak. Hanya beberapa derajat. Tetapi cukup untuk membuat anak itu bernapas lebih teratur, lebih dalam. Matanya terbuka sesekali, meski masih tidak fokus, masih seperti menatap sesuatu yang jauh.
"Dia akan baik-baik saja?" Sang ibu bertanya dengan suara parau, hampir hilang.
Doni tidak bisa berbohong.
Tidak pernah bisa.
"Aku tidak tahu. Dua hari ke depan akan menentukan. Jika panasnya terus turun dan kejangnya tidak muncul lagi, dia punya harapan. Tetapi jika sebaliknya..."
Ia membiarkan kalimat itu menggantung di udara pengap.
Sang ibu mengangguk perlahan. Air mata mengalir tanpa suara, jatuh ke tangan yang menggenggam tangan kecil anaknya.
Doni berdiri. Tubuhnya pegal di setiap sendi, punggungnya kaku, lututnya nyeri. Ia sudah berlutut terlalu lama. "Aku akan kembali besok pagi. Jika ada perburukan, apapun, suruh orang memanggilku segera. Kapan pun. Siang atau malam."
Ia melangkah keluar dari gubuk sempit itu, merasakan sinar matahari sore yang hangat di wajahnya. Tapi kehangatan itu tidak bisa melelehkan rasa dingin yang menyelimuti dadanya. Ia menggosok lengannya sendiri, tapi tetap terasa dingin.
Berapa banyak lagi?
Berapa banyak anak yang harus menderita karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah?
Berapa banyak nyawa yang akan hilang karena aku tidak punya alat yang tepat?
Langkahnya membawa Doni kembali ke balai kampung. Matahari sudah mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga kemerahan. Tetapi antrean pasien masih panjang. Bambang duduk di teras dengan buku catatannya, wajahnya lelah tetapi tetap waspada.
"Masih banyak?" tanya Doni.
"Lima belas orang. Kebanyakan batuk dan demam."
Doni mengangguk. Ia mencuci tangannya di ember air di sudut teras, menggosok dengan sabun kasar yang dibuat dari abu dan lemak, menggosok sampai kulitnya merah. Lalu mengeringkan dengan kain. "Panggil yang pertama."
Sore itu berlalu dalam deretan wajah lelah, tubuh kurus, dan keluhan yang terdengar begitu sama. Batuk yang tidak berhenti. Demam yang naik turun. Diare yang membuat lemas. Luka yang tidak sembuh-sembuh. Nyeri di perut, di kepala, di dada.
Doni menangani semuanya dengan kesabaran yang hampir otomatis. Tangannya bergerak dengan presisi. Pikirannya menganalisis setiap gejala. Mulutnya menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, menenangkan, memberi harapan seperlunya.
Tetapi di sudut pikirannya, bayangan Mbok Sarmi dan anak kecil tadi pagi terus muncul.
Dua orang.
Dua orang yang mungkin tidak akan ia selamatkan.
Dua orang yang mengingatkannya pada batasnya sendiri.
Ketika pasien terakhir pulang, langit sudah gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, seperti lubang-lubang kecil di kain hitam. Doni duduk di teras balai kampung, menatap langit yang begitu luas, begitu indah, begitu tidak peduli.
Karyo datang dengan langkah pelan. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya duduk di samping Doni, membiarkan diam berbicara lebih banyak dari kata-kata.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan.
"Mbok Sarmi sudah di gubuk," kata Karyo akhirnya, suaranya pelan. "Ibuku memberinya makan bubur. Dia menangis terus."
Doni tidak menjawab. Hanya menatap bintang.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, Doni. Apa pun yang terjadi padanya, itu bukan salahmu."
"Aku tahu."
"Tapi Kau tetap merasa bersalah."
Doni tersenyum pahit. Sangat pahit. "Aku seorang penyembuh, Karyo. Bagaimana aku tidak merasa bersalah saat aku tahu ada yang tidak bisa aku tolong?"
Karyo menatap langit yang sama. Bintang yang sama. "Kau sudah melakukan yang terbaik. Lebih dari yang bisa dilakukan orang lain."
"Tapi tetap tidak cukup."
"Memang tidak akan pernah cukup, Doni. Kau bukan Tuhan."
Doni tertawa pelan. Suara yang tidak mengandung kegembiraan. "Aku tahu. Percayalah, aku sangat tahu."
Karyo tidak menjawab. Karena mereka berdua tahu, tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Tidak ada kata yang bisa mengisi kekosongan antara usaha dan hasil. Antara harapan dan kenyataan.
Malam semakin larut. Suara jangkrik mulai terdengar dari semak-semak. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan. Tetapi Doni tetap duduk di sana, menatap kegelapan, memikirkan esok hari yang akan datang dengan tantangan baru, penyakit baru, dan mungkin kegagalan baru.
Tetapi ia akan tetap berdiri.
Tetap mencoba.
Karena itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
Satu-satunya hal yang membuatnya tetap manusia di tengah semua ketidakberdayaan ini.
Di sudut matanya, Doni melihat cahaya kecil di kejauhan. Pelita dari gubuk-gubuk kampung, satu per satu menyala. Kehidupan yang terus berlanjut. Orang yang terus berharap.
Dan selama ada yang berharap, ia akan terus ada di sini.
Berdiri di garis tipis antara hidup dan mati.
Melakukan apa yang bisa dilakukan.
Meski tidak pernah cukup.
...---•---...
...BERSAMBUNG...
jadi sebenarnya tokoh yang pindah raga itu harusnya sudah meninggal ya?
lalu kemana jiwa atau roh dari si pemilik tubuh yang dia masuki karena kayanya hampir ga dijelasin di setiap cerita tema kaya gini kaya suatu misteri 🤔
kalau roh pemilik asli balik gimana sama nasib tokoh utama
anyway tulisannya rapih kak, dan sedikit masuk akal buatku waktu dia dapat kenangan dari si pemilik tubuh asli 👍