NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selendang Pelarian

Kesunyian di Bangsal Isolasi Rumah Sakit Jiwa Grogol mendadak pecah oleh suara debuman keras. Sheila Nandhita tergeletak di lantai semen yang dingin, tubuhnya kaku dengan mata yang mendelik ke atas, hanya menyisakan bagian putihnya saja. Mulutnya sedikit berbusa, dan napasnya terdengar putus-putus, seolah nyawanya sedang berada di ujung tanduk.

"Dokter! Sheila kolaps!" teriak Suster Ayu melalui interkom.

Dokter Kusno berlari masuk dengan wajah tegang. Ia memeriksa denyut nadi Sheila yang terasa sangat lemah—setidaknya itu yang ia rasakan dalam kepanikannya. Ia tidak menyadari bahwa Sheila telah melatih teknik pernapasan dangkal dan menekan saraf tertentu untuk memanipulasi reaksi tubuhnya.

"Cepat! Bawa ke UGD Rumah Sakit Umum sekarang! Dia butuh penanganan jantung segera!" perintah Dokter Kusno.

Sheila diangkat ke atas tandu. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia bersorak. Rencananya berjalan sempurna. Rumah sakit jiwa adalah benteng yang mustahil ditembus, namun ambulans adalah tiket emas menuju kebebasan.

****

Sirene ambulans meraung-raung membelah kemacetan Jakarta. Di dalam ruang sempit itu, Suster Ayu sedang sibuk menyiapkan cairan infus, sementara seorang perawat pria, Roni, memantau tabung oksigen. Mereka tidak menyadari bahwa tangan Sheila yang tersembunyi di bawah selimut pelan-pelan meraba saku jas putih Dokter Kusno yang ikut mendampingi.

Sheila menemukan apa yang ia cari: sebuah bolpoin besi tajam milik sang dokter.

Tepat saat ambulans melewati tikungan tajam, Sheila bangkit dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Matanya terbuka lebar, memancarkan kegilaan murni yang selama ini ia tekan.

JLEB!

"AAAKHH!" Dokter Kusno menjerit saat bolpoin besi itu menancap dalam di lehernya. Darah segar menyemprot ke dinding ambulans yang putih bersih.

"Sheila! Apa yang kamu—" Kalimat Roni terhenti saat Sheila menghantamkan tabung oksigen kecil ke kepalanya. Roni tersungkur tak sadarkan diri. Suster Ayu yang ketakutan mencoba membuka pintu belakang, namun Sheila mencengkeram rambutnya dan membenturkan wajah suster malang itu ke tepian tandu besi hingga pingsan.

Sheila menatap genangan darah di lantai ambulans. Bukannya takut, ia justru mencelupkan jemarinya ke sana dan mengusapkannya ke bibirnya, lalu meledak dalam tawa rendah yang mengerikan. "Kebebasan itu... rasanya sangat manis."

Saat ambulans berhenti mendadak karena sopir menyadari kegaduhan di belakang, Sheila menendang pintu belakang hingga terbuka. Ia melompat keluar di tengah kerumunan parkiran rumah sakit yang ramai. Di sana, ia melihat seorang pengunjung wanita yang baru saja turun dari mobil, mengenakan selendang sutra panjang bermotif bunga.

Tanpa suara, Sheila mendekatinya dari belakang, menjerat leher wanita itu hingga lemas, lalu merampas selendangnya. Ia melilitkan selendang itu dengan cepat, menutupi rambutnya yang acak-adut dan sebagian wajahnya, menyisakan hanya matanya yang berkilat liar.

****

Di Livia’s Sweet Corner, suasana hati Livia sedang di titik terendah. Kehadiran Clarissa tempo hari benar-benar meracuni pikirannya. Wanita itu terus mengirimkan pesan-pesan singkat yang menyakitkan, membandingkan masa lalu Ayub yang "bersih" dengan masa lalu Livia yang penuh darah dan kegilaan.

"Mbak, ada pesanan eclair yang harus dicek," suara Sari membuyarkan lamunan Livia.

"Ah, iya, Sari. Sebentar," jawab Livia lemah. Tangannya sedikit gemetar saat memegang kotak kue.

Ayub sedang berada di kampus, berusaha menyelesaikan urusan pembelajarannya agar bisa memiliki waktu lebih banyak untuk menjaga Livia. Namun, jarak itu justru membuat Livia merasa terisolasi. Ia mulai meragukan apakah dirinya memang pantas mendapatkan kebahagiaan, ataukah ia hanyalah sebuah "proyek belas kasihan" bagi Ayub, seperti yang dituduhkan Clarissa.

Di luar toko, seorang wanita paruh baya dengan pakaian kasual tampak sibuk dengan ponselnya. Ia adalah Santi, detektif swasta yang disewa oleh Attar dari Australia. Santi merasa bersalah karena telah memotret Livia sebelumnya tanpa izin, namun tugasnya jelas: memastikan keselamatan Livia tanpa mencampuri hidupnya.

Santi menyadari ada yang aneh dengan suasana jalanan hari itu. Ia melihat sebuah ambulans kosong yang terparkir tak jauh dari sana dengan pintu belakang terbuka, dan desas-desus tentang pasien yang kabur mulai menyebar di radio panggil kepolisian yang ia sadap.

****

Matahari mulai terbenam, memberikan warna oranye kemerahan yang dramatis di langit Tebet. Livia sedang berdiri di dekat jendela toko, menatap ke seberang jalan dengan pandangan kosong.

Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang. Firasat buruk yang sangat familiar menghantam dadanya seperti palu godam.

Di seberang jalan, di bawah bayangan pohon besar yang meranggas, berdiri sesosok wanita. Wanita itu mengenakan jaket kusam dan selendang bunga-bunga yang melilit kepalanya. Ia berdiri mematung, menatap langsung ke arah Livia.

Wanita itu perlahan menurunkan sedikit selendang yang menutupi mulutnya. Bibirnya yang pucat membentuk sebuah seringai lebar yang mengerikan.

"Sheila..." bisik Livia, suaranya tercekat di tenggorokan. Seluruh persendiannya terasa lumpuh.

Sheila tertawa. Dari seberang jalan yang ramai, suara tawanya tidak terdengar secara fisik, namun Livia bisa merasakannya merambat melalui aspal, masuk ke dalam pori-pori kulitnya, dan mencabik-cabik ketenangannya. Tawa itu adalah janji akan kehancuran. Sheila tidak langsung menyerang; ia menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah Livia. Ia ingin Livia merasakan siksaan mental sebelum ia benar-benar menghabisi nyawanya.

Sheila melambaikan tangannya yang masih memiliki noda darah Dokter Kusno yang mengering di bawah kuku-kukunya. Sebuah lambaian perpisahan bagi kedamaian Livia.

"Mbak Livia? Ada apa?" tanya Sari yang menyadari wajah majikannya berubah pucat pasi seperti mayat.

Livia tidak bisa menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah pohon di seberang jalan dengan jari yang bergetar hebat. Namun, saat Sari menoleh, sosok berselendang itu sudah menghilang di balik kerumunan orang yang pulang kantor.

****

Sheila menyelinap masuk ke dalam gang sempit di samping toko. Ia bersandar di dinding lembap, dadanya naik turun karena gembira yang luar biasa. Ia mengeluarkan bolpoin besi milik Dokter Kusno yang kini telah bengkok dan berlumuran darah.

"Livia... kue-kuemu harum sekali malam ini," gumam Sheila di balik selendangnya. Tawanya meledak lagi, kali ini lebih keras, tertutup oleh suara bus yang lewat. "Tapi besok, toko ini akan berbau daging panggang. Aku akan membakarmu bersama semua mimpi manismu."

Ia menatap ke arah apartemen Livia di kejauhan. Ia tahu Ayub tidak ada di sana. Ia tahu Attar berada di negeri yang jauh. Baginya, ini adalah panggung sandiwara di mana ia adalah sutradaranya, dan Livia adalah pemeran utama yang akan ia bunuh di akhir cerita.

Sementara itu, Santi sang detektif segera menekan tombol panggil cepat ke Australia. "Pak Attar, ini gawat. Sheila kabur. Dia sudah berada di area toko. Saya butuh bantuan cadangan sekarang juga!"

Di Sydney, Attar menjatuhkan gelas kopinya hingga pecah berkeping-keping. "Santi, jangan biarkan dia menyentuh Livia! Saya berangkat ke bandara sekarang!"

Malam turun dengan mencekam. Livia’s Sweet Corner yang indah kini terasa seperti peti mati yang menunggu untuk ditutup, sementara Sheila Nandhita terus tertawa di kegelapan, merencanakan babak paling brutal dalam sejarah dendamnya.

1
Meri Susana
up terus kk
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!