NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Dari Masa Lalu

Pagi di kawasan Tebet kini tak lagi terasa mencekam. Enam bulan telah berlalu sejak badai kegilaan Sheila meluluhlantakkan toko kecil itu. Kini, Livia’s Sweet Corner telah bertransformasi menjadi sebuah kedai estetik dengan aroma mentega yang memabukkan setiap orang yang melintas. Kaca etalase yang dulu retak seribu, kini telah diganti dengan kaca kristal yang berkilau, memajang deretan croissant keemasan dan kue-kue cantik yang menggugah selera.

Livia berdiri di balik meja marmer, mengenakan celemek cokelat dengan rambut yang dikuncir kuda rapi. Ia sedang memperhatikan dua pegawai barunya, Sari dan Bima, yang sedang sibuk melayani antrean pelanggan yang mulai memanjang.

"Sari, pastikan packing untuk pesanan kantor Pak Hilman sudah rapi, ya. Jangan sampai ada krim yang menempel di tutup kotak," instruksi Livia dengan nada kepemimpinan yang baru ia temukan.

"Siap, Mbak Livia!" jawab Sari dengan cekatan.

Livia tersenyum. Usahanya membuahkan hasil yang manis. Penjualan melonjak tajam setelah seorang food blogger ternama mengulas kelezatan kue buatannya. Namun, di balik keberhasilan itu, Livia tetaplah wanita yang waspada. Ia memasang sistem keamanan tingkat tinggi, lengkap dengan kamera pengawas yang terhubung langsung ke ponselnya. Ia tahu, ketenangan ini adalah sesuatu yang mahal dan rapuh.

****

Sementara itu, puluhan kilometer dari aroma manis toko kue, kegelapan masih bertahta di Rumah Sakit Jiwa Grogol. Ruang isolasi nomor 01 terasa begitu dingin, namun atmosfer di dalamnya panas oleh kebencian yang membara.

Sheila Nandhita sudah tidak lagi menyerupai manusia yang pernah dikenal Attar. Tubuhnya kurus kering, namun matanya yang cekung memancarkan energi liar yang menakutkan. Ia duduk bersimpuh, menempelkan telinganya ke dinding beton seolah sedang mendengarkan bisikan-bisikan dari neraka.

"Hah... hah... hahahaha!"

Tawa itu pecah lagi. Bukan tawa gembira, melainkan tawa melengking yang menyayat indra pendengaran. Sheila mulai menggaruk lantai dengan kuku-kukunya yang telah tumpul, menciptakan suara decitan yang memilukan.

Dokter Kusno berdiri di balik pintu baja bersama dua orang perawat pria yang berbadan besar. "Dosisnya sudah maksimal, Suster. Kenapa dia masih bisa tertawa seperti itu?" tanya Dokter Kusno dengan nada frustrasi.

"Obsesinya menjadi sumber energinya, Dok. Dia menolak untuk tidur karena dia bilang dia harus 'menjaga' Livia dari kejauhan," jawab perawat itu ngeri.

Sheila tiba-tiba menoleh ke arah kamera pengawas di sudut atas. Ia tersenyum sangat lebar hingga sudut bibirnya seolah akan robek. "Dokter sayang... katakan pada Livia, kue-kuenya manis, tapi darahnya akan terasa lebih lezat di ujung lidahku. Hahahaha! Aku tidak akan mati sebelum melihatnya hancur!"

"Cepat! Berikan dosis penenang tambahan! Dia mulai mengalami delusi agresif lagi!" perintah Dokter Kusno.

Sheila meronta saat para perawat masuk. Ia tertawa semakin keras saat jarum suntik menembus kulitnya. "Kalian bisa mematikan tubuhku, tapi kalian tidak bisa mematikan dendamku! Hahahaha!" Suara tawanya perlahan memudar menjadi erangan rendah seiring obat kimia itu menjalar ke sarafnya, namun matanya tetap terbuka, menatap kosong dengan kebencian yang tak kunjung padam.

****

Di belahan bumi selatan, Sydney menyambut pagi dengan angin laut yang segar. Attar Pangestu berjalan menyusuri kawasan Circular Quay dengan segelas kopi pahit di tangannya. Ia kini bekerja di sebuah firma arsitektur ternama di Australia. Kariernya melesat, namun jiwanya tetap tertinggal di Jakarta.

Setiap kali ia melihat wanita berambut panjang di jalanan Sydney, jantungnya berdegup kencang, mengira itu adalah Livia. Setiap kali ia mencium aroma toko roti di sudut jalan George Street, ia teringat wajah Livia yang penuh tepung.

Attar duduk di bangku taman, menatap kemegahan Opera House. Di tangannya ada sebuah ponsel cadangan yang hanya berisi foto-foto Livia dari kejauhan—foto yang ia dapatkan dari orang suruhannya untuk memastikan mantan istrinya itu baik-baik saja.

"Maafkan aku, Liv," bisiknya pada angin laut.

Ia merasa seperti pecundang yang melarikan diri. Meski secara fisik ia aman di Sydney, secara batin ia masih terkurung di gudang tua itu, mendengar jeritan Livia. Attar menyadari bahwa sejauh apa pun ia pergi, bayang-bayang Livia dan rasa bersalahnya pada mendiang ibunya adalah bayangan yang akan selalu mengekor di bawah kakinya.

****

Kembali ke Jakarta, di sebuah kafe dekat kampus Pendidikan Olahraga, Ayub Sangaji sedang membereskan buku-bukunya. Ia baru saja menyelesaikan ujian tengah semester. Saat ia hendak berdiri, harum parfum yang sangat familiar tercium di indra penciumannya.

"Ayub? Long time no see."

Seorang wanita cantik dengan pakaian modis dan rambut yang diwarnai pirang madu berdiri di hadapannya. Clarissa, mantan kekasih Ayub saat mereka masih di bangku SMA dan awal kuliah—wanita yang dulu meninggalkan Ayub demi pria yang lebih kaya.

"Clarissa?" Ayub mengerutkan kening, suaranya terdengar dingin.

Clarissa duduk tanpa diundang, menatap Ayub dengan tatapan menggoda yang terencana. "Aku dengar kamu sekarang jadi 'pahlawan' buat janda kaya arsitek itu? Ayolah, Ayub. Kamu itu atlet berbakat, masa depanmu cerah. Kenapa harus terjebak dengan wanita yang punya banyak masalah dan trauma?"

Ayub menatap Clarissa dengan pandangan merendahkan. "Namanya Livia. Dan dia bukan 'wanita bermasalah'. Dia adalah hidupku sekarang. Apa maumu, Clarissa?"

Clarissa mencondongkan tubuhnya, menyentuh tangan Ayub dengan jemarinya yang lentik. "Aku salah dulu meninggalkanmu. Aku ingin kita mulai lagi. Aku tidak punya beban trauma, aku tidak punya mantan suami gila, dan aku tidak punya penguntit yang ingin membunuhku. Aku jauh lebih 'mudah' untuk dicintai daripada Livia, bukan?"

Ayub menarik tangannya dengan kasar. "Kamu mungkin 'mudah', Clarissa, tapi Livia berharga. Dan itu perbedaannya."

Ayub berdiri, menyampirkan tasnya dan berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Namun, Clarissa hanya tersenyum miring sambil menyesap kopinya. "Kita lihat saja, Ayub. Wanita yang hancur seperti Livia hanya akan membawamu ikut hancur. Aku akan menunggumu kembali saat kamu lelah menjadi perawat lukanya."

****

Malam harinya, Livia sedang menutup toko. Suasana sunyi, hanya ada suara detak jam dinding. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

“Manis sekali usahamu, Livia. Tapi tahukah kamu? Gula pun bisa berubah menjadi racun jika ditangan yang tepat. Sampai jumpa di mimpimu malam ini.”

Livia menjatuhkan kunci tokonya ke lantai. Tangannya bergetar hebat. Pesan itu... gaya bicaranya... sangat mirip dengan Sheila. Ia segera menatap layar monitor CCTV. Di luar toko, jalanan tampak sepi, namun di balik rimbunnya pepohonan, ia seolah melihat bayangan seseorang yang sedang menatap ke arah tokonya.

"Ayub... Ayub, tolong aku," bisik Livia, air matanya mulai menetes.

Badai yang ia kira sudah berlalu, ternyata hanya sedang mengumpulkan kekuatan di balik kegelapan untuk menerjang kembali dengan lebih dahsyat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!