Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Salahku
Langit telah gelap, setelah Dave menuntaskan pembalasannya pada Laura. Dia yang di buru nafsu bahkan tak peduli dengan keadaan Laura yang sudah tak sadarkan diri.
Dave memindahkan tubuh yang sudah lemas itu ke atas ranjang, merasa bersalah dengan perbuatannya yang memaksa Laura melayaninya di atas lantai dingin tak beralas.
"Setidaknya, aku sudah merasa puas. Ini bayaran atas perpisahan yang sebenarnya tak pernah aku inginkan," ucapnya berkelit dan segera keluar dari rumah itu.
Tak ada penyesalan dalam dirinya yang telah melakukan hal itu pada Laura, baginya itu sebuah kewajaran dan harga yang harus Laura bayar atas rasa sakitnya.
Sinar matahari membuat Laura tersadar dari pingsannya semalam. Wanita itu melenguh, merasakan sakit di bagian perut dan juga bagian tubuhnya yang sensitif. Dia mencoba berdiri, namun jatuh kembali saat sadar kakinya terkilir karena perbuatan Dave.
"Arrgghhh... Sakit sekali," keluhnya menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia berjalan menuju lantai bawah untuk mengambil ponselnya dan menghubungi sang ayah.
Laura merasakan sesuatu mengalir dari area sensitifnya. Dia pun menyentuh pahanya dan melihat cairan merah yang menempel di tangannya.
"Tidak... Tidak mungkin... Aku tak mau kehilangan anakku," teriaknya histeris melihat darah yang cukup banyak mengalir di area sensitifnya.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang dapat dia percaya.
"Andreas, tolong aku. Tolong aku," ucapnya lemah setelah Andreas menjawab panggilannya.
Andreas yang sadar jika Laura sedang dalam masalah, segera bergegas menuju rumah Laura. Dia membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, berharap sampai ke rumah Laura tepat waktu.
Sampai di sana, pintu rumah itu masih terkunci. Andreas terus menekan bel berharap Laura mendengar dan membuka pintunya.
Laura yang sedang kesakitan, berusaha membuka kunci pintunya. Setelah itu, dia yang sudah lemas bersandar di dinding dekat dengan pintu masuk.
Andreas segera masuk ke dalam rumah, dan melihat Laura yang terkapar lemah dengan darah yang ada di antara kedua kakinya. Ada perasaan sesak melihat wanita yang di cintainya dalam keadaan terluka.
Dengan cepat di membawa Laura ke dalam mobilnya dan melaju ke arah rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
"Laura bertahanlah, aku mohon. Sadarlah Laura," ucap Andreas yang berusaha mempertahankan kesadaran Laura.
Sampai di rumah sakit, Andreas membawa Laura ke atas brankar dan meminta dokter untuk cepat memeriksanya.
"Apa anda suaminya? Kami meminta izin pada anda untuk melakukan tindakan dilatasi dan kuretase. Tanda tangan pada dokumen ini, tulis nama anda dan juga nama pasien," ucap sang dokter yang telah rampung memeriksa Laura.
"Apa maksud dokter, apa yang terjadi pada Laura?"
"Janin nona Laura tak bisa di selamatkan. Saya hanya menyarankan pada anda sebagai suami, agar tak bertindak kasar saat melakukan hubungan suami istri. Atau bisa hindari untuk tak melakukannya. Area sensitifnya pun mengalami cedera dan kakinya terkilir," ucap sang dokter yang membuat Andreas semakin sesak.
Andreas mengusap kasar wajahnya dan menghubungi Bram untuk mengabari kondisi putrinya.
Bram begitu shock mendengar penuturan Andreas mengenai keadaan Laura. Dia pun bergegas menuju rumah sakit dan menghampiri dokter yang menangani sang putri.
"Lakukan apapun yang bisa membuat putriku pulih dengan cepat."
Dokter segera membawa Laura ke ruang operasi. Bram pun menghampiri Andreas yang terlihat cemas bahkan melebihi kecemasannya pada Laura.
"Terima kasih, kau selalu sigap menolong putriku," ucap Bram sambil mengusap pundak Andreas.
"Aku akan mencari tahu orang yang menyebabkan Laura masuk rumah sakit dan kehilangan janinnya. Aku akan menyeretnya ke jeruji besi," janji Andreas yang tentu saja di dukung sepenuhnya oleh Bram.
***
Dave teringat pada berkas perceraiannya yang tertinggal di rumah Laura. Dia pun keluar kantornya saat makan siang, menuju kantor Laura yang jaraknya tak terlalu jauh.
"Tuan Dave, anda mencari siapa?" Tanya sekretaris yang melihat keberadaan Dave di kantor Laura.
"Aku mau menemui istriku," jawab Dave yang membuat sekretaris itu tampak kebingungan.
"Memangnya anda tidak tahu kalau nona Laura masuk rumah sakit?"
"Apa? Masuk rumah sakit karena apa?" Tanya Dave yang tak mendapatkan jawaban dari sekretarisnya.
Setelah berhasil mendapat alamat rumah sakit tempat Laura di rawat, Dave segera melaju ke sana tanpa tahu jika dia penyebab Laura masuk rumah sakit.
"Beritahu saya kamar dari pasien bernama Laura Wijaya," ucap Dave pada bagian administratif. Dia pun segera pergi menuju kamar VIP tempat Laura di rawat. Tanpa tahu malu, dia masuk dengan wajah cemas seolah menunjukan simpati pada mantan istrinya.
"Laura," lirihnya saat melihat Laura yang sedang terbaring di ranjang. Wanita itu menoleh ke arah pintu dan melihat Dave yang berdiri di ambang pintu.
"Arrrghhhh, tidak, jangan kemari. Pergi dari siniiiii!!!!!"
Bram segera berdiri memeluk Laura yang berteriak histeris melihat mantan suaminya.
"Mau apa kau ke sini? Pergi dari hadapan putriku, kau tak ku izinkan mendekatinya," geram Bram yang tersulut amarah melihat keadaan Laura memburuk karena Dave.
"Aku hanya ingin tahu keadaannya."
"Kau tak perlu tahu apapun tentang putriku, karena kau lah penyebab semuanya. Kau yang telah menghancurkan putriku," teriak Bram yang membuat dokter masuk ke kamar Laura.
Laura masih menangis histeris di pelukan Bram, sementara Dave berusaha ingin melihat keadaan mantan istrinya.
Dokter menyuntikan obat penenang dan lambat laun Laura memejamkan matanya. Dave masih mematung di sana, menerima tatapan kemarahan dari mantan ayah mertuanya.
"Dave, mau apa kau ke sini?" Tanya Andreas yang baru sampai di rumah sakit, setelah mengurus pekerjaannya di kantor menggantikan Laura.
"Justru aku yang harus bertanya, apa hubunganmu dengan Laura sampai kau datang ke mari?"
"Aku yang meminta Andreas datang kemari, jadi kau tak perlu mempertanyakan hal yang tak perlu tahu," ucap Bram membela Andreas.
Emosi Dave semakin tersulut karena pria yang dia benci semakin mendapat kesempatan untuk mendekati Laura. Tanpa aba-aba dia melayangkan kepalan tangannya pada wajah Andreas.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mendekati Laura, jangan mimpi bocah!"
"Dave, pergilah! Atau ku panggil security untuk menyeretmu keluar dari sini," ancam Bram yang mau tak mau membuat Dave pergi dari kamar Laura.
Dia pun mencari dokter yang menangani Laura dan menanyakan penyebab Laura masuk rumah sakit.
"Dokter, apa yang terjadi pada istri saya? Tolong beritahu saya penyebab dia masuk rumah sakit," tanya Dave yang membuat sang dokter sempat menghela nafas.
"Istrimu keguguran, akibat dari aktivitas ranjang yang terlalu kasar. Kandungannya lemah karena depresi serta area sensitifnya mengalami pembengkakan."
Penjelasan dokter sontak membuat Dave terkejut. Dia tak menyangka jika perbuatannya telah menghilangkan anak kandungnya sendiri dalam rahim Laura.
Dave keluar rumah sakit sambil berjalan terhuyung, mengingat perkataan dokter yang membuatnya menyesal seumur hidupnya.
Bukk!
Sebuah kepalan tangan menghantam wajahnya dengan keras. Membuat sudut bibir Dave sedikit terluka.
"Itu bahkan tak cukup untuk membalas kehancuran yang Laura alami. Dengar kau Dave, aku akan menyeretmu ke jeruji besi atas apa yang kau lakukan pada Laura," ancam Andreas sambil mencengkeram kerah baju Dave. Emosinya meluap melihat wajah pria yang ada di hadapannya. Dia pun melempar tubuh Dave dan meminta pria itu untuk tak datang lagi menemui Laura.
Sepanjang jalan Dave terus merutuki dirinya sendiri. Sambil menangis, dia terus memukul kemudi mobilnya. Ada rasa sesal dalam hatinya, namun lagi-lagi pria itu mulai menyangkal dan menyalahkan Laura.
"Itu salahmu sendiri Laura, karena kau tak bilang padaku jika kau sedang hamil. Karena kau yang membuatku seperti orang gila saat itu. Karena kau yang mengusir ku dan membuatku rindu pada sentuhanmu. Semua salahmu Laura."
🤣🤣