Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Bram yang tak ikut ke tempat perayaan kembang api, melihat Laura dan lainnya sampai di pantai. Pria paruh baya itu masih belum memejamkan matanya, menunggu sang putri sambil melihat pemandangan pantai malam di balkon kamar hotelnya.
"Luna, putri kita sekarang sedang bersedih. Tapi dia berusaha untuk tak menunjukan kesedihan dan rasa sakit itu. Dia sangat mirip denganmu," gumam Bram dalam hati mengingat istrinya yang sudah tiada sepuluh tahun lalu.
Bram mendapat panggilan dari sang putri untuk segera turun ke area pantai. Dengan senang hati dia menuruti perkataan putri semata wayangnya itu.
"Apa yang kau temukan di sana?" Tanya Bram yang melihat Andreas membawa dua tas belanja besar milik Laura.
"Ini kembang api yang sering papa beli saat aku kecil. Dan aku ingin papa menyalakan ini untukku, seperti dulu," pinta Laura yang pastinya di turuti oleh Bram.
Bram menyalakan kembang api pertama untuk Laura. Dia tersenyum lebar melihat sang putri yang tampak bahagia memegang kembang api kecil itu di tangannya.
"Andreas, kau nyalakan saja yang lain. Aku ingin merekam video putriku."
Andreas mengangguk dan menyalakan kembang api yang sedang di pegang Laura. Laura memainkan kembang api dengan raut wajah bahagia seolah melupakan masalah berat yang sedang dia hadapi.
Bram memegang ponselnya, merekam semua momen bahagia di pantai ini. Pria paruh baya itu merasa bahagia sekaligus hari melihat Laura yang melepas senyum dan tawa bahagianya.
"Aku harap ke depannya kau selalu tersenyum seperti ini, putriku."
***
Brakkk!
Dave menggebrak meja kerjanya yang tersulut emosi melihat sebuah video yang di posting oleh ayah mertuanya di sosial media. Dia melihat Laura yang sedang bersenang-senang bermain kembang api bersama Andreas.
"Sudah ku duga, kau pasti memiliki hubungan dengan bocah itu. Laura bisa-bisanya kau, mengkhianati seorang Dave dengan pria yang tak ada apa-apanya itu," gerutu Dave yang terus-terusan menghujat Andreas.
"Ya, jika kau bahagia dengannya. Maka akan ku mudahkan jalanmu untuk bersamanya."
Dave segera menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Laura. Baginya tak ada ampunan untuk Laura yang sudah mengkhianatinya dan pergi bersenang-senang dengan pria lain.
"Laura, kau sudah menyia-nyiakan aku. Pria terhormat dari keluarga Kusuma."
Dave menutup wajahnya dengan kedua tangan, perasaannya pada Laura tetaplah sama namun keangkuhan membuatnya mengambil keputusan tanpa berpikir.
Sepulangnya dari kantor, Dave melihat Mona yang lebih dulu sampai ke apartemen. Dia memuji Mona yang bekerja profesional dan menepati janji untuk tak membuka mulut perihal hubungan mereka.
"Kau benar-benar menurut padaku, keputusan yang benar bagiku menikahimu," puji Dave sambil mengusap kepala Mona.
Mona tersenyum mendengar pujian dari Dave, dia yang gampang luluh oleh rayuan Dave tentunya menyerahkan diri sepenuhnya di bawah kungkungan tubuh pria itu.
Suara ponsel berbunyi di tengah malam, Mona terkejut melihat nama yang menghubunginya. Dia melihat Dave yang sudah tertidur pulas dan segera keluar dari kamar.
"Ingat janjimu malam ini?"
Samar-samar suara seorang pria yang menghubungi Mona, membuat wanita itu nampak gelisah. Dia pun keluar dari apartemennya dan menaiki sepeda motor yang di hadiahkan oleh Dave untuknya.
Pagi harinya, sinar matahari yang tembus ke jendela kamar membangunkan Dave dari tidurnya yang lelap. Tubuhnya lemas karena kegiatan malamnya dengan Mona berdurasi cukup panjang. Dia menatap Mona yang masih tertidur, dan membangunkannya.
"Mona, bangunlah. Lihat Larissa di kamar," ucap Dave sambil menggoyangkan tubuh Mona. Samar dia melihat beberapa tanda merah di leher Mona, yang merasa tak dia buat.
"Mungkin aku lupa, karena bayangan Laura terus saja memenuhi pikiranku," gumamnya yang tak ingin berburuk sangka.
***
Sabtu sore, Laura hanya mengisi weekend nya dengan mengurus bunga-bunga kesayangannya di taman belakang. Di bantu oleh tukang kebun profesional yang memberikan hasil cukup memuaskan bagi Laura.
"Rasanya lengket sekali, aku harus segera ke kamar mandi."
Laura masuk kembali ke rumah, setelah sibuk di dalam rumah kaca di halaman belakang. Selesai mandi, Laura memakai gaun tidurnya yang baru. Semua pakaiannya yang dulu saat bersama Dave sudah dia simpan di gudang. Sebisa mungkin, dia tak menyimpan barang yang bisa mengingatkannya pada pria yang sudah menghancurkan hatinya itu.
Bel rumah berbunyi, Laura yang sedang sendiri dalam rumahnya merasa cemas dengan kehadiran seseorang.
Dia pun memeriksa tamu yang datang lewat door bell camera, dan melihat Dave yang tengah berdiri di sana sambil membawa sesuatu.
"Aku fikir dia tak akan datang lagi, padahal aku sudah mulai melupakannya," gumam Laura sambil membuka pintunya.
"Sore Laura, bagaimana kabarmu?" Tanya Dave yang berusaha menahan emosinya saat melihat Laura. Masih teringat jelas video kebersamaan Laura dan Andreas di sosial media milik mertuanya.
"Aku baik saja, kau juga pasti baik karena ada Mona yang merawatmu."
"Tentu saja, dia sangat memperhatikanku dari segala sisi, semua kebutuhanku bisa terpenuhi termasuk kepuasanku di ranjang," ucap Dave yang ingin membuat Laura. Namun perkataannya justru semakin membuat Laura jijik.
"Aku sedang tak ingin mendengar tentang kehidupanmu. Sekarang katakan apa yang kau inginkan?" Tanya Laura yang tak ingin melihat Dave berlama-lama di rumahnya.
Brakk!
Dave melempar sebuah map ke atas meja makan dan meminta Laura untuk menyetujuinya.
"Hari ini aku nyatakan kita bercerai, Laura Chintya Wijaya!"
Laura hanya diam dan membuka dokumen yang ada di dalam mapnya. Tanpa ragu dia menandatangani berkas perceraian yang Dave berikan.
Dave sebenarnya tak rela jika Laura menandatanganinya, dia berharap jika Laura mencegah perceraian ini dan kembali padanya.
Namun harapannya tak sesuai ekspektasi. Laura benar-benar tak ragu lagi untuk berpisah dari dirinya.
"Laura, kau semakin cantik. Rasanya tak rela jika harus melepasmu dan tak menjadi milikku lagi," gumam Dave dalam hatinya yang justru bergairah melihat Laura dengan balutan gaun tidur berwarna maroon.
"Aku sudah mewujudkan keinginanmu, jadi keluarlah dari rumahku," ucap Laura yang berbalik dan melangkah menuju kamarnya.
Namun Dave dengan sekuat tenaga menarik tangan Laura. Tubuhnya di dekap erat dengan penuh nafsu yang membuat Laura sesak.
"Tidak bisakah kau melayani ku, untuk terakhir kalinya," bisik Dave yang membuat Laura ketakutan.
"Kita sudah berpisah Dave, kau tak berhak menyentuhku."
Laura terus melawan yang menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi. Tangannya terus memukul dan menjauhkan tubuh Dave yang semakin memeluk erat tubuhnya.
"Aku mohon, lepaskan aku," ucap Laura di sertai tangisan dan rasa takut melihat Dave yang seperti orang gila.
Laura menginjak kaki Dave yang membuat pelukan pria itu terlepas. Dia pun berlari dengan sekuat tenaga menuju kamarnya di lantai dua.
Dave yang tak menyerah, mengejarnya dengan nafsu yang menutupi hati nuraninya. Rasa rindu akan sentuhan Laura, membuatnya tak bisa menahan diri.
Dengan cepat dia menyusul Laura dan menarik kembali tangannya. Nafasnya yang memburu membuat Laura semakin takut pada Dave yang tak pernah menunjukan wujud seperti ini sebelumnya.
Brukk!
Tubuh Laura di dorong hingga tersungkur ke lantai, yang membuat kakinya terkilir. Sore itu menjadi mimpi buruk terbesar bagi Laura seumur hidupnya.
saat lbh memilih mndua krna nafsu dan serakah....
tpi trnyata perempuan yg di piara... dan bhkn rela mnyakiti laura.. tak lbh dri seorang jalang....
makin hncurlah kau dave... klo trnyata ank yg km sayangi dri gundikmu... trnyata bukan ank kndungmu.... tpi ank org lain🤣🤣🤣
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣