Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 : Gadis dengan pita merah nya
Tingg…
Suara lonceng kecil yang tergantung di atas pintu berdentang ketika pintu kayu itu terbuka, mengumumkan kedatangan seseorang. Seorang gadis berjas putih masuk dengan langkah tergesa, rambutnya ikut berayun seiring gerakan terburu-buru yang ia lakukan. Nafasnya tampak sedikit memburu, namun matanya berbinar penuh semangat, seolah waktu tak memberinya kesempatan untuk sekadar berjalan pelan.
Di belakangnya, seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan tatapan penuh kewaspadaan. Alexander mengikuti gerakan gadis itu dari jauh, pandangannya tajam, seolah setiap tingkahnya harus diawasi.
Victoria berlarian dari satu rak ke rak lainnya, jemari mungilnya menyusuri pita-pita berwarna yang berjajar rapi, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mampu jelaskan dengan kata-kata.
“Bisakah kau berhenti berlari?!” Tegur Alexander dengan nada berat. Suaranya menggema ringan di dalam ruangan, membuat beberapa benda kaca di rak bergetar halus. “Bagaimana kalau kau menjatuhkan semua barang di toko ini?”
Nada kesalnya membuat penjaga toko, seorang gadis muda berambut sebahu yang berdiri di balik meja kasir tersenyum kecil. Ia menyapa dengan suara ramah, matanya melirik sekilas pada Alexander yang baru saja masuk dengan ekspresi tak sabar.
“Apa dia pacarmu?” tanyanya dengan nada menggoda, senyumnya tulus.
Alexander langsung menoleh dengan gerakan spontan. Tatapan matanya menajam, seperti ingin menusuk balik ucapan itu. “Bukan!! Dia hanya pengganggu kecil yang muncul di hidupku.”
Gadis penjaga toko terkekeh pelan, senyumnya tak pudar. Tatapannya lalu bergeser ke arah Victoria yang kini tengah berdiri di salah satu rak, tampak sibuk memilih pita dengan antusiasme seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
“Jarang sekali melihat dia tersenyum seperti itu,” gumam penjaga toko, suaranya pelan namun penuh ketulusan.
Alexander mendengus keras, sorot matanya menajam ke arah gadis itu seolah tak suka pujian itu terucap. “Memangnya kapan gadis gila itu bisa bersikap dewasa?” ujarnya dengan nada sinis, bibirnya membentuk seringai tipis yang penuh ejekan.
Penjaga toko mengangkat kepalanya, menatap Alexander sejenak. “Mungkin dia merasa aman di dekatmu… cukup nyaman untuk menunjukkan sisi lembutnya,” balasnya lirih, seakan mengingat sesuatu.
Namun, bukannya tergerak, Alexander justru terdiam. Tatapannya terpaku pada Victoria dari kejauhan, memperhatikan gerakan lincahnya yang berpindah dari satu rak ke rak lain. Gadis itu tampak begitu bersemangat, seolah dunia kecilnya hanya dipenuhi oleh pita-pita itu.
Victoria kini sudah menggenggam lima pita berwarna merah, tapi langkahnya belum juga terhenti. Ia berlari kecil ke rak lain, matanya berkilat mencari sesuatu yang tak bisa dilepaskan. Gerakannya membuat ujung jas putihnya berkibar ringan, menambah kesan riang yang kontras dengan aura serius di sekitar Alexander.
“Kenapa dia belum juga berhenti?” desis Alexander pelan, nadanya penuh kesal. Tangannya masuk ke dalam saku celana, kepalanya menggeleng dengan ekspresi frustasi. “Apa dia berniat membeli seluruh isi toko ini?”
Victoria terus saja melompat kecil, jemarinya berpindah-pindah menyentuh pita berwarna biru, kuning, bahkan hitam. Seolah setiap helai pita menyimpan arti yang hanya ia pahami.
“Sepertinya ini pertama kalinya kau menemaninya berbelanja,” ucap penjaga toko tiba-tiba, suaranya ringan. “Biasanya dia datang sendirian untuk membeli pita.”
Alexander hanya menatapnya dengan sorot mata dingin, tidak tergugah sedikit pun oleh nada ramah itu. “Apa dia begitu tergila-gila dengan mayat,” ucapnya datar, namun penuh sindiran, “sampai membelikan hadiah seperti itu?”
Kata itu mayat jatuh begitu berat, menorehkan ketegangan yang seketika mengisi ruangan kecil itu. Penjaga toko menoleh cepat, matanya melebar. Ia melirik Victoria sekilas, memastikan gadis itu tak mendengar, lalu kembali menatap Alexander dengan wajah terkejut.
“Mayat?” ia mengulang dengan suara pelan, seolah tak percaya. “Tapi… dia pernah bilang padaku, kalau pita itu untuk menandai barang-barang miliknya.”
“Menandai barang-barang miliknya?” Alexander mengulang lirih, namun pikirannya semakin buntu.
Tatapannya tertuju pada gadis penjaga toko itu. Keduanya sama-sama terdiam, saling menatap tanpa sepatah kata. Keheningan yang menekan itu membuat suasana terasa ganjil, bahkan riuh obrolan di luar hilang, digantikan hanya suara samar hembusan angin dari pendingin ruangan.
Alexander ingin bertanya lebih jauh, tapi bibirnya kaku. Hanya kerutan di keningnya yang kian dalam, menandai kebingungan yang tak mampu ia ungkapkan.
Diam itu berlanjut cukup lama, sampai tiba-tiba denting nyaring ponsel memecah udara. Suara dering berasal dari saku jasnya. Dengan gerakan cepat ia merogoh, lalu mengeluarkan ponsel.
Nama penelepon muncul jelas di layar. Alexander menoleh sejenak ke arah gadis itu, memberi anggukan singkat sebagai isyarat meminta waktu. Gadis itu balas mengangguk tenang. Ia pun melangkah beberapa langkah menjauh dan menekan tombol jawab.
“Tu.. tuan Reed, kami sudah memeriksa tubuh korban.” Suara dari seberang langsung masuk, serak dan tergesa, tanpa basa-basi.
Nada itu begitu dikenalnya hingga membuat Alexander menutup mata sesaat, mengusap pelipis dengan ujung jarinya. Masalah yang ia hadapi bertambah satu lagi di saat yang bersamaan.
“Bagaimana hasilnya?” tanyanya akhirnya, pelan nyaris berbisik.
“Semua yang disampaikan nona Victoria benar, tuan. Ada luka jelas di punggung bocah itu. Dokter memastikan, bentuknya persis gesekan keras dengan benda kasar…”
Ucapan itu disertai deru napas berat, seolah si penelpon sedang berlari. Tidak ada balasan dari Alexander. Ia terdiam, tubuhnya menegang.
Pikirannya berputar, mencoba mencernanya, lalu refleks menoleh pada Victoria yang masih berdiri tegak di sisi rak. Kata-kata sebelumnya, analisis yang dia ucapkan dengan begitu yakin, kini bukan lagi sekadar tebakan, melainkan kebenaran yang nyata.
Namun, justru satu kalimat yang tak bisa ia abaikan, menggema di dalam kepalanya, menusuk berulang kali:
“Menandai barang-barang miliknya?”