Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Tumbang lagi
Sepanjang waktu istirahat Agha masih memaksakan diri untuk memeriksa laporan keuangan yang baru di kirim oleh Hiroshi, saat asik memeriksa laporan seketika kepala Agha semakin denyut dan rasanya ingin pecah.
"Argh!." Ucap Agha lumayan keras membuat umah masuk ke kamar Agha tergesa-gesa.
"Erlan, ya Allah nak. Kepalanya jangan di pukul-pukul nak, abah tolong abah."
Tak lama abah datang dan melihat Agha yang memukul kepalanya sementara tangan umah menahan tangan Agha agar tidak memukul kepala nya.
"kita ke rumah sakit yah, bentar abah siapkan mobil".
Mereka sampai rumah sakit, Agha langsung masuk UGD dan langsung di tangani.
"Udah saya berikan obat ketorolac agar kepala pak Agha tidak sakit, serta karena dokter Agha demam yang mengakibatkan dehidrasi, untuk infus saya berikan Ringer laktat, saat sudah habis tolong beritahu kami ya pak Bu, agar cairan infus nya kita ganti NaCl 0.9% agar mengembalikan tenaga pak Agha." Jelas dokter Emir yang saat ini sedang jaga UGD.
"Kenapa gak di berikan bersamaan dokter?." Tanya umah sebagai orang awam.
"Bisa di berikan bersamaan, tapi kurang baik karena bisa mempengaruhi keseimbangan elektrolit pak Agha pak bu."
"Kalau begitu, anak saya akan di rawat inap dokter?."
"Mengingat kondisi pak Agha saat ini, bisa di rawat inap kalau bapak ibu ingin."
"Yasudah, lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter." Ujar abah dan izin ke umah untuk mengurus administrasi rumah sakit agar Agha bisa di rawat inap.
Saat akan membayar, datang dokter Elder yang notabenya sahabat Agha sekaligus pemilik rumah sakit kepercayaan keluarga Agha, mereka kenal saat Agha kuliah di Oxford University. Mereka satu universitas tapi beda fakultas, Agha management bisnis sementara Elder kedokteran. Mereka berdua kenal karena kakeknya Elder dan kakeknya Agha mereka sahabat, otomatis anak dan cucu mereka jadi ikutan bersahabat, dan Agha juga menanam saham di rumah sakit milik Elder dah atas permintaan Elder untuk kerjasama.
Elder sedang berjalan menuju UGD setelah mendapat kabar dari perawat Riska.
"Abah, assalamualaikum." Ujar Elder sambil mencium punggung tangan Abah.
"Wa'alaikumsalam nak Elder."
"Erlan dimana abah?."
"Masih di UGD sama umah."
"Administrasi Erlan gak usah di bayar abah." Tolak Elder saat Abah akan membayar.
"Gak, kamu gak boleh kayak gini nak Elder."
"Abah ini, kayak sama siapa aja, Erlan juga pemilik saham loh disini kalau abah lupa."
"Tapi tetap aja, saat ini Erlan kan pasien."
"Tetap tidak terlepas Erlan pemilik saham juga abah."
"Gak, ini abah maksa. Erlan masuk ruangan VVIP, dan abah gak mau gratis."
"Abah."
"Elder." Dah lah, kalau abah sebut dirinya dengan nama aja tanpa _'nak'_ maka Abah kesal.
"Baiklah, kali ini abah yang menang."
_'Emang buah jatuh tak jauh dari pohon, bapak anak sama aja sifatnya.'_ Batin Elder mengingat kembali sifat Agha yang percis dengan Abah.
"Yaudah Elder ke Erlan dulu yah abah, kalian kasih fasilitas bagus ke pak Agha." Ucap Elder sambil bicara dengan staff administrasi.
"Baik pak."
"Nak Elder." Ucap abah dengan nada pasrah.
"Abah, emang setiap staf rumah sakit ini mendapat fasilitas, mau itu potongan harga, ruangan, bahkan lebih prioritas termasuk juga Erlan bah."
"Yasudah, kamu ke Erlan aja, pusing abah."
"Hehe, yaudah Elder pamit abah, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsamalam."
Saat Elder masuk ke dalam UGD, para tim medis lainnya membungkuk sedikit untuk hormat kepemimpin sekaligus pemilik rumah sakit ini. Elder hanya mengangguk sekilas dan jalan kembali ketempat brankar Agha, saat sampai Elder langsung salam ke umah.
"Erlan udah di tangani umah?."
"Udah nak, abah juga lagi urus administrasi biar Erlan rawat inap."
"Sebenarnya gak usah urus administrasi segala umah, Erlan kan pemilik saham juga disini dan sahabat Elder plus kita kan keluarga umah."
"Tetap aja nak kami harus bayar, biar adil kan."
"Gak umah, bahkan di Hanguk Erlan gratis semuanya dan kenapa di sini gak, itu namanya curang."
"Kamu ini, ada-ada saja, kalau di Han-guk kan Erlan yang bangun rumah sakitnya, beda dengan disini dan kasihan kamu nanti berkurang uangnya."
"Umah, Elder bahkan senang kalau uang Elder berkurang karna keluarga, Erlan tuh gak pernah mau pakai uang Elder untuk sekedar beli camilan, selalu dia terus yang bayar, curang kan umah." Ujar Elder yang malah terdengar curhat dengan sifat Agha yang emang selalu mentraktir dirinya, padahal uangnya gak kalah banyak dari milik Agha.
"Yasudah, nanti kalau Erlan siuman kamu bawakan buah kesukaan Erlan. Gak bakalan nolak dia, kapan lagi kan yang kayak kamu cerita barusan."
"Nah iya yah umah, kok Elder gak kepikiran yah, makasih umah. Elder pamit dulu, kalau udah di ruangan kabari Elder yah umah."
"Iya nak Elder." Ucap Umah sambil tersenyum lucu melihat tingkah Elder yang gak mau kalah dengan sifat Agha.
Sebenarnya mereka sama saja, selalu seperti itu. Bukan sekali dua kali, ini udah entah ke berapa kali, kadang mereka dua seperti anak kecil yang menunjukkan isi dompet nya penuh uang cash. Kalau seperti itu, Elder yang kalah karena Agha sering menggunakan cash ketimbang kartu. Umah dan abah hanya terkekeh geli melihat sifat mereka itu ketika muncul, dan kesal karena setelahnya bakalan saling timpah badan, percis seperti anak kecil padahal Elder udah nikah dan punya satu anak, tapi balik lagi laki-laki gak pernah dewasa.
Tak lama abah balik dan diikuti beberapa perawat laki-laki guna membantu Agha untuk ke ruang rawat inap nya, saat sampai di ruangan umah langsung menghubungi mbak Aqila kalau Agha masuk rumah sakit dan memberitahu nama ruangan Agha, sementara abah menghubungi Elder dan memberitahu nama ruangan Agha.
"Engh, umah." Ucap Agha dengan suara serak.
"Iya nak, ini umah, kamu mau minum?."
"Boleh umah, tapi ini tolong dibuat agak duduk yah brankar nya umah."
Abah langsung sigap memposisikan keinginan Agha, melihat Agha udah nyaman baru Abah menstop tombol yang ada di remote brankar.
"Udah umah." Ujar Agha sedikit mendorong air mineral ditangan umah.
"Gimana, masih sakit kepalanya nak?."
"Udah mendingan umah, tapi lemes badan Erlan."
Setelah mendengar ucapan Agha, umah langsung melihat cairan infus Agha yang udah mau habis.
"Sebentar, umah ngomong ke dokternya yah, biar di ganti cairan infus nya."
"Biar abah aja, umah duduk aja dekat Erlan." Ucap abah dan berjalan keluar dari ruangan Agha menuju depo jaga ruangan VVIP.
Tak lama abah datang dengan perawat Hendrik membawa cairan infus NaCl 0.9% seperti perkataan dokter Emir, infus Agha pun sudah terganti.
Tok...Tok...