Tiara pergi ke kantor catatan sipil menemani bibinya yang akan bercerai dengan suaminya. Siapa sangka seorang pria menarik tangannya dan memperkenalkan dirinya sebagai calon istri pada seorang wanita tua yang berada di sebuah kursi roda.
"Ibu, dia calon istriku. Aku pasti akan menikah lagi, dan memberikan Andrew seorang ibu. Sekarang ibu sudah mau di operasi kan?" tanya pria yang menggenggam erat tangan Tiara.
"Eh, pak ini apa..."
Mata Tiara melebar, pria itu menciumnya. Begitu saja. Lalu berbisik pada Tiara.
"Bekerja samalah dengan ku. Aku akan berikan apapun yang kamu mau!"
"Wah, kalian benar-benar mesra. Baiklah, kalau begitu langsung masuk saja. Ibu baru mau dioperasi kalau kalian sudah dapat sertifikat pernikahan!"
Rahang Tiara nyaris jatuh.
"Me.. menikah? nyonya, aku masih SMA" kata Tiara tergagap.
Pria matang dan dewasa yang menciumnya tadi cukup terkejut.
'Dia masih SMA?' batinnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di dalam mobil Nicholas, pria itu sesekali tampak melirik ke arah Tiara.
"Dia bicara apa padamu?" tanya pria itu dengan gaya acuh.
Jadi, Nicholas itu sebenarnya dari tadi curi-curi pandang ke arah Tiara. Tapi, saat dia bicara. Arah pandangan pria matang dan mapan itu sama sekali tidak ke arah Tiara.
Tiara menoleh, sebenarnya dia sejak tadi ingin bertanya pada Nicholas. Tapi situasinya memang sangat tidak kondusif.
"Om, jadi om itu ayahnya Andrew?" tanya Tiara.
Pertanyaan Nicholas tadi belum di jawab, malah Tiara bertanya pada Nicholas. Karena memang dia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Iya" jawab Nicholas singkat.
Dia memang ayahnya Andrew, ayah kandungnya Andrew.
Tiara menghela nafas panjang. Banyak hal buruk yang Tiara dengar tentang ayah Andrew.
'Bukannya Andrew pernah bilang kalau ayahnya tukang selingkuh. Penyakit suka selingkuhnya juga bisa jadi ada campur tangan DNA ayahnya kan? hais, kenapa aku menikahi pria tukang selingkuh?' batin Tiara yang berpikiran seperti itu.
Tapi, memang bukan sepenuhnya salahnya kalau dia bisa berpikir seperti. Andrew yang sering mengatakan kalau ayahnya selingkuh dan hal itu yang menyebabkan ibunya meninggal.
Tiara memegang kepalanya. Dia sangat tidak suka berurusan dengan hal-hal seperti ini. Bisa menguras emosinya.
Dan Nicholas yang melihat reaksi Tiara seperti tidak senang. Merasa, mungkin ada hal buruk yang dia dengar dari Andrew tentang ayahnya.
"Kenapa wajahmu? apa Andrew mengatakan hal tidak baik tentang aku, padamu sebelumnya?" tanya Nicholas.
"Semua hal tentangmu bagi Andrew buruk, om!" celetuk Tiara.
Dia hanya mengatakan yang sebenarnya. Dia memang seperti itu.
"Dan menurutmu aku seperti itu?" tanya Nicholas.
Sebenarnya Tiara tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Tiara pikir, bahkan mereka belum cukup saling mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa menjudge begitu saja.
"Aku memilih tidak menjawab, pass! kita belum saling mengenal. Kalau aku jawab kamu jahat, aku tidak pernah melihatmu melakukan kejahatan. Dan kalau aku bilang kamu baik..." Tiara menjeda ucapannya dan melirik tidak senang, "kamu bahkan membuat leherku harus di tempel koyo begini!" kata Tiara.
Sebenarnya sejak tadi Nicholas juga melihat benda di leher Tiara itu. Tapi, dia khawatir Tiara membahasnya lagi dan marah kalau dia bertanya.
"Apa sakit?" tanya Nicholas.
Tiara mendengus pelan, matanya melebar.
"Masih tanya? mau tahu rasanya, mau coba?" tanya Tiara yang memang kalau bicara seperti itu, petantang petenteng.
Cittt
Tiba-tiba saja Nicholas menginjak pedal rem mobilnya dengan cepat. Pria itu menelan salivanya cukup sulit, lalu menoleh ke arah Tiara.
Tiara masih bingung, kenapa malah berhenti tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba berhenti..."
"Mau coba" ucap Nicholas pelan membenarkan posisinya menghadap Tiara.
Tiara memundurkan punggungnya, dia tadi hanya asal bicara.
"Balas dua kali lipat!" kata Nicholas.
Cara bicara pria itu, entah kenapa membuat Tiara merasa gemetar. Tapi mendadak Tiara merasa kalau pria di depannya berubah drastis dari sangat menakutkan dan dingin, menjadi sangat... sangat sulit di jelaskan. Ibaratnya dari macan yang buas dan galak, berubah menjadi kucing yang manis dan menggemaskan.
Tiara yang memang suka buat perhitungan dengan orang yang menggangunya mendengus pelan.
"Jangan menyesal ya! tidak boleh membalas juga!" kata Tiara yang entah mendapatkan keberanian darimana sampai bicara seperti.
Tiara melepaskan sabuk pengamannya. Dan mendekat ke arah tempat duduk Nicholas. Pria itu menggunakan kaos dan jas. Tiara menarik jasnya dan menghisapp leher bagian kiri Nicholas seperti yang kemarin malam di lakukan Nicholas padanya.
Nicholas memejamkan matanya. Satu tangannya memeluk pinggang Tiara, satu lagi mencengkeram erat setir kemudi di sampingnya.
Seluruh tubuh pria itu meremang, dia belum pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya. Tiara benar-benar telah memporak-porandakan pertahanannya selama 12 tahun lebih ini.
Tiara merasa sudah cukup, dia melihat dengan bangga hasil karyanya di leher Nicholas.
'Lebih merah dari di leherku. Rasakan itu!' batin Tiara sangat puas.
Tapi saat Tiara akan memundurkan badannya, tangan Nicholas yang berada di belakang pinggangnya menahannya.
Tiara terkejut,
"Kenapa? tidak terima?" tanya Tiara santai.
Padahal jantung Nicholas sudah berdebar begitu kencang, akibat gadis itu.
"Tidak ingin membalas dua kali lipat. Tidak mau benar-benar membuktikan ucapanmu?" tanya Nicholas.
"Serius?" tanya Tiara bingung.
'Aneh, bukannya rasanya sakit dan merinding. Sangat tidak nyaman. Kenapa dia nagih?' batin Tiara bingung.
Saat Tiara sedang berpikir, Nicholas malah sudah membuka sedikit jas di bahu sebelah kanannya.
Tiara menggigitt bibir bawahnya. Entah kenapa saat tangan di belakang pinggangnya itu mendorongnya, Tiara mengikutinya begitu saja.
Tiara kembali menghisapp leher bagian kanan Nicholas. Tapi karena gemas, Tiara menggigittnya.
Nicholas kembali memejamkan matanya. Tapi kali ini bibirnya sedikit mendesiss.
"Sshhh"
Tiara yang mendengar suara itu lantas menarik dirinya dan duduk kembali ke kursinya.
"Sudahlah!" kata Tiara yang tiba-tiba jadi merinding ketika mendengar suara desisann Nicholas tadi.
Nicholas menelan salivanya dengan susah payah. Dia bahkan merasa ada yang penuh sesak di bawah sana karena yang terjadi barusan.
"Kita sudah impas?" tanya Nicholas.
Tiara merasa wajahnya memanas. Dia memalingkan wajahnya dari Nicholas.
"Anggap saja begitu!" sahutnya.
"Baiklah!"
Nicholas pun kembali melajukan mobil itu meski jantungnya benar-benar berdebar sangat kencang dan suhu tubuhnya meningkat drastis.
Sementara Tiara, dia juga bingung. Jantungnya mulai tidak nyaman, tidak tenang, berdebar dan tangannya menjadi begitu dingin. Tapi dia merasa wajahnya memanas.
'Kenapa tadi aku menggigittnya? apa yang membuatku begitu berani melakukan itu?' batin Tiara bingung.
Alhasil keduanya benar-benar hanya diam sampai ke rumah Nicholas.
Tiara yang pertama kali melihat rumah Nicholas, yang artinya rumah Andrew juga. Di buat sangat takjub. Rumahnya besar, seperti rumah mewah orang-orang kaya di sinetron ikan terbang. Pagarnya saja sangat tinggi, mungkin setinggi atap rumah paling puncak rumahnya Tiara. Tidak bisa di bandingkan dengan pagar semampainya alias semeter tak sampainya rumah Tiara.
Nicholas bahkan turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.
"Te... terimakasih!" Tiara agak canggung.
Nicholas mengulurkan tangannya di depan Tiara. Tiara yang memang tidak tahu maksud Nicholas, tentu saja bertanya.
"Apa? minta apa?" tanya Tiara bingung.
"Berikan tanganmu. Gandeng tanganku!" kata Nicholas.
Pria itu sepertinya benar-benar ingin menunjukkan pada Andrew, kalau gadis itu adalah miliknya.
'Pria ini, kenapa dia begini? dia benar-benar ingin memanas-manasi anaknya sendiri? bukankah itu menunjukkan kalau dia lebih kekanak-kanakan dari Andrew!' batin Tiara.
Tiara tak kunjung memberikan tangannya, karena dia masih berpikir. Tapi melihat mobil Will masuk pekarangan, Nicholas meraih tangan Tiara dan menggenggamnya dengan erat.
Tiara melihat tangannya yang di cengkeram begitu erat oleh Nicholas.
'Tuh kan! kekanak-kanakan sekali. Sama anaknya sendiri loh! haruskah dia memanas-manasi Andrew seperti ini?' batin Tiara tak habis pikir.
***
Bersambung...
kita belum liat si Abang bulan loo🥹🥹..
walaupun tahun ini Kita dilewati
ga masalah,ada bts😜🤣🤣
terkadang hidup penuh kebohongan lebih baik dari pada tau yg mana ttg kebenaran.
karena, pasti lebih jauh sakitnya
kayak...
tau dengan jujur kalau Hannie suka boong Mulu kalau maen mafia😜🤣🤣