Rina menemukan pesan mesra dari Siti di ponsel Adi, tapi yang lebih mengejutkan: pesan dari bank tentang utang besar yang Adi punya. Dia bertanya pada Adi, dan Adi mengakui bahwa dia meminjam uang untuk bisnis rekan kerjanya yang gagal—dan Siti adalah yang menolong dia bayar sebagian. "Dia hanyut dalam utang dan rasa bersalah pada Siti," pikir Rina.
Kini, masalah bukan cuma perselingkuhan, tapi juga keuangan yang terancam—rumah mereka bahkan berisiko disita jika utang tidak dibayar. Rina merasa lebih tertekan: dia harus bekerja tambahan di les setelah mengajar, sambil mengurus Lila dan menyembunyikan masalah dari keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zuliyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Setelah peluncuran patung Adi, keluarga mulai melangkah maju dengan langkah yang tenang tapi tegas. Mereka tahu bahwa Adi tidak ingin mereka terjebak dalam kesedihan—dia ingin mereka terus membuka jendela dan berbagi cinta seperti yang selalu dia lakukan.
Pada bulan Juni, Rina memutuskan untuk melanjutkan rencana Adi yang belum selesai membuat "Ruang Belajar Seni" di galeri, tempat anak-anak yang tidak mampu bisa belajar melukis, menulis, dan membuat patung secara cuma-cuma. Dia mengajak Lila, Ayu, dan Rina untuk menjadi instruktur, dan Arif untuk membuat modul pembelajaran secara online agar anak-anak bisa belajar di rumah juga.
"Ini adalah impian Adi—agar setiap anak bisa mengembangkan kreativitasnya, tanpa peduli latar belakangnya," kata Rina ketika mengumumkan rencana itu. Cinta dan Kelompok Jendela langsung bersedia membantu mengelola ruangan itu, dan banyak tetangga menyumbang bahan seni.
Mimpi sekarang sudah berusia 2 tahun 9 bulan dan semakin pintar. Dia sering datang ke Ruang Belajar Seni bersama Rafi dan Luna, membantu instruktur memberitahu anak-anak tentang cerita jendela asli dan Adi. Dia suka mengajak anak-anak lain menggambar bunga melati dan patung Adi, dan selalu berkata "Papa Adi suka anak-anak yang pintar menggambar!"
Semenjak Ruang Belajar Seni dibuka, ratusan anak telah datang untuk belajar. Banyak dari mereka tidak pernah menyentuh alat seni sebelumnya, tapi dengan bimbingan keluarga dan Kelompok Jendela, mereka bisa membuat karya yang indah. Satu hari, seorang anak kecil dari daerah terpencil membawa lukisannya, gambar jendela asli dengan patung Adi di depannya, dan tulisan di bawahnya "Rumahku yang indah, berkat Papa Adi." Rina menangis senang dan menyimpan lukisan itu di dinding galeri.
Pada bulan Agustus, aplikasi "Jendela Kita" meraih penghargaan dari lembaga teknologi nasional karena kontribusinya dalam menghubungkan orang melalui seni. Arif naik panggung menerima penghargaan, dan dia berkata "Penghargaan ini bukan milikku saja—ini milik Adi, yang memberi ide untuk membuat aplikasi ini. Dia selalu bilang, 'teknologi harus digunakan untuk menyatukan orang, bukan memisahkan.'" Semua keluarga menonton siaran langsung dari galeri, dan Mimpi berteriak "Papa Adi menang! Selamat!"
Sementara itu, Cinta dan Kelompok Jendela mendapatkan undangan untuk mengadakan lokakarya seni di pulau Sumatera, dengan tema "Jendela Adi—Rumah Bagi Semua". Mereka pergi sana selama seminggu, membawa bahan seni dan cerita tentang Adi. Di sana, mereka bertemu dengan anak-anak yang tinggal di daerah terpencil, dan bersama-sama membuat jendela kolaboratif yang menggabungkan kain tenun Sumatera dengan batik Jawa. Ketika selesai, anak-anak itu berkata "Kita akan pasang jendela ini di rumah kita, sehingga kita selalu ingat Papa Adi."
Pada bulan Oktober—setelah 7 bulan Adi meninggal—keluarga memutuskan untuk membuat "Taman Adi" di belakang galeri, yang dipenuhi bunga melati dan berbagai bunga khas Indonesia. Mereka mengajak semua tetangga dan pengunjung galeri untuk membantu menanamnya. Selama hari itu, galeri penuh dengan tawa dan cerita tentang Adi. Mimpi membantu menanam bunga melati kecil, dia berkata "Papa Adi suka bunga melati—dia akan senang melihat taman ini!"
Setelah taman selesai, setiap pagi Rina akan datang ke sana, duduk di bangku yang dibuat Adi sebelum dia sakit, dan berbicara dengan dia. Dia akan menceritakan semua yang terjadi—tentang Ruang Belajar Seni, penghargaan aplikasi, lokakarya di Sumatera, dan bagaimana Mimpi semakin besar. "Kamu lihat, sayang?" katanya sambil melihat ke jendela asli. "Semua impian kita sedang tercapai. Kamu selalu ada di sini, membantu kita melangkah maju."
Pada hari Akhir Tahun—setelah satu tahun Adi meninggal—semua orang berkumpul di Taman Adi, di depan jendela asli dan patung Adi. Bunga melati mekar penuh, dan bau nya memenuhi udara. Ruang Belajar Seni mengirimkan karya seni anak-anak—semua gambar jendela, bunga, dan Adi—yang dipajang di sekitar taman.
Rina berdiri di depan semua orang dan berkata"Setahun yang lalu, kita kehilangan orang yang paling dicintai. Tapi sepanjang tahun ini, kita juga mendapatkan banyak—anak-anak yang bahagia, teman-teman baru, dan makna yang lebih dalam tentang rumah. Adi tidak pernah hilang—dia hidup di setiap karya seni, setiap jendela yang terbuka, dan setiap hati yang kita sentuh."
Cinta membawa jendela kolaboratif yang dibuat di Sumatera dan berkata."Kita akan terus membuka jendela di seluruh Indonesia dan dunia, seperti yang Papa Adi inginkan. Setiap jendela itu adalah tanda cinta dia kepada kita semua."
Mimpi jalan-jalan di antara orang-orang, membawa bunga melati dari Taman Adi, dan menaruhnya di kaki patung Adi serta di depan jendela asli. Dia berkata dengan suara yang jernih.Papa Adi di hati, di jendela, di taman. Rumah semua orang, selamanya!"
Pada saat jam 12 malam tiba, kembang api meledak di atas taman, menyinari jendela asli, patung Adi, dan semua karya seni. Semua orang menggenggam tangan, menyapa tahun baru, dan menangis senang. Angin segar bertiup melalui jendela, menyebarkan bau bunga melati dan kebahagiaan yang Adi selalu inginkan.
Jendela asli tetap terbuka, patung Adi berdiri kokoh di taman, dan ingatan Adi hidup abadi di hati semua orang. Keluarga melanjutkan kehidupan dengan cinta dan harapan, tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah untuk melanjutkan impian yang mereka bangun bersama Adi—impian tentang rumah yang terbuka bagi semua orang.