Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hak yang Berpindah
Empat puluh hari setelah Ardian Maheswara dimakamkan, rumah itu kembali terasa dipenuhi oleh kehadiran manusia.
Bukan karena riuh, melainkan karena setiap orang yang duduk di ruang tengah membawa perasaan yang sama. Tegang, cemas, dan sadar bahwa setelah hari ini, tidak ada lagi yang bisa kembali seperti semula.
Di atas meja panjang, beberapa map cokelat tebal telah tersusun rapi. Dua orang perwakilan notaris duduk berseberangan, membuka berkas sambil kembali meneliti isi di dalamnya dengan seksama.
Ratih duduk di kursi paling depan. Wajahnya pucat, lebih tirus dibandingkan beberapa minggu lalu. Duka belum sepenuhnya lepas dari sorot matanya.
Di sampingnya, Adisti duduk diam. Tangannya saling menggenggam, punggungnya tegak, seolah sedang menyiapkan diri untuk menerima keputusan apa pun yang akan jatuh kepadanya.
Beberapa kursi di belakang mereka, Revan duduk sendiri. Jas hitamnya rapi, tetapi bahunya kaku. Tatapannya lurus ke depan, meski sesekali melirik ke arah Aruna yang duduk agak terpisah.
Aruna tampak tenang. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Tidak ada raut menunggu, tidak pula rasa ingin tahu yang berlebihan. Kehadirannya di ruangan itu lebih menyerupai kewajiban daripada harapan.
Ketukan kecil dari notaris memecah keheningan. “Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu,” ucap notaris dengan suara profesional. “Hari ini, sesuai dengan kehendak almarhum Bapak Ardian Maheswara, kami akan membacakan surat wasiat beliau.”
Tidak ada suara yang menyela. Notaris membuka map pertama. “Surat wasiat ini disusun dalam keadaan sadar, tanpa tekanan, dan dinyatakan sah secara hukum.”
Ratih mengangguk lirih. Wajahnya tetap pucat, matanya sembab. Terlihat jelas bahwa dirinya masih berada dalam duka yang mendalam.
“Pertama,” ujar notaris mantap, “seluruh hak kepemilikan, pengelolaan, dan kendali operasional firma hukum Maheswara & Partner’s diwariskan sepenuhnya kepada putra sulung almarhum, Revan Aditya Maheswara.”
Revan menegakkan punggungnya. Nama itu. Firm aitu. Kini resmi menjadi miliknya.
“Kedua,” lanjut notaris, “seluruh aset finansial almarhum, baik bergerak maupun tidak bergerak, termasuk rekening, deposito, saham pribadi, properti investasi, dan aset lainnya, dibagi sama rata kepada kedua anak kandung almarhum, yaitu Revan Aditya Maheswara dan Adisti Sekar Maheswara, masing-masing sebesar lima puluh persen.”
Adisti menarik napas panjang. Ratih menunduk, seolah menerima keadilan yang sejak awal ia yakini akan dijaga oleh Ardian.
Notaris kemudian membuka map selanjutnya. “Ketiga,” ujarnya, “seluruh rumah dan kendaraan yang dimiliki bersama oleh almarhum Ardian Maheswara dan istrinya, Ratih Maheswara, ditetapkan menjadi hak milik Ratih Maheswara sepenuhnya.”
Ratih mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena harta, melainkan karena rasa aman yang akhirnya diberikan kepadanya.
“Keempat,” ucap notaris lagi, “terkait properti rumah yang saat ini ditempati oleh Revan Aditya Maheswara dan istrinya, Aruna Putri Pramesti.”
Ruangan kembali hening. “Berdasarkan kehendak almarhum,” lanjut notaris, “kepemilikan rumah tersebut dialihkan sepenuhnya kepada Aruna Putri Pramesti sebagai penerima manfaat tunggal.”
Revan menoleh cepat. Sementara Aruna terdiam, memproses keputusan itu dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat.
Notaris menambahkan, “Almarhum menyertakan catatan pribadi bahwa keputusan ini dibuat sebagai bentuk perlindungan, keadilan, dan penghormatan bagi setiap anggota keluarga sesuai dengan perannya.”
Map ditutup perlahan. “Demikian pembacaan surat wasiat almarhum Bapak Ardian Maheswara.”
Tidak ada yang langsung berdiri setelah kalimat terakhir notaris diucapkan.
Pihak notaris berdiri dan mulai membereskan berkas-berkas mereka. Map cokelat itu dimasukkan kembali ke dalam tas kerja, lalu salah satu dari mereka menatap Ratih dengan sopan.
“Terima kasih atas waktunya, Bu Ratih,” ucap notaris. “Jika nanti diperlukan proses administratif lanjutan, kami akan menghubungi kembali.”
Ratih mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Tidak ada percakapan tambahan. Tidak ada basa-basi. Beberapa menit kemudian, pintu rumah Maheswara tertutup kembali. Keheningan langsung menguasai ruang tengah, jauh lebih menekan dibanding sebelumnya.
Ratih berdiri perlahan. Wajahnya lelah. “Mama ingin istirahat,” ucapnya lirih. “Kalian pulanglah.”
Aruna menghampiri ibu mertuanya dan memeluknya singkat. “Mama jaga kesehatan.”
Ratih mengangguk, lalu menatap Aruna. “Hati-hati di jalan, nak.”
Aruna membalas dengan anggukan sopan, ia sempat berpesan pada Adisti kalau memerlukan sesuatu agar segera mengabarinya.
Ratih pun melangkah menuju kamarnya, menutup pintu dengan pelan. Seolah ingin menjauh dari dunia yang terlalu bising hari ini.
“Dis, aku pamit pulang ya. Tolong titip mama.” Ujar Aruna berpamitan pada Adisti.
Adisti mengangguk pelan. “Iya kak, hati-hati ya.” Ujarnya.
Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Revan menyetir dengan tangan mengepal di setir. Rahangnya mengeras. Aruna duduk di kursi sebelahnya, menatap keluar jendela, wajahnya tenang meski dadanya bergejolak.
Sesampainya di rumah, Revan langsung masuk tanpa menoleh. Ia melempar kunci mobil ke meja kecil di ruang tengah dengan suara keras.
“Hah,” Revan terkekeh pendek. “Akhirnya kelihatan juga.”
Aruna menoleh. “Kelihatan apa?”
Revan berbalik, menatap Aruna tajam. “Kelihatan tujuanmu selama ini. Pantas saja kamu setuju menikah denganku. Rupanya kamu mengincar harta keluargaku.”
Kalimat itu jatuh seperti tamparan tidak kasat mata, menyinggung perasaan dan harga diri Aruna.
Aruna menghela napas pelan. Matanya menatap Revan lurus, tidak gentar. “Kamu salah orang.”
Revan tertawa pahit. “Salah? Kamu menikahi anak keluarga raya, sekarang rumah ini jatuh ke tanganmu. Bukankah itu bukti?”
Aruna melangkah mendekat satu langkah. Suaranya turun, tetapi sarat penekanan. “Aku menikah bukan karena hartamu, Kak Revan. Kalau aku mau kaya dengan cara mudah, aku tidak akan memilihmu.”
Ucapan itu membuat Revan semakin tersulut. “Jangan sok suci!”
Aruna tersenyum tipis dan dingin. “Aku mungkin bukan perempuan sempurna, tapi setidaknya aku tidak menjual diri dengan mengandalkan wajah cantik untuk menggaet laki-laki kaya.”
“Kamu menghina Viona?” Revan membentak. “Jangan berani-berani bawa namanya!”
“Kenapa?” Aruna menantang. “Karena itu kebenaran yang paling kamu benci?”
Plak! Suara tamparan menggema di ruang tengah.
Revan membeku. Tangannya refleks menyentuh pipi kiri yang memanas, tatapan matanya penuh amarah dan keterkejutan.
Aruna berdiri tegak di hadapannya. Tangannya gemetar, napasnya memburu, tetapi matanya basah oleh air mata yang tertahan bukan karena takut, melainkan karena harga diri yang diinjak.
“Jangan pernah menyamakan aku dengan perempuan simpananmu,” ucap Aruna dengan suara bergetar namun tegas. “Aku istrimu yang sah. Dan aku tidak akan menerima penghinaanmu.”
Revan melangkah maju. Amarahnya memuncak. “Kamu berani menampar aku?”
“Berani,” jawab Aruna tanpa mundur. “Karena itu lebih terhormat daripada diam saat direndahkan.”
Aruna menarik napas panjang. Air mata akhirnya jatuh, tetapi ia segera mengusapnya dengan kasar.
“Aku tidak membutuhkan rumah ini, Kak Revan,” katanya lirih. “Aku bisa pergi kapan saja. Tapi ingat satu hal bukan aku yang menikah demi warisan.”
Setelah itu, Aruna berbalik. Langkahnya mantap menuju tangga, lalu pintu kamarnya ditutup keras. Sementara Revan terdiam. Dadanya naik turun, emosinya belum reda.
Di rumah yang kini bukan lagi sepenuhnya miliknya, Revan berdiri sendiri dengan amarah dan rasa kalah yang untuk pertama kalinya ia rasakan bukan karena kehilangan harta, tetapi karena kehilangan kendali atas Aruna. Dan ia tahu, sejak tamparan itu terjadi, tidak ada lagi jalan kembali ke keadaan semula.