NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Alexander terkejut dengan perkataannya. "Elena, kau sedang tidak dalam kondisi yang baik. Jangan bicara seperti itu."

Elena menggelengkan kepalanya, semakin mendekat pada Alexander. "Aku tahu apa yang aku katakan. Aku menginginkanmu, Alexander. Sekarang."

Alexander mencoba menjauhkan diri, tetapi Elena semakin mendekat, meraih wajahnya dengan kedua tangannya.

Elena tidak mendengarkan perkataannya. Ia mencium Alexander dengan penuh nafsu, melumat bibirnya dengan liar. Alexander mencoba menolak, tetapi Elena semakin agresif, menciumnya dengan semakin dalam.

Sopir Alexander, yang duduk di depan, merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut. Ia mencoba untuk tidak melihat ke belakang, tetapi suara-suara yang berasal dari kursi belakang membuatnya semakin gelisah.

Alexander akhirnya menyerah pada godaan Elena. Ia membalas ciumannya dengan penuh gairah, melupakan semua kekhawatiran dan pertimbangan. Mereka berciuman dengan liar, saling melumat dan menggigit bibir masing-masing.

Alexander melepaskan ciumannya dan menatap ke depan.

"Keluar dari mobil. Berjaga lah di luar," titah Alex pada sopirnya.

"Baik, Tuan. Sopirnya buru-buru keluar dan berjaga tak jauh dari mobil. Mobil itu mulai bergoyang.

Ciuman itu semakin lama semakin panas. Alexander mulai membuka kancing kemeja Elena, menyentuh kulitnya dengan lembut. Elena mendesah dengan nikmat, semakin mendekat pada Alexander.

Pertarungan panas di dalam mobil itu berlangsung cukup lama. Mereka saling menyentuh dan mencium dengan penuh nafsu, melupakan semua batasan dan norma yang ada. Desahan dan erangan memenuhi kabin mobil yang sempit, menciptakan suasana yang begitu intim dan memabukkan.

Tubuh Elena akhirnya benar-benar lemas, terkulai di pelukan Alexander setelah badai yang menguras tenaga keduanya. Nafasnya terengah, bibirnya masih basah, dan pipinya merona.

Alexander menatapnya dalam diam, wajahnya dingin namun sorot matanya masih menyala dengan bara yang belum sepenuhnya padam. Ia merapikan rambut Elena yang berantakan, lalu mengambil kemeja yang sempat terlepas. Ia memakaikan kembali pakaian pada Elena dengan hati-hati.

“Elena…” bisiknya, meski wanita itu sudah hampir tertidur dalam dekapan hangatnya.

Alexander merapikan dirinya sendiri, lalu dengan perlahan merebahkan Elena di kursi mobil. Ia menarik selimut tipis dari bagasi, menutup tubuh Elena agar tak kedinginan. Setelah itu, ia keluar dari mobil dengan gerakan tenang.

Udara malam menyeruak begitu ia menutup pintu. Alexander menyulut sebatang rokok, menghisapnya perlahan sambil menatap langit gelap. Kepulan asap berbaur dengan amarah dan kecamuk yang masih membara dalam dirinya, bukan hanya karena Richard, tapi juga karena dirinya sendiri yang kehilangan kendali.

Beberapa menit ia terdiam di sana, sebelum akhirnya menjatuhkan puntung rokok dan memijaknya dengan sepatu hitam mengkilapnya.

Alexander lalu memberi isyarat pada sopirnya yang sedari tadi berjaga tak jauh dari mobil. “Masuk. Antar kami pulang.”

“Baik, Tuan,” jawab sang sopir, cepat-cepat kembali ke balik kemudi.

Alexander membuka pintu belakang, menatap sejenak Elena yang tertidur lelap di kursi dengan wajah damai. Ia masuk, duduk di sampingnya, lalu membiarkan mobil melaju menembus malam yang sunyi, membawa mereka pulang dalam diam.

Alexander menggendong tubuh Elena dengan hati-hati saat memasuki rumahnya. Malam itu begitu sunyi, hanya suara langkah kakinya yang terdengar bergema di lantai marmer.

Di ruang tengah, Leon yang masih terjaga menoleh kaget saat melihat mamanya tertidur dalam pelukan pria itu. Mata kecilnya menatap Alexander dengan penuh rasa ingin tahu.

“Papa… kenapa Mama tertidur?” tanya Leon, meski sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa penasaran anak kecil.

Alexander menunduk sedikit, suaranya tenang namun datar. “Mama hanya lelah, Leon. Jadi Papa membawanya ke kamar.”

Leon terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Oh…” gumamnya, pura-pura percaya. Ia menyingkir, memberi jalan bagi Alexander.

Alexander melangkah menuju kamar Elena, membuka pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara keras. Ia merebahkan tubuh Elena di atas ranjang, lalu menarik selimut hingga menutupi bahunya. Beberapa helai rambut Elena terjatuh di wajahnya.

Alexander berdiri di tepi ranjang, menatapnya cukup lama. Ada sesuatu di dadanya yang bergejolak, campuran amarah, dan keinginan yang tak pernah bisa ia kendalikan setiap kali dekat dengan wanita itu.

Tangannya hampir saja menyentuh pipi Elena, namun ia mengurungkan niatnya. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang hendak pecah dari dalam dirinya.

Tanpa berkata apa pun, Alexander berbalik dan melangkah ke bathroom. Begitu pintu tertutup, ia menyalakan shower. Air dingin mengguyur tubuhnya, menurunkan suhu panas yang masih menguasai pikirannya. Ia menundukkan kepala, kedua telapak tangannya bertumpu pada dinding marmer basah.

Bayangan Elena kembali memenuhi benaknya, tatapan kabur, bibir yang memanggil namanya, desahannya yang masih membekas di telinganya. Alexander memejamkan mata, menarik napas panjang, berusaha meredam semua itu. Padahal sudah beberapa kali dia melakukannya barusan. Tapi entah mengapa, rasanya dia ingin melakukannya lagi dan lagi.

"Shitt!!"

Air terus jatuh deras, namun tak mampu menghapus hasrat yang kembali terlanjur menyala.

***

Pagi datang dengan sinar matahari yang menembus celah tirai kamar. Burung-burung berkicau samar dari luar jendela, mengiringi keheningan ruangan. Elena perlahan membuka matanya, kepalanya masih terasa berat.

Ia mengerjap beberapa kali, lalu tubuhnya menegang ketika menyadari sesuatu, lengan kekar melingkar erat di pinggangnya. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dengan hati-hati ia menoleh, dan matanya membelalak kaget.

Alexander.

Pria itu terlelap di sampingnya, wajahnya begitu dekat hingga Elena bisa merasakan hembusan napas hangatnya di kulit. Rambut hitam Alexander sedikit berantakan, membuatnya terlihat lebih muda, tapi justru semakin berbahaya.

Yang membuat Elena semakin syok adalah kenyataan bahwa Alexander bertelanjang dada, sementara tubuh kekarnya terasa hangat menempel pada punggungnya. Selimut hanya menutupi sebagian, memperlihatkan dada bidang yang sangat menggoda.

Elena menahan napas, otaknya berputar cepat. Bagaimana bisa…? Kenapa dia ada di sini? Apa yang terjadi setelah semalam…?

Dengan hati-hati, Elena mencoba menggeser tubuhnya, berharap bisa melepaskan diri tanpa membangunkannya. Namun baru saja ia bergerak sedikit, genggaman Alexander di pinggangnya otomatis menguat.

“Jangan banyak bergerak.” Suara berat itu terdengar rendah dan serak, tanda pria itu sudah terbangun.

Elena langsung membeku. “Kau…” suaranya gemetar, gugup sekaligus bingung. “Apa yang… apa yang kau lakukan di sini?”

Alexander membuka matanya perlahan, menatap Elena dengan tatapan tajam yang membuatnya semakin gugup. Bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis, samar tapi sarat makna.

“Kau lupa, Elena? Kau yang terus menahanku semalam. Bahkan kita sudah melakukan beberapa ronde.”

Wajah Elena seketika memanas. “Itu… itu tidak benar! Aku… aku tidak ingat…”

Alexander berguling sedikit, kini posisinya setengah menindih Elena. Matanya menatap lurus, intens, hingga Elena tak sanggup menahan pandangan itu lama-lama.

“Kau tidak ingat, atau kau pura-pura melupakannya? Atau... kau ingin aku mengingatkannya lagi?” bisik Alexander dekat telinganya.

Elena menggigit bibir, jantungnya berdetak tak karuan. Ia berusaha mengumpulkan keberanian. “Apa pun yang terjadi semalam… itu hanya karena aku tidak dalam keadaan sadar. Jangan pernah menganggapnya lebih dari itu.”

Alexander terkekeh pelan, suaranya dalam dan bergetar di dada Elena. “Kau bisa menyangkal sekeras apa pun, Elena. Tapi tubuhmu… tidak bisa berbohong padaku.”

Elena terperangah, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. “Lepaskan aku!”

Namun bukannya melepaskan, Alexander justru menatapnya lebih dalam. “Aku tidak akan melepaskanmu, Elena. Bukan sekarang, bukan besok. Kau sudah menjadi milikku. Dan aku belum bosan denganmu.”

Elena terdiam, terjebak antara rasa takut, marah, dan sesuatu lain yang tak berani ia akui pada dirinya sendiri.

1
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!