Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: VIRUS PENGANTAR MAUT
BAB 32: VIRUS PENGANTAR MAUT
Arga menepikan motornya di bawah flyover yang gelap. Pesan dari NOMOR 31 di ponselnya terus berkedip, memancarkan cahaya biru yang tidak alami. Kalimat "Mereka masuk melalui layar" terus terngiang di kepalanya. Di tahun 2025 ini, hampir semua orang hidup di dalam ponsel mereka, dan itu adalah gerbang yang jauh lebih berbahaya daripada pintu rumah mana pun.
Tiba-tiba, ponsel pria paruh baya yang tadi menitipkan kotak kayu padanya berbunyi di dalam tas Arga. Pria itu rupanya lupa membawa ponselnya.
Arga mengambil ponsel tersebut. Layarnya retak, namun sebuah notifikasi muncul:
"Anda mendapatkan kiriman File Terenkripsi. Klik untuk membuka."
"Jangan!" teriak Arga pada dirinya sendiri, namun layar ponsel itu terbuka otomatis tanpa disentuh.
Sebuah video mulai terputar. Video itu hanya menampilkan rekaman statis sebuah lorong rumah sakit yang kosong, namun suara yang keluar darinya adalah suara jeritan ribuan jiwa yang pernah Arga dengar di Sektor Tanpa Nama.
Tiba-tiba, cairan hitam pekat mulai merembes keluar dari celah layar ponsel tersebut. Cairan itu seperti makhluk hidup, merayap di tangan Arga, mencoba masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
"Gudang Digital..." geram Arga.
Simbol "S" di telapak tangannya memanas. Arga tidak lagi menggunakan kekuatan fisik. Ia memejamkan mata, memusatkan fokusnya pada aliran energi gaib yang kini terhubung dengan sinyal frekuensi di udara.
Ia menghantamkan telapak tangannya ke layar ponsel itu. Cahaya putih perak meledak, beradu dengan cairan hitam yang mencoba menginfeksinya. Arga bisa merasakan ada kesadaran baru di dalam jaringan itu—sesuatu yang lebih dingin dan lebih cerdas dari Sang Administrator.
"Kau pikir dengan menghancurkan kayu dan besi, kau bisa menghentikan kami?" sebuah suara terdistorsi keluar dari speaker ponsel. "Kami adalah algoritma sekarang. Kami tahu siapa yang akan mati sebelum jantung mereka berhenti."
Arga mengencangkan genggamannya hingga layar ponsel itu remuk. "Jika kau ada di dalam sinyal, maka aku akan menjadi badai yang memutusnya!"
Arga berdiri dan melihat ke arah menara pemancar (BTS) yang berdiri tegak di kejauhan. Menara itu memancarkan cahaya merah yang berdenyut—tanda bahwa 'Paket Digital' sedang disebarkan ke ribuan ponsel warga di sekitarnya malam ini.
Jika Arga tidak bertindak, besok pagi ribuan orang akan mati karena "serangan jantung mendadak" saat membuka pesan di ponsel mereka.
Arga membuka kembali kotak kayu tua titipan pria tadi. Di dalamnya, ia menemukan sebuah Kumparan Tembaga Kuno yang dililit oleh rambut manusia. Itu adalah artefak anti-teknologi yang disimpan ayahnya sebagai rencana cadangan.
"Ini adalah 'Kunci Jawaban' untuk kalian," ucap Arga.
Ia memasang kumparan itu di depan lampu motornya. Saat ia menyalakan lampu jauh, cahaya yang keluar bukan lagi cahaya biasa, melainkan gelombang elektromagnetik gaib yang sanggup membakar frekuensi setan.
Arga memacu motornya gila-gilaan menuju menara BTS tersebut. Namun, di sepanjang jalan, layar-layar videotron raksasa di pinggir jalan mulai berubah. Wajah Arga yang terhapus muncul di sana, berubah menjadi sosok monster yang menakutkan, mencoba memprovokasi warga yang melintas untuk menyerangnya.
"Dunia sudah berubah, Arga!" teriak suara dari speaker kota. "Kau adalah virusnya sekarang!"
Arga tidak peduli. Ia hanya punya satu tujuan: Mencapai menara itu sebelum hitungan mundur di langit digital mencapai angka nol.
Mampukah Arga melumpuhkan sinyal Gudang Digital sebelum seluruh kota terinfeksi? Dan siapa sebenarnya sosok "NOMOR 31" yang memberinya informasi rahasia ini?