NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Aku Ingin Menggugurkan Dia!

Bagaimana bisa! Bagaimana bisa Sean mengetahuinya. Padahal Alissa belum mengatakan rahasia ini kepada siapapun, kecuali---

Ellard. Ellard Vernandes. Mungkinkah dia yang membocorkannya?

"Tapi, tidak mungkin." Alissa bergumam.

Di novel dijelaskan, jika Ellard dan Sean tidak memiliki hubungan yang baik. Tentu saja. Mereka menyukai perempuan yang sama, yaitu Stella Balrick.

"Bagaimana dia bisa mengetahuinya!?" Alissa mengacak rambutnya frustasi.

Alissa usap perutnya yang masih rata. "Hei, menurutmu, kenapa ayahmu bisa tahu keberadaanmu?" tanyanya pada janin berusia empat minggu itu.

"Kau juga tidak tahu, ya?" ujarnya ketika tak kunjung mendapat jawaban. Tentu saja, bodoh! Janin mana yang bisa berbicara dari dalam perut.

Mendesah lelah, Alissa jatuhkan tubuhnya pada ranjang. Menatap langit-langit dengan banyak pikiran di otaknya. Bukankah seharusnya Sean tidak tahu tentang kehamilannya?

Alissa ingat betul, bahkan saat sedang mengeksekusi Alissa, Sean belum tahu jika istrinya itu sedang hamil. Baru ketika laki-laki itu...menginjak perut Alissa dan melihat darah yang keluar dari bagian bawah perut Alissa, Sean menyadari jika Alissa sedang mengandung.

Lalu, bagaimana Sean mengetahuinya sebelum itu terjadi.

Masih dilanda kebingungan, suara ketukan pintu mengintrupsi perhatian Alissa. Perempuan itu menengok pada pintu. Sebelum akhirnya bangkit dan berjalan ke arahnya.

Ceklek.

Seorang pelayan tengah berdiri dengan kepala menunduk di depan pintunya. Alissa menatap pelayan itu penuh tanya.

"Ada apa?" ujarnya menanyakan maksud kedatangan sang pelayan.

"Tuan Sean memerintahkan saya untuk memanggil Nyonya makan makan malam. Nyonya sudah ditunggu di meja makan."

Mendengar penuturan pelayan itu, Alissa mengerutkan kening bingung. Tumben sekali, pikirnya. Karena semenjak dirinya terjebak di dunia novel, ini kali pertama laki-laki yang berperan sebagai antagonis itu memanggilnya untuk makan malam.

Alissa menghela nafas panjang. "Katakan padanya, aku tidak lapar."

Perempuan itu hendak menutup pintu, namun lagi lagi penuturan pelayan itu menghentikan dirinya.

"Tuan Sean juga mengatakan, jika dia tidak ingin mendengar penolakan. Jika Nyonya masih bersikeras, saya mempunyai hak untuk menyeret anda."

"Apa?!"

Mata Alissa membola tak percaya. Sedangkan pelayan itu hanya diam tanpa memberikan reaksi yang berlebih.

"Berani sekali dia!" geram Alissa. Kedua telapak tangannya mengepal lalu menekan satu sama lain.

"Awas!" pelayan itu menurut ketika Alissa menyuruhnya untuk menyingkir.

Dengan langkah yang tak santai, Alissa menuruni tangga. Menuju tempat yang pelayan tadi sebutkan. Kekesalannya bertambah saat ia melihat Sean tengah duduk anteng dengan ipad di genggamannya.

Sudahkah Alissa mengatakan ini. Bahwa Sean adalah seseorang yang gila kerja.

"Sean!" panggil Alissa dengan nada yang tinggi.

Sang empu yang merasa terpanggil menolehkan wajahnya. "Oh, kau sudah sampai." ujarnya tenang. Lalu meletakan iPad pada meja setenang ucapannya.

"Kemarilah. Makan bersamaku." ajak laki-laki itu pada istrinya.

Alissa melengos. Kembali melangkah sebelum akhirnya berhenti tepat di samping laki-laki itu duduk.

"Maksudmu apa menyuruh pelayan menyeretku?!" tanya Alissa nyolot sembari berkacak pinggang.

Sean hanya mengendikan bahu acuh. "Aku yang menggaji mereka. Jadi terserah padaku ingin ku perintah apa mereka."

"Kau!" Alissa bertambah geram.

"Sudahlah. Itu tidak penting untuk diperdebatkan. Duduk!" titah Sean menunjuk kursi kosong menggunakan dagunya.

Alissa masih diam. Menatap Sean penuh permusuhan. Seperti enggan menurut pada suaminya itu. Melihat tingkah Alissa membuat Sean menghela nafas jengah.

"Duduk Alissa. Anakku membutuhkan nutrisi."

"Anakmu?" Alissa berdecih sinis.

"Ternyata kau mengakuinya. Ku pikir sama seperti kau tidak menganggapku, kau juga tidak akan menganggap anak ini." ujar Alissa sekaligus menyindir Sean.

"Dia penerusku. Tentu saja aku akan mengakuinya." balas Sean nampak tak tersinggung dengan sindiran yang Alissa berikan.

"Tapi aku tidak ingin hamil, Sean." ucap Alissa tiba-tiba.

Hal itu membuat Sean menatap dirinya dengan satu alis yang terangkat. Ciri khas Sean ketika meminta penjelasan dari lawan bicaranya.

"Aku ingin menggugurkan kandungan ini." kalimat itu terucap begitu saja dari bibir Alissa.

Perempuan itu tidak bersungguh-sungguh. Tentu saja. Alissa hanya ingin melihat reaksi Sean ketika ia berniat menggugurkan kandungannya.

"Apa kau bilang? Katakan sekali lagi." kata Sean dingin. Suaranya menekan. Matanya menatap Alissa penuh intimidasi.

"Aku tidak ingin hamil. Aku ingin janin ini tiada!" ulang Alissa lantang. Ia balas tatapan Sean menantang. Oh, Alissa. Darimana keberanian itu datang!

"Ulangi." suara Sean semakin dingin.

Namun hal itu tidak membuat Alissa gentar. Malah membuat Alissa semakin tertantang. Perempuan itu juga tidak tahu kenapa dia bisa seberani ini. Mungkinkah ini juga termasuk hormon kehamilan?

"Sekarang kau tuli Sean? Biar ku ulangi." Alissa menelan salivanya.

"Aku.tidak.ingin.hamil. Aku tidak ingin hamil! Aku tidak sudi hamil anakmu! Aku ingin anak ini tiada---akhh!!"

Belum sempat Alissa merampungkan kalimatnya, Sean sudah terlebih dahulu menarik lengannya. Membawa Alissa jatuh ke pangkuannya. Pergerakan Sean selalu tiba-tiba. Dan Alissa selalu terlambat menyadarinya.

"Sean, lepas! Apa yang kau laku--

"Diam!"

Mata Alissa memejam takut. Teriakan Sean begitu keras. Bahkan Alissa berpikir jika gendang telinganya akan pecah karenanya.

"Berani sekali kau." desis Sean mence-kik leher Alissa. "Berani sekali kau berkata seperti itu!"

"Uhuk! Sean lee--lepashhh." Alissa kesulitan bernafas. Ceki-kan Sean cukup kuat. Tenggorakannya seperti terhimpit batu. Teresa sesak dan pengap.

"Berani sekali kau ingin melenyapkannya Alissa!"

Wajah Sean mengeras. Urat-urat di pelipisnya terlihat. Menunjukan betapa emosinya laki-laki itu.

Wajah Alissa memerah. Pun dengan air mata yang luruh. Entah karena menangis atau karena ceki-kan tangan Sean. Perempuan itu kesusahan menelan salivanya.

Baru ketika itu, Sean melepas ceki-kannya. Berganti mencengkram dagu Alissa kuat. Bahkan kuku-kukunya sampai menancap pada kulit putih Alissa. Perih. Itulah yang Alissa rasakan.

"Kau memang perempuan ja-lang Alissa." desis Sean menatap Alissa seperti ingin membunuh.

"Kau tidak punya hati dengan berniat membunuh anakmu sendiri."

"Lalu bagaimana dengan dirimu?!" Alissa berteriak. Ia tepis tangan Sean kasar. Akibat tepisan itu, kuku Sean semakin menggores kulitnya. Menciptakan luka yang memanjang.

"Katamu aku tidak punya hati? Lalu kau apa Sean?!" mata Alissa menatap nyalang.

"Saat kau menganggap istrimu sendiri seperti pela-cur, itukah yang dinamakan punya hati?!"

Sean diam. Tidak berniat membalas teriakan Alissa.

"Saat kau memperlakukan istrimu seperti budak, itukah yang dinamakan punya hati?!"

"Saat kau lebih membela perempuan lain daripada istrimu sendiri, itukah yang dinamakan punya hati, Sean!!?"

"Saat kau ingin membunuh istrimu sendiri, itukah yang dinamakan punya hati!!?"

Alissa benar-benar mengeluarkan semua uneg-unegnya. Faktanya, Sean sudah berulang kali mencoba membunuh tokoh Alissa. Sebelum penyiksaan itu terjadi, entah sudah berapa kali Sean berniat menghabisi istrinya.

Bahkan, di malam pertama mereka, Sean dengan sengaja memberikan racun pada minuman Alissa. Dan sekarang, antagonis sialan ini membicarakan tentang hati.

Lelucon macam apa ini?!

Untungnya, tokoh Alissa itu cerdas. Berulang kali Sean berniat membunuhnya, berulang kali pula ia berhasil selamat. Sampai puncaknya adalah penyiksaan itu. Penyiksaan yang membunuh Alissa serta anak di dalam kandungannya.

"Itu yang dinamakan punya hati, Sean?" suara Alissa melirih. Tenaganya seperti dikuras habis.

"Kau berbicara seolah-olah kau adalah laki-laki paling baik di dunia ini." Alissa tertawa remeh.

"Mungkin jika aku mempunyai suami yang mecintaiku, aku akan senang dengan kehamilan ini. Tapi di sini beda---"

Alissa menatap Sean dalam. Tatapan tajam penuh amarahnya menghilang.

"Kau...tidak mecintaiku, Sean."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!