Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Penjara Tanpa Cahaya dan Bisikan Sang Dewi
Tangga di bawah singgasana Kaisar Bayangan tidak mengarah ke sebuah ruangan, melainkan ke sebuah lubang vertikal yang seolah-olah menembus perut bumi. Jiangzhu melompat turun, membiarkan tubuhnya meluncur dalam kegelapan total selama beberapa detik sebelum kakinya mendarat di permukaan yang terasa empuk sekaligus licin.
Cipak.
Bau busuk yang luar biasa langsung menyerang hidungnya bau daging busuk yang direndam dalam air seni dan cuka. Jiangzhu menyalakan api ungu kecil di telapak tangannya. Cahaya remang-remang itu memperlihatkan bahwa mereka kini berdiri di sebuah lorong yang dindingnya bukan terbuat dari batu, melainkan dari tumpukan mayat yang sudah mengering dan disemen menjadi satu.
"Ini adalah Lantai Tujuh Belas: Penjara Tanpa Cahaya," suara Yue terdengar bergetar di belakangnya. Ia tampak memegangi hidungnya, wajahnya yang pucat terlihat sangat kontras di bawah cahaya api ungu. "Di sini, waktu tidak berjalan. Cahaya matahari tidak pernah sampai, dan suara jeritan adalah satu-satunya musik yang ada."
Jiangzhu tidak menjawab. Ia merasakan tarikan yang sangat kuat dari dalam dadanya. Bukan dari energi Iblis, bukan dari energi Langit, melainkan dari jiwanya sendiri. Ada sesuatu di ujung lorong ini yang memanggilnya dengan frekuensi yang hanya bisa didengar oleh darahnya.
"Kakak... aku mendengar suara bisikan," Awan bersembunyi di balik jubah Jiangzhu, tangannya yang kecil gemetar hebat.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Jiangzhu pelan.
"Mereka bilang... 'Anak yang hilang telah kembali untuk menyuapi ibunya dengan darah'," bisik Awan dengan suara yang seolah-olah bukan miliknya.
Deg.
Jantung Jiangzhu berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan peringatan Penatua Mo yang menyuruhnya waspada terhadap jebakan di lantai ini. Di sepanjang lorong, terdapat sel-sel penjara kecil tanpa jeruji besi; hanya ada dinding transparan yang terbuat dari energi suci yang memancarkan panas yang menyakitkan. Di dalamnya, sosok-sosok yang sulit disebut manusia lagi merangkak, kulit mereka melepuh karena terus-menerus terpapar energi "suci" yang menyiksa.
"Hukumannya bukan untuk membunuh, tapi untuk menyucikan dosa dengan rasa sakit yang abadi," gumam Jiangzhu sinis. "Sekte Cahaya Suci benar-benar kelompok yang penuh kasih sayang."
Tiba-tiba, lorong itu berakhir di sebuah aula bundar yang sangat luas. Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah pilar raksasa yang terbuat dari kristal putih. Di dalam kristal itu, seorang wanita tergantung dengan rantai emas yang menusuk pergelangan tangan dan kakinya. Rambutnya yang putih panjang menutupi wajahnya, namun kehadirannya memancarkan aura yang begitu suci sekaligus penuh penderitaan.
"Ibu..." suara Jiangzhu tercekat di tenggorokan.
Ia berlari menuju kristal itu, tapi baru tiga langkah, sebuah dinding api transparan meledak di depannya, menghempaskannya mundur.
"Hahaha! Seorang hibrida kecil akhirnya sampai ke dapur penjagaku!" suara tawa dingin menggema dari bayang-bayang di atas pilar.
Seorang pria paruh baya dengan jubah putih yang sangat megah turun perlahan dari kegelapan. Di dahinya terdapat simbol matahari emas yang sangat terang. Inilah Penatua Agung Zhao, salah satu penguasa dari Sekte Cahaya Suci.
"Jiangzhu, putra dari pengkhianat Langit," Zhao menatap Jiangzhu dengan rasa jijik yang murni. "Kau punya mata ayahmu yang terkutuk, tapi kau punya aura ibumu yang menjijikkan. Benar-benar sebuah penghinaan bagi penciptaan."
Jiangzhu bangkit berdiri, matanya berkilat abu-abu jernih warna yang ia dapatkan setelah mencapai Puncak Inti Bumi. "Lepaskan dia, atau aku akan merobek matahari di dahimu itu dan menggunakannya sebagai lampion."
Zhao tertawa, suara tawanya kering dan menusuk. "Kau? Seekor semut Inti Bumi ingin melawan seorang ahli Tahap Nirvana? Kau tahu apa bedanya kita? Kau adalah debu, dan aku adalah langit."
Zhao mengangkat tangannya, dan seketika ribuan pedang cahaya kecil muncul di udara, mengarah tepat ke arah Jiangzhu.
"Mati!"
BUM! BUM! BUM!
Jiangzhu meledakkan seluruh energi Iblisnya untuk menciptakan perisai hitam, namun setiap pedang cahaya itu terasa seperti hantaman gunung. Ia terdorong mundur, kakinya menggores lantai hingga mengeluarkan percikan api.
Bocah, jangan dilawan dengan kekuatan! Penatua Mo berteriak. Wanita di dalam kristal itu... dia mencoba membantumu! Dia mengirimkan sisa-sisa energi Ilahinya lewat getaran tanah! Tangkap energinya!
Jiangzhu memejamkan mata. Di tengah hujanan pedang cahaya, ia merasakan sebuah aliran energi yang sangat halus, sangat lembut, seperti elusan tangan seorang ibu. Energi itu masuk lewat telapak kakinya, mendinginkan nadinya yang terbakar, dan perlahan menyatu dengan energi Iblisnya.
Sinkronisasi Energi Ilahi dimulai...
Status: Evolusi Garis Keturunan - Tahap 1.
Tiba-tiba, mata Jiangzhu terbuka. Bukan lagi abu-abu, tapi satu matanya berubah menjadi putih menyilaukan dan satu lagi tetap hitam pekat.
"Ini... ini mustahil!" Zhao terbelalak. "Darah Langit dan Darah Iblis tidak bisa menyatu tanpa meledakkan wadahnya!"
Jiangzhu tidak menjawab. Ia menghilang. Kecepatannya kini melampaui konsep waktu. Zhao baru saja akan melepaskan serangan kedua ketika ia merasakan sebuah tangan dingin mencengkeram lehernya.
"Kau bilang aku debu?" bisik Jiangzhu tepat di telinga Zhao. "Maka bersiaplah tertimbun oleh debu yang kau hina ini."
Jiangzhu menghantamkan Zhao ke lantai dengan kekuatan yang menghancurkan seluruh aula. Ia kemudian melompat ke arah kristal raksasa itu. Ia tidak memukul kristal tersebut, melainkan menempelkan telapak tangannya di permukaan yang dingin itu.
"Ibu... aku di sini," bisik Jiangzhu parau.
Wanita di dalam kristal itu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sayu terbuka sejenak, menatap Jiangzhu dengan cinta yang melampaui rasa sakit ribuan tahun. Sebuah air mata jatuh dari matanya, dan saat air mata itu menyentuh permukaan kristal dari dalam, seluruh penjara itu bergetar hebat.
PRANGGG!
Kristal itu pecah berkeping-keping. Bukan karena serangan fisik, tapi karena resonansi jiwa antara ibu dan anak.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat. Zhao bangkit dari reruntuhan, tubuhnya kini diselimuti oleh api putih yang gila. "Kalian... kalian tidak akan pernah meninggalkan lantai ini hidup-hidup! Jika aku tidak bisa memilikimu sebagai tawanan, maka aku akan membakarmu menjadi abu!"
Zhao mulai merapalkan mantra penghancur lantai. Seluruh lantai tujuh belas mulai runtuh ke dalam jurang api di bawahnya.
"Jiangzhu... lari..." bisik wanita itu Dewi Ling'er suaranya sangat lemah.
"Tidak tanpa Ibu!" Jiangzhu menggendong ibunya yang sangat ringan, sementara Awan mencengkeram bajunya dengan erat.
Yue muncul dengan napas memburu. "Lewat sini! Ada gerbang teleportasi darurat di balik pilar! Tapi kita hanya punya waktu lima detik!"
Jiangzhu melesat di antara reruntuhan batu yang berjatuhan, dengan satu tangan memegang pedang untuk menangkis sisa-sisa serangan Zhao dan tangan lainnya memeluk harta paling berharga dalam hidupnya.
Saat mereka melompat ke dalam gerbang teleportasi, Jiangzhu melihat wajah Zhao yang hancur oleh kegilaan sebelum semuanya menjadi gelap.