NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebakaran

Senja di kawasan Tebet yang biasanya dihiasi oleh kepulangan para pekerja yang damai, mendadak berubah menjadi potret neraka di bumi. Di Livia’s Sweet Corner, suasana sedang sangat sibuk. Hampir seluruh kursi terisi oleh pengunjung yang menikmati kopi sore dan kue-kue manis. Livia, yang baru saja melayani sepasang kekasih di meja depan, tiba-tiba mencium aroma yang sangat menyengat—aroma bensin yang tajam dan memuakkan.

Di luar toko, sesosok wanita dengan selendang bermotif bunga yang melilit kepala dan menutupi sebagian wajahnya melangkah perlahan. Di tangannya, ia menjinjing jeriken plastik besar. Dengan gerakan yang tenang namun mematikan, ia menyiramkan cairan bening itu ke seluruh pintu kayu, jendela kaca, dan teras toko yang terbuat dari kayu jati.

"Sheila!" Livia berteriak dari balik kaca, suaranya tercekat.

Wanita di balik selendang itu mendongak. Matanya yang merah menyala menatap Livia dengan binar kegilaan yang murni. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sheila mengeluarkan korek api pemantik. Ia menyulut api itu, membiarkannya menari sejenak di ujung jemarinya, lalu menjatuhkannya ke atas genangan bensin.

WUUUUSSSHHH!

Api berkobar seketika, menjilat pintu depan dan memerangkap semua orang di dalam. "Hahahaha! Bakar! Bakar semuanya! Mari kita buat pesta kembang api untuk kesuksesanmu, Livia!" tawa Sheila meledak, melengking tinggi menembus deru api yang mulai merambat ke langit-langit ruko.

Di dalam toko, jeritan histeris pecah. Pengunjung berlarian ke arah belakang, menabrak meja dan kursi. Sari dan Bima mencoba memadamkan api dengan tabung APAR, namun bensin yang meluap membuat api terlalu cepat membesar. Livia berdiri mematung di tengah ruangan yang mulai dipenuhi asap hitam pekat, menatap bayangan Sheila di balik kobaran api yang tertawa kegirangan, seolah sedang menonton pertunjukan sirkus yang paling menghibur di dunia.

****

Beberapa ratus meter dari lokasi kebakaran, di sebuah area parkir yang agak sepi, Ayub sedang berusaha menghidupkan motornya untuk segera menuju toko Livia setelah firasat buruk menghantamnya. Namun, sebuah mobil sedan merah menghalanginya. Clarissa keluar dari mobil dengan wajah penuh amarah dan obsesi yang sakit.

"Ayub! Kamu tidak boleh pergi ke sana! Aku tahu kamu mau ke tempat janda itu, kan?!" teriak Clarissa sambil menarik kunci motor Ayub.

"Clarissa, kembalikan kuncinya! Aku punya perasaan buruk, Mbak Livia dalam bahaya!" bentak Ayub, mencoba merebut kembali kuncinya.

"Biarkan saja dia celaka! Dia hanya beban buatmu, Ayub! Kalau dia tidak ada, kamu akan kembali padaku!" Clarissa memeluk lengan Ayub dengan erat, menahan pemuda itu dengan seluruh kekuatannya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi menjadi pahlawan untuknya lagi!"

"Lepaskan, Clarissa! Kamu sudah gila!"

Ayub meronta, namun di saat itulah, sebuah bayangan muncul dari balik tembok gelap parkiran. Sheila, yang rupanya telah mengikuti Ayub setelah menyulut api di toko, muncul dengan langkah menyeret. Selendangnya sudah lepas, memperlihatkan wajahnya yang berlumuran jelaga dan keringat. Di tangannya, ia menyeret sebuah tongkat besi panjang yang ia temukan di lokasi konstruksi sebelah.

"Hah... hah... pahlawan kecil..." desis Sheila.

Ayub terkesiap. "Sheila?! Bagaimana bisa—"

Tanpa peringatan, Sheila mengayunkan tongkat besi itu dengan kekuatan penuh ke arah kepala Ayub. Ayub berhasil menghindar, namun tongkat itu menghantam bahunya hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser.

"ARGH!" Ayub tersungkur ke aspal.

Clarissa menjerit ketakutan, namun bukannya melarikan diri, ia justru mencoba menghalangi Sheila. "Heh, wanita gila! Apa yang kamu lakukan pada Ayub-ku?!"

Sheila menoleh pada Clarissa. Matanya melotot lebar, menunjukkan kebencian yang mendalam pada siapa pun yang mencoba mencampuri urusannya. "Ayub-mu? Tidak ada yang memiliki apa pun di dunia ini! SEMUANYA HARUS HANCUR!"

Sheila mengayunkan tongkat besinya secara membabi buta ke arah Clarissa. Pukulan pertama mengenai perut Clarissa, membuatnya terlipat kesakitan. Pukulan kedua menghantam kaki Clarissa hingga wanita itu menjerit pilu dan jatuh bersimbah darah di samping motor Ayub.

Sheila tidak berhenti. Ia tertawa histeris, menghujamkan ujung tongkat besi itu berkali-kali ke aspal di dekat kepala Ayub, seolah sedang bermain permainan maut. "Kalian semua... pengkhianat! Livia sedang terpanggang di sana, dan kamu, Ayub... kamu akan mati di sini bersamaku!"

****

Kembali ke toko, suhu udara sudah tidak tertahankan lagi. Langit-langit mulai runtuh, menjatuhkan bara api ke atas meja-meja yang tadinya cantik. Livia terbatuk-batuk, dadanya terasa sesak oleh asap karbon monoksida. Ia melihat Sari dan Bima berhasil menjebol jendela kecil di bagian dapur belakang untuk mengevakuasi pengunjung, namun Livia tertinggal di area depan karena sebuah balok kayu besar jatuh menghalangi jalannya.

Livia terjatuh, tangannya melepuh saat mencoba memindahkan kayu itu. Ia menatap ke luar jendela depan yang kini tertutup tirai api. Di sana, di kejauhan, ia bisa mendengar suara tawa Sheila yang tertiup angin, bercampur dengan suara sirine pemadam kebakaran yang baru saja terdengar dari kejauhan.

"Ayub... tolong..." gumam Livia dengan suara yang nyaris hilang.

Di parkiran, Ayub berusaha bangkit meski bahunya lumpuh sebelah. Ia melihat Clarissa yang sudah tidak berdaya, wajahnya lebam dan penuh luka akibat amukan gila Sheila. Sheila sendiri berdiri di atas mereka, mengangkat tongkat besinya tinggi-tinggi ke arah langit, tertawa melengking ke arah bulan yang baru saja muncul.

"LIHATLAH! API ITU INDAH, KAN?!" teriak Sheila.

Sheila kembali mengayunkan tongkatnya ke arah Ayub, namun dengan sisa kekuatannya, Ayub menendang kaki Sheila hingga wanita gila itu terjatuh. Ayub merangkak menuju Clarissa, mencoba menyeret wanita itu menjauh, namun Sheila bangkit kembali dengan kecepatan yang mengerikan. Ia tampak tidak merasakan lelah atau sakit. Baginya, penderitaan orang lain adalah bahan bakar yang membuatnya tetap bergerak.

"Aku akan membunuhmu dulu, lalu aku akan kembali ke toko itu untuk memakan sisa-sisa gosong Livia! Hahahaha!" Sheila berlari menerjang Ayub dengan tongkat besi terangkat, siap memberikan pukulan mematikan.

Suasana menjadi kacau balau. Asap hitam membumbung tinggi dari arah toko Livia, mewarnai langit senja dengan kegelapan yang pekat. Teriakan, suara hantaman besi, dan tawa gila Sheila berpadu menjadi sebuah simfoni horor yang menandakan bahwa dendam Sheila Nandhita telah mencapai titik puncaknya yang paling berdarah.

****

Asap hitam yang membumbung tinggi dari Livia’s Sweet Corner seolah menjadi menara duka yang bisa terlihat dari radius berkilo-kilometer. Di depan toko yang kini telah berubah menjadi tungku api raksasa itu, kekacauan pecah menjadi potongan-potongan adegan yang mengerikan.

Suara sirene polisi dan ambulans berpadu dengan deru mesin pemadam kebakaran. Dokter Kusno turun dari mobil rumah sakit jiwa dengan perban yang masih melilit lehernya—bekas luka tusukan bolpoin Sheila sebelumnya. Wajahnya pucat pasi, matanya nanar mencari sosok pasien paling berbahaya dalam sejarah kariernya.

"Di sana! Itu dia!" teriak Suster Rima sambil menunjuk ke arah gang gelap di samping toko.

Sheila Nandhita berdiri di sana. Ia tidak lagi tampak seperti manusia; pakaiannya compang-camping, wajahnya hitam terkena jelaga, namun matanya berkilat-kilat oleh euforia kegilaan. Di balik selendang bunga-bunga yang ia lilitkan secara asal, ia tampak menggenggam sesuatu di kedua tangannya.

"Berhenti, Sheila! Jangan bergerak!" bentak seorang petugas polisi sambil mengacungkan senjata.

1
Meri Susana
up terus kk
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!