"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Swiss
Keberangkatan itu akhirnya tiba juga.
Dea senang sekali sampai tak berhenti tersenyum sejak pagi, bahkan tanpa sadar Dea berubah jadi sedikit manja pada Alex. Sesekali memeluk lengan pria tersebut saat keadaan sepi, bahkan sesekali mencium jas sang boss.
Dea melakukan itu semua tapa sadar, karena terbawa oleh kebahagiaan di dalam hatinya. Tapi bagi Alex ini pertanda lain, berpikir bahwa sedang tinggi-tingginya.
Sukses sebagai pengusaha, Alex merasa tak memiliki beban apapun. Jadi pikirannya lebih banyak berisi tentang hal mesyum.
Pesawat yang membawa mereka mendarat mulus di Bandara Zurich saat pagi baru saja merekah. Udara Swiss langsung menyambut dengan dingin yang bersih, berbeda jauh dari hiruk-pikuk kota tempat Dea biasa bekerja. Nafasnya terasa lebih ringan saat menghirup udara asing itu, seolah beban hidupnya ikut tertinggal ribuan kilometer di belakang.
Di luar bandara, mobil hitam yang telah disiapkan perusahaan menunggu. Juan lebih dulu masuk, duduk di kursi depan sambil sibuk mengecek agenda di tabletnya. Alex dan Dea duduk di belakang, tak ada jarak diantara mereka karena ini benar-benar jauh dari pandangan orang-orang.
“Selamat datang di Swiss," ucap Alex.
Sumpah kalimat itu sederhana sekali, tapi entah kenapa hati Dea jadi berbunga-bunga. "Aaa, terima kasih," jawab Dea yang suaranya mendayu-dayu manja.
Juan yang ikut mendengar bahkan sampai menahan senyum, tapi kemudian jadi sedikit mengkhawatirkan Dea juga. Karena nampak jelas jika kini Dea sudah memiliki ikatan hati dengan sang boss, sementara mereka berdua sama-sama tahu bahwa Alex adalah seorang playboy. Pria yang tak bisa terikat dengan satu wanita.
Semua ini hanya tinggal menunggu waktu saja, sampai tiba dimana Alex bosan dan pernikahan ini berakhir.
Namun Juan tak berani bicara apapun sekarang pada Dea, dia pun ingin Dea menikmati waktunya selama di sini.
“Aku masih tidak percaya benar-benar ada di sini," ucap Dea kemudian, juga memandangi jalanan yang mereka lewati. Semua yang ada di sini terasa begitu indah baginya.
Alex tersenyum tipis. Ia menikmati ekspresi itu, mata Dea yang berbinar, wajahnya yang penuh takjub. Perasaan yang jarang ia rasakan, melihat seseorang benar-benar bahagia karena sesuatu yang ia berikan.
Hari pertama diisi dengan agenda formal. Rapat singkat dengan klien, makan siang bisnis di restoran dengan pemandangan Danau Zurich, lalu kunjungan ke kantor cabang mitra perusahaan. Dea bekerja seperti biasa, mencatat, mengatur jadwal, memastikan semua berjalan rapi. Profesional, tenang, tak ada yang mencurigakan.
Namun malamnya berbeda.
Setelah Juan pamit ke kamarnya sendiri, Dea berdiri di balkon hotel memandangi lampu-lampu kota yang memantul di permukaan danau. Angin dingin membuatnya memeluk diri sendiri, hingga sebuah jaket hangat disampirkan ke bahunya.
Alex berdiri di belakangnya.
“Kamu kedinginan,” ucapnya pelan.
“Sedikit,” jawab Dea jujur. “Tapi pemandangannya terlalu indah untuk dilewatkan.”
Alex ikut berdiri di sampingnya. “Ini baru Zurich. Besok kita ke Lucerne.”
"Ahh senangnya," balas Dea manja.
"Senang?"
"Iya."
"Kalau begitu senangkan juga aku malam ini."
"Siap, Bos," jawab Dea tanpa sungkan sedikitpun, dia bahkan langsung menggantung kedua tangannya di leher Alex. Mencium bibir pria ini lebih dulu, bahkan sejak di balkon itu keduanya sudah saling menyentuh degan inttim.
Dan seperti mendapatkan kebebasan, di dalam kamar ini Dea mendesah keras. Berulang kali ah ah ah yang membuat Alex makin melayang.
Swiss bukan hanya indah untuk Dea, tapi juga sangat nikmat bagi Alex.
Dan hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi yang berjalan perlahan.
Mereka mengunjungi Lucerne dengan jembatan kayu tuanya yang ikonik. Dea berjalan sambil sesekali berhenti memotret, tertawa kecil ketika Alex yang biasanya serius ikut menunggu dengan sabar.
Dea tahu foto-foto Alex yang dia ambil sekarang tidak akan pernah bisa dipostingnya di media sosial, tapi tidak apa-apa. Dea hanya ingin mengabadikan kenangan yang dia miliki, terutama kenangan yang indah ini.
Alex dan Dea kemudian naik kereta menuju Interlaken, menikmati hamparan pegunungan Alpen yang diselimuti salju. Dea terpaku menatap jendela, tak bosan-bosannya berdecak kagum.
“Ini seperti lukisan,” gumamnya.
Alex menatapnya, bukan pemandangan di luar. “Iya, cantik,” ucap Alex.
Hari keempat, mereka naik kereta ke Jungfraujoch. Dea hampir menangis saat pertama kali menginjak salju yang begitu putih dan bersih. Ia tertawa seperti anak kecil, mencoba menangkap serpihan salju di telapak tangannya.
Alex berdiri tak jauh, membiarkannya menikmati momen itu sepenuhnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa liburan ini bukan hanya tentang Dea, tapi juga tentang dirinya, tentang sisi manusiawi yang selama ini terkubur oleh jabatan dan kekuasaan.
Saat siang semuanya nampak penuh takjub dan saat malam selalu berakhir dengan desaah yang panas. Makan malam di restoran mewah, berbagi cerita, mandi di bathtub berdua, menikmati kehadiran satu sama lain tanpa perlu kata-kata. Tidak ada kantor, tidak ada bisik-bisik, tidak ada tatapan menilai.
Hanya mereka.
Satu minggu berlalu begitu cepat.
Dan di hari terakhir, Dea berdiri di dekat jendela kamar hotel, memandang salju yang turun perlahan. Ada rasa berat di dadanya, sadar bahwa semua ini akan segera berakhir, bahwa ia harus kembali ke perannya sebagai sekretaris, kembali ke realitas yang penuh batas.
Alex mendekat. “Kenapa?" tanyanya karena Dea nampak murung.
Dea menggeleng. “Tidak. Aku hanya terlalu bahagia.”
Alex terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Jangan sedih, lain kali kita bisa datang ke sini lagi. Atau kamu ingin pergi sendiri tanpa aku? Maka lakukan lah, lakukan semua yang membuatmu bahagia terus," ucap Alex.
Dea sudah tak mampu berkata-kata, hanya bisa menangkup wajah Alex dengan kedua tangannya dan mengecup bibirnya.
Cup!
Ingin sekali Dea berkata bahwa aku mencintaimu, tapi kata-kata itu tertahan di ujung lidah.
Otaknya terus mengingatkan bahwa ini semua adalah kebahagiaan yang sementara. Dea tak bisa berpikir bahwa Alex adalah miliknya, bahwa Alex adalah suaminya.
'Lex, aku sangat mencintaimu,' batin Dea. Dia menatap kedua mata Alex dengan lekat setelah ciuman singkatnya.
Namun Alex tak mengerti satupun isyarat cinta yang Dea tunjukkan.
Saat pesawat membawa mereka kembali pulang, Dea menutup matanya menyimpan setiap kenangan tentang Swiss dalam-dalam. Satu minggu yang indah, yang mungkin akan ia kenang seumur hidup.
Karena ia tahu, kebahagiaan seperti ini tidak selalu datang dua kali.
Setibanya di apartemen Dea langsung mandi, sementara Alex melihat ponselnya yang berdering. Ada panggilan masuk dari sang Mama Sandra, sang mama.
"Halo Ma," jawab Alex seraya mendudukkan diri di ranjang.
"Ya ampun Lex, sudah berapa lama kamu tidak pulang? Malam ini datanglah, kita makan malam bersama."
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..