Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Seminggu telah berlalu sejak insiden di koridor, dan Mori semakin ahli dalam seni melarikan diri. Ia berangkat lebih pagi, pulang lebih lambat melalui pintu belakang, dan selalu memastikan ada Jessica atau Nadya di antara dirinya dan Lian. Baginya, berada di dekat Lian saat ini terasa seperti berdiri di dekat pusat gravitasi yang siap menelannya bulat-bulat.
Namun, Lian tetaplah Lian. Seorang pemburu yang tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja. Semakin Mori menghindar, semakin gencar Lian memepetnya.
Puncaknya terjadi di jam istirahat kedua di koridor utama yang sedang ramai-ramainya. Mori sedang berjalan cepat menuju perpustakaan ketika tiba-tiba langkahnya terhenti. Lian sudah berdiri di depannya, menghalangi jalan dengan kedua tangan yang masuk ke saku celana.
"Mau lari ke mana lagi, Mori?" tanya Lian dengan suara berat yang memenuhi koridor.
"Lian, minggir. Gue ada urusan sama Kak Vano di perpus," bohong Mori, mencoba melewati sisi kiri Lian.
Lian bergerak cepat, mencengkeram lembut pergelangan tangan Mori dan menariknya ke tengah koridor, tepat di bawah sorotan lampu dan perhatian ratusan pasang mata siswa yang mulai berkerumun.
"Gue capek main petak umpet sama lo," desis Lian. Visualnya hari ini benar-benar mengintimidasi; rahang yang mengeras dan mata yang menatap Mori dengan intensitas yang sanggup melelehkan logam.
"Dengerin gue, dan gue nggak akan ngulangin ini dua kali," ucap Lian, suaranya kini terdengar serius dan dalam, membuat suasana koridor yang tadinya bising mendadak hening.
Mori mencoba melepaskan tangannya, tapi Lian justru menariknya lebih dekat. "Mori, gue suka sama lo. Bukan cuma suka, gue mau lo jadi milik gue. Gue nggak peduli seberapa banyak cowok kaku kayak Vano yang coba deketin lo, atau seberapa keras lo bilang benci sama gue."
Mori tertegun, jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging. "Lian, lo... lo nggak bisa seenaknya—"
"Gue belum selesai," potong Lian tegas. "Gue confess sekarang, dan satu hal yang harus lo tau: Gue nggak menerima penolakan. Lo mau bilang nggak suka sekarang? Gue bakal bikin lo suka besok. Lo mau lari? Gue bakal kejar sampe lo capek. Intinya, lo udah jadi bagian dari rencana hidup gue."
Mori ternganga. Keangkuhan Lian benar-benar berada di level yang berbeda. "Lian, lo gila! Hubungan itu soal dua orang, bukan cuma paksaan lo! Gue mau bilang kalau gue—"
Mori baru saja hendak meluncurkan kalimat penolakan atau pembelaan logisnya, namun kalimat itu terkunci selamanya di tenggorokannya.
Tanpa peringatan, Lian menarik pinggang Mori dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menangkup rahang gadis itu. Lian menunduk dan mengecup bibir Mori dengan cepat namun sangat dalam di depan seluruh penghuni SMA Garuda.
Mori ngefreeze. Tubuhnya mendadak kaku seperti es. Matanya membulat sempurna, menatap bulu mata Lian yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Dunia seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Lian dan kehangatan yang menjalar dari sentuhan itu membuat logika Mori yang selama ini ia banggakan hancur lebur dalam satu detik.
CUP.
Lian melepaskan kecupannya, namun tetap membiarkan wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Mori yang masih mematung tak bernapas.
"Tanda jadi," bisik Lian dengan senyum miring yang paling mematikan.
Badai Reaksi
"WAAAAAA!!!!"
"GILA! LIAN BENERAN JADIIN MORI!!"
"CIEEEEE!!! AKHIRNYA KAPAL KITA BERLAYAR!"
Sorakan histeris pecah di seluruh koridor. Siswa-siswi bersorak, bertepuk tangan, dan beberapa bahkan merekam momen legendaris itu. Jessica dan teman-temannya saling berpelukan kegirangan di kejauhan.
Namun, tidak semua orang merayakan.
Alina berdiri di ujung koridor dengan kepalan tangan yang sangat kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya. Matanya merah karena amarah dan penghinaan yang tak tertahankan. Baginya, kecupan itu adalah deklarasi perang terbuka.
Di sisi lain, tidak jauh dari sana, Vano berdiri mematung. Buku agenda yang ia pegang perlahan turun ke samping tubuhnya. Ia melihat pemandangan itu dengan luka yang nyata di matanya. Vano menyadari satu hal: sekeras apa pun ia mencoba menjadi pelabuhan yang tenang, ia tidak akan pernah bisa memberikan guncangan emosional sehebat yang diberikan Lian pada Mori. Tanpa kata, Vano berbalik dan pergi meninggalkan keramaian itu dengan langkah berat.
Lian melirik sekilas ke arah Vano yang pergi, lalu kembali menatap "Baby Girl"-nya yang masih membeku. Ia merangkul pundak Mori yang masih syok, membawanya jalan menembus kerumunan orang-orang yang bersorak seolah ingin menunjukkan bahwa mulai detik ini, tak ada satu pun orang yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya.