Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terima kasih Tante Mala
Aira duduk di meja dapur, memutar sendok di cangkir tehnya yang sudah dingin. Tante Mala sedang melipat pakaian di kursi dekat jendela.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Tante Mala tanpa menoleh.
“Nggak biasanya kamu diem.”
Aira mengangkat kepala pelan.
“Kemarin pulang dari pantai… aku ziarah ke makam Kak Arya, Tante.”
Gerakan tangan Tante Mala berhenti, perlahan ia menoleh.
“Oh…” suaranya turun. “Kamu ke sana sama siapa?”
“Teman-teman. Sama Damar juga.”
Tante Mala menarik kursi, lalu duduk di hadapan Aira.
“Terus?”
Aira tersenyum kecil, tapi matanya berkaca-kaca.
“Aku cerita soal kakakku. Soal Ayah. Soal Ibu.”
Aira menunduk.
“Mereka kaget, Tante. Mereka pikir aku cuma anak yang… ceroboh, bodoh, ketawa mulu.”
Tante Mala menghela napas panjang.
“Karena kamu nggak pernah mau nunjukin lukanya.”
Aira mengangguk.
“Aku takut kalau aku berhenti bercanda… aku bakal hancur.”
Tante Mala meraih tangan Aira, menggenggamnya erat.
“Kamu bukan anak yang bodoh, Aira.”
Aira tersenyum getir.
“Kak Arya pintar banget, Tante. FK UGM. Semua orang bangga sama dia.”
“Dan aku bangga sama kamu,” potong Tante Mala lembut.
“Kamu bertahan hidup setelah kehilangan semua itu.”
Aira menahan air mata.
“Damar bilang… kakakku pasti bangga sama usahaku.”
Tante Mala tersenyum tipis.
“Dia benar.”
Dia mengusap punggung tangan Aira.
“Dan Tante yakin, kakakmu juga tenang lihat kamu sekarang.”
Aira akhirnya menangis, bukan isakan keras, hanya air mata yang jatuh pelan, satu-satu.
Tante Mala menarik Aira ke pelukannya.
“Di rumah ini,” katanya pelan,
“kamu nggak perlu pura-pura kuat."
Aira memejamkan mata di bahu Tante Mala.
“Iya, Tante…”
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang berdiri lama di tangga, diam, mendengar
Dan semakin yakin bahwa Aira bukan gadis rapuh seperti yang dunia kira.
Lampu ruang tengah dimatikan, hanya menyisakan cahaya kecil dari dapur.
Damar berdiri di depan dispenser, menuang air, tapi pikirannya jauh ke tempat lain.
“Aira sudah tidur?” suara Tante Mala terdengar dari belakang.
Damar menoleh. “Udah kayanya, Mah.”
Tante Mala mendekat, menyandarkan tubuh ke meja.
“Dia cerita soal ziarah tadi.”
Damar terdiam sesaat.
“Iya.”
“Kamu ikut ke makam kakaknya?”
“Iya, Mah.”
Damar menunduk, memutar gelas di tangannya.
“Dia ketawa pas cerita ke teman-temannya. Tapi pas sampai bagian Ayah dan Ibunya… suaranya berubah.”
Tante Mala menghela napas pelan.
“Aira memang begitu. Nyimpen semuanya sendiri.”
Damar mengangguk.
“Mah… aku baru sadar.”
“Sadar apa?”
“Dia jauh lebih kuat dari yang kelihatan.”
Nada suara Damar rendah. “Kalau aku di posisinya, mungkin aku sudah nyerah.”
Tante Mala tersenyum tipis.
“Makanya Mamah sayang sama dia.”
Damar menatap lantai.
“Kadang aku takut, Mah."
Tante Mala mengangkat alis.
“Takut kenapa?”
“Takut dia ngerasa sendirian lagi.”
Damar mengangkat wajahnya. “Takut dia mikir nggak ada yang benar-benar milih dia.”
Tante Mala menatap anaknya lama.
“Damar…”
Dia mendekat, menepuk bahu Damar pelan. “Kamu nggak bisa lindungi semua luka Aira.”
Damar mengepalkan tangannya.
“Tapi aku bisa berdiri di sampingnya.”
Tante Mala tersenyum hangat,“Itu sudah cukup.”
Damar terdiam, lalu bertanya pelan,
“Mah… aku kelihatan berlebihan nggak sih sama Aira?”
Tante Mala tertawa kecil.
“Kalau dari luar? Iya.”
Damar menghela napas.
“Tapi dari dalam?”
“Dari dalam,” Tante Mala menatapnya lembut,
“kamu sedang belajar mencintai dengan benar.”
Damar terdiam lama.
“Aira nggak minta diselamatkan,” lanjut Tante Mala.
“Dia cuma butuh seseorang yang nggak pergi.”
Damar mengangguk pelan, “Aku nggak akan pergi.”
Tante Mala tersenyum, lalu mengusap kepala anaknya seperti dulu.
“Tidurlah. Besok masih panjang.”
Damar melangkah ke kamarnya.
Sebelum menutup pintu, ia melirik ke arah kamar Aira lampunya sudah mati.