Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Dinginnya Pengabaian
Seminggu setelah sadar, Arvino diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisinya masih belum pulih total; ia harus menggunakan kursi roda dan tongkat penopang, serta terikat pada jadwal obat dan terapi yang ketat.
Aku mengelola kepulangannya dengan efisiensi layaknya kepala perawat. Aku memastikan kamar tamu di lantai bawah disiapkan sebagai kamar tidur sementara Arvino—untuk mencegahnya kesulitan menaiki tangga dengan gipsnya. Ini adalah langkah logis, tetapi juga cara halus untuk memastikan jarak kami tetap terjaga.
"Kamar utamanya di lantai atas, Aluna," protes Arvino, yang kini bergantung pada bantuan Ardo dan aku untuk bergerak.
"Kakak baru saja dioperasi, Kak. Tiga kali sehari terapi fisik tidak akan berhasil jika Kakak harus naik turun tangga. Ini untuk kepentingan medis Kakak. Aku akan tinggal di kamar Lili di lantai atas. Jika ada keadaan darurat, Mbok Nah bisa memanggilku," jelasku, menggunakan bahasa profesional yang sama sekali tidak memberinya celah untuk protes.
Arvino terpaksa menurut.
Kehidupan rumah tangga kembali berlanjut, tetapi kini dengan Arvino sebagai pasien dan aku sebagai perawatnya. Arvino, yang biasanya menguasai rumah dengan amarahnya, kini hanya bisa duduk di kursi roda, menyaksikan aku bergerak lincah.
Aku merawatnya dengan telaten—aku mengatur jadwal obatnya, mengganti perban (Papa menyuruhku melakukannya karena aku adalah bedah), dan bahkan menyiapkan makanannya. Semua kulakukan dengan tenang, cepat, dan tanpa emosi.
"Makanannya sudah siap, Kak. Menu rendah garam, tinggi protein, untuk pemulihan jaringan," kataku, meletakkan nampan di depannya.
"Aluna," panggil Arvino. "Duduklah bersamaku."
"Maaf, Kak. Aku harus menyeterilkan peralatan Lili. Aku harus memprioritaskan jadwal Lili," jawabku.
"Kau tidak punya lima menit untuk menemaniku?"
"Aku sudah menghabiskan lima jam bersamamu di ruang operasi, Kak. Aku sudah menjalankan tugasku," kataku, lalu berbalik pergi.
Arvino merasa sakit. Dulu, ia akan memintaku pergi dengan dingin. Sekarang, saat ia memintaku tinggal, aku menolaknya dengan profesionalisme yang mematikan.
Ia mencoba segala cara untuk memecah dinding esku.
Suatu sore, Mbok Nah membawakan buket mawar putih yang besar—bukan bunga yang kubenci (mawar merah), tapi yang sederhana.
"Dari Tuan Arvino, Nyonya," kata Mbok Nah, tersenyum.
Aku mengambil bunga itu. Aku mencium aromanya sekilas, lalu memberikannya pada Mbok Nah. "Tolong letakkan di vas di ruang tamu, Mbok. Biar rumah terlihat segar."
Aku kemudian berjalan ke kamar Arvino. Dia sedang membaca koran, mencoba terlihat santai.
"Terima kasih atas bunganya, Kak," kataku, nadaku datar.
Arvino menoleh, matanya berharap. "Kau menyukainya?"
"Sangat indah. Mbok Nah sudah meletakkannya di ruang tamu. Itu dekorasi yang bagus. Jika Kakak ingin memberikan hadiah, aku lebih menghargai jika Kakak memberikan donasi atas namaku ke RS Merdeka. Itu akan lebih berguna," kataku, lalu aku pergi untuk mengambil obatnya.
Arvino ditinggalkan sendiri, memegang koran tanpa membaca satu huruf pun. Ia ingin aku terkejut, ia ingin aku tersentuh, ia ingin melihat emosi—bahkan amarah—tapi aku hanya memberinya kalkulasi logis.
Malam harinya, frustrasi Arvino memuncak.
Aku sedang duduk di sofa ruang tamu, membaca buku kedokteran, sementara Arvino menonton berita di kursinya yang menghadap jendela. Keheningan itu terasa berat.
"Kenapa kau bersikap sekaku ini?!" Arvino tiba-tiba melempar remote ke meja kaca.
Aku menutup buku, menoleh padanya. Wajahku tenang.
"Apakah aku melanggar kontrak, Kak? Aku sudah merawatmu, mengurus Lili, dan aku tidak mengganggumu," jawabku.
"Kau mengabaikanku! Kau membuatku merasa tidak ada!" raungnya.
"Tentu saja tidak. Aku selalu ada. Kakak selalu meminta kehadiranku," kataku, mengingatkannya pada ancaman Papa. "Tapi Kakak ingat? Kakak yang mengajariku bahwa cinta tidak ada tempat di antara kita. Kakak yang memintaku untuk bersikap dingin. Kakak yang mengajariku bahwa aku hanyalah Istri Kontrak."
"Aku sudah minta maaf! Aku sudah mengakui kesalahanku!"
"Maaf Kakak diterima. Tapi trauma yang Kakak tanamkan belum hilang," kataku, nadaku dingin. "Aku sudah memberitahu Kakak, aku menceraikanmu. Aku menceraikanmu bukan karena aku tidak memaafkanmu, tapi karena aku harus menyelamatkan diriku sendiri. Aku lelah mencintai seseorang yang menyiksa jiwaku. Aku tidak lagi punya energi untuk Kakak."
Air mata menggenang di matanya. Rasa sakit diabaikan olehku jauh lebih pedih daripada rasa sakit yang ia rasakan saat berada di lantai ICU.
"Kau tahu bagaimana rasanya diabaikan? Kau tahu bagaimana rasanya meminta cinta dan hanya diberi formalitas?" tanyanya, suaranya pecah.
Aku berdiri, menatapnya, membiarkan kebenaran yang dingin keluar dari mulutku.
"Aku tahu, Kak. Aku tahu. Itu adalah makanan sehari-hariku selama satu tahun ini. Dan jujur, Kak," kataku, senyum tipis terukir di bibirku. "Rasanya sakit. Sangat sakit. Selamat menikmati rasa sakit itu. Aku akan mengambil obatku dan tidur."
Aku berbalik dan meninggalkannya.
Arvino hanya bisa melihat punggungku yang tegak, punggung wanita yang dulu ia paksa tidur di lantai, kini dengan teguh hati meninggalkannya sendirian dalam kehancuran. Dia menyadari, hukuman yang ia terima saat ini jauh lebih efektif daripada ancaman Papa. Hukuman itu datang dari hati Aluna yang kini telah benar-benar mati rasa.
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca 💞
Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️