NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mengubah Takdir
Popularitas:239.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.

Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Beberapa jam sebelumnya.

Lampu putih di Unit Gawat Darurat menyala tanpa ampun, memantul di lantai mengilap dan dinding yang dingin. Bau antiseptik memenuhi udara, menusuk hidung dan membuat suasana terasa semakin berat.

Di salah satu ranjang, Andri terbaring tak bergerak, rahangnya diperban tebal, wajahnya pucat dengan bekas lebam yang masih jelas.

“Andri…” suara Bima serak. Dadanya terasa sesak saat menatap sahabat yang sejak SMP selalu berdiri di sampingnya, kini terkapar tak berdaya.

Kevin berdiri di sampingnya, tangan terlipat, sorot matanya gelap. “Aku ikut sedih,” ucapnya pelan. “Aku juga tidak menyangka… dia akan datang.”

Bima menunduk. Amarah dan rasa bersalah berkelindan di dadanya, ia mengepalkan tangan, kukunya hampir menembus kulit. “Itu bukan salahmu,” katanya lirih, seolah meyakinkan dirinya sendiri. “Aku tahu, ide itu untuk kebaikan kita.”

Rencana menghadiri rapat itu, menekan para perwakilan, memaksa mereka tunduk, adalah gagasan Kevin. Kesempatan emas, pikir mereka. Kesempatan untuk menghancurkan semua yang berani menantang posisi mereka di SMA Cahaya Senja.

Namun tak satu pun dari mereka memperhitungkan satu nama, Dion.

Bima mengangkat wajahnya, menatap Andri lagi. Dalam hati, amarahnya telah berubah menjadi niat yang dingin dan mematikan.

“Kita akan mencari tahu,” ucap Kevin, nadanya tenang namun berisi tekad. “Siapa sebenarnya orang itu… dan kita akan membalas dendam Andri.”

Bima mengangguk perlahan. “Terima kasih, Kevin.”

Namun jauh di dalam dadanya, Bima telah bersumpah, jika perlu, ia sendiri yang akan menghabisi Dion, dengan cara apa pun.

.....

Keesokan paginya.

Cahaya matahari, menembus tirai tipis Master Bedroom di lantai empat puluh delapan Grand Star Tower. Ruangan ultra luas itu sunyi, hanya dipenuhi dengung lembut pendingin udara. Dion terbaring di atas ranjang besar, selimut putih menutupi setengah tubuhnya.

Ding.

Sebelum matanya benar-benar terbuka, suara sistem telah lebih dulu menyapa.

[Anda telah menghabiskan 35 Miliar rupiah.]

[Fungsi Saldo naik ke Level 8.]

[Fungsi Saldo Level 8: Anda otomatis mendapatkan 35.000 rupiah per detik.]

[Saldo tersimpan otomatis di bank sistem.]

Mata Dion terbuka lebar. Ia bangkit setengah duduk, rambutnya sedikit berantakan, menatap hologram emas yang melayang di udara.

“Delapan ratus enam puluh empat ribu… per detik?” gumamnya, napasnya tertahan.

Namun sistem belum selesai.

Ding.

[Karena Fungsi Bonus Cashback 50%, dari total 35 Miliar rupiah yang telah anda habiskan, 15 Miliar rupiah telah dikembalikan.]

[Saldo tersimpan otomatis di bank sistem.]

Untuk sesaat, Dion terdiam. Lalu...

“Hahaha!” tawanya pecah, memenuhi ruangan yang luas. “Sistem… kau benar-benar dewaku!”

Ia mengacak rambutnya sendiri, matanya berbinar oleh kegembiraan yang sulit disembunyikan. Dengan kombinasi fungsi saldo dan bonus cashback, uang bukan lagi sekadar angka, melainkan arus tanpa akhir yang terus mengalir ke tangannya.

Perasaan ringan dan penuh energi mengalir di dadanya. Dion bangkit dari ranjang, berjalan ke jendela besar, memandangi kota yang mulai hidup di bawah cahaya pagi.

“Kalau begini…” gumamnya sambil tersenyum tipis, “aku tidak akan pernah, kehabisan apa pun.”

Ia berbalik, mulai bersiap. Seragam sekolah menanti, hari baru menunggu. Dan tanpa ia sadari, di tempat lain, kebencian juga sedang tumbuh, perlahan, namun pasti.

.....

Di dalam kelas Bahasa dan Sastra, udara terasa berat, seolah dinding-dinding ikut menahan napas.

“A-Alex! Apa yang kau lakukan?! Bukankah Dion sudah bilang jangan membuat murid-murid di sekolah ini takut!” teriak Barra, suaranya bergetar, matanya menyapu tubuh-tubuh yang tergeletak babak belur di lantai belakang kelas.

Alex berdiri santai di dekat meja guru, wajahnya dingin dan jengah. “Hah… dasar sampah,” katanya tanpa emosi. “Walaupun dia bilang begitu, aku bukan anak buahnya.”

Di belakangnya, lima murid pria terkapar, napas mereka tersengal, wajah penuh lebam. Dua anak buah Alex berdiri dengan dada membusung, puas dengan hasil kerja mereka.

“T-tapi… kalau Dion tahu, kau akan dihajar habis-habisan olehnya!” Barra berusaha sekali lagi, kepanikan jelas di wajahnya.

Alex menoleh perlahan. Sorot matanya tajam, penuh kebencian yang tertahan. “Bangsat… berisik sekali,” gumamnya, lalu suaranya meninggi. “Hajar dia.”

“Baik, Bos!” jawab tiga anak buahnya serempak.

Barra membeku. Tiga sosok melesat ke arahnya, refleks lama, yang lahir dari ketakutan bertahun-tahun, membuatnya menutup mata dan mengangkat kedua tangan, tubuhnya bersiap menerima rasa sakit yang sudah ia kenal terlalu baik.

“Mati kau, cungkring!” teriak salah satu dari mereka.

Buaaak!

Pukulan menghantam, atau seharusnya menghantam. Namun tidak ada rasa nyeri. Tidak ada benturan yang melempar tubuhnya ke lantai, tidak ada dunia yang berputar.

Barra membuka matanya perlahan, tinju itu berhenti di telapak tangannya.

Penyerang itu membelalak. “T-tidak mungkin! Kau menahan pukulan sekuat tenagaku?!”

“I-ini… apa yang kau lakukan?” Barra bertanya polos, setelah membuka mata nya dan menatap kedua tangannya sendiri, seolah itu milik orang lain.

“Bagaimana bisa…?” suara itu gemetar. “Itu pukulan terkuatku!”

“Pukulan terkuat…?” Barra mengernyit. “Apa kau bercanda?”

Dua sosok lain menyerang dari samping, mengincar kepala. Refleks yang bahkan tak sempat ia sadari bergerak lebih dulu, tangannya terangkat, menahan dua serangan sekaligus.

Baaak! Buuuk!

“Tidak mungkin!!”

“Bagaimana bisa?!”

Jantung Barra berdegup kencang. 'Apa-apaan ini…? pikirnya bingung. 'Bagaimana, aku bisa menahan pukulan mereka!'

Lalu sebuah dugaan muncul, dingin dan menggetarkan. 'Apa… kekuatan itu… darinya?'

Wuuush!

Plak!

Tamparan Barra mendarat di sisi wajah salah satu penyerang. Suaranya nyaring, bersih, seperti cambuk.

Braaak!

Tubuh itu ambruk ke lantai, tak bergerak.

“Tidak mungkin…” Alex bergumam, untuk pertama kalinya suaranya kehilangan kepastian. “Satu tamparan…?”

Dua anak buah yang tersisa mundur setengah langkah, wajah mereka pucat.

“A-apa, dia menyembunyikan kekuatannya?”

“Itu… tidak masuk akal!”

Barra sendiri terdiam. 'Ini tidak mungkin, batinnya berontak.' Dulu, saat aku dihajar habis-habisan… kekuatan ini tidak pernah muncul.' Satu nama melintas di benaknya tenang, datar, namun terasa hangat.

“Habisi dia!” teriak Alex, marah sekaligus gelisah. “Apa yang kalian lihat?!”

“B-baik, Bos!”

Mereka bergerak. Namun kali ini, Barra lebih cepat.

Wuuush!

Bak! Buk!

Dua pukulan lurus menghantam wajah mereka berurutan, tubuh keduanya terpental dan menghantam dinding kelas dengan suara keras.

Braaak!

Braaak!

Sunyi jatuh di ruangan itu.

Alex menatap pemandangan di depannya dengan mata membesar. Barra, si cungkring, korban yang dulu hanya bisa menunduk, berdiri tegak, napasnya stabil, matanya menyala oleh kebingungan dan keberanian yang baru lahir.

“Ini…” Alex berbisik, penasaran bercampur waspada. “Apa yang terjadi padamu…?”

Murid-murid di kelas menelan ludah, beberapa mundur ke sudut ruangan. Yang lain terpaku, menyaksikan sejarah kecil terukir di hadapan mereka.

Barra dan Alex saling menatap.

Sang penindas terkuat kelas itu, dan korban yang akhirnya berdiri. Udara menegang, menunggu, siapa yang akan bergerak lebih dulu.

1
Kaisar surgawi
stats MC sudah 100/100 seharusnya itu udh melebihi pasukan elite tentara atau bahkan pembunuh bayaran, tpi kenapa lawan pelajar 2vs1 masih lama perlawanannya ? ini authornya ga bisa memahami kalkulasi kekuatan yg dia buat kah ? misal kekuatan orang dewasa saja 10/100 harusnya dengan kekuatan MC 100/100 apalagi semua statnya 100/100 udh sangat kuat dan ga perlu lama2 ngadepin semut2 kaya mereka
Dita Permana
duit ratusan milyar tapi brangkat skolah masih naik bis🤭
Dita Permana
lagi-lagi dapet novel yg dialog system nya gak pake tanda kurung, tapi yg ini mudah2han seru ceritanya dan tata bahasa nya bagus
pauzi aja
ceritanya makin kacau
pauzi aja
coba d naikan kekuatan mcnya sekil cma 1 musuh semakin gila.
pauzi aja
pondasi tapi masih lemah
pauzi aja
cnya babi terlalu lembek.
pauzi aja
babi sama alurnya yg d harar mcnya anak buahnya jga minta ampun.
pauzi aja
sdh babak belus baru datang dasar pokisi indonesia taunya d kasih duit baru datang.
pauzi aja
knpa kekuatan mcnya ega d tingkatkan,dan jga ega menambah bela dirinya.
pauzi aja
kn ada kasbek 50%.. jadi kembali 150m.
pauzi aja
wih murah betul 10juta..ap ega salah.membangun 1 lantai aja kalau harga normal 100juta lebih ini cerita tahun berapa sih ap ceritanya tahun 80
pauzi aja
coba kekuatanya d naikan k 5ribu.dan tampah sekil bertarungnya.
pauzi aja
mcnya goblok sdh tau kekuatan lawan meningkat ,knpa ega menambah kekuatan jga
pauzi aja
coba tambah sekil berkelahinya jangan boQking aja.
pauzi aja
tambah kehalian lagi taici.,
pauzi aja
coba tambah lagi kekuatannya
pauzi aja
ceritanya bagus.
pauzi aja
sepi
pauzi aja
coba langsung rak s
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!