NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suasana hangat di meja makan itu perlahan berubah menjadi haru saat Raisa dan Tia berpamitan untuk pulang. Azka, yang sedari tadi duduk tenang di samping Raisa, tiba-tiba meletakkan sendoknya. Matanya yang bulat mulai berkaca-kaca, dan sedetik kemudian, ia memegang erat ujung jas yang dikenakan Raisa.

"Tante... jangan pergi," isak Azka pelan. Air mata mulai mengalir di pipi mungilnya yang masih menyisakan bekas cokelat es krim.

Ibu Indah mencoba mendekat. "Azka sayang, Tante Raisa harus istirahat. Besok Tante harus bekerja lagi supaya bisa beli buku untuk anak-anak sekolah."

Namun, bukannya tenang, tangisan Azka justru semakin pecah. Ia berdiri dari kursinya dan langsung memeluk kaki Raisa, seolah takut jika ia melepaskan pelukannya, Raisa akan hilang selamanya. "Nggak mau... Azka mau sama Tante Raisa. Tante yang selamatin Azka dari kakek galak... jangan tinggalin Azka."

Tia merasa tidak tega melihat pemandangan itu. Ia menatap Raisa dengan tatapan sedih.

"Aduh, Rai... gimana ini? Azka sepertinya trauma sekali dengan kejadian tadi."

Fatih, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, kini menatap Raisa dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia ingin membantu, namun ia tahu bahwa dalam situasi ini, Azka lebih membutuhkan kelembutan seorang wanita yang baru saja menjadi pahlawannya.

Raisa menarik napas panjang. Ia perlahan berlutut di depan Azka, menyamakan tingginya dengan anak itu. Ia memegang kedua bahu kecil Azka dan menatap matanya dengan tatapan yang sangat teduh

Deg

Tatapan itu

tatapan yang sama seperti dalam mimpi Fatih.

"Azka, dengerin Tante ya," suara Raisa terdengar sangat lembut, hampir seperti bisikan yang menenangkan.

Azka sesenggukan, mencoba mendengarkan.

"Tante nggak pergi selamanya. Tante hanya pulang sebentar untuk tidur," Raisa mengusap air mata di pipi Azka dengan ibu jarinya. "Azka tahu tidak? Di sini Azka punya Nenek Indah, punya Om Dokter Fatih, dan teman-teman yang sayang sama Azka. Mereka adalah keluarga Azka yang hebat."

"Tapi... Azka takut kakek itu datang lagi," ucap Azka terbata-bata.

Raisa tersenyum kecil, lalu ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan selembar stiker dari tasnya. Ia memberikannya ke tangan Azka.

"Ini benda keberanian buat Azka. Selama Azka pegang ini, Azka harus ingat kalau Azka itu anak yang kuat. Azka sudah berani turun dari pohon tadi, kan? Itu artinya Azka hebat," ucap Raisa. "Tante janji, kapan-kapan Tante dan Tante Tia akan main ke sini lagi untuk jenguk Azka. Tapi syaratnya, Azka harus jadi anak pintar, makan yang banyak, dan nggak boleh sedih lagi. Bisa?"

Azka menatap benda di tangannya, lalu menatap Raisa kembali. Perlahan, pelukannya di kaki Raisa mengendur. Ia mengangguk pelan sambil menghapus sisa air matanya.

"Janji ya, Tante?" tanya Azka sambil menyodorkan jari kelingkingnya yang mungil.

Raisa tersenyum tulus, pemandangan yang membuat Fatih terpaku di tempatnya duduk.

Raisa menautkan kelingkingnya pada kelingking Azka. "Janji."

Ibu Indah yang melihat kejadian itu merasa hatinya sangat tersentuh. Ia melihat sisi lain dari Raisa yang begitu keibuan dan sabar. Ia melirik ke arah anak laki-lakinya, Fatih, dan menyadari bahwa Fatih bahkan lupa meminum kopinya karena terus memperhatikan Raisa.

"Terima kasih, Nak Raisa. Kamu benar-benar punya bakat menenangkan anak-anak," ujar Ibu Indah dengan tulus.

Fatih akhirnya berdiri, ia mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja. "Mama, biar Fatih yang antar mereka pulang. Sudah terlalu larut untuk mereka menyetir sendiri, apalagi setelah kejadian tadi."

Raisa segera menggelengkan kepala dengan sopan namun tegas saat mendengar tawaran Fatih. "Terima kasih banyak, Dokter Fatih, tapi tidak perlu. Saya membawa mobil sendiri dan Tia bisa menemani saya. Kami sudah terbiasa menyetir malam," tolaknya halus.

Fatih tidak lantas menyerah. Ia melipat tangannya di dada, menatap Raisa dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. "Jalanan menuju apartemen Anda cukup sepi di jam segini, apalagi setelah kejadian tadi. Secara medis, hormon kortisol Anda mungkin masih tinggi karena stres, itu bisa mempengaruhi konsentrasi saat menyetir."

Raisa menaikkan sebelah alisnya, tidak mau kalah. "Saya seorang guru, Dokter. Saya sudah terlatih untuk tetap tenang di bawah tekanan, bahkan saat menghadapi kakek-kakek dengan parang sekalipun. Konsentrasi saya baik-baik saja."

"Tetap saja, risiko ada di mana-mana," balas Fatih singkat.

"Dan saya bisa menjaga diri saya sendiri," sahut Raisa cepat.

Perdebatan kecil itu berlangsung selama beberapa menit. Keduanya saling melempar argumen logis dengan nada bicara yang sama-sama tenang namun penuh keras kepala. Raisa dengan kemandiriannya yang kokoh, dan Fatih dengan sikap protektifnya yang dibungkus penjelasan medis.

Di sisi lain meja, Tia dan Ibu Indah justru terdiam. Bukannya melerai, mereka malah saling berpandangan. Ibu Indah memberikan senyuman penuh arti kepada Tia, yang dibalas dengan kedipan mata jenaka oleh guru BK tersebut. Mereka seolah sedang menonton sebuah drama romantis yang sangat menarik secara langsung.

"Kamu lihat tidak? Jarang-jarang Fatih bicara sepanjang itu hanya untuk meyakinkan seseorang," bisik Ibu Indah sangat pelan ke telinga Tia.

Tia terkekeh kecil, menutup mulutnya dengan tangan. "Iya, Bu. Raisa juga biasanya langsung pergi kalau sudah bilang tidak. Tapi ini... dia malah melayani debat Dokter Fatih. Menarik sekali."

"Ehem!" Ibu Indah akhirnya berdehem, memutus kontak mata antara Raisa dan Fatih yang masih beradu argumen. "Nak Raisa, begini saja. Bagaimana kalau kalian menyetir di depan dan fatih yang mengawal di belakang?"

Raisa menghela napas panjang, menyadari bahwa ia dikepung oleh orang-orang yang tidak akan membiarkannya menang malam ini. "Bu Indah, sungguh, kami tidak ingin merepotkan."

"Sama sekali tidak merepotkan bagi Fatih," potong Ibu Indah sambil mengerling ke arah putranya. "Benar kan, Tih?"

Fatih hanya mengangguk sekali, wajahnya masih sedingin es, namun matanya tidak lepas dari Raisa. "Saya hanya ingin memastikan pahlawan Azka sampai di rumah dengan selamat."

Raisa akhirnya menyerah, meski dengan gumaman pelan yang terdengar seperti protes kecil. Melihat itu, Tia hampir saja tertawa lepas.

"Nah, gitu dong! Ayo pahlawan, kita pulang. Saya yang bawa mobil Dokter Fatih ya? Wah, kapan lagi nyobain mobil dokter!"

Raisa mematung di tempatnya berdiri, menatap tidak percaya ke arah Tia yang sudah melesat keluar pintu dengan kunci mobil Fatih di tangannya.

"Tia! Tunggu! Kunci mobil kamu ada di..." Kalimat Raisa menggantung di udara saat ia mendengar suara mesin mobil mewah Fatih menderu halus di halaman panti. Tia benar-benar melakukannya. Ia meninggalkan Raisa tanpa pilihan lain selain menumpang di mobil tia, dengan Fatih sebagai pengemudinya.

Raisa menghela napas panjang, bahunya merosot sesaat karena kesal. Ia melirik ke arah Ibu Indah yang masih menahan senyum di sudut bibirnya.

"Sepertinya temanmu itu sangat pengertian, Nak Raisa," goda Ibu Indah dengan nada ringan

Fatih tidak membuang waktu. Ia melangkah maju, melewati Raisa menuju pintu keluar sambil berkata datar, "Kunci mobilnya. Berikan pada saya."

Raisa merogoh tasnya dengan gerakan enggan, menyerahkan kunci mobilnya ke telapak tangan Fatih. "Saya bisa menyetir sendiri, Dokter. Anda tidak perlu repot-repot sampai masuk ke dalam mobil tia."

"Sudah saya katakan, hormon kortisol," jawab Fatih singkat, tanpa menoleh. Ia membukakan pintu kemudi mobil Raisa dengan gerakan efisien, namun kemudian ia bergeser ke sisi penumpang depan dan membukakannya untuk Raisa. "Silakan, Bu Guru."

Raisa masuk ke mobil tia dengan perasaan campur aduk. Suasana di dalam mobil yang biasanya terasa familiar, mendadak terasa asing karena kehadiran pria jangkung di kursi kemudi. Aroma antiseptik bercampur kayu pinus yang khas dari tubuh Fatih mulai memenuhi kabin mobil yang sempit, membuat Raisa refleks merapatkan duduknya ke arah jendela.

Fatih menghidupkan mesin, mengatur posisi kursi yang menurutnya terlalu maju, lalu mulai menjalankan mobil dengan tenang.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit pertama. Hanya ada suara pendingin udara dan rintik sisa hujan yang memukul kaca mobil. Raisa membuang muka ke arah jendela, menatap deretan lampu jalan yang berlarian, berusaha mengabaikan keberadaan pria di sampingnya.

"Anda tidak perlu sekesal itu," suara Fatih memecah kesunyian, tetap rendah dan stabil. "Ibu saya hanya khawatir, dan teman Anda... dia hanya pragmatis."

Raisa mendengus pelan, masih menatap jendela. "Tia bukan pragmatis, Dokter. Dia hanya sedang bermain mak comblang dengan cara yang sangat tidak elegan."

Fatih melirik sekilas ke arah Raisa melalui cermin tengah. Sudut bibirnya hampir terangkat, namun ia menahannya. "Jika itu benar, berarti dia melihat sesuatu yang tidak Anda lihat."

Raisa menoleh cepat, matanya menyipit. "Apa maksud Anda?"

Fatih menghentikan mobil tepat di lampu merah. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Raisa, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Raisa tertahan. "Bahwa Pangeran Es dan Ice Queen mungkin butuh seseorang yang berani mencairkan suasana. Dan malam ini, Azka adalah pembukanya."

Raisa tertegun. Ia ingin membalas dengan argumen logis khasnya, namun bayangan Fatih yang menatapnya penuh arti di meja makan tadi kembali muncul. Ia segera memalingkan wajah kembali ke jendela, jantungnya berkhianat dengan berdegup sedikit lebih kencang.

"Fokus saja pada jalanan, Dokter. Jangan mulai memberikan diagnosis psikologis yang tidak perlu," gumam Raisa ketus, meski rona merah di telinganya tidak bisa ia sembunyikan.

Fatih kembali menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau. "Baiklah. Tapi stiker keberanian tadi... itu langkah medis yang bagus untuk trauma anak. Anda melakukannya dengan baik, Raisa."

Mendengar namanya disebut tanpa gelar Ibu oleh Fatih, Raisa hanya bisa terdiam, mencoba menetralkan perasaan aneh yang mulai menyusup di balik tembok pertahanannya yang kokoh.

1
Zainatul Fibriyana
bagus bgt cerita
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Zainatul Fibriyana
bagus bgt ceritanya
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!