Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .
‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Penemuan bahwa Larasati masih hidup mengubah segalanya dalam sekejap. Bramantyo, yang sebelumnya begitu bergantung pada Nadia, kini seolah ditarik kembali oleh gravitasi masa lalunya. Fokusnya bergeser secara radikal, memicu kecemasan dan luka baru di hati Nadia.
Sejak foto itu tiba, Bramantyo tidak lagi meminta Nadia membacakan buku untuknya. Ia menghabiskan seluruh waktunya di ruang kerja, berkoordinasi dengan tim di Swiss. Ia bahkan mengabaikan jadwal fisioterapinya yang sangat penting untuk pemulihan kakinya.
"Bram, makan malam sudah siap. Arka menunggumu," ajak Nadia lembut.
Bramantyo bahkan tidak menoleh dari layar monitornya. "Makanlah duluan bersama Arka, Nadia. Aku harus memastikan rute evakuasi Larasati aman. Adrian bisa memindahkannya kapan saja. Dia sedang dalam bahaya besar, aku tidak bisa tenang."
Nadia berdiri di pintu, merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. "Dia sudah dalam kondisi itu selama bertahun-tahun, Bram. Kenapa tiba-tiba segalanya menjadi tentang dia?"
Bramantyo menghentikan jemarinya di atas keyboard. "Karena aku berutang padanya, Nadia! Kebakaran itu, penderitaannya... itu semua karena obsesiku padamu di masa lalu. Aku tidak bisa membiarkan dia menderita lagi di tangan Adrian.
Nadia mencoba memahami, namun tindakan Bramantyo semakin hari semakin menyakitkan. Bramantyo mulai mencari barang-barang peninggalan Larasati yang dulu sempat ia simpan di brankas tersembunyi—perhiasan tua, foto pernikahan mereka, dan sebuah syal sutra.
Suatu malam, Nadia menemukan Bramantyo sedang memandangi foto pernikahannya dengan Larasati sambil memegang syal itu. Wajah Bramantyo tampak penuh kerinduan dan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Kau mencintainya lagi?" tanya Nadia dengan suara bergetar.
Bramantyo mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak tahu, Nadia. Tapi melihatnya hidup di sana, sendirian dan terancam... hatiku hancur. Aku merasa harus menebus semua waktu yang hilang. Aku ingin membawanya pulang."
"Pulang? Ke rumah ini?!" suara Nadia meninggi. "Bram, kau sadar apa yang kau katakan? Ada aku dan Arka di sini!"
"Dia butuh perawatan medis terbaik, Nadia! Dan hanya aku yang bisa memberikannya!" balas Bramantyo, suaranya kembali dingin seperti sang Naga yang dulu.
Tanpa persetujuan Nadia, Bramantyo menggunakan dana darurat perusahaan dalam jumlah besar untuk menyewa jet pribadi dan tim paramedis elit. Ia berencana membawa Larasati kembali ke Jakarta dan menempatkannya di wing khusus di kediaman mereka.
Nadia merasa kekuasaannya sebagai pemilik saham mayoritas mulai diabaikan oleh pengaruh karisma Bramantyo terhadap para staf lama yang setia.
"Nyonya," bisik pengawal pribadi Nadia. "Tuan Bramantyo memerintahkan pengosongan kamar tamu utama. Dia ingin merombaknya menjadi kamar perawatan intensif dengan fasilitas mewah... persis seperti selera Nyonya Larasati dulu."
Saat Nadia masuk ke kamar tamu yang sedang direnovasi, ia melihat Bramantyo sedang mengarahkan para pekerja. Ia tampak begitu bersemangat, sebuah energi yang tidak pernah ia tunjukkan saat bersama Nadia pasca amnesianya.
"Bram, cukup!" Nadia berteriak di tengah suara bising renovasi. "Kau mengabaikan Arka yang sedang sakit demam di kamarnya hanya untuk memilih warna gorden untuk wanita yang dulu pernah mencoba menculikku?!"
Bramantyo menatap Nadia dengan tajam. "Larasati sakit mental karena tekanan keluarga kita, Nadia! Dia korban, sama sepertimu! Berhentilah menjadi egois. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku."
Nadia tertawa getir, air mata jatuh di pipinya. "Aku yang egois? Aku yang merawatmu saat kau lumpuh dan lupa ingatan! Aku yang menjagamu dari Adrian! Dan sekarang, saat kau ingat tentang dia, aku kau buang seperti sampah?"
Di tengah perdebatan itu, ponsel Bramantyo berdering. Sebuah nomor internasional. Ia langsung mengangkatnya dengan tergesa-gesa.
"Halo? Larasati?" suara Bramantyo berubah menjadi sangat lembut, penuh kasih sayang yang membuat dada Nadia sesak.
Dari seberang telepon, terdengar suara wanita yang lemah namun terdengar manipulatif. "Bram... tolong aku... mereka bilang kau sudah bersama wanita lain... mereka bilang kau tidak menginginkanku lagi... aku takut, Bram..."
"Tidak, sayang... aku datang. Aku akan membawamu pulang. Jangan dengarkan mereka," ucap Bramantyo, benar-benar mengabaikan keberadaan Nadia di depannya.
Nadia menyadari bahwa Larasati yang sekarang mungkin jauh lebih berbahaya daripada Adrian. Ia menggunakan rasa bersalah Bramantyo sebagai senjata untuk merebut kembali tempatnya.
membuat saya ingin terus membacanya