"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas dan Boneka Porselen
Pukul tujuh malam, William Bagaskara sedang menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas merger di kantornya ketika ponsel pribadinya berdering. Nama "Ibu" tertera di layar.
Jantung William berdegup tidak enak. Ibunya, Nyonya Sofia Bagaskara, jarang menelepon langsung kecuali ada keadaan darurat. Biasanya, beliau akan menyuruh sekretaris pribadinya untuk menghubungi asisten William.
"Halo, Bu?" jawab William cepat.
"William, pulanglah sekarang," suara ibunya terdengar mendesak, namun anehnya tenang. "Ayahmu ingin bicara. Ini soal masa depan Bagaskara Corp. Penting. Jangan terlambat."
Telepon diputus sepihak.
William mengerutkan kening. Masa depan perusahaan? Apakah ada krisis saham? Atau Ayahnya—Tuan Edward Bagaskara yang sudah pensiun—mendadak sakit keras?
Tanpa pikir panjang, William menyambar jasnya.
"Rudi, batalkan rapat video conference dengan Tokyo. Saya harus pulang ke rumah utama. Darurat," perintah William sambil berjalan cepat menuju lift.
"Baik, Pak. Bapak butuh sopir?" tanya Rudi gugup, mengekor di belakang.
"Tidak. Saya nyetir sendiri."
Satu jam kemudian, mobil William memasuki gerbang besi tempa raksasa kediaman keluarga Bagaskara di kawasan Menteng. Rumah itu lebih mirip istana kolonial daripada tempat tinggal. Pilar-pilar putih menjulang tinggi, dikelilingi taman yang dirawat oleh pasukan tukang kebun.
William memarkir mobilnya sembarangan di driveway. Ia berlari kecil menaiki tangga marmer, jantungnya berpacu memikirkan kemungkinan terburuk tentang kesehatan ayahnya.
Pintu utama dibuka oleh kepala pelayan.
"Dimana Ayah?" tanya William, napasnya memburu.
"Tuan Besar dan Nyonya ada di ruang tamu formal, Tuan Muda," jawab pelayan itu sambil menunduk.
William melangkah lebar menuju ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti mendadak di ambang pintu.
Tidak ada tabung oksigen. Tidak ada dokter. Tidak ada krisis medis.
Ayahnya, Edward Bagaskara, duduk tegak di sofa kulit tunggal, memegang cerutu, terlihat sangat sehat dan bugar. Ibunya, Sofia, duduk anggun dengan gaun sutra di sampingnya.
Dan mereka tidak sendirian.
Di sofa panjang seberang mereka, duduk sepasang suami istri paruh baya yang William kenal sebagai pemilik Bank Sentosa, salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Dan di antara mereka, duduk seorang wanita muda.
Wanita itu cantik, sangat cantik. Rambutnya ditata sempurna, gaun pastelnya sopan namun mencetak tubuh, dan wajahnya dipoles makeup natural yang mahal. Namanya Celine. Lulusan Le Cordon Bleu Paris, sosialita papan atas, dan—menurut rumor—tidak pernah bekerja sehari pun dalam hidupnya karena hidupnya sudah terjamin tujuh turunan.
"Ah, William. Akhirnya kau datang," sambut Edward dengan suara baritonnya yang menggelegar. "Duduklah. Jangan berdiri seperti patung begitu."
William merasakan darahnya mendidih. Ia merasa dibohongi. "Ayah bilang ini darurat."
"Memang darurat," jawab Edward santai, menghembuskan asap cerutunya. "Darurat bagi strategi ekspansi kita tahun depan."
William mengepalkan tangannya, namun ia menahan diri demi sopan santun. Ia mengangguk kaku pada tamu-tamunya. "Selamat malam, Om Haris, Tante Rina. Celine."
"Malam, Will," sapa Celine dengan senyum manis yang sudah dilatih. Suaranya lembut, mendayu, tipe suara yang disukai ibu-ibu arisan.
William duduk di sofa yang tersisa. Suasana ruangan itu dingin, meski AC disetel pada suhu normal. Aroma bunga lili segar di vas kristal terasa mencekik leher William.
"Langsung saja ke intinya," kata Edward, meletakkan cerutunya. "Kami dan keluarga Haris sudah sepakat. Bagaskara Corp butuh likuiditas perbankan yang kuat untuk proyek reklamasi, dan Bank Sentosa butuh mitra properti terpercaya. Cara terbaik untuk mengikat kesepakatan raksasa ini adalah penyatuan dua keluarga."
Edward menatap William tajam, tatapan seorang jenderal pada prajuritnya. "Kalian akan bertunangan bulan depan. Pesta pernikahannya akhir tahun ini di Bali. Semua vendor sudah dihubungi oleh Ibumu."
Hening.
William menatap ayahnya, lalu menatap ibunya yang tersenyum mengiyakan, lalu menatap Celine yang tampak tersipu malu-malu—jelas dia sudah tahu rencana ini sejak awal dan setuju.
William merasa seperti dijebak di dalam kandang singa, tapi singanya memakai berlian. Ia bukan anak laki-laki, ia adalah aset yang sedang diperdagangkan.
"Maaf," suara William memecah keheningan. "Sepertinya saya salah dengar. Ayah memutuskan pernikahan saya... tanpa bertanya pada saya?"
"Bertanya?" Edward tertawa meremehkan. "William, kau CEO. Kau tahu bisnis. Pernikahan di level kita bukan tentang perasaan picisan. Ini tentang aliansi. Tentang memperkuat pondasi kekayaan yang sudah kita bangun puluhan tahun. Celine adalah wanita yang sempurna. Bibit, bebet, bobotnya setara dengan kita."
"Jadi saya hanya alat barter?" tanya William dingin.
"Kau adalah pewaris," tegas ibunya, Nyonya Sofia. "Dan pewaris punya kewajiban, William. Celine akan menjadi istri yang mendukungmu, mendampingimu di acara sosial, dan melahirkan penerus yang berkualitas."
Rahang William mengeras. Ia melihat Celine. Wanita itu mungkin baik, tapi dia hanya boneka dalam permainan orang tua mereka. Dan William menolak menjadi dalangnya.
"Saya menolak," ucap William tegas.
Senyum di wajah Nyonya Sofia luntur seketika. Tuan Haris dan istrinya tampak tersinggung. Celine menunduk, memainkan cincin berliannya dengan gugup.
"Apa kau bilang?" suara Edward merendah, berbahaya.
"Saya bilang saya menolak," William berdiri. Postur tubuhnya kini menantang ayahnya. "Saya menghormati Ayah dan Ibu. Tapi Bagaskara Corp sekarang di bawah kendali saya. Saya yang menaikkan profit 200% dalam lima tahun terakhir dengan keringat saya sendiri, bukan dengan pernikahan politik."
William menoleh ke arah Celine. "Maaf, Celine. Kamu wanita yang baik dan cantik. Tapi saya tidak bisa menikahimu. Kamu pantas mendapatkan pria yang mencintaimu sepenuh hati, bukan pria yang dipaksa menikahimu demi kucuran dana bank."
Celine mendongak, matanya berkaca-kaca karena malu ditolak di depan orang tuanya. "Tapi Will... orang tua kita bilang ini yang terbaik..."
"Terbaik untuk neraca keuangan mereka, bukan untuk hidup kita," potong William dingin.
"WILLIAM!" Edward memukul meja marmer hingga gelas-gelas berdenting. Wajah tuanya merah padam. "Kau pikir kau siapa berani membantahku di depan tamu?! Kau lupa siapa yang memberimu kursi CEO itu? Siapa yang menyekolahkanmu?! Tanpa nama Bagaskara, kau bukan siapa-siapa!"
"Kalau begitu ambil saja!" balas William, suaranya naik satu oktaf.
Ruangan itu hening seketika.
William merapikan jasnya, wajahnya tenang namun matanya menyala. "Ambil kembali jabatan CEO itu. Ambil sahamnya. Ambil mobil dan rumahnya. Saya tidak peduli. Saya bisa membangun perusahaan saya sendiri dari nol. Saya punya otak, saya punya kemampuan. Saya bukan boneka yang bisa Ayah atur siapa yang harus saya nikahi dan kapan saya harus tersenyum."
"Kau... kau anak tidak tahu diuntung," desis ibunya, memegang dadanya seolah terkena serangan jantung. "Kami melakukan ini demi kebaikanmu!"
"Kebaikan saya?" William tertawa miris. "Kalian tidak pernah bertanya saya bahagia atau tidak. Kalian hanya peduli pada reputasi dan aset."
William menatap ayahnya lurus-lurus. "Mulai hari ini, saya akan menentukan jalan hidup saya sendiri. Saya akan menikah dengan wanita pilihan saya, di waktu yang saya tentukan, bukan karena perintah Ayah."
"Kau akan menyesal, William! Kau akan hancur!" teriak Edward mengancam.
"Mungkin," jawab William sambil berjalan menuju pintu. "Tapi setidaknya saya hancur sebagai manusia yang merdeka, bukan sebagai aset perusahaan."
William membuka pintu utama yang berat, menuruni tangga marmer tanpa menoleh lagi, dan masuk ke dalam mobilnya.
Ia membanting pintu mobil, menyalakan mesin, dan memacu kendaraannya keluar dari gerbang istana yang terasa seperti penjara itu.
Di dalam mobil, barulah pertahanan William runtuh. Ia memukul setir dengan keras.
Brak!
Napasnya memburu. Kemarahan, kekecewaan, dan rasa muak bercampur menjadi satu.
Ia melihat Celine tadi—wanita yang sempurna di mata dunia elit mereka. Wangi, penurut, dan mewah. Dulu, sebelum ia mengenal arti ketulusan, mungkin William akan menerima perjodohan itu tanpa protes. Itu adalah "tugas"-nya.
Tapi sekarang, standar William sudah rusak. Rusak karena seorang gadis dengan kemeja flanel kotor dan bau cat minyak.
Di kepalanya, William tidak membandingkan Celine dengan Adinda di depan orang tuanya. Itu urusan pribadinya. Tapi hatinya berteriak.
Ia merindukan wanita yang berani menatap matanya dan berkata "tidak" jika dia salah.
Ia merindukan wanita yang makan sate di pinggir jalan dengan waspada demi keselamatannya.
Ia merindukan wanita yang melihatnya sebagai William si manusia biasa, bukan William si mesin pencetak uang.
"Sialan," umpat William. Air mata frustrasi menggenang di matanya.
Ia melirik kursi penumpang di sebelahnya. Kosong. Biasanya ada Adinda di sana, duduk diam namun siaga.
William mengambil ponselnya. Jarinya melayang di atas kontak Adinda. Ia ingin menelepon. Ia ingin mendengar suara gadis itu. Ia ingin bilang, 'Adinda, aku baru saja menolak dunia dan warisanku. Tolong bilang aku tidak gila.'
Tapi ia tidak menekan tombol panggil.
Ia ingat janjinya. Adinda harus hidup normal. Menyeret Adinda kembali ke dalam hidupnya sekarang, saat ia sedang berperang dengan keluarganya sendiri, hanya akan membuat gadis itu menjadi target kemarahan ayahnya.
William melempar ponselnya ke kursi sebelah. Ia menginjak gas lebih dalam, membelah jalanan Jakarta tanpa tujuan yang jelas.
Malam ini, William Bagaskara memenangkan kebebasannya, tapi ia merasa lebih tersesat dari sebelumnya. Ia telah menolak "ratu" yang disodorkan padanya, demi harapan semu pada "perisai" yang ia paksa pergi.
Bersambung....
terimakasih