Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.
Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.
Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.
Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.
Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.
"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Dia Ganas Sekali.’
Nayara terbangun pukul tiga dini hari. Tubuhnya terasa sangat lemah, remuk redam. Sementara, Elvano tertidur pulas di belakangnya, sembari memeluk pinggang gadis itu. Dengan tubuh mereka yang sama - sama masih polos di bawah selimut.
Bayangan kegiatan panas yang baru saja ia dan Elvano lakukan kembali terlintas.
Pria itu menarik Nayara agar berada dalam posisi duduk.
“Lihat, Nara. Bagaimana kita menyatu di bawah sana. Saya sudah membuat kamu tidak perawan lagi. Itu artinya, kamu tidak bisa menikah dengan pria lain.” Ucap Elvano sembari bergerak pelan.
“Hmm.. jadi selamanya saya harus menjadi asisten pribadi bapakhh?” Gadis itu mencengkram lengan Elvano dengan kuat.
“Iya, Ra. Selamanya kamu hanya akan mengurusi urusan pribadi saya, hingga memberikan kehangatan untuk John.” Pria itu mulai bergerak cepat.
“Pak, anda tidak menggunakan pengaman.” Gadis itu gelagapan. Kepalanya menggeleng kencang. Di tengah kesadaran yang mulai terkikis oleh kenik—matan.
“Kamu tau saya belum pernah, Ra. Mana mungkin saya memiliki benda seperti itu? Dan satu hal yang perlu kamu ingat. Saya lebih suka kita menyatu tanpa penghalang.” Pria itu menggeram hebat.
“Oh Nayara. Kamu luar biasa, sayang.”
Elvano benar - benar memuaskan dahaganya. Ia mengerjai Nayara berulang kali, meski gadis itu telah dihantam gelombang berkali - kali.
Tidak hanya di atas ranjang, sofa dan di setiap sudut kamar itu telah mereka gunakan.
Nayara menghela nafas kasar. Ia kemudian meraih ponsel Elvano di atas nakas. Gadis itu pun mengambil gambar mereka yang sedang menempel tanpa busana di bagian bahu. Lalu mengirim foto itu pada nomor ponselnya. Karena miliknya ia tinggalkan di ruang tamu.
Ia akan mengirimnya nanti pada Madam Giselle, untuk bukti jika dirinya telah berhasil merayu sang putra.
Setelah itu, Nayara menghapus semua jejak pada ponsel Elvano. Dan meletakkan kembali di atas nakas.
Saking percayanya Elvano dengan Nayara, gadis itu bahkan tau sandi ponsel pria itu. Ia tidak takut jika suatu hari asisten pribadinya akan berkhianat.
Elvano menggeliat pelan, membuat Nayara mengusap lengan pria itu.
“Pak.” Nayara mengguncang lengan itu pelan.
“Kenapa sudah bangun? Ini masih gelap, Ra.” Bisik pria itu, sembari mencium bahu terbuka Nayara.
“Saya ingin buang air, pak.”
Elvano sontak membuka matanya. “Mau saya antar?”
“Iya. Kaki saya lemas sekali dan di bawah masih terasa perih.” Adu Nayara.
Elvano pun dengan sigap menggendong tubuh Nayara ke dalam kamar mandi, dalam keadaan sama - sama polos.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, tak hanya karena rasa perih saat buang air, tetapi juga karena pemandangan menggiurkan di depannya.
Elvano berdiri tanpa busana, menunggu dirinya yang sedang buang hajat.
“Pak.”
“Sudah selesai?”
Nayara mengangguk, dan pria itu kembali menggendongnya.
“John bangun lagi, pak.” Nayara merasakannya di bawah sana.
“Dia sangat sensitif sama kamu.” Elvano membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang.
Nayara menggeser tubuhnya agar Elvano bisa bergabung. Pria itu kemudian meminta sang wanita untuk tidur dalam posisi miring membelakanginya.
Nayara pun menurut. Namun, sesaat kemudian matanya membola sempurna. Elvano mengangkat satu kaki wanita itu, dan melesakkan John ke dalamnya.
“P- Pakhh.”
“Biarkan dia di dalam, Ra. Kita tidur lagi.” Elvano memeluk Nayara dengan erat.
Bagaimana bisa tidur? Jika di bawah sana sesuatu yang besar sedang mengganjal.
Namun karena rasa lelah yang melanda tubuhnya, Nayara pun akhirnya tertidur pulas. Dan membiarkan tubuh mereka menyatu.
Elvano melepaskan dirinya dari Nayara, setelah ia menumpahkan sisa benih di dalam rahim asisten pribadinya itu.
Ia turun dari atas ranjang secara perlahan agar tidak mengusik tidur gadis itu. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Elvano kembali ke dalam kamar masih dengan tubuh polosnya. Namun ia membawa sebuah handuk kecil yang sudah di basahi oleh air hangat.
Ia duduk di tepi ranjang, menyibak selimut kemudian membersihkan inti tubuh Nayara dengan lembut.
Ada bercak darah menempel pada permukaan kulit Nayara. Yang menandakan jika ia sudah tidak gadis lagi.
Elvano menelan ludahnya dengan kasar. Ia harus berpikir waras. Nayara sudah sangat kelelahan akibat ulahnya.
“Kamu tidak akan bisa lari dari saya, Ra. Saya menumpahkan banyak benih di dalam tubuh kamu. Dan kamu tidak mungkin menikah dengan pria lain.” Gumam Elvano.
Ia meletakkan handuk kecil itu di atas nakas. Kemudian kembali bergabung dengan Nayara di atas tempat tidur.
Pria itu menarik tubuh sang asisten pribadi agar menempel padanya.
Hubungan mereka kini tidak bisa dijelaskan. Batas profesional itu telah dilanggar. Dan Elvano lah yang memulai. Ia goyah dengan perasaannya sendiri.
“Saya tidak bisa membayangkan kamu berbagi perhatian pada pria lain. Apalagi, kamu men—desah di bawah pria itu. Selamanya kamu hanya boleh melayani saya.” Ucap pria itu.
Namun Nayara sama sekali tidak terusik. Mungkin karena tenaganya telah terkuras habis saat pertempuran panas tadi.
Tangan Elvano terulur untuk meraih ponsel di atas nakas, ia kemudian mengambil gambar dirinya dan Nayara yang tertidur pulas dalam pelukannya.
“Saya akan menjadikan foto ini sebagai wallpaper.” Ucap pria itu. Ia pun merubah tampilan ponselnya. Setelah itu, meletakkan kembali di atas nakas.
“Selamat tidur, sayang.” Bisik Elvano sembari mengecup kening Nayara. Ia kemudian ikut memejamkan matanya.
.
.
.
Tidur Nayara terusik setelah cahaya matahari masuk ke dalam kamar. Indera penciumannya pun menangkap aroma harum mentega dan susu coklat hangat.
Wanita itu pun menggeliat. Tangannya meraba sisi ranjang, namun tidak ada siapapun disampingnya. Mata Nayara pun terbuka sempurna. Ia kemudian duduk bersandar pada kepala ranjang. Dengan mengapit selimut di ketiaknya.
“Pak!”
Nayara mengedarkan pandangannya. Tirai kamar terbuka lebar. Dan sebuah nampan berisi piring roti dengan isian telur, dan daging asap, serta segelas susu coklat hangat, tersaji di atas meja nakas.
Ada selembar catatan di bawah nampan, membuat Nayara mengulurkan tangannya.
“Saya ke kantor sebentar. Kamu istirahat di penthouse. Jangan kemana - mana. Saya akan segera pulang.”
Ia melirik jam di dinding kamar itu, sudah pukul sembilan, pantas saja Elvano tidak ada di rumah.
Apalagi, pagi ini pria itu harus memimpin rapat bulanan Prawira Holding Company. Dan seharusnya Nayara menemani.
Nayara mengedikan bahu pelan. Ia meletakkan kertas itu di atas nakas, kemudian meraih nampan. Cacing di dalam perutnya sudah meronta supaya di beri makan.
“Dia ini romantis? Atau hanya kasihan padaku?”
Setelah selesai sarapan, dengan langkah pelan dan tertatih, Nayara pergi ke kamar mandi. Ia harus membersihkan diri, agar tubuhnya lebih segar.
Sebelum masuk ke dalam bak mandi, Nayara menatap pantulan dirinya pada cermin wastafel. Tubuhnya di penuhi tanda merah kebiruan, bekas bibir sang atasan.
“Dia ganas sekali. Padahal baru pertama kali.” Nayara menghela nafas kasar. Ia kemudian melangkah ke arah bak mandi.
“Dia juga mengisi bak mandi. Memangnya tau, jam berapa aku bangun?” Gadis itu memeriksa suhu air di dalam bak mandi, dan ternyata masih sedikit hangat.
“Apa dia mengisi dengan air panas?” Gadis itu menambahkan air panas tambahan, supaya ia mendapatkan suhu yang pas.
“Dasar Elvano Natha Prawira. Lagunya menolak, di sodorkan sekali saja, langsung kese—tanan.”
Entahlah Nayara harus marah, atau justru harus berbangga diri karena Elvano begitu mennginginkan dirinya.
“Kalau tau akan seperti ini, sudah sejak hari pertama seharusnya aku mela—curkan diri dihadapannya.”
...****************...
😝😝😝