NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Sugar Daddy KR

​Lingga kembali ke kantornya setelah kepergian Aleya, meninggalkan suasana tegang dan udara yang beracun. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya membanting dokumen di mejanya. Lingga tahu Aleya bukan hanya datang untuk masalah saham; Aleya datang untuk mencium rahasia—dan dia hampir berhasil.

​Sepanjang sisa hari, Lingga memperlakukan Ayu dengan kekakuan yang berlebihan, memastikan tidak ada tatapan, tidak ada sentuhan yang bisa membangkitkan kecurigaan.

​Malam itu, di kamar utama, ketegangan fisik di antara mereka terasa sangat berbeda. Lingga tidak menunggu. Dia menarik Ayu ke pelukan segera setelah pintu ditutup.

Hasratnya didorong oleh kemarahan terhadap Aleya dan kebutuhan untuk menegaskan bahwa Ayu adalah miliknya, bukan hanya seorang asisten yang bisa digosipkan.

​Ayu pasrah, tetapi pikirannya berputar. Kata-kata Aleya terus mengulang: "Lingga hanya membayar untuk kepuasan, bukan cinta."

​Ayu menyadari, ia memang istri siri yang dibayar. Ia ditukar dengan masa depan yang aman, dibeli dari hasrat Lingga. Semua keintiman yang ia alami—semua sentuhan yang ia lakukan demi pahala—adalah transaksi. Lingga tidak mencintainya; dia hanya membutuhkan ketenangan yang Ayu berikan.

​Saat Lingga mulai menghujaninya dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan, Ayu merasakan rasa tawar yang menyakitkan.

​Ia berusaha membalas. Ia berusaha menemukan gairah yang ia rasakan sebelumnya. Namun, pikiran bahwa ia adalah pemadam kebakaran hasrat Lingga, bukan istri yang dicintai, membuat tubuhnya dingin.

​Lingga, yang kini memiliki hak penuh, berusaha memuaskan Ayu terlebih dahulu, seperti ritual yang mereka bangun. Ia tahu bahwa kepuasan Ayu secara emosional akan menenangkan keraguannya.

​Lingga mulai menjelajahi kulit Ayu dengan sentuhan yang sangat intim dan menggoda. Tangan dan bibirnya bergerak dengan keahlian seorang pria yang bertekad untuk membuat wanitanya menyerah pada kenikmatan. Ia mencari respons yang ia kenal—napas yang terengah-engah, tarikan tangan Ayu di rambutnya, desahan halus.

​Namun, Ayu tetap terprovokasi dan dingin.

​Dia hanya berbaring, memejamkan mata, berusaha keras untuk fokus pada sensasi fisik, bukan pada rasa sakit emosional. Ia seperti boneka cantik yang dihias dengan sentuhan, tetapi jiwanya telah ditarik keluar.

​Lingga menyadari ada yang salah. Ayu tidak bereaksi. Bibirnya pasif, kulitnya tidak merinding, dan napasnya dangkal. Tuntutan Lingga, yang biasanya disambut dengan kepatuhan yang bercampur gairah, kini disambut dengan kehampaan.

​Lingga mengangkat kepalanya, wajahnya dipenuhi kebingungan dan kemarahan yang tertahan.

​"Ayu," desah Lingga, suaranya dipenuhi frustrasi. "Kenapa kau tegang? Apa yang salah? Jangan bilang kau masih memikirkan... periode-mu lagi?"

​Ayu menggelengkan kepala. Air mata sudah membasahi pelipisnya.

​"Aku tidak bisa," bisik Ayu, suaranya pecah. "Aku... aku tidak berselera, Lingga."

​Lingga bangkit sedikit, menopang tubuhnya dengan tangan. Ia menatap Ayu. Matanya beralih dari hasrat ke realitas yang menusuk.

​"Aleya," kata Lingga, menyadari. "Dia meracunimu. Dia mengatakan sesuatu padamu, bukan?"

​Ayu tidak menjawab, tetapi air matanya berbicara lebih keras dari kata-kata.

​"Dia bilang... kau hanya membayar untuk kepuasan," bisik Ayu, akhirnya. "Dia bilang aku akan berakhir... dibuang."

​Pengakuan itu menghantam Lingga dengan sangat keras. Ia marah. Bukan pada Aleya, tetapi pada dirinya sendiri. Dia telah menikahinya demi martabat, tetapi dia telah melupakan bahwa hati Ayu adalah bagian yang rapuh, yang kini direbut kembali oleh keraguan.

​"Aku tidak membelimu, Ayu. Aku menikahimu," desis Lingga, suaranya sangat rendah. "Aku menikahimu agar aku bisa menyentuhmu tanpa melanggar sumpahmu.

Aku menikahimu agar kau bisa mendapat pahala saat kau memuaskanku. Apakah itu terdengar seperti transaksi sugar baby?!"

​Ayu terdiam. Lingga selalu membenarkan hasratnya dengan logika moral. Tapi hari ini, logika itu terasa seperti rantai.

​"Aku tidak bisa," ulang Ayu, menutup mata. "Aku tidak bisa melakukan ini jika... jika hanya untuk pelampiasan."

​Lingga menatap Ayu. Hasratnya yang membakar kini digantikan oleh rasa frustrasi yang dingin. Dia menyadari, batas yang paling sulit ia taklukkan bukanlah batas fisik, melainkan hati Ayu.

​Lingga menghela napas panjang, kekalahan terpancar dari matanya. Ia kembali berbaring di samping Ayu, memeluknya dengan erat, bukan dengan hasrat, tetapi dengan pemaksaan kepemilikan yang baru.

​"Aku tidak akan memaksamu, Istriku," bisik Lingga di telinga Ayu. "Tapi kau harus ingat, kau milikku. Tidak ada kata-kata dari wanita mana pun yang bisa mengubah kenyataan itu. Kau tidur di kamarku. Kau membawa namaku. Dan kau akan menenangkan hasratku, entah hari ini atau besok."

​Malam itu, Lingga tidak mencari kepuasan fisik. Dia hanya memeluk Ayu erat-erat, memaksanya tidur dalam klaim teritorialnya, hingga Ayu tertidur dalam kebingungan dan ketakutan akan cinta yang dingin dan berkuasa.

***

1
novi a.r
lanjut thor
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!