NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Ketika Cinta dan Marah Bersatu"

Dua minggu setelah pertemuan di pasar, sinar matahari sudah tinggi menyinari halaman rumah tua Bu Siti di. Dewi berdiri di depan gerbang kayu jati yang sudah menguning akibat cuaca, tangan kanannya memegang tas kain berisi beberapa bungkus palu basa yang dia beli dari pedagang dekat rumah kontrakan. Arif tidak bisa menyertainya karena katanya ada proyek mendesak di “kantor”—padahal Dewi tahu, hari itu adalah hari biasa yang biasanya diisi dengan permainan kartu bersama teman-temannya.

“Sudah datang ya, Dewi?” suara Arto, kakak laki-laki kandung Arif, terdengar dari dalam halaman. Bersamanya adalah Nia, istrinya, yang wajahnya sedikit terkejut seolah tidak menyangka Dewi akan benar-benar datang setelah undangan Bu Siti beberapa hari yang lalu. “Ibu sudah menunggu di dalam ruang tamu. Banyak keluarga yang datang hari ini lho, ada sepupu dan juga paman dari bali.”

Dewi hanya mengangguk dengan tenang, mengikuti Arto dan Nia melalui lorong yang ditumbuhi tanaman pandan wangi. Udara di sekitar rumah Bu Siti selalu terasa berbeda—bau parfum mahal, kayu tua, dan aroma teh jahe yang selalu diseduh di pagi hari. Ruang tamu yang luas penuh dengan kursi kayu ukir dan kain taplak meja batik songket yang berharga. Beberapa wajah yang dikenalnya dan tidak dikenalnya sedang duduk berkumpul, berbicara dengan suara yang rendah namun jelas terdengar di setiap sudut ruangan.

Bu Siti duduk di kursi utama dengan posisi tegap, mengenakan kebaya perak dengan renda hitam dan kain batik. Ketika Dewi masuk, semua mata langsung tertuju padanya. Ekspresi wajah Dewi tetap kosong seperti biasa, dia melangkah perlahan ke depan dan memberikan sapaan yang sopan. “selamat pagi, Bu. Saya membawa palu basa seperti yang Bu minta.”

“pagi, Dewi. Silakan duduk.” Bu Siti mengangguk dengan wajah yang datar, kemudian menoleh ke arah keluarga lainnya dengan senyum yang lebih hangat. “Ini kan istri Arif yang sering kalian dengar cerita. Akhirnya bisa datang juga setelah lama tidak muncul.”

Dewi duduk di kursi kayu kecil di pojok ruangan, menjauhi kelompok keluarga yang sedang berbincang. Dia melihat bagaimana mereka saling bertukar pandangan, beberapa dengan ekspresi simpati namun sebagian lainnya dengan tatapan yang menyelami dan sedikit merendahkan. Nia memberikan dia secangkir teh jahe hangat, yang dia terima dengan ucapan terima kasih yang pelan.

Setelah beberapa menit berlalu dengan pembicaraan sehari-hari antara keluarga—di mana Arto bercerita tentang usahanya menjual peralatan elektronik dan Nia menyambung tentang aktivitas anak-anak mereka di sekolah—Bu Siti mulai mengalihkan perhatiannya kembali ke Dewi. Suaranya yang biasanya tenang kini terdengar lebih keras, cukup untuk membuat seluruh ruangan menjadi sunyi. “Dewi, aku sudah dengar kabar bahwa kamu ingin bercerai dengan Arif. Benarkah itu?”

Kata-kata itu seperti kilat yang menyambar ruangan. Semua orang berhenti berbicara, mata mereka kini fokus penuh pada Dewi yang masih duduk dengan tenang menyandarkan punggungnya ke dinding. “Ya, Bu. Saya memang sudah beberapa kali menyampaikan keinginan itu kepada Arif.”

Bu Siti menarik nafas dalam-dalam, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal yang jelas terlihat. “Kenapa kamu sok-sokan ingin bercerai dari Arif? Padahal kamu tahu betul, anakku itu baik hati, tampan, dan sangat pekerja keras. Banyak wanita yang ingin memiliki suami seperti dia, harusnya kamu bersyukur bisa menjadi istri nya!”

Suara Bu Siti semakin meninggi, membuat beberapa anggota keluarga yang duduk di dekatnya sedikit terkejut. Dewi menatap lantai dengan pandangan yang tenang, jari jemari nya perlahan memutar gagang tas kain di pangkuannya. Setelah beberapa detik, dia mengangkat wajahnya dan menjawab dengan suara yang jelas namun tidak tinggi. “Emang Arif tidak cerita kepada ibu kenapa saya ingin bercerai darinya? Belakangan ini, dia jarang memberikan nafkah untuk kebutuhan rumah tangga. Kadang-kadang bahkan saya harus mengeluarkan uang dari tabungan saya sendiri yang saya dapat dari menjual kue yang saya buat di rumah.”

“Kamu harusnya menyampaikan itu kepadanya secara langsung sebagai istri!” Bu Siti menepuk meja dengan lembut namun cukup keras untuk membuat cangkir teh bergoyang. “Arif pasti tidak sengaja melakukannya. Dia mungkin hanya lupa atau sedang menghadapi kesulitan di pekerjaan.”

“Emang Bu pikir saya tidak pernah menyampaikannya kepadanya?” Dewi sedikit mengangkat suara, namun tetap dalam batas yang terkendali. “Saya sudah berulang kali memberitahunya bahwa kita membutuhkan uang untuk makan, dan membeli kebutuhan dasar lainnya. Tapi setiap kali saya menyampaikannya, dia selalu bilang tidak punya uang. Padahal saya tahu, dia sering menyembunyikan uang yang dia dapat dari permainan kartu dan bilang itu bonus kerja.”

Bu Siti terdiam sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak percaya. “Itu tidak mungkin! Arif adalah anak yang jujur. Kamu pasti salah mengira. Selain itu, sebagai istri, kamu lah yang seharusnya menasihati dia dengan baik, bukan malah menginginkan perceraian.”

“Selama ini saya sudah sering menasihatinya, Bu,” ujar Dewi dengan nada yang semakin tegas. “Tapi setiap kali ada masalah, ibu selalu yang membela dia dan bilang saya yang salah. Bu pernahkah bertanya pada saya apa sebenarnya yang terjadi? Atau ibu hanya mendengarkan cerita dari Arif saja?” Dia mengangkat pandangannya, menatap langsung ke mata Bu Siti dengan tatapan yang tenang namun penuh dengan perasaan yang telah terkumpul lama. “Bu tahu tidak, bahwa dia sering menyembunyikan uang dan bilang tidak punya padaku? Bukan ibu yang harus menanggung kebutuhan sehari-hari, bukan ibu yang harus berhemat hanya untuk lauk pauk. Saya tidak menginginkan banyak hal, hanya uang yang cukup untuk hidup layak saja.”

“memangnya denganku dia menyembunyikan uang itu? Aku yang membelanjakannya? Arif sudah menjadi suami kamu, Dewi!” Bu Siti berdiri dengan cepat, membuat kursinya berderak keras menyentuh lantai. “Sebagai istri, kamu harusnya bisa memberitahunya Dewi, kamu juga harus bisa menerima segala sesuatunya dan membantu dia menjadi lebih baik. Kamu tidak boleh hanya berpikir tentang diri sendiri!”

“Sudah cukup, Bu,” ujar Dewi sambil berdiri perlahan. Badannya yang kurus tampak tegap di tengah ruangan yang kini penuh dengan keheningan. “Percuma Bu bicara seperti ini kepada saya. Saya sudah capek harus selalu menjelaskan dan tidak pernah dipercaya. Mending Bu diam saja dan tidak campur tangan dalam masalah rumah tangga kami.”

“Apa maksudmu menyuruh aku diam?!” Bu Siti semakin marah, suaranya terdengar menggelegar di ruangan yang luas. “Kamu sebagai istri yang tidak tahu berterima kasih, malah berani menyuruhku diam?! Kalau kamu tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Arif, lebih baik kamu keluar dari hidupnya saja!”

"itulah yang aku inginkan bu, pisah dengan Arif, dan jangan biarkan dia dengan ku Bu, dan dia juga akan menjadi milik mu sepenuhnya, tak ada aku yang selalu membuat ibu kesal".

"kamu... Kamu..." kata Bu Siti dengan dada naik turun dan nafas terengah karena amarah.

“Bu, tolong saja berhenti saja ya,” suara Arto terdengar dengan cemas. Dia berdiri dan mencoba menarik lengan Bu Siti dengan lembut, sementara Nia mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus keringat yang menetes di dahinya. “Jangan bertengkar disini saja, banyak keluarga yang melihat. Mungkin kita bisa bicara secara pribadi saja nanti.”

Beberapa anggota keluarga lainnya juga mulai menyela, menyampaikan bahwa pertengkaran di depan banyak orang tidak baik dan akan membuat nama baik keluarga tercoreng. Bu Siti menghela napas dalam-dalam, kemudian mengangguk dengan wajah yang masih penuh kemarahan. “Baiklah, aku akan berhenti sekarang. Tapi kamu harus tahu, Dewi—kalau kamu benar-benar pergi dari sisi Arif, kamu tidak akan menyesal seumur hidup mu!”

Dewi hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, kemudian mulai mengumpulkan tas kainnya dengan perlahan. Dia merasa sudah cukup menghabiskan waktu di rumah ini, dan hanya ingin segera kembali ke rumah yang meskipun kecil namun menjadi tempat yang lebih nyaman baginya. Namun, ketika dia hendak berbalik untuk pergi, dia melihat Bu Siti yang sedang bergerak ke arah meja sisi yang ditempatkan sebuah wadah kayu berisi perlengkapan makan.

Tanpa ada peringatan apapun, Bu Siti mengeluarkan sebuah pisau dapur dengan bilah panjang dan tajam dari dalam wadah tersebut. Dia memegangnya dengan erat di tangan kanannya, wajahnya yang biasanya anggun kini penuh dengan emosi yang tidak terkendali. Semua orang di ruangan terkejut dan mulai berdiri dengan tergesa-gesa. Arto menjerit keras, “Ibu, apa yang Bu lakukan?! Jangan!” sementara Nia segera menarik beberapa anak kecil yang ada di ruangan menjauh dari kejadian.

Dewi berdiri diam di tempatnya, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut di wajahnya yang kosong. Dia melihat bagaimana mata Bu Siti berbinar dengan campuran kemarahan, kesedihan, dan sesuatu yang tidak bisa dia pahami sepenuhnya. Pisau itu terangkat perlahan ke arah atas, dan semua orang di ruangan terdiam dalam ketakutan, tidak tahu apakah Bu Siti akan menggunakan pisau itu untuk menusuk Dewi atau untuk membunuh dirinya sendiri.

Udara di ruangan menjadi sangat tebal dan penuh dengan ketegangan. Suara napas yang terengah-engah dari beberapa anggota keluarga terdengar jelas, sementara beberapa orang mulai bergerak perlahan untuk menghampiri Bu Siti dan mencoba mengambil pisau dari tangannya. Dewi tetap berdiri dengan tenang, pandangannya tetap fokus pada Bu Siti dengan ekspresi yang tidak berubah sedikit pun—seolah-olah apa pun yang akan terjadi selanjutnya tidak akan mengubah apa-apa dalam hidupnya yang telah penuh dengan kepastian dan keterbatasan.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!