Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Namun siapa sangka, belum sempat Tumang membuang keresek itu, pantulan cahaya obor yang di bawanya itu, tak sengaja menerangi sebagian bilik rumahnya dan memperlihatkan sebuah joran pancing yang terselip pada bilik anyaman bambu. Dan tentu saja tumang seketika menatap sejenak joran itu.
Pikiranya tiba tiba teringat lagi pada rencana neger ikan yang akan ia batalkan karena tak ada ijin dari ibunya. Hatinya kecilnya mulai berkecamuk seperti ada sebuah dorongan jika tak ada salahnya menyempatkan mancing sebelum menemui mang Darman di rumahnya.
"sudah lama aku tak mancing di sungai. Apa joran ini masih kuatnya"
Ucap tumang di hatinya sembari memaut joran bambu yang terselip di bilik rumahnya itu. Tampak sebelah tangannya itu beberapa kali menghentakan joran itu seperti tengah memperagakan tarikan dari ikan besar yang memakan umpan kailnya. Sehingga tak heran
setelah memikirkan dan menimang nimang sebelumnya, pada kenyataannya dorongan rasa ingin menjajal kembali jorannya itu semakin menjadi. Namun di sisi lain, peringatan ibunya sewaktu tadi seperti menjadi pengingat dan merasa bingung antara menyempatkan memancing sekalipun sebentar saja ataukah pergi ke rumah mang Darman.
"apa sebaiknya aku tegerkan saja ya pancing ini ? Lumayankan kalau dapat ikan lele sepulang dari rumah mang Darman nanti"
gumam Tumang pada akhirnya tersenyum kecil. dan ide yang terlintas di pikirannya itu seperti menyelam sembari minum air.
Tumang segera pergi dengan membawa joran itu. Sementara dua gulungan ulat daun pisang sengaja ia bawa dan sisanya di buang begitu saja.
Langkahnya ketika itu tampak tergesa gesa karena berniat menegerkan kail itu. bahkan tak lama setelahnya, suara gemuruh air sungai pun sudah samar terdengar pertanda Tumang sudah dekat dengan sungai yang di maksudnya itu.
Sampai pada akhirnya, di hadapan Tumang terpampanglah hamparan air yang bergemuruh seperti air yang sedang mendidih.
gelombag air itu jelas jelas naik turun seiring beberapa potongan kayu kayu yang mengapung terbawa hanyut oleh derasnya arus sungai itu. bahkan rerumputan di sekitar tepian sungai itu nyaris tak terlihat akibat luapan air sungai itu benar benar deras dan melebih kapasitas yang seharusnya.
"wah,,, di mana aku menegerkan kail ku kalau airnya terlalu deras seperti ini"
Gumam Tumang sembari meninggikan obor yang di pegangnya dan mencari pijakan agar dirinya tak jatuh dan terperosok pada sungai itu. pandangannya sesekali melirik ke beberapa titik. Seperti mencari arus sungai yang sekiranya sedikit tenang agar kailnya bisa tenggelam sempurna ketika di tajurkan nantinya.
Dan tak lama setelahnya, t
Tumang tampak tersenyum kecil ketika penjuru matanya melihat sebuah parit yang menghubungkan sungai dan beberapa persawahan milik warga. Air itu tampak mengalir sewajarnya dan begitu terlihat keruh. Sehingga instingnya mengatakan, di situlah ia akan menajurkan joran pancingnya karena di anggap akan mudah menemukan jorannya nantinya. Terlebih joran pancing yang di bawanya itu hanyalah satu saja dan bisa di katakan iseng semata itung itung menjajal apakah sungai itu terdapat banyak ikan di dalamnya.
Setelah Tumang memasang ulat pisang itu sebagai umpan, pada akhrinya ia menancapkan pangkal jorannya dan menyentil keras beberapa kali air parit itu. Sebuah mitos yang sudah menjadi kebiasaan orang terdahulu sebelum pergi meninggalkan kail yang di tajurnya. Seperti berharap dan meyakinkan jika dirinya baru saja memanggil ikan untuk mendekat dan memakan umpannya.
"cuih...!!!"
Cruk...! cruk ... ! cruk !
" semoga aku dapat ikan lele yang besar ya Allah"
Batin tumang di hatinya sebelum kembali pergi meneruskan perjalannya sembari mengarahkan obor dan memastikan ke mana ia harus melangkah.
namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, entah mengapa sekilas penjuru matanya ketika itu menangkap kelebatan siluet hitam.
Pantulan cahaya obrol yang di bawanya itu jelas jelas baru saja memperlihatkan bayangnya dan bayangan lain yang entah itu apa.
Deg !!! Ser...!!!
Seketika jantung tumang terasa berdetak hebat ketika itu. Bulu kuduknya tiba tiba terasa berdiri seperti nalurinya itu mengatakan jika kelebatan itu bukanlah bayangan dirinya, hewan liar, dan bukan pula rerumputan atau pun pohon pohon yang ada di sekelilingnya.
bayangan itu terlalu tidak asing dan seperti baru saja di gambarkan oleh imajinasinya sendiri ketika itu.
Apalagi tak lama setelahnya, kecurigaannya itu di perkuat oleh suara samar namun begitu meyakinkan. Suara yang terkesan seperi sebuah panggilan itu bukanlah deburan arus sungai ataupun suara binatang malam. Melainkan seperti suara wanita yang meminta tolong dan campuran suara sendu seperti tengah terisak.
"tolonggg... Tolonggg saya..."
Suara meminta tolong itu begitu perlahan namun bisa jelas dan sempat tertangkap oleh indra pendengarannya. Suasana dinginnya bayu malam yang bercampur aroma tanah basah itu seperti meyakinkan tumang jika suara itu bukanlah suara manusia. Dugaan itu terlalu tak masuk akal dan siapa orangnya yang berada di tempat seperti itu di malam hari.
"siapa !! Siapa itu !!! Aku hanya singgah sebentar dan tak berniat mengganggu mu. Ayo pergi sana yang jauh"
Ucap Tumang dengan suara sedikit lantang dan merasa yakin jika pemilik suara itu bukanlah manusia. Dengan gerakan perlahan dan mengamati setiap sudut dengan saksama, Tumang berusaha meyakinkan meski tubuh dan tengkuknya terasa menjadi berat.
Dan anehnya, usai Tumang mengatakan itu, suasana tiba tiba terasa lebih dingin seperti ada angin sejuk da lembut yang menerpa sekujur tubuhnya. Bahkan yang membuat Tumang bergidik ngeri, indra penciumannya kali ini mencium aroma wangi seperti bunga melati.
"hiiii...!!! Pasti suara penunggu sungai ini itumah. Hiiii...!!!!"
Gumam Tumang bicara di hatinya dan bergidik beberap kali lantas segera pergi dengan langkah yang tergesa gesa. bahkan kali ini Tumang setengah berlari sembari menjaga agar api obor yang di bawanya itu tak padam apalagi sampai dirinya jatuh. Langkahnya sengaja mencari jalan yang lebih terbuka dan sesekali melompat menghindari genangan air.
Sampai setelah melewati beberapa petak persawahan dan perkebunan warga, sampailah Tumang pada jalan utama dan setengah berlari menuju rumah mang Darman.
Tok... Tok... Tok...!!!
"asalamualaikum !!! mang !! Mang !!! bik..!!! Bik !!! Buka pintunya bik !!
ini saya Tumang"
Ucap salam Tumang lantas menggedor pintu dan memanggil mang Darman dan istrinya. Beruntung mang Darman dan istrinya yang kebetulan masih terjaga dan sedang berada di tengah rumah menikmati buka puasa, keduanya begitu kenal suara itu latas segera membukakan pintu.
"walaikumsalam. Tumang ? Ada apa mang. Kenapa teriak teriak seperti itu ? Ada apa mang ada apa?"
Sahut mang Darman setelah membuka pintu dan melihat Tumang yang sesekali melirik ke arah belakang. dan tanpa membalas ucapan mang Darman terlebih dahulu, ketika itu Tumang menyeruduk masuk dan tak memperdulikan tuan rumah yang tampak kebingungan. Termasuk istri mang Darman yang bernama bik Iroh.
"aeh aeh. Ada apa initeh mang ? Kenapa kamu seperti ketakutan begitu?"
Tanya bik Iroh sembari mengulurkan tangannya menerima salam dari Tumang.
"a... a... Ada se...ada setan bik"
Sahut Tumang sembari beranjak duduk di sudut rumah dan menungkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya seperti masih merasakan ketakutan. Tubuhnya kini semakin merinding seakan tak mengerti mengapa sewaktu tadi dirinya begitu berani. toh sekalipun dirinya di kenal anak pemberani, namun jika mengalami langsung seperti itu, pada kenyataanya dirinya tetap merasakan ketakutan. Dan tak lama setelahnya...
"huaduh...!!! Halah ...!!! Haduh perih bik !!! Huaduh ampun !!! Mata saya bik !!! Mata saya !!!"
Pekik Tumang sembari memejamkan kedua matanya erat erat dan merasakan perih yang teramat sangat di kedua matanya itu. Tumang bahkan bik Iroh sendiri sebelumya seperti tak menyadari. Jika dirinya ketika itu sedang makan malam bersama mang suaminya. Di hadapanya jelas jelas tersaji beberapa sisa hidangan pembuka dan lauk pauk lengkap dengan nasinya. Ikan asin, lalapan, dan juga sambel dadakan.
"ya Allah Iroh !!! Kamuteh salaman sama si Tumang gak cuci tangan dulu ? Kebangetan kamu ini ya !"
Ujar mang Darman yang lebih dulu menyadari penyebab Tumang meraung raung sembari terpingkal pingkal menyebut kedua matanya perih. Lalu segera menuntun Tumang ke arah dapur untuk mencuci wajah dan matanya.
Sampai pada akhirnya Tumang merasa lega karena perih di matanya sudah berkurang. Lalu duduk tenang di selingi beragam pertanyaan dari mang Darman dan istrinya.