Raisa tidak menyangka bahwa hidup akan membawanya ke keadaan bagaimana seorang perempuan yang menjalin pernikahan bukan atas dasar cinta. Dia tidak mengharapkan bahwa malam ulang tahun yang seharusnya dia habiskan dengan orang rumah itu menyeretnya ke masa depan jauh dari bayangannya. Belum selesai dengan hidup miliknya yang dia rasa seperti tidak mendapat bahagia, malah kini jiwa Raisa menempati tubuh perempuan yang ternyata menikah tanpa mendapatkan cinta dari sang suami. Jiwanya menempati raga Alya, seorang perempuan modis yang menikah dengan Ardan yang dikenal berparas tampan. Ternyata cantiknya itu tidak mampu membuat Ardan mencintainya.
Mendapati kenyataan itu Raisa berpikir untuk membantu tubuh dari orang yang dia tempati agar mendapatkan cinta dari suaminya. Setidaknya nanti hal itu akan menjadi bentuk terima kasih kepada Alya. Berharap itu tidak menjadi boomerang untuk dirinya. Melalui tubuh itu Raisa menjadi tahu bahwa ada rahasia lain yang dimiliki oleh Ardan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eloranaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jangan Hadir
Hari ini Raisa bangun kesiangan. Atau lebih tepatnya dipaksa bangun oleh tepukan lembut di bahunya. Saat membuka mata dia melihat Santi yang menatapnya penuh sapaan ramah.
Raisa terkesiap. Dia memerhatikan jam dinding yang menunjuk pukul sepuluh, yang mana tandanya dia sudah terlambat berkerja hari ini. Perlahan dia mengubah posisinya untuk duduk.
"Bu, aku telat kerja."
“Nggak usah kerja ya hari ini. Ayo, bangun sarapan dulu.” Keduanya berucap hampir bersamaan. Santi meraih semangkuk bubur yang tadi dia simpan di atas nakas.
Sebelum mulai menyendok bubur perempuan itu mengulurkan tangannya ke dahi Raisa untuk mengecek suhunya. “Nanti habis makan kamu diperiksa ya, Ardan baru panggilin dokter,” ujar Santi lantas mengarahkan sendok berisi bubur putih ke mulut Raisa tapi segera terhenti sebab pertanyaan Raisa.
"Kak Gerald ya, Bu?"
Santi menggeleng. "Ardan nggak bakal mau minta keluarga sendiri periksa kalau ada yang sakit. Padahal punya kakak jadi dokter ya? Emang anak itu sukanya nyusahin diri sendiri." Barulah setelah itu Santi kembali mengarahkan suapannya ke Raisa.
“Aku bisa makan sendiri, Bu,” tolak Raisa mencoba meraih wadah di tangan Santi tetapi langsung ditepis.
“Biar ibu aja.”
Raisa akhirnya mengangguk setuju, toh melawan tidak ada gunanya. Beruntung juga, karena kali ini kondisinya memang sedang lemah. Mungkin apabila tidak disuapi gadis itu memilih untuk tidak makan seharian. Mungkin juga akan tidur seharian jika tidak dibangunkan.
Dia menerima sesuap demi sesuap bubur dari Santi. Pagi ini di kamar tersebut hanya ada mereka berdua. Samar-samar gadis itu mengangkat kedua sudut bibir pucatnya ketika Santi mengusap noda belepotan bubur.
“Bu hari ini Ardan ada jadwal pameran yang waktu itu pernah aku bilang ke Ibu.” Raisa membuka obrolan.
“Oh, ya? Terus ibu harus gimana?”
Raisa tampak berpikir. “Ibu masih pengen perbaikin hubungan sama Ardan?”
Santi mengangguk sebagai jawaban.
“Gimana kalau gitu kita mulai dengan dukung Ardan kali ini? Ibu bisa dateng ke pameran Ardan dan tunjukin kalau ibu mau support yang dia lakuin hal ini.”
Santi diam sebentar sebelum menjawab, “Tentang melukis ya?” Terdengar lenguhan panjang yang berat hingga dia mengatakan, “Okey deh. Nanti ibu dateng. Di mana dan jam berapa?”
“Kemarin sih setahu aku kata temen Ardan jam satu udah mulai buka OTS tiketnya. Kalau soal lokasi nanti aku minta dulu ke Keisha ya, Bu.” Raisa menerima suapan lalu melanjutkan, “Nanti ibu aku kasih tiketnya deh, aku ada dua dikasih sama temen Ardan.”
Berbarengan dengan itu, pintu terbuka. Ardan muncul bersama seorang dokter. Santi segera menjauh dan memberikan ruang untuk dokter tersebut memeriksa kondisi menantunya.
Raisa menerima segala pemeriksaan dengan tertib meskipun sesekali dia harus menahan agar batuknya tidak keluar saat pemeriksaan.
Seusai memeriksa kondisi Raisa dokter itu memberikan resep obat kepada Ardan yang berdiri paling dekat dengannya. Meminta lelaki itu agar menebus obat yang telah dia tuliskan.
"Istri kamu butuh istirahat yang cukup ya, jangan ada aktivitas hari ini dulu. Makan juga diperhatikan. Kemarin pasti habis hujan-hujanan ya?" Pertanyaan itu ditujukan pada Ardan tetapi Raisa yang segera menjawab iya. "Karena kondisi imun kamu sedang lemah jadi hanya karena kehujanan sedikit aja bisa sakit." Semua memerhatikan tak terkecuali Ardan, lelaki itu sejak tadi juga sudah memeriksa daftar obat yang dituliskan.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, jangan lupa ditebus obatnya."
Selanjutnya kondisi kamar tersebut mulai kembali sepi. Meninggalkan Santi dan Raisa saja. Sementara Ardan keluar mengantar dokter dan segera menebus list obat yang masih dia bawa.
Santi langsung duduk di sebelah menantunya.
"Kamu denger kan apa yang dibilang dokter tadi, Nak? Jadi nanti kamu di rumah aja ya, biar ibu sendiri yang ke tempatnya Ardan." Santi mengusap kepala Raisa naik turun.
"Ikut sebentar aja masak nggak boleh, Bu? Aku pengen lihat." Raisa cemberut.
Menggoyang-goyangkan telunjuk ke kanan dan kiri, Santi menjawab, "Nggak boleh ya. Nanti ibu fotoin aja ke kamu. Ok?"
...****************...
Selang setengah jam Ardan kembali menunjukkan batang hidungnya. Dia muncul dengan membawa segelas air putih di tangan dan obat-obatan yang berhasil dia dapatkan.
Mendengar derit pintu, Raisa yang tadi terpejam segera bangun. Senyumnya terbit bersamaan Ardan yang berdiri di dekatnya.
"Terima kasih, ya," ucap Raisa ketika Ardan mengulurkan obat dan segelas minum. Lelaki itu bahkan ikut membantunya membuka segel obat.
"Gue tahu dulu waktu lo bicara sama temen-temen gue mereka pasti bicarain soal pameran." Tiba-tiba lelaki tersebut berbicara. Raisa mendongak supaya lebih jelas melihat wajah Ardan. "Gue mau lo jangan dateng dan buat masalah."
Meski memang sudah dilarang oleh Santi, tetapi saat mendengar itu Raisa ikut terpancing.
"Kenapa?" tanyanya.
"Nggak ada alasan. Intinya lo nggak usah dateng."
"Kalau aku nekat dateng?" Raisa tampak menggoda, terdengar jelas dari nada bicaranya.
Tidak ada jawaban dari Ardan. Selepas Raisa selesai minum obatnya lelaki itu juga selesai menemani. Dia berderap keluar. Meninggalkan Raisa sendirian yang mencoba mengurangi pusing kepala yang mendera dengan kembali berbaring.
"Semangat ya kegiatannya!" pekiknya bertepatan Ardan menutup pintu.
...****************...