Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28. Eskrim Rasa Bibir
28
Keyra baru saja melangkah keluar dari gedung fakultasnya ketika sebuah suara yang sudah sangat ia kenal memanggil namanya.
“Keyra?”
Ia menoleh. Rafael berdiri beberapa meter darinya, mengenakan kemeja kasual dan ransel di satu bahu. Senyumnya muncul spontan, seperti biasa, hangat dan akrab.
“Raf?” Keyra mendekat. “Kamu ngapain di sini? Mau ketemu Dekan?”
“Iya,” Rafael mengangguk sambil menunjuk ke arah gedung yang berdiri di hadapan mereka yang merupakan gedung rektorat, “aku mau ke ruang Dekan ku. Ada berkas yang harus aku urus, tapi… jujur aja, aku agak males jalan sendirian.”
Keyra terkekeh. “Alasan klasik. Bilang aja minta ditemenin sama aku gitu.”
“Bukan alasan,” sanggah Rafael cepat. “Cuma permintaan tulus.”
Keyra menatap jam di ponselnya sejenak, lalu mengangkat bahu. “Ya udah. Aku temenin kamu sekarang. Masih ada waktu.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor terbuka yang menghubungkan fakultas-fakultas. Langkah mereka santai, seirama, jelas bukan dua orang yang baru saling mengenal.
“Kamu tadi sama siapa?” tanya Rafael sambil melirik ke arah belakang, seolah mencari seseorang.
Keyra menjawab ringan, “Sama Om Ken. Dia nganterin aku. Tapi tadi dia keluar sebentar.”
Rafael mengangguk pelan. “Pasti cewek-cewek pada ngeliatin Om bule.”
Keyra menoleh. “Kamu lihat?”
“Nggak sih,” jawab Rafael sambil tersenyum tipis. “Cuma nebak doang.”
Keyra menghela napas kecil. “Bener banget, Raf. Aku sempet ilfeel tau liat orang-orang pada tebar pesoma. Terus Om Ken juga nggak pernah sadar efeknya ke orang sekitar.”
“Justru itu yang bikin mencolok,” balas Rafael jujur.
Mereka berhenti sejenak di depan tangga. Rafael menoleh ke arah papan petunjuk. “Ruang dekan lantai dua.”
“Ayo,” kata Keyra.
Di sepanjang jalan, mereka mengobrol tentang hal-hal ringan, tugas kuliah, dosen yang terkenal galak tapi adil, jadwal yang padat. Tidak ada kecanggungan, tidak ada jarak. Sesekali Rafael melontarkan candaan, dan Keyra menanggapinya dengan tawa kecil.
“Selesai urusanku, kamu langsung pulang?” tanya Rafael.
“Mungkin,” jawab Keyra. “Atau cari kopi dulu.”
“Kalo gitu aku traktir,” ujar Rafael cepat. “Sebagai ucapan terima kasih udah nemenin.”
Keyra tersenyum. "Hmm... makasih deh. Tapi aku nanti dijemput sama Om Ken.” tolak Keyra halus.
"Oh...ya udah." respon Rafael ringan, meski ada rasa kecewa di hatinya.
Mereka tiba di depan ruang dosen. Rafael berhenti dan menoleh padanya. “Makasih, ya. Aku tahu kamu sebenarnya bisa nolak.”
Keyra mengangkat bahu. “Kita kan temen.”
Rafael tersenyum, senyum yang tulus, tanpa tuntutan.
“Iya... temen,” ulangnya pelan, dengan senyum yang hambar.
Keyra menunggu di bangku koridor sementara Rafael masuk. Ia menatap sekeliling kampus yang kembali sibuk, tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata lain sempat memperhatikan kebersamaan itu, tenang, namun menyimpan sesuatu yang belum terucap.
.
Rafael keluar dari ruang dekan dengan napas lega. Ia merapikan map di tangannya, lalu menoleh ke arah bangku koridor tempat Keyra menunggu.
“Udah,” katanya. “Lebih cepat dari yang kukira.”
Keyra tersenyum. “Syukur deh.”
Belum sempat mereka melangkah, ponsel Keyra bergetar. Ia melirik layar dan ekspresinya berubah seketika. Senyum yang tadi santai kini mengembang tanpa bisa ia sembunyikan.
“Om Ken,” gumamnya, lalu mengangkat panggilan.
Rafael tidak berniat mendengarkan, tapi jarak yang terlalu dekat membuat beberapa potong suara tetap sampai ke telinganya.
“Kamu sudah selesai?”
“Iya, Om. Ini aku lagi sama Rafael. Tapi urusan udah selesai kok." jawab Keyra jujur.
“Sekarang? Oh… ya, Om tunggu di parkiran.”
"Oke Om, aku bentar lagi turun."
Nada suara Keyra berbeda. Lebih ringan. Lebih manja. Seperti seseorang yang sangat mengagumi.
Rafael berdiri di sampingnya, menunggu dengan sabar. Namun ada sesuatu yang mengendap di dadanya, bukan marah, bukan iri yang tajam. Hanya rasa asing yang selalu datang setiap kali nama itu disebut.
“Ken udah jemput” kata Keyra setelah menutup telepon. “Katanya dia tunggu di parkiran.”
Rafael mengangguk. “Ayo. Aku anterin sekalian.”
Mereka berjalan menyusuri jalur menuju parkiran. Langkah Keyra terlihat lebih cepat dari sebelumnya, seolah ada magnet yang menariknya ke depan. Rafael mengimbangi, meski kini lebih banyak diam.
“Makasih ya, Raf,” ucap Keyra tulus. “udah minta ditemenin, eh malah kamu yang nemenin aku.”
“Kita kan temen,” jawab Rafael ringan. “Saling peduli.”
Keyra mengangguk sambil tersenyum.
Mereka tiba di parkiran. Dari kejauhan, mobil Ken sudah terlihat. Pria itu berdiri di sampingnya, ponsel masih di tangan, lalu mengangkat wajah ketika melihat Keyra, dan melambaikan tangan lada Rafael.
Senyumnya muncul, tenang, hangat. Rafael mengangguk pada Ken.
Keyra melambai kecil, lalu menoleh ke Rafael. “Aku jalan dulu.”
Rafael mengangguk, menahan sesuatu yang ingin ia katakan. “Hati-hati.”
“Iya.”
Keyra melangkah pergi, langkahnya ringan. Rafael berdiri di tempatnya, memperhatikan bagaimana Ken menyambut Keyra, dengan perhatian yang tidak berisik, tapi jelas terasa. Cara Ken membuka pintu mobil, cara ia mencondongkan tubuh sedikit agar bisa mendengar Keyra berbicara.
Rafael menarik napas pelan.
Ia tahu tempatnya di mana.
Ia juga tahu, perasaannya tidak akan pernah benar-benar menemukan ruang di sana.
Namun seperti biasa, ia memilih untuk tetap berdiri di sisi Keyra.
mengantarnya sejauh yang ia bisa,
lalu melepaskan dengan senyum yang tetap utuh.
*
Mobil melaju perlahan meninggalkan area kampus. Musik diputar pelan, cukup menjadi latar tanpa mengganggu percakapan. Keyra duduk santai di kursi penumpang, masih dengan senyum yang belum juga memudar sejak bertemu Ken di parkiran.
“Kita mampir sebentar, ya?” pintanya tiba-tiba.
Ken meliriknya. “Ke mana?”
“Beli es krim. Lima menit aja.”
Ken tertawa kecil. “Permintaan yang sulit ditolak.”
Mereka berhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan, tempat sederhana yang menjual es krim dengan berbagai ras. Keyra turun lebih dulu, memilih dengan penuh pertimbangan seolah sedang menentukan keputusan penting.
“Cokelat atau vanila?” tanyanya sambil menoleh ke Ken.
“Yang kamu suka.”
"Aku suka dua-duanya."
Keyra tersenyum puas dan kembali dengan es krim di tangannya. Begitu mobil kembali melaju, ia membuka kemasan dan langsung menyuap dengan ekspresi senang yang polos.
“Enak,” katanya singkat, lalu tersenyum lebar.
Ken menyetir dengan satu tangan, menoleh sekilas. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa menahan senyum, cara Keyra menikmati hal sederhana, seolah dunia tidak sedang menuntut apa pun darinya.
“Om mau nggak?” Keyra menyodorkan sendok.
Ken ragu sejenak, lalu menurut. Ia menerima satu suapan kecil. “Lumayan.”
“Hanya lumayan?” Keyra menaikkan alis, pura-pura tersinggung.
Ken menggeleng. “Cukup satu. Sisanya buat kamu.”
Keyra mengangguk, tidak memaksa. Ia kembali menikmati es krimnya, sesekali bersenandung pelan mengikuti musik. Ken menoleh lagi, sebentar saja dan kembali ke jalan, tapi tatapan itu menyimpan rasa gemas yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Kenapa lihat-lihat?” tanya Keyra tanpa menoleh.
“Nggak apa-apa,” jawab Ken. “Hanya… ikut bahagia melihat kamu bahagia.”
Keyra tersenyum lebih lebar. “Karena aku memang bahagia.”
Ken tidak menjawab. Ia hanya menghela napas pelan, lalu kembali fokus menyetir dengan sudut bibir yang masih terangkat, dan perasaan hangat yang tinggal lebih lama dari rasa es krim itu sendiri.
"Kamu makannya yang rapi dong, Sweetheart." Tegur Ken halus melihat bibir ranum Keyra belepotan eskrim, sesekali ia ulurkan tangan untuk menyeka lelehan eskrim di bibir Keyra.
"Nanti eskrimnya mencair udah nggak enak lagi, Om." sanggah Keyra.
Ken tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Tulus. Dipenuhi rasa gemas yang semakin tak bisa dibendung.
"Kalo belepotan lagi, Om ngapusnya bukan pake jari. Tapi pake bibir." Ken menggoda gadisnya.
"Serius, Om?" Keyra terlihat antusias.
Dan bisa ditebak, Keyra malah sengaja membuat dirinya terlihat berantakan. Agar Ken merealisasikan ucapannya.
"Kamu nakal ya..." Reaksi Ken merasa sangat gemas.
Mobil berhenti di tempat yang cukup hening. Di pinggir jalan. Bibir Keyra yang belepotan eksrim dibuat dengan sengaja untuk mengundang Ken.
"Mmmmm...." Keyra memejamkan mata menikmati ciuman Ken sementara tubuhnya bersandar.
"Tanpa eskrim pun Om udah ketagihan sama bibir kamu, Sweetheart." bisik Ken di sela-sela kemesraan, lalu melanjutkan ciumannya.
Selanjutnya keduanya secara intens saling mengecup dan mengulum bibir. Keyra sudah mulai pandai mengimbangi Ken. Bahkan ia membuat Ken mendesah kecil ketika jemarinya dengan nakal meremas dada Ken.
"Udah pinter ya sekarang..." Ken terkekeh pelan saat melepaskan ciumannya.
"Om, boleh nggak kalo eskrimnya aku taro di..." ucap Keyra hati-hati, namun tidak melanjutkan dengan verbal, melainkan isyarat mata.
Ken tersenyum. Ia faham maksud Keyra.
"Nanti kamu kedinginan." Ken pura-pura protes, padahal keinginan dalam benaknya sudah terbit melihat Keyra yang langsung membuka kancing bajunya satu persatu bahkan sebelum mendapatkan persetujuan dari Ken.
"Nanti juga anget sama lidahnya Om." Keyra tersipu, ekspresinya terlihat semakin menggemaskan.
Ken tentu saja tak mau membuang waktu.
Bersambung...
.
YuKa/ 201225
yuk lah gass ke penghulu