NovelToon NovelToon
Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Ruang Ajaib / Epik Petualangan / Roh Supernatural / Time Travel
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nyx Author

🔥"Tanaya — Jiwa dari Zaman Purba”

Tanaya, gadis modern yang hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba terbangun di tubuh asing—berkulit gelap, gemuk, dan berasal dari zaman purba yang tak pernah ia kenal.

Dunia ini bukan tempat yang ramah.
Di sini, roh leluhur disembah, hukum suku ditegakkan dengan darah, dan perempuan hanya dianggap pelengkap.

Namun anehnya, semua orang memanggilnya Naya, gadis manja dari keluarga pemburu terkuat di lembah itu.

>“Apa... ini bukan mimpi buruk, kan? Siapa gue sebenarnya?”

Tanaya tak tahu kenapa jiwanya dipindahkan.

Mampukah ia bertahan dalam tubuh yang bukan miliknya, di antara kepercayaan kuno dan hukum suku yang mengikat?

Di dalam tubuh baru dan dunia yang liar,
ia harus belajar bertahan hidup, mengenali siapa musuh dan siapa yang akan melindunginya.

Sebab, di balik setiap legenda purba...
selalu ada jiwa asing yang ditarik oleh waktu untuk menuntaskan kisah yang belum selesai.

📚 Happy reading 📚

⚠️ DILARANG JIPLAK!! KARYA ASLI AUTHOR!!⚠️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

|Konflik Di Balai Dapur...

“Bibi! Bibi Hika! Tadi aku melihat Naya pergi sambil mengajak Liran dan Zuam ke suatu tempat.”

Di sudut balai, Neera berlari menghampiri salah satu wanita yang berbincang dengan beberapa wanita lain. Dia Hira—ibu dari Lani yang saat itu juga ikut membantu memasak. Neera sengaja mengeraskan suaranya, cukup untuk menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Beberapa kepala langsung menoleh begitupun dengan Sira yang tak jauh dari sana.

“Hah? Benarkah?”Hira mengangkat wajahnya tampak terkejut.“Bukankah Liran dan Zuam seharusnya mengikuti pengajaran pembuatan senjata?”

Pandangan Hira melirik ke arah putrinya—Lani di sampingnya. Gadis itu memasang raut yang sama kagetnya menatap sahabatnya atau setidaknya berusaha terlihat demikian.

"Kau tidak salah lihat kan Neera? Barang kali itu bukan Naya. Naya kan sekarang sudah berubah"Ujar Lani sambil menoleh kearah Minde yang tertawa kecil.

“Aku tidak berbohong Lani.” lanjut Neera, suaranya terdengar polos. “Aku benar-benar melihat Naya tadi. Ia berusaha menarik mereka pergi tadi. Seperti… memaksa.”

Hira yang mendengar itu menghela napasnya pelan lalu kembali menumbuk daging di hadapannya, seolah menimbang sesuatu sebelum akhirnya bersuara.

“Hah… ternyata gadis itu masih sama,”gumamnya, cukup keras untuk didengar. “Selalu pandai menggoda para pria. Tidak takut pula mengajak mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas.”

Ia berhenti sejenak, Ia lalu menoleh pada Lani, Neera, Minde dan beberapa gadis-gadis muda lainnya satu per satu dengan sorot mata memperingatkan.

“Kalian jangan sampai seperti itu. Jangan ikuti tingkahnya. Seorang gadis seharusnya tahu diri, dan tahu tempat."

Udara di dapur mendadak terasa berat. Sira yang sejak tadi diam, tangannya berhenti memotong daging. Pisau kayu itu masih tergenggam, namun jemarinya mengencang.

“Apa maksudmu, Hira?!”

Sira melangkah satu tapak ke depan. Ia meletakkan pisaunya di atas talenan—bunyi kayunya terdengar jelas di tengah balai yang mulai senyap.

“Ucapkan sekali lagi. Tapi kali ini… dengan alasan.”

Nada suaranya tenang, tapi seperti bergetar menahan amarah.

Hira terdiam sesaat. Tangannya yang tadi menumbuk daging berhenti. Ia menoleh dengan senyum tipis.

“Aku hanya berkata apa yang kulihat, Sira. Kenapa kau marah? Anakmu itu terlalu bebas. Menarik para pemuda pergi seenaknya. Itu tidak pantas bagi seorang gadis.”

“Kau tidak tahu apa yang dilakukan putriku, Hira! Dan kau tidak berhak menuduhnya dengan kata-kata kotor di depan orang banyak.”Tukas Sira cepat.

Tatapannya semakin menajam, bukan karna marah melainkan dingin dan penuh kendali saat putrinya diinjak dengan kata-katan tak pantas.

Balai dapur seketika sunyi.

Hira menegakkan punggungnya. Tatapannya beralih ke Sira, tidak sepenuhnya takut—justru seperti merasa berada di posisi benar.

“Itu bukan kata-kata kotor... Aku sedang berbicara tentang moral suku,”balasnya, suaranya dibuat tenang namun menusuk.“Kita semua tahu bagaimana pandangan suku lain pada perempuan Nahara. Jika gadis-gadis kita bebas berjalan dengan para pria, apalagi tanpa pengawasan, bukankah itu mencoreng nama kita sendiri?”

Ia menggeleng pelan, seolah menyayangkan.

“Aku tidak menuduh tanpa alasan. Bukankah ini bukan pertama kalinya Naya menjadi pembicaraan.”

Beberapa kepala terangkat. Bisik-bisik tipis mulai merayap. Namun sebelum Sira sempat membuka suara lagi, sebuah langkah maju terdengar dari sisi dapur.

“Cukup, Hida.”

Bunka berdiri dengan tangan masih berlumur lemak daging. Wajahnya mengeras, sorot matanya tajam—Wanita itu bukan tipe yang mudah digiring gosip. Ia cukup mengenal bagaimana watak Hida dan tidak berniat membiarkan wanita itu terus berbicara.

“Berbicara soal moral tidak memberimu hak menginjak kehormatan anak orang, Hira.”Ucapnya tegas, nadanya rendah namun menekan.“Terlebih lagi saat kau sendiri tidak tahu seberapa jauh tingkah putrimu, itu.”

Tatapan Bunka perlahan beralih kearah Lani membuat gadis itu tersentak dan membelalak tak terima. Lani mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, namun tak satu pun bantahan yang keluar.

Wajah Hira menegang, namun hanya sesaat. Ia perlahan meletakkan alu kayu di sampingnya, mengusap tangan dengan kain seadanya.

“Bunka…”Ucapnya pelan, seolah menahan diri agar tidak terdengar kasar. “Kau sepertinya selalu berprasangka buruk padaku ya..."

Nada suaranya dibuat lembut, hampir seperti nasihat seorang ibu.

“Aku tidak membenci Naya. Dia gadis yang pintar. Tapi aku hanya mengingatkan... Sebagai sesama wanita, bukankah wajar jika aku khawatir pada gadis muda yang sering menarik perhatian pria? Bukankah itu sama saja seperti wanita rendahan di suku Qien?"

Mendengar itu, Sira menarik napasnya dalam-dalam. Ia kembali berbicara, suaranya tidak tinggi—justru tenang, dingin, dan penuh keyakinan.

“Tapi putriku tidak seperti itu Hira... Putriku tidak pernah menarik seorang pria tanpa alasan,” ucapnya. “Dan jika hari ini ia mengajak Liran dan Zuam pergi, itu karena ia percaya mereka bisa membantu suku ini.”

Duraya ikut bangkit. Wanita itu mengangguk pelan, suaranya rendah tapi jelas.

“Dan sejak kapan membantu suku dianggap menggoda?” katanya menatap semua orang“Anak itu mengajari kita cara memasak yang membuat perut anak-anak tidak sakit. Mengajari mencuci tangan. Mengajari menyimpan bahan dengan benar.”

Ia menatap Hira lurus-lurus.“Kalau itu disebut tidak pantas… maka aku ingin lebih banyak gadis seperti Tanaya.”

Balai semakin sunyi.

Beberapa wanita tampak mengangguk pelan, seolah mengingat kembali bagaimana Tanaya kemarin membagikan masakan yang hangat dan lezat—bagaimana ia mengajarkan mereka mencuci tangan sebelum makan agar perut tidak sakit. Hal-hal kecil, tapi meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.

Duraya kemudian mengalihkan pandangannya. Tatapannya jatuh tepat pada Neera.

Gadis itu refleks menegakkan bahunya, seakan baru saja disorot cahaya tajam. Jarinya menggenggam ujung kain bajunya tanpa sadar.

“Kau yang melihatnya, bukan?” tanya Duraya—datar, tidak menuduh, namun cukup untuk membuat udara di balai terasa berat.“Apa kau tahu pasti mereka pergi ke mana?”

Neera menelan ludahnya. Bibirnya terbuka, lalu tertutup kembali. Matanya bergerak cepat, mencari celah—namun tidak menemukannya.

“A-aku…” suaranya nyaris tenggelam. “Aku hanya melihat Tanaya mengajak Liran dan Zuam pergi menjauh dari balai.”

“Menjauh ke mana?” Duraya mengulang, satu langkah mendekat. Neera menggeleng cepat.“Aku tidak tahu. Mereka sudah menghilang di balik jalur batu.”

Bunka mendengus pelan.

“Jadi kau tidak tahu apa-apa,” katanya. “Tapi kau memilih mengeraskannya di dapur balai, di depan banyak orang.”

Neera mulai gemetar.

Sira akhirnya melangkah maju. Suaranya tetap tenang, namun ada getaran marah yang tertahan rapi.

“Neera,” panggilnya pelan.

Gadis itu menoleh, tubuhnya kembali menegang.

“Kau tahu apa akibat menyebar gosip tanpa bukti kan?” tanya Sira. “Bukan hanya melukai satu orang, tapi merusak kepercayaan di antara kita.”

Sira menatap Neera untuk terakhir kalinya, lalu kembali pada pekerjaannya, seolah berkata tanpa suara:Putriku bukan bahan gosip dan dia bukan ibu yang akan diam saja.

Hira hendak membuka mulutnya—membela, namun Duraya lebih dulu memotong.

“Jika ini sampai ke telinga Ketua Sao,”ucapnya dingin“yang akan ditanya bukan Naya—melainkan siapa yang menyebarkan kabar kotor itu tanpa dasar.”

Neera menelan ludahnya, wajahnya mulai pucat."Bibi Duraya Aku… aku tidak bermaksud—”

“Tidak ada ‘tidak bermaksud’. Putraku juga kau bawa dalam hal ini.” potong Bunka mengingat Liran.

“Mulai hari ini, jaga lidahmu. Jika kau melihat sesuatu, pastikan kebenarannya. Jika tidak—diam.”lanjutnya sebelum akhirnya ikut kembali memasak.

Neera menundukkan kepalanya—gelisah. Wajahnya memanas diantara banyaknya mata yang menatapnya. Karena untuk pertama kalinya, kata-katanya tidak berdiri di pihak mayoritas.

Angin pagi kembali menyelinap masuk ke balai dapur, membawa bau kayu bakar dan daging panggang. Bisik-bisik perlahan berhenti, dan semua orang mulai mengerti bahwa tanaya tidak berdiri sendirian.

Hira yang mendengar itu memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras lalu kembali menuntaskan pekerjaan nya. Di sampingnya Lani mengamati semua itu tanpa suara. Tatapannya semakin gelap dan menyimpan hitung-hitungan baru.

Karena kali ini… Angin tidak lagi berpihak padanya.

...>>>>To Be Continued......

1
Iin Wahyuni
ayo thor jgn lama2 upnya thor d tunggu trs thor💪
Musdalifa Ifa
jadi penasaran juga deh, apakah itu jodoh Naya pacar Naya di dunia modern?
Lala Kusumah
aaahhhh makasih updatenya ya, aku syukaaaaa, semangat sehat 💪💪💪
Markuyappang
Waduhh sapa tuh yg ngenalin buah buahan ituuu. penasaran dehhhh, apa jangan jangan yg jadi pasangan naya nanti orang tersebuttttt??? hehehheheheee hanya author saja yg tau wkwkwwkwk
Markuyappang
akhirnya setelah 2 hari tanpa up apapunnnn huaaaaaaa
tapi kak, pembacamu ini sepertinya semakin serakah deh karena KURANG BANYAK UPDATENYAA HUHUHUHU bisakah meminta update lagi xixixixixi

terima kasih sudah updateee, semangat trs ya update ceritanyaa selalu ditunggu kelanjutannya
Yani
Author .........
Musdalifa Ifa
Thor tolong up lagi lagi penasaran ini🙏
Yani
di tunggu lanjutan crita nya ya Thorr 🥰🥰🥰
Siska Sutartini
ada apa dg zuam ya? apakah zuam jatuh sakit? lagi upnya dong thor akuu menunggumu thorr😁😁😁
Lala Kusumah
ada apa dengan Zuam ya , duh penasaran 🤔🤔🤔
lanjuuuuuuuuut Mak 🙏🙏
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
apa yang terjadi pada Zuam?
RaMna Hanyonggun Isj
kasih banyak sedikit update nya
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
semangat buat karya nya thor 💪😍🤗
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
geram banget sama mereka bertigaa😤😤
Yani
ayo Thorr update lagi crita nta 🥰🥰
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, semangat Naya pasti bisa buat garam 💪💪🙏🙏👍👍😍😍
Lala Kusumah
makasih updatenya Mak 👍👍👍
Lala Kusumah
kereeeeeennn ibu2ku itu ya 👍👍👍💪💪💪😍😍
Markuyappang
bisa nggak ya di skip tiba tiba kristal putih langsung jadi, jeng jeng jenggg jenggggg. terima kasih sudah update ya thorr

update banyal banyakkk gak sabarnyaaaaaa lihat si haters terdiam melihat naya berhasillllllllllll. aishh ikut deg deg an sampe kristal putih jadiii
anna
bagus siiihhh,tapi sayang sekali nunggu lamaaaaa bangeett upnya ampek lumutan baru nongoooll ,kayak siput 😪😪,sampek lupa jalan ceritanya sangking lamanya
📚Nyxaleth🔮: Baik kak... Tak usahakan.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!