NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN BERAT MENUJU INDONESIA

BAB 3

Evakuasi Terakhir**

Langit Gaza pagi itu kelabu. Awan tebal menggantung rendah, seolah ikut berduka atas darah dan air mata yang tumpah semalam. Di halaman Kedutaan Besar Indonesia, suasana sunyi namun tegang. Pasukan Arhanud 14 Cirebon bersiaga penuh, senjata terpasang, mata mereka menyapu setiap sudut jalan.

Sertu Bima berdiri di dekat gerbang kedutaan, berbicara lewat radio komunikasi.

“Pos satu aman. Pos dua, laporkan situasi.”

Suara Agung terdengar di radio.

“Pos dua aman, Sertu. Tidak ada pergerakan mencurigakan… tapi intel bilang pasukan Sukatahu masih berkeliaran.”

Bima menghela napas pelan.

“Baik. Tetap waspada. Mereka tidak akan menyerah begitu saja.”

Di dalam gedung kedutaan, Laura duduk memeluk tas kecil berisi flashdisk dan catatan formula vaksin. Tangannya gemetar. Anisa duduk di sampingnya, memegang lengan kakaknya erat.

“Kak… kita benar-benar akan pergi?” bisik Anisa.

Laura menatap adiknya, memaksakan senyum.

“Iya, Dik. Kita akan ke Indonesia. Tempat yang aman.”

“Tapi… Ayah…” suara Anisa bergetar.

Laura menunduk, menahan air mata.

“Ayah selalu bersama kita. Di mana pun kita berada.”

Dr. Hadijah mendekat, duduk di depan kedua putrinya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sorot matanya tegas.

“Dengar, Laura,” ucapnya lembut namun serius.

“Kau bukan hanya anakku. Kau harapan banyak orang. Jangan pernah merasa bersalah karena memilih hidup.”

Laura mengangguk pelan.

“Aku berjanji, Bu. Aku akan melanjutkan perjuangan Ayah… dengan caraku.”

Pintu ruang utama terbuka. Pak Hendra masuk bersama dr. Sandi.

“Semua siap?” tanya Pak Hendra.

Dr. Sandi mengangguk.

“Siap, Pak Dubes. Konvoi akan bergerak dalam sepuluh menit. Pesawat diplomatik sudah standby.”

Pak Hendra menatap Laura.

“Perjalanan ini tidak mudah. Tapi setelah kalian sampai di Indonesia, keselamatan kalian menjadi tanggung jawab penuh negara kami.”

Laura berdiri dan menunduk hormat.

“Terima kasih, Pak. Saya tidak akan melupakan ini.”

Konvoi Evakuasi

Dua kendaraan diplomatik berpelat khusus bergerak meninggalkan kedutaan. Di depan, kendaraan lapis baja Arhanud 14 membuka jalan. Di udara, helikopter mengawal dari kejauhan.

Bima duduk di kursi depan kendaraan pengawal, matanya tak lepas dari jalan.

“Andri, jarak aman tetap dijaga. Jangan terlalu rapat.”

“Siap, Sertu.”

Di kursi belakang kendaraan diplomatik, Laura menatap keluar jendela. Gedung-gedung hancur, puing-puing berserakan, dan warga Gaza berdiri memandangi konvoi itu dengan harap dan doa.

Anisa berbisik,

“Mereka melihat kita…”

Laura mengangguk.

“Mereka berharap… suatu hari hidup mereka juga akan aman.”

Tiba-tiba suara radio Bima pecah.

“Sertu! Ada pergerakan mencurigakan di simpang utara!”

Bima langsung berdiri sedikit.

“Semua unit, siaga! Jangan biarkan kendaraan diplomatik terisolasi!”

Di kejauhan, suara tembakan terdengar. Beberapa kendaraan tak dikenal muncul dari balik reruntuhan.

Agung berteriak lewat radio.

“Pasukan bersenjata! Diduga unit Sukatahu!”

Bima menggertakkan gigi.

“Mereka nekat… Semua unit, formasi perlindungan!”

Ledakan kecil mengguncang jalan. Kendaraan diplomatik berhenti mendadak.

Laura terkejut.

“Apa itu?!”

Dr. Sandi langsung merunduk.

“Tenang! Tetap di dalam kendaraan!”

Di luar, Bima sudah turun, senjatanya terangkat.

“Eren! Lindungi sisi kiri! Dimas, asap!”

Granat asap dilepaskan. Jalanan tertutup kabut putih. Tembakan bersahutan.

Di balik asap, suara keras terdengar—dingin dan penuh kebencian.

“Laura Islamiyah!”

Itu suara Kolonel Sukatahu.

Bima menoleh tajam.

“Sukatahu…”

Sukatahu melangkah maju, dikelilingi pasukannya.

“Serahkan gadis itu dan formula vaksinnya. Aku jamin kalian boleh pergi.”

Bima tertawa pendek, sinis.

“Kau salah tempat bicara. Ini wilayah diplomatik Indonesia.”

Sukatahu menyeringai.

“Hukum hanya berlaku bagi yang kalah.”

Ia memberi isyarat. Pasukannya bersiap menyerang.

Bima berteriak lantang.

“Pasukan Arhanud 14! Lindungi warga sipil! Jangan biarkan mereka mendekat!”

Pertempuran pecah lagi. Tembakan, teriakan, dan suara logam beradu memenuhi udara.

Di dalam kendaraan, Anisa menangis.

“Kak… aku takut…”

Laura memeluk adiknya erat.

“Pegang aku, Dik. Jangan lepaskan.”

Dr. Sandi menatap Laura serius.

“Jika sesuatu terjadi… kau harus tetap hidup. Formula itu lebih besar dari kita.”

Laura menatap dr. Sandi dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak… kita akan hidup bersama.”

Di luar, Bima berhadapan langsung dengan Sukatahu.

“Kau tentara,” ujar Sukatahu dingin.

“Mengapa melindungi sesuatu yang bukan milik negaramu?”

Bima menatap tajam.

“Kami tentara Indonesia. Tugas kami melindungi kemanusiaan.”

Mereka bertarung sengit. Tinju, tendangan, dan letusan senjata berpadu. Akhirnya, granat kejut meledak di dekat Sukatahu.

"Buuuum.. "

“Andri, sekarang!” teriak Bima.

Konvoi kembali bergerak. Kendaraan diplomatik melaju cepat meninggalkan lokasi.

Sukatahu bangkit dengan wajah penuh amarah, menatap debu yang ditinggalkan konvoi.

“Ini belum selesai…” gumamnya.

Menuju Langit Bebas

Bandara kecil yang dijaga ketat akhirnya terlihat. Pesawat diplomatik Indonesia berdiri dengan bendera merah putih berkibar.

Laura menatapnya dengan napas tertahan.

“Itu… Indonesia?”

Dr. Sandi tersenyum tipis.

“Ya. Rumah barumu.”

Saat pesawat mulai bergerak di landasan, Laura menatap ke arah Gaza dari jendela. Kota itu perlahan mengecil, namun kenangannya tak akan pernah hilang.

Laura berbisik pelan,

“Ayah… kami selamat.”

Anisa menyandarkan kepala di bahu kakaknya.

“Kak… di Indonesia… aku mau sekolah lagi.”

Laura tersenyum, air matanya jatuh.

“Iya, Dik. Kita mulai hidup baru.”

Pesawat lepas landas, menembus awan kelabu menuju langit biru.

Namun di kejauhan, ancaman belum sepenuhnya berakhir.

Di Tel Aviv, Jendral okto atasan Kolonel Sukatahu menatap layar radar penerbangan.

“Terbanglah sejauh yang kau mau, Laura Islamiyah,” ujarnya dingin.

“Suatu hari… aku akan datang menagih apa yang menurutku milik kami.”

Di udara, Laura menggenggam tas kecilnya erat.

Ia tidak tahu apa yang menantinya di Indonesia—

tetapi satu hal pasti:

perjuangan baru saja dimulai.

Langit yang Berdarah**

Langit biru di atas Laut Mediterania awalnya tampak tenang. Pesawat diplomatik Indonesia terbang stabil, meninggalkan wilayah udara Gaza dengan kecepatan konstan. Di dalam kabin, suasana hening, hanya suara dengung mesin dan napas tertahan para penumpang.

Laura duduk di dekat jendela. Tangannya menggenggam tas kecil berisi formula vaksin—seakan itulah satu-satunya jangkar yang menahannya tetap berdiri di tengah badai tak berujung.

Anisa menyandarkan kepala di bahu kakaknya.

“Kak… kita sudah jauh, kan?”

Laura menelan ludah.

“Iya, Dik. Sedikit lagi… kita hampir sampai.”

Di kokpit, Kapten Rudi Santoso, pilot senior TNI AU yang ditugaskan khusus untuk misi diplomatik ini, berbicara lewat radio internal.

“Semua penumpang tetap tenang. Kita memasuki jalur udara internasional.”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara alarm radar mendadak berbunyi nyaring.

BEEP! BEEP! BEEP!

Kopilot langsung menoleh ke layar.

“Kapten… ada lima kontak cepat dari arah barat daya. Pesawat tempur!”

Kapten Rudi mengeraskan rahangnya.

“Identifikasi.”

Suara operator radar terdengar tegang.

“Pesawat tempur isriwil… lima unit. Mereka mengunci kita.”

Di kabin, dr. Sandi berdiri spontan.

“Apa yang terjadi?!”

Pramugari mencoba tenang, tapi wajahnya pucat.

“Kami mohon semua tetap duduk dan mengenakan sabuk pengaman.”

Laura menatap ke luar jendela. Dari kejauhan, titik-titik hitam bergerak cepat, memotong awan seperti burung besi pembawa maut.

“Mereka… mengejar kita,” bisik Laura.

Perintah dari Palestina

Di ruang komando pertahanan Palestina, Jenderal Said Abdullah, Menteri Pertahanan Palestina, berdiri tegak di depan peta udara digital. Matanya menyala melihat jalur pesawat Indonesia yang diikuti lima pesawat tempur isriwil.

“Kurang ajar,” gumamnya.

Seorang perwira melapor cepat.

“Jenderal, pesawat diplomatik Indonesia sedang dalam ancaman langsung. Isriwil mengabaikan hukum internasional.”

Jenderal Said memukul meja.

“Itu sahabat kita! Negara yang berdiri bersama Palestina saat dunia diam!”

Ia menoleh tajam.

“Kerahkan skuadron udara. Lindungi pesawat Indonesia. Saya ulangi—lindungi mereka dengan nyawa kalian!”

“Siap, Jenderal!”

Di landasan udara Palestina, tiga pesawat tempur lepas landas, membelah langit dengan raungan keras.

Peperangan di Udara

Di udara, pilot isriwil terdengar di radio internal mereka.

“Target di depan. Abaikan pengawalan. Fokus pada pesawat utama.”

Salah satu pilot lain menyeringai.

“Formula itu tidak boleh sampai ke Asia.”

Tiba-tiba radar mereka berbunyi keras.

“Apa itu?! Kontak baru dari timur!”

Pilot utama terkejut.

“Pesawat tempur Palestina! Mereka berani?!”

Di radio Palestina, suara tegas terdengar.

“Pesawat isriwil, menjauh dari pesawat diplomatik Indonesia. Ini peringatan terakhir.”

Pilot isriwil tertawa sinis.

“Kalian hanya tiga. Kami lima.”

“Cukup untuk mati bersama,” jawab pilot Palestina dingin.

Langit berubah menjadi medan perang. Rudal meluncur, flare dilepaskan, dan dentuman mengguncang udara.

Di kabin pesawat Indonesia, guncangan terasa hebat.

Anisa menjerit.

“Kak!!!”

Laura memeluk adiknya erat.

“Pegang aku! Jangan lepaskan!”

Dr. Hadijah membaca doa dengan suara gemetar.

“Ya Allah… lindungi anak-anakku…”

Tembakan Mematikan

Salah satu pesawat isriwil berhasil lolos dari kejaran dan mengunci pesawat Indonesia.

Kopilot berteriak.

“Kapten! Mereka mengunci kita!”

Kapten Rudi membanting tuas.

“Pegang kuat!”

DUARRR!!

Ledakan keras mengguncang badan pesawat. Lampu kabin mati sesaat. Alarm bahan bakar meraung.

“Tangki bahan bakar kanan bocor!” teriak kopilot.

“Kita kehilangan tekanan!”

Kapten Rudi menghela napas panjang, lalu bicara tegas.

“Kita tidak bisa lanjut. Siapkan pendaratan darurat.”

“Di mana, Kapten?!”

Kapten Rudi menatap peta cepat.

“Perairan Malaysia. Kita minta izin darurat.”

Di radio internasional:

“Mayday! Mayday! Ini pesawat diplomatik Indonesia. Kami terkena serangan dan meminta izin pendaratan darurat di wilayah Malaysia!”

Malaysia Bangkit

Di Pusat Pertahanan Udara Malaysia, alarm berbunyi.

Seorang perwira berdiri.

“Ada pesawat tempur asing memasuki wilayah udara kita!”

Komandan AU Malaysia menggeram.

“Itu pelanggaran kedaulatan. Kerahkan jet tempur sekarang!”

Empat pesawat tempur Malaysia melesat ke udara.

Di langit Malaysia, pesawat isriwil yang mengejar belum sempat berbalik.

Pilot Malaysia berbicara dingin di radio.

“Pesawat isriwil, kalian melanggar wilayah udara Malaysia. Mundur sekarang.”

Jawaban sombong terdengar.

“Kami sedang menjalankan misi.”

“Itu kesalahan besar,” balas pilot Malaysia.

Rudal pertama dilepaskan.

BOOOM!

Satu pesawat isriwil hancur di udara.

“Target satu jatuh!” teriak pilot Malaysia.

Rudal kedua dan ketiga menyusul.

DUARR! DUARR!

Dua pesawat isriwil meledak, serpihannya jatuh ke laut.

Pesawat keempat mencoba kabur—

namun terlambat.

BOOOM!!

Langit memerah oleh api.

Pilot terakhir isriwil berteriak panik.

“Kita kalah! Aku mundur! Aku mundur!”

Pesawat itu memutar balik, melesat kembali ke arah Tel Aviv, meninggalkan empat bangkai besi terbakar di perairan Malaysia.

Darat yang Panjang

Pesawat Indonesia akhirnya mendarat darurat di perairan dan dievakuasi ke Kuala Lumpur. Malam itu, Laura menginjakkan kaki di daratan dengan kaki gemetar.

Sertu Bima berdiri di depan mereka, wajahnya penuh lumpur dan keringat.

“Alhamdulillah… kalian selamat.”

Laura menatapnya dengan mata basah.

“Terima kasih… kalau bukan kalian…”

Bima menggeleng.

“Kami hanya menjalankan tugas.”

Dr. Sandi mendekat.

“Perjalanan belum selesai. Kita lanjut darat ke Jakarta.”

Anisa menatap jalan panjang di depan.

“Kak… jauh ya?”

Laura tersenyum lemah.

“Tidak sejauh penderitaan yang sudah kita lewati.”

Di kejauhan, langit kembali tenang.

Namun semua tahu—

perang belum benar-benar usai.

Dan di Tel Aviv, Kolonel Sukatahu menatap laporan kehancuran pesawatnya dengan wajah membara oleh amarah.

“Empat pesawat…” gumamnya.

“Ini belum berakhir, Laura Islamiyah. Belum.”

Jalan Sunyi Menuju Tanah Aman**

Malam turun perlahan di Kuala Lumpur. Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Malaysia tampak tenang dari luar, namun di dalamnya suasana penuh kewaspadaan.

Gerbang besi tertutup rapat. Personel keamanan berjaga berlapis. Begitu rombongan evakuasi memasuki halaman, seorang staf kedutaan langsung memberi isyarat aman.

“Silakan masuk, cepat,” ucapnya pelan.

Laura melangkah turun dari kendaraan dengan kaki lelah. Tubuhnya masih terasa gemetar setelah apa yang mereka lalui di udara. Anisa menggenggam tangannya kuat-kuat, seakan takut terpisah walau hanya sedetik.

Di pintu utama, Duta Besar RI untuk Malaysia, Pak Arif Pranowo, sudah menunggu.

“Selamat datang… kalian sekarang benar-benar aman,” ucapnya sambil menyalami dr. Hadijah dan dr. Sandi.

Laura menunduk hormat.

“Terima kasih, Pak Dubes… kami seperti lahir kembali.”

Pak Arif tersenyum tipis namun serius.

“Kalian telah melewati neraka. Malam ini, istirahat. Besok kita lanjutkan perjalanan dengan pengamanan penuh.”

Malam Perlindungan

Di dalam kamar tamu kedutaan, Laura menutup pintu kamar mandi perlahan. Air hangat mengalir membasahi wajahnya. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.

“Ya Allah… cukupkanlah ujian ini…” lirihnya.

Di kamar lain, Anisa duduk di ranjang besar, mengenakan piyama bersih. Dr. Hadijah menyisir rambut putrinya perlahan.

“Kamu berani sekali hari ini,” bisik sang ibu.

Anisa menggeleng.

“Aku takut, Bu… tapi Kak Laura lebih takut. Aku nggak mau ninggalin Kakak.”

Dr. Hadijah memeluk Anisa erat.

“Kalian berdua adalah amanah Ayah kalian. Kita harus hidup.”

Di ruang makan kedutaan, meja panjang telah dipenuhi hidangan hangat. Nasi, sup, lauk sederhana—namun terasa seperti kemewahan setelah hari-hari berdarah.

Sertu Bima dan pasukannya makan cepat, mata mereka tak pernah benar-benar lepas dari pintu dan jendela.

Agung berbisik,

“Tenang ya, Sertu… tapi rasanya terlalu tenang.”

Bima mengangguk pelan.

“Justru itu. Musuh biasanya datang saat kita lengah.”

Pagi yang Menipu

Pagi harinya, sembilan orang itu bersiap berangkat.

Laura mengenakan pakaian sederhana: jaket abu-abu, kerudung polos, kacamata hitam besar. Anisa mengenakan topi dan masker. Dr. Hadijah tampak seperti ibu rumah tangga biasa. Dr. Sandi menyamar sebagai staf logistik.

Di halaman belakang, Toyota Alphard hitam berpelat diplomatik sudah menunggu.

Pak Dubes Arif memberi instruksi terakhir.

“Rute darat sudah disiapkan. Kita hindari bandara dan jalur ramai. Jangan gunakan nama asli. Jika ada pemeriksaan—biar kami yang bicara.”

Bima membuka pintu mobil.

“Silakan. Kita bergerak sekarang.”

Laura menoleh ke gedung kedutaan sekali lagi.

“Semoga… ini benar-benar membawa kita pulang.”

Pasar Gelap Bergerak

Di tempat lain—jauh dari jalur resmi—sebuah ruang bawah tanah dipenuhi layar monitor dan suara komunikasi berbahasa campur aduk.

Seorang pria berambut abu-abu dengan wajah keras berdiri di tengah ruangan. Jenderal Okto.

“Target bergerak melalui darat,” ucapnya dingin.

“Laura Islamiyah. Formula vaksin corona.”

Di layar lain, wajah Letnan Benjamin muncul.

“Kau yakin mereka tidak terbang?” tanya Benjamin.

Okto menyeringai.

“Justru itu. Darat berarti lebih mudah disergap. Aku sudah sebarkan kabar.”

Ia menekan tombol di tablet.

“Hadiah sepuluh juta dolar. Hidup atau mati—yang penting formula.”

Suara tawa rendah terdengar di ruangan.

Benjamin mengangguk pelan.

“Kali ini… mereka tidak akan lolos.”

Serangan Pertama

Di jalan tol sepi, Alphard hitam melaju stabil. Di dalam mobil, suasana sunyi.

Anisa berbisik,

“Kak… kenapa kita nggak naik pesawat lagi?”

Laura menjawab pelan,

“Karena langit belum aman, Dik.”

Tiba-tiba Bima mengangkat tangan.

“Berhenti sebentar,” ucapnya ke sopir.

Agung turun lebih dulu, matanya menyipit.

“Sertu… ada dua motor dari tadi ngikutin.”

Bima langsung memberi kode.

“Formasi aman. Jangan panik.”

Detik berikutnya—

BRAKK!

Salah satu motor menabrak sisi jalan, sengaja memancing perhatian. Dari balik semak, tiga pria bertopeng muncul.

“Sekarang!” teriak salah satu dari mereka.

Bima melompat keluar.

“Kontak musuh! Lindungi sipil!”

Baku hantam pecah. Tangan kosong, senjata tajam, dan teriakan bercampur.

Salah satu pemburu hadiah menyeringai.

“Sepuluh juta dolar, kawan! Kau nggak akan menang!”

Bima menghantam rahangnya keras.

“Kami tidak dibayar untuk mengkhianati kemanusiaan!”

Agung dan Eren melumpuhkan dua lainnya. Namun dari kejauhan, mobil lain mulai mendekat.

Dr. Sandi berteriak dari dalam mobil.

“Bima! Mereka banyak!”

Bima menarik napas.

“Kita bergerak! Sekarang!”

Jalan yang Berdarah Diam-Diam

Perjalanan berlanjut berjam-jam. Di setiap kota kecil, ancaman selalu mengintai. Di SPBU, di rest area, bahkan di lampu merah.

Di salah satu perhentian, seorang pria asing mencoba mendekati Laura.

“Kamu mirip seseorang…” katanya sambil tersenyum.

Belum sempat Laura menjawab, Dimas sudah berdiri di depan.

“Salah orang,” ucapnya dingin.

Pria itu mengangkat tangan.

“Tenang… aku cuma—”

DUK!

Ia roboh setelah pukulan cepat dari Andri.

Bima menoleh ke Laura.

“Kau baik-baik saja?”

Laura mengangguk, suaranya bergetar.

“Kenapa mereka segila ini…?”

Bima menjawab pelan namun tegas.

“Karena ilmu bisa lebih berharga dari emas.”

Malam kembali turun. Mobil terus melaju menuju pelabuhan penyeberangan.

Anisa tertidur di pangkuan kakaknya. Laura menatap wajah adiknya, lalu menatap ke depan.

“Aku tidak akan menyerah,” bisiknya.

“Demi Ayah… demi mereka semua.”

Di balik bayangan, Letnan Benjamin menatap layar pelacak.

“Terus kejar,” katanya dingin.

“Sepuluh juta dolar sudah cukup membuat dunia gila.”

Namun ia lupa satu hal—

mereka yang melindungi Laura tidak bertarung demi uang.

Mereka bertarung demi kemanusiaan.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!