"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Alur Yang Rusak
"Ya, aku mecintainya."
Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di benak Zana. Membuat perempuan tak mampu untuk menahan senyum malu-malunya. Menatap wajahnya sendiri pada cermin di kamar yang ditempatinya, Zana dapat melihat dengan jelas semburat merah yang menghiasi pipinya.
Ahh, euforia macam apa ini? Kenapa rasanya sangat mendebarkan, namun juga... menyenangkan. Mengantarkan getar candu yang tak bisa Zana telaah.
"Yahh, aku cukup cantik. Wajar jika Tuan Kalendra terpikat padaku." gumam Zana, mengagumi pantulan wajahnya sendiri.
Ya, kau memang cantik. Bayangkan saja jika Tuan Kalendra dan kau bersama. Betapa sempurnanya kalian.
Sisi jahat Zana bersuara. Mencoba mengambil alih kendali. Mempengaruhi sang perempuan agar melewati batas-batas yang ada. Membuat Zana menciptakan perandain-perandaian terlarang.
Gunakan akal sehatmu, Zana. Jika memang Kalendra mecintaimu, kenapa dia selalu menolak saat Kanaya memintamu melayaninya. Kenapa Kalendra selalu melontarkan tatapan tak sukanya padamu. Jangan gegabah dan menggali kuburanmu sendiri.
Kini, logikanya seakan menasihati. Bayangan kehidupan yang indah itu buyar. Zana memberenggut tak suka. Dirinya seakan baru saja ditampar dengan sangat keras.
Memang. selama dia bekerja di rumah ini, Kanaya-- dia selalu memintanya untuk mengurusi segala kebutuhan Kalendra yang notabenenya adalah suami perempuan itu sendiri. Istri mana yang gila dengan mendekatkan suaminya dengan perempuan lain secara terang-terangan?
Namun, Zana tidak punyak hak untuk menolak. Dia tetap menjalankan perintah. Meskipun pada akhirnya, Kalendra selalu menolak dirinya. Kemudian sepasang suami-istri itu berdebat. Melibatkan Zana di dalamnya bagaikan nyamuk pengganggu.
Harus Zana akui, Kanaya-- dia telah menyelamatkannya di saat masa-masa krisis. Saat Zana bingung harus mencari uang kemana untuk membayar hutang ayahnya yang pecandu judi, Kanaya hadir memberikan pertolongan.
Namun, dia juga tidak bisa berbohong, saat kata cinta keluar dari mulut Kalendra untuknya, sesuatu yang telah mati seakan hidup kembali. Memberikan harapan. Membawa percikan gairah yang telah dikuburnya dalam-dalam.
"Apapun yang sedang kau pikirkan, lebih baik kau buang segala niat burukmu."
Zana tersentak. Dari cermin, dia dapat melihat Ami yang tengah menatapnya penuh peringatan. Mengembalikan wajah polosnya, Zana berbalik. Membalas tatapan tajam Ami, dengan kening mengernyit seolah sedang bingung.
"Niat buruk apa maksudmu?"
"Jangan coba-coba untuk mengganggu hubungan Nyonya Kanaya dan Tuan Kalendra, jika kau tidak ingin menyesal." sekali lagi, kata-kata Ami mengadung peringatan penuh arti.
Zana menampilkan senyum lugunya. "Tuduhan macam apa itu, Ami? Aku tidak mungkin melakukannya. Nyonya Kanaya bagaikan malaikat untukku. Bagaimana bisa kau berpikir aku akan melakukan hal buruk seperti itu?"
Karena jiwa-mu di masalalu tetap menginginkan tempat yang sama.
Ami menatap perempuan yang lebih muda darinya itu rumit. "Baguslah. Jika pun kau ingin berniat buruk, itu hanya akan sia-sia." karena semuanya tak akan lagi sama.
"Aku mengerti Ami. Aku tahu batasanku."
Menghela nafas panjang, Ami duduk di ranjangnya. Hanya berjarak satu meter dari ranjang Zana berada. Wanita yang tak lagi muda itu merapihkan pakaian keringnya sembari kembali bersuara.
"Kau dipanggil Nyonya Kanaya. Segera temui dia di halaman belakang."
Zana mengangguk mengerti, sebelum kemudian pergi dari kamar mereka. Meninggalkan Ami yang kini menatap cermin penuh arti.
"Waktu telah kembali diputar, dan semuanya...tak akan lagi sama."
.
.
"Nyonya, anda memanggil saya?"
Kanaya berdecak tak suka mendengar gaya bahasa Zana. "Sudah berapa kali ku bilang, Zana? Jangan terlalu formal denganku."
"Tapi anda adalah majikan saya. Sudah seharusnya saya menghormati anda."
Zana masih bersikap sopan. Tak sengaja ia melihat mata Kanaya yang memerah seperti baru saja menangis.
Apakah dia menangis karena tidak terima, suaminya mecintai perempuan lain? Lagi-lagi sisi kepercayaan diri Zana terbangun. Merasa jika dia....berada di atas Kanaya, majikannya sendiri.
Mendengar alibi dari Zana, membuat Kanaya memutar bola matanya malas. "Dasar keras kepala!"
Zana hanya terkekeh. "Kata Ami, anda memanggil saya?"
Kanaya gegas mengangguk. "Bisa kau buatkan Kalendra kopi? Antar ke ruangannya."
Kanaya tidak boleh lemah. Dia harus tetap pada tujuan awalnya. Menyatukan dua protagonis novel, lalu pergi sejauh-jauhnya.
"Ahh, baik."
Menyadari jika dia akan menghadap Kalendra, entah mengapa membuat dada Zana bergemuruh senang. Haruskah dia mengajak laki-laki itu berbicara terlebih dahulu?
Siapa tahu, selama ini Kalendra selalu menolak kehadirannya karena...merasa tak enak hati pada Kanaya. Benarkan? Jika hanya ada mereka berdua, apakah Kalendra akan---- sialan, membayangkannya saja sudah membuat Zana berdebar-debar.
"Oh, iya, sakalian buatkan aku coklat hangat. Bawa kemari."
Zana tersenyum simpul. "Baik, pesanan akan segera datang."
Sang protagonis wanita pergi. Kanaya menatap bekas tempat Zana berdiri gamang. Perasaannya campur aduk, apalagi setelah perdebatannya dengan Kalendra.
"Kenapa kau bisa mengatakan aku mecintai perempuan lain, sedangkan kau tahu sendiri betapa rakusnya aku tentang dirimu?"
Kalimat itu, seakan menegaskan jika Kalendra menginginkan Kanaya sejak awal. Tapi bagaiamana bisa? Jelas-jelas di novel dituliskan, jika Kalendra tidak mecintai Kanaya. Selalu mengabaikan Kanaya. Bersikap acuh dan dingin. Lalu, bagaimana caranya agar dia percaya?
"Ck, semakin dipikirkan semakin membuatku pusing."
Hanya membutuhkan sepuluh menit, Zana kembali datang dengan nampan yang berisi secangkir kopi dan coklat hangat pesanan Kanaya.
"Coklat hangatnya datang...selamat menikmati Nyonya."
"Terimakasih, Zana."
Zana tersenyum sebagai balasan. Senyum yang selalu membuat Kanaya terpana sangking manisnya. Pesona protagonis memang tidak main-main.
"Saya antarkan kopi ini untuk Tuan Kalendra dulu." pamit Zana yang diangguki oleh Kanaya.
"Ah, ya. Pergilah. Pasti dia akan sangat senang."
Saat Zana berbalik dan ingin melangkahkan kakinya, laki-laki yang menjadi objek pembicaraan mereka datang dari arah berlawanan.
Tampak memikat dengan kemeja hitam yang melekat pada tubuh tegapnya. Lengan yang dilipat sampai siku memperlihatkan urat-urat yang menonjol sehingga menimbulkan kesan manly. Mata Zana tak berkedip, terpesona oleh majikannya sendiri.
Hal itu tak luput dari penglihatan Kanaya. Istri sah Kalendra itu tersenyum kecut. Pada akhirnya, jalan cerita akan tetap sama.
Tak.
Kanaya dan Zana sontak tersentak saat Kalendra meletakkan kotak p3k di meja dengan kasar. Sorot matanya dingin, wajahnya tanpa ekpresi. Duduk tenang di samping sang istri.
"Apa kau melupakan kewajibanmu, Kanaya?"
Sang empu yang namanya dalam disebut mengernyit tak paham. "Maksudmu?"
Kalendra mendengus kasar. Jelas sekali laki-laki itu kesal karena istrinya sama sekali tidak peka.
"Sudah waktunya untuk mengganti perbanku."
Ahh, jadi masalah perban. Kalendra memang masih mengenakan perban pada kepalanya yang terluka. Karena pukulan yang minggu lalu dialaminya cukup keras, menyebabkan lukanya lumayan dalam.
"Zana, tolong ganti---
"Aku ingin istriku yang mengganti perbanku." sela Kalendra penuh penekanan. Tentu dia tahu kemana arah ucapan tikus kecilnya itu.
Kanaya berdecak. "Aku sibuk. Zana cepat---
"Aku tidak suka mengulang perintah. Ganti perbanku atau kuberi kau hukuman." ancam Kalendra yang membuat alis sang istri menukik kesal.
"Pemaksa!"
Meskipun begitu, Kanaya tetap melakukan apa yang suaminya minta. Melepas perban pada kepala Kalendra dengan perlahan. Terkadang perempuan itu reflek meniup bagian yang luka. Berharap dapat mengurangi sakit yang Kalendra rasakan.
"Nyonya, maaf. Kopinya?" Zana menyela. Lagi-lagi dirinya merasa menjadi nyamuk di antara suami istri itu.
"Ahh, letakkan saja di meja. Setelah ini, kau bisa beristirahat."
Zana mengangguk. Menuruti perintah Kanaya lalu pergi menjauh dengan...hati yang terasa panas. Zana tahu ini tidak benar, tapi melihat pemandangan itu sungguh membuat matanya sakit.
Zana, seharusnya kau yang ada di sana. Posisi itu adalah hak-mu, dan bukan Kanaya. Lagi-lagi sisi buruk Zana kembali mempengaruhi, membuat perempuan itu semakin terhasut oleh rasa iri dan dengki.
"Apa sangat sakit?" kembali pada Kanaya, figuran itu meringis ngilu melihat Kalendra yang mendesis lirih, saat ia menekan perban baru yang dipasangnya.
"Sedikit."
"Maaf, aku akan lebih pelan."
Kalendra menahan senyumnya. Melihat raut khawatir Kanaya, sedikit menghilangkan amarah yang sedari tadi bercokol di hatinya.
"Kau tahu, ada yang lebih sakit daripada luka di kepalaku." ujar Kalendra nyaris tak terdengar. Netranya menyorot lekat sang istri.
"Ma--mana?" Kanaya semakin khawatir. Dia takut jika Kalendra mengalami luka dalam pada area tubuh yang terkena pukulan.
Detik selanjutnya, kekhawatiran perempuan itu harus sirna, saat Kalendra meraih tangannya. Meletakkannya pada dada bidang laki-laki itu. Dapat Kanaya rasakan jantung suaminya yang berdebar kencang.
"Di sini. Sangat sakit ketika istriku sendiri ingin mendekatkan diriku dengan perempuan lain."