NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Larut

"Apaan sih, kamu gak jelas banget!"

Radit hanya tertawa, lalu mulai menyadari waktu terus berjalan.

"Ran. Ini udah mau jam dua belas malam. Kamu yakin, mau pulang?"

"Iya, aku harus pulang. Aku mau ketemu anakku"

Radit terdiam mendengar jawaban itu.

"Oke. Aku antar sekalian ya. Aku udah nelpon sopirku"

"Kamu jahat banget tau"

"Udah gak usah banyak bicara. Yang penting kamu bisa pulang dengan nyaman."

"Terus, mobilmu kemana?"

Radit mengangkat bahu, menunjukkan sikap sok santai yang jelas dibuat-buat.

“Tadi aku nyuruh Reyhan bawa mobilku. Jadi mau gak mau aku telepon sopir,” jelasnya.

Rania mendengus pelan. “Tapi tetap aja. Jam segini, Dit… kasihan.”

“Lah, aku yang khawatir kamu pulang sendiri malah kamu yang mikirin orang lain,” gumamnya pelan.

"Bukan gitu maksudku"

“Udah. Intinya kamu pulang sama aku. Titik.” nada suaranya pelan namun tegas.

Rania mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung sepatunya, “Kamu tuh, kalo ngomong suka seenaknya.”

“Apa?” Radit mendekat sedikit. “Jadi kamu mau aku ngomong gimana, Ran?”

Rania langsung memukul lengan Radit pelan. “Apaan sih!”

Radit tertawa kecil. Suara itu rendah dan bikin suasana malam yang sepi tiba-tiba jadi hangat.

---

Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu gedung.

Sopirnya buru-buru keluar, wajahnya panik dan penuh penyesalan.

“Maaf, Pak… saya terlambat. Ada—”

“Kamu darimana aja?” suara Radit langsung terdengar galak seketika.

Sopir itu menunduk makin dalam. “Maaf, Pak. Ada jalan ditutup, saya—”

Tiba-tiba Rania menyentuh lengan Radit. Hanya sentuhan ringan, namun cukup untuk menghentikan dia.

“Dit, udah,” bisik Rania. “Kita juga baru turun. Dia gak terlambat.”

Radit berkedip, membisu sesaat.

“Ya sudah. Lain kali tolong kabari cepat.”

“Siap, Pak.” Sopir itu membungkuk lega.

“Tuh kan… kamu galak banget tadi.” Rania menimpali dengan wajah sedikit kecewa.

“Aku cuma… khawatir,” bisiknya, pelan. “Jam segini… sama kamu.”

Rania menelan ludah, jantungnya memanas entah kenapa.

Mereka masuk ke dalam mobil. Rania dan Radit duduk di kursi belakang.

“Mas, ke rumah Rania dulu,” ucap Radit.

“Setelah itu, antar saya ke apartemen.”

“Baik, Pak.”

Mobil mulai melaju. Cahaya lampu kota menari-nari di kaca jendela, memantulkan wajah Rania yang terlihat lelah, tapi lembut.

Radit memperhatikannya dari samping, jemarinya tanpa sadar mengetuk pahanya pelan.

“Ran,” panggilnya setengah berbisik. “Besok… kamu jangan berangkat pagi-pagi. Istirahat.”

“Kerjaan masih banyak,” jawab Rania sambil menatap jalan. “Aku gak bisa seenaknya.”

“Kamu boleh seenaknya sama aku.”

Rania menahan napas.

Kalimat itu… tidak seharusnya membuatnya senang. Tapi nyatanya membuat perutnya terasa hangat, geli.

“Dit… jangan gitu.”

“Kenapa?” Radit bersandar ke kursi, menatapnya lewat jarak sempit di antara dua kursi.

“Kamu takut aku serius?”

"Aku takut orang lain gak suka ngelihat kamu berlaku gini ke aku"

Radit terkesiap kecil. “Ran… kamu gak perlu mikirin itu.”

Mobil seketika terasa lebih hangat dari sebelumnya.

“Dan jangan bilang ke Reyhan,” tambah Radit lirih, nyaris rahasia.

“Dia… gak boleh tau apa pun tentang kita.”

Rania tersenyum tipis. “Santai. Aku juga gak mau dia tau semuanya.”

Radit menatapnya lama. Kali ini dengan cara yang… benar-benar membuat Rania lupa bernapas.

“Ran…”

“Hm?”

“Thanks… buat malam ini.”

“Lah, yang kerja aku!”

“Gak. Maksudku…” Radit menunduk sedikit.

“Terima kasih… karena kamu bikin aku ngerasa lebih bersemangat.”

Rania terdiam. Bingung harus menimpalinya seperti apa.

Setelah mobil melaju beberapa saat. Akhirnya Rania pun tiba di perumahan tempat dia tinggal.

"Kamu kenapa ikut turun?" Kata Rania, mengetahui Radit turun dari mobilnya

"Enggak kenapa napa sih, cuma mastiin kalo kamu aman sampai masuk ke dalam rumah"

Rania mengangkat alis tinggi.

“Dit… kamu lebay banget. Aku kan cuma masuk ke rumah. Bukan pergi ke hutan.”

Radit tidak menjawab. Ia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, lalu berjalan beberapa langkah di belakang Rania, memastikan jaraknya cukup dekat.

Lampu teras rumah Rania menyala redup. Udara malam mulai dingin.

“Udah. Aku aman.” Rania menunjuk pintu sambil menatap Radit yang masih berdiri tegak di depan pagar itu.

“Belum,” jawab Radit pelan.

“Belum apanya?”

“Belum liat kamu beneran masuk.”

Rania memutar bola matanya. “Ya Tuhan, Dit… kamu tuh kenapa sih akhir-akhir ini jadi kayak… orang lebay gini.”

Radit tersenyum kecil, "ya enggak papa dong. Ini namanya protect ke calon istri. Emang gak boleh?”

“Dit…” Rania menahan napas. “Plis. Jangan gombal jam segini.”

“Aku gak gombal.”

Beberapa detik, mereka hanya diam.

Hening.

Hangat.

Canggung tapi nyaman.

Rania akhirnya memecah suasana. “Udah sana pulang. Sopirmu nungguin.”

“Hmm.” Radit melirik pintu rumah Rania sebentar.

“Masuk dulu.”

Rania mendecak. “Bawel.”

Walau begitu… ia tetap membuka pagar, mengintip ke dalam sejenak.

“Aman, kan?” tanya Radit lagi.

“IYA, AMAN,” jawab Rania sambil gemas. “Mau aku video call masuknya juga?”

Radit terkekeh. “Boleh sih.”

“Dit!” Rania menunjuknya sambil menahan tawa kecil.

Radit akhirnya mengangkat tangan, menyerah. “Oke oke. Aku pergi. Tapi kalau kamu belum nyalain lampu ruang tengah dalam lima detik, aku balik lagi.”

“Kamu tuh…” Rania mendorong pagar sedikit. “Udah pergi sana.”

Radit masih berdiri di sana.

Masih menatap.

Masih… enggan pergi.

Dan sebelum Rania benar-benar menutup pintu, Radit memanggilnya sekali lagi.

“Ran.”

“Hm?”

“Selamat tidur.”

Rania mengerjap cepat. “Iya. Kamu juga. Jangan nyetir sendiri.”

“Denganmu bilang begitu… aku gak bakal nyetir sendiri lagi.”

“KAMU PULANG SAMA SOPIR!!!”

Radit tertawa cukup keras sampai Rania harus menutup pintu lebih cepat agar tetangganya tidak mendengar.

Klik.

Pintu menutup.

Tapi sebelum benar-benar terkunci, Rania bersandar di baliknya, memegang dadanya yang tak tahu kenapa berdetak cepat sekali.

“Aneh banget sih cowok itu…” bisiknya sambil tersenyum kecil.

Di luar, Radit masih menatap pintu selama beberapa detik sebelum akhirnya berjalan kembali ke mobil.

Sopir membuka pintu dengan hati-hati.

“Pak, sudah?”

Radit hanya mengangguk pelan, “Sudah,” jawabnya. “Ayo pulang.”

Setelah mobil berbalik pergi. Sopir penasaran dengan kedekatan merke berdua, dan mulai memberanikan diri untuk bertanya, demi mencairkan suasana.

"Yang tadi, pacar Bapak?" ungkap sopir itu, sedikit takut.

"Mas. Kamu kerja yang benar aja, jangan mau tau urusan saya" balas Radit, ketus.

"Maaf kalau pertanyaan saya lancang Pak. Tapi, Bapak terlihat serasi"

Mendengar hal itu, Radit merasa tertarik untuk balik bertanya. "Kamu serius?"

"Iya Pak. Ngapain juga saya bohong."

Mobil melaju tenang melewati jalanan malam. Lampu kota memantul di kaca, membuat bayangan wajah Radit tampak lebih lembut, lebih… bahagia.

Sesekali ia menatap jendela, tapi pikirannya jelas tidak di luar sana.

Ia senyum-senyum sendiri.

Sopir melihatnya lewat kaca tengah, bingung tapi penasaran.

“Pak Radit senyum sendiri sejak tadi,” gumamnya hati-hati. “Beda… biasanya Pak Radit pulang dari kantor mukanya kayak baru kalah perang.”

Radit langsung menahan senyum itu, seolah tertangkap basah.

“Kerja  aja yang benar.” jawabnya cepat.

“Tapi saya udah benar, Pak.”

Radit memejamkan mata sesaat. Dalam hati ia misuh sendiri.

Aduh… kenapa gue senyum sih.

Tapi detik berikutnya, senyum itu muncul lagi. Lebih kecil, tapi nyata.

Dia benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan Rania.

“Pak,” panggil sopir itu lagi. “Kalau saya boleh bilang… yang tadi itu wanita baik baik, ya?”

Radit tak menjawab.

Ia hanya menatap keluar.

Senyumnya jatuh pelan.

“Dia bukan wanita yang baik,” ucapnya perlahan.

Sopir itu kaget. “Loh? Maksudnya, Pak?”

Radit menarik napas dalam-dalam.

“Dia wanita yang amat sangat baik yang pernah saya temui.”

Sopir mengangguk, pura-pura mengerti, padahal tidak mengerti sama sekali.

“Tapi kan bagus, Pak,” ujarnya polos. “Laki-laki pasti suka perempuan yang baik.”

Radit memutar bola mata. “Mas kumat lagi bawelnya ya?”

“Maaf, Pak. Biasanya saya ngomong sama istri.”

Radit tersenyum tipis. “Pantes…”

---

Sementara itu, di rumah Rania.

Lampu ruang tengah menyala. Ia sudah mandi, sudah ganti baju, dan anaknya sudah tertidur.

Namun Rania sendiri…

Tidak bisa tidur.

Ia membuka tirai sedikit, melihat ke arah jalan luar yang gelap.

Kenapa dia masih terngiang?

Gaya Radit memandangnya. Nada suara Radit saat bilang “Aku khawatir.” Tawanya. Dan kalimat–

"Ini namanya protect ke calon istri.”

Rania memeluk bantal. Wajahnya panas sendiri.

“Aduh… apaan sih dia…” gumamnya sambil mengubur wajah ke bantal.

“Gak jelas banget… tapi…”

Tapi dia tersenyum.

Dan senyumnya terlalu sulit disembunyikan.

---

Kembali ke dalam mobil Radit.

Ponselnya bergetar.

Satu notifikasi baru.

Dari Rania.

Udah sampai rumah?

Radit langsung duduk tegak.

Detak jantungnya mendadak kacau.

Sopir melirik kaca tengah. “Ada apa, Pak?”

“Nyetir. Jangan lihat saya.”

“Saya gak lihat kok, Pak.”

“Iya, makanya jangan lihat.”

Sopir bingung.

Tapi Radit tidak peduli.

Ia cepat mengetik balasan.

Sebentar lagi. Kamu jangan tidur larut.

Rania membalas cepat.

Kamu juga. Jangan lupa makan kalau belum makan.

Radit menatap layar itu lama sekali.

Lalu bibirnya mengangkat pelan.

Hangat. Senang. Deg-degan.

Lalu ia membalas:

Ran.

Beberapa detik.

Hm?

Radit mengetik…

Menghapus…

Mengetik lagi…

Menghapus lagi…

Sopir mengintip sedikit.

“Pak Radit… senyum lagi.”

“MAS. NYETIR AJA.”

“Maaf.”

Akhirnya Radit mengetik satu kalimat sederhana.

Aku seneng kamu chat duluan.

Rania lama tidak membalas.

Sampai akhirnya muncul balasan:

Oh.

Radit menelan ludah. “Oh” itu bikin dia pengin guling-guling.

Sopir berdeham.

“MAS!”

“Siap, siap.”

Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.

Maksudku… aku juga seneng kamu anterin aku. Makasih, ya.

Radit menutup mata sesaat.

Tersenyum lebar, tulus, tapi… pelan.

Kemudian ia mengetik balasan:

Besok aku jemput kamu.

Rania membalas cepat, panik:

Jangan—!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!