NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Lebih Kental dari Air

​Langit Subang masih gelap saat Agil terbangun dengan keringat dingin. Firasatnya tidak enak. Setelah pengusiran Rina sore itu, ia tahu wanita itu tidak akan membiarkan ada saksi hidup yang bisa mengaitkan namanya dengan Project Cendrawasih. Dan saksi paling berbahaya bagi Rina saat ini adalah Baskoro yang sedang mendekam di sel isolasi.

​"Gito, bangun!" Agil mengguncang bahu Gito yang tertidur di sofa dengan senapan di pelukannya. "Kita harus ke Jakarta. Sekarang."

​"Ada apa, Pak? Nyonya Rina mengirim orang lagi?" tanya Gito sambil sigap berdiri.

​"Lebih buruk dari itu. Mama akan membunuh Papa malam ini di penjara. Jika Papa mati, kita kehilangan satu-satunya orang yang tahu detail keterlibatan Mama di masa lalu. Kita butuh Papa untuk menjatuhkan Mama," ucap Agil sambil mengenakan jaketnya.

​Laila terbangun dan menatap mereka dengan cemas dari ambang pintu kamar. "Mas... kamu mau menyelamatkan pria itu? Setelah apa yang dia lakukan padaku?"

​Agil menghampiri Laila, memegang kedua tangannya. "Aku tidak menyelamatkannya karena aku memaafkannya, Laila. Aku melakukannya agar dia bisa membusuk di penjara sambil memberikan kesaksian melawan Mama. Jika dia mati malam ini, Mama akan menjadi pahlawan nasional yang bersih, dan kita akan terus dikejar selamanya. Ini satu-satunya cara agar kita benar-benar bebas."

​Laila terdiam sejenak, lalu mengangguk lemah. "Pulanglah dengan selamat, Mas. Jangan biarkan darah mereka mengotori tanganmu lagi."

​Penyusupan ke Jantung Penjara

​Perjalanan menuju Jakarta ditempuh dengan kecepatan tinggi. Gito menggunakan koneksinya di kalangan mantan narapidana untuk mendapatkan denah sel isolasi blok khusus.

​"Penjara ini sudah dikuasai oleh faksi militer Nyonya Rina, Pak," lapor Gito saat mereka memantau gerbang penjara dari kejauhan menggunakan teropong. "Penjagaan di luar tampak biasa, tapi lihat di menara pengawas. Itu bukan sipir biasa, itu orang-orang terlatih."

​"Kita tidak bisa masuk lewat depan," Agil menunjuk ke arah saluran pembuangan air di sisi timur bangunan. "Kita akan masuk lewat jalur teknis. Gito, kau alihkan perhatian mereka dengan meledakkan trafo listrik di ujung jalan. Saat lampu padam dan generator darurat belum menyala, aku punya waktu tiga menit untuk mencapai sel Papa."

​Kegelapan yang Mematikan

​BOOM!

​Ledakan trafo mengguncang kawasan tersebut. Seluruh komplek penjara seketika gelap gulita. Agil bergerak dengan kecepatan atletis, memanjat pagar kawat dan masuk melalui celah ventilasi udara. Berkat senter infra merah yang ia bawa, ia bisa melihat koridor yang kini kacau oleh suara teriakan para narapidana.

​Ia sampai di depan sel nomor 09—sel isolasi Baskoro.

​Di dalam sana, dua orang pria berseragam sipir namun dengan gerakan yang terlalu taktis sedang memaksa Baskoro berdiri di atas kursi. Sebuah tali tambang sudah tergantung di langit-langit.

​"Tuan Besar minta maaf, Pak Baskoro. Tapi kematian Anda adalah stabilitas bagi Nyonya," ucap salah satu sipir itu dingin.

​"Lepaskan dia!" teriak Agil sambil mendobrak pintu sel yang ternyata tidak dikunci dari dalam—tanda bahwa ini adalah operasi internal yang direstui.

​Pertarungan jarak pendek terjadi di ruang sempit sel tersebut. Agil menggunakan teknik bela diri yang ia pelajari dari Gito untuk melumpuhkan sipir pertama. Sipir kedua mencoba mencabut pisau, namun Agil lebih cepat. Ia menghantamkan kepala sipir itu ke dinding sel hingga pingsan.

​Baskoro terjatuh dari kursi, terengah-engah dengan bekas jeratan merah di lehernya. Ia menatap Agil dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci, malu, dan tak percaya.

​"Kenapa... kenapa kau datang?" tanya Baskoro parau.

​"Bukan karena aku mencintaimu, Pa," Agil menarik kerah baju ayahnya. "Tapi karena aku tidak mau Mama menang. Berikan aku lokasi brankas fisik yang sebenarnya tentang Project Cendrawasih. Sekarang!"

​Pengakuan di Ambang Maut

​Baskoro terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. "Rina... dia selalu lebih licin dariku. Dia yang mengajariku cara membunuh tanpa menyentuh senjata. Kau ingin menjatuhkannya? Kau butuh lebih dari sekadar dokumen."

​Baskoro merangkak ke pojok sel, mengambil selembar foto lama Rina yang ia simpan di balik bantalnya. Di belakang foto itu terdapat koordinat geografis yang sangat presisi.

​"Itu adalah makam asli ayah kandung Laila," bisik Baskoro.

​Agil tertegun. "Apa maksudmu? Ayah Laila meninggal karena kecelakaan kerja, kan?"

​Baskoro tertawa pahit. "Kecelakaan yang diatur oleh Rina. Ayah Laila adalah aktivis buruh yang memegang bukti suap perusahaan kita. Rina yang memerintahkan eksekusinya, lalu dia jugalah yang menyarankan aku untuk 'menjaga' keluarga Laila sebagai bentuk penebusan dosa palsu. Itulah alasan kenapa dia membiarkanku mengambil Laila... karena dia ingin menghancurkan garis keturunan musuhnya sampai habis."

​Kenyataan ini menghantam Agil lebih keras dari peluru mana pun. Laila bukan hanya korban pelecehan ayahnya, tapi ia adalah anak dari pria yang dibunuh oleh ibunya sendiri. Seluruh pernikahan mereka, seluruh penderitaan mereka, telah dirancang oleh Rina sejak bertahun-tahun yang lalu.

​Pelarian yang Kacau

​Lampu generator darurat mulai menyala. Suara langkah kaki sepatu laras panjang mendekat ke sel isolasi.

​"Kita harus pergi, Pa! Ikut aku!" Agil mencoba memapah Baskoro.

​"Tidak, Agil. Jika aku ikut, aku hanya akan memperlambatmu. Dan aku lebih baik mati di sini sebagai pecundang daripada hidup sebagai pelarian," Baskoro mendorong Agil menjauh. "Bawa koordinat itu. Temukan buktinya. Hancurkan Rina. Itu satu-satunya cara kau bisa menebus dosaku pada Laila."

​"Pa!"

​"Pergi!" teriak Baskoro saat pintu blok isolasi didobrak terbuka oleh pasukan khusus Rina.

​Agil tidak punya pilihan. Ia meloncat ke arah jendela ventilasi tepat saat peluru-peluru mulai menghujani sel nomor 09. Dari balik celah, ia sempat melihat ayahnya berdiri tegak menantang para eksekutor itu dengan senyum sinisnya yang terakhir.

​BANG! BANG! BANG!

​Agil mendarat di tanah luar penjara dengan air mata yang membasahi wajahnya. Ia berlari menuju mobil Gito yang sudah menunggu dengan mesin menderu.

​Perjalanan Menuju Kebenaran

​Di dalam mobil, Agil terdiam membisu. Ia menggenggam foto tua itu dengan tangan bergetar.

​"Pak Agil? Di mana Pak Baskoro?" tanya Gito cemas.

​"Papa... sudah pergi," jawab Agil singkat. "Gito, kita punya tujuan baru. Kita tidak ke Subang. Kita ke arah pesisir selatan. Kita harus menemukan makam itu."

​Sepanjang perjalanan, Agil hanya memikirkan satu hal: Bagaimana ia akan menceritakan ini pada Laila? Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa wanita yang selama ini Laila anggap sebagai ibu mertua yang baik (sebelum rahasianya terbongkar) adalah pembunuh ayah kandungnya?

​Kini, Agil bukan lagi sekadar melawan korupsi atau pelecehan. Ia sedang melawan sebuah konspirasi yang merenggut nyawa dan martabat sebuah keluarga. Rina telah mengubah dunia mereka menjadi papan catur yang penuh dengan mayat, dan Agil bersumpah malam itu di bawah guyuran hujan Jakarta: Ia akan menjadi orang terakhir yang berdiri di atas papan itu.

​Sementara itu, di kediamannya, Rina menerima laporan melalui telepon.

​"Target pertama sudah eliminasi? Bagus. Bagaimana dengan Agil? Dia lolos?" Rina terdiam sejenak, menatap bayangannya di jendela. "Biarkan dia mencari makam itu. Justru di sanalah aku sudah menyiapkan upacara pemakaman untuknya juga."

​Perang antara anak dan ibu kini memasuki babak yang paling personal dan mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!