Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH HUJAN
Sore berganti petang. Kabut di puncak semakin tebal, merayap turun menyelimuti hamparan kebun teh yang menghijau gelap. Perlahan, uap putih itu mencair menjadi gerimis lembut yang membasahi permukaan aspal, sebelum akhirnya menderas dan jatuh dengan suhu yang terasa membeku di kulit.
Putra menarik tuas remnya perlahan. Ia menghentikan motor besarnya di tepi deretan warung kayu kecil yang mulai sepi, seolah semesta sedang mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Salma.
"Hujan, Bu. Sebaiknya kita neduh dulu sebelum pulang ke kota." Kata Putra sambil turun dari motornya.
Salma tidak bersuara, Ia hanya menurut lalu turun. Bahunya yang terguncang hebat, seakan menceritakan segalanya. Sejak mereka meninggalkan Erwin dengan Manda, satu jam yang lalu, ia hanya menangis. Air matanya luruh dalam diam, menyatu dengan rintik hujan yang membasahi helmnya.
Kemudian tanpa ragu, Putra melepas jaket kulit hitam yang masih menyimpan hangat tubuhnya. Dengan gerakan canggung namun lembut, ia menyelimuti bahu wanita itu.
Di saat yang sama, Salma menoleh, menatap Putra dengan mata sembab yang memerah. Dan, di bawah remang lampu jalanan yang mulai menyala, tatapan itu terasa menghujam jantung Putra.
"Ibu bisa kedinginan," Bisik Putra lirih. Suaranya hampir tertelan suara hujan, namun penuh dengan jarak yang melampaui batas statusnya.
Ya. Hari ini, momen langka yang tak pernah bisa ia lupakan. Menolong seorang guru bukan tentang tugas masalah sekolah yang formal. Di sini, ia sebagai seorang pria muda yang sedang menyaksikan dunianya—wanita yang ia kagumi—runtuh menjadi kepingan-kepingan rapuh.
Di balik rintik hujan, di balik ketegasan Salma yang tersirat, di balik kemarahannya yang penuh tuntutan demi kebaikan peserta didiknya, Putra menyadari bahwa pahlawan pun bisa patah, dan ia hanya ingin menjadi payung yang menjaga agar luka itu tidak semakin basah.
Di antara yang semua telah terjadi, ada badai berkecamuk lebih hebat daripada cuaca di luar sana. Ada genggaman yang lebih kuat dari sekedar luka yang Salma genggam hari ini...
Aku gak akan biarin orang yang aku cinta menyakiti kamu.
Putra tahu, tidak seharusnya kata-kata itu keluar dari bibirnya tadi. Ucapan yang seharusnya ia jaga apik dalam hatinya, yang susah payah ia simpan sendiri kepada seorang wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu' di dalam kelas—adalah sebuah kesalahan fatal.
Namun, ia juga tahu satu hal pasti, perasaannya bukan sekadar gejolak masa muda atau nafsu dangkal. Ia mencintai cara Salma berbicara, cara wanita itu membenarkan letak kesalahannya, dan bagaimana Salma selalu melihat sisi baik dalam dirinya saat orang lain hanya melihatnya sebagai murid nakal.
Ia ingin meminta maaf. Ia ingin mencabut kalimat yang telah merusak batas suci antara guru dan murid itu. Tapi, bagaimana mungkin ia meminta maaf atas sebuah kebenaran? Meminta maaf berarti mengakui bahwa cintanya adalah sebuah kesalahan atau kebohongan. Dan, Putra terlalu jujur untuk itu."Ma-maaf Bu..." Kalimat itu akhirnya terucap, lalu tertahan di ujung lidah.
Putra kembali bungkam. Ia hanya berdiri di sana, menjadi tameng bagi Salma dari angin gunung yang menusuk tulang. Ia membiarkan keheningan itu bicara, membiarkan gerimis saksinya, bahwa di antara mereka kini ada sesuatu yang lebih dingin dari hujan namun lebih membara dari api, sebuah perasaan yang tidak punya tempat untuk mendarat.
"Maaf untuk apa?" Kata Salma pada akhirnya. Mata sembabnya menoleh ke arah Putra. Ia kemudian tersenyum di tengah isak tangisnya. "Ini..."
Kalimat Salma menggantung di udara. Air matanya kembali luruh. Di hadapan wanita itu, Putra dirundung keinginan kuat untuk menyekanya, namun tangannya terpaku—terlalu ragu untuk bergerak, terlalu keliru untuk melakukannya.
"… ini adalah hadiah ulang tahun pernikahanku," Lanjut Salma dengan suara yang nyaris hilang tertelan udara yang perlahan semakin gelap.
Putra mematung. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar tepat setelah kalimat itu meluncur dari bibir Salma. Rasa terkejut menghantamnya dua kali. Pertama, pada kenyataan betapa kejamnya Erwin yang tega memberikan luka sedalam itu sebagai sebuah 'hadiah' di hari ulang tahun pernikahan mereka. Kedua, jauh lebih menggetarkan jiwanya...
Penyebutan kata "aku"—bukan lagi "Ibu"—yang baru saja diucapkan Salma, seketika meruntuhkan sekat-sekat formalitas yang selama ini menjaga jarak di antara mereka.
Dalam sepersekian detik, pandangan Putra terhadap wanita di depannya berubah drastis.
Sosok yang selama ini ia muliakan dan ia hormati dalam jarak yang sopan, kini menjelma menjadi seorang wanita rapuh yang menanggung beban tak manusiawi. Rasa hormat itu tidak hilang, namun kini bersenyawa dengan dorongan protektif yang meledak-ledak.
Salma bukan sekadar sosok senior atau orang tua baginya. Salma adalah kewajiban yang harus ia jaga, lindungi, bahkan miliki dengan seluruh taruhan nyawanya.
Detik berikutnya, tanpa permisi, tanpa aba-aba, dan tanpa sempat memainkan logika seperti apa ia akan menanggung konsekuensi di dalamnya, Putra bergerak. Refleks, ia menarik Salma ke dalam dekapannya. Ia merengkuh tubuh wanita itu dengan erat, seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang sedang menghancurkan hati Salma.
Salma sendiri tak menolak, tak protes. Tangisnya pecah seketika di dada Putra yang bidang—sebuah tangisan yang selama ini disembunyikan di balik topeng ketegaran. Dan, di bawah langit yang menjadi saksi, Putra terdiam, membiarkan kemejanya basah oleh air mata. Sungguh, ia berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanita ini lagi.
Tak lama, sebuah getar ponsel menyala. Putra meraba saku celananya, lalu mengangkat ponsel tanpa melepas dekapannya pada Salma. Dengan penuh kesadaran, ia merasakan napas wanita itu yang hangat di dadanya. Sementara, Salma sendiri tetap bergeming, seolah enggan mengakhiri momen tersebut—terlalu hangat untuk ia lepaskan, terlalu kuat untuk ia tinggalkan bersama luka.
"Halo?" Suara Putra terdengar serak. Fokusnya terbagi antara panggilan di telinga dan debar jantung Salma yang menyentuh kulitnya.
"Putra, kamu di mana?! Mama cuma minta kamu antar Bu Salma pulang, kenapa malah hilang?!" Suara Ratih melengking, cukup keras untuk memenuhi ruang di antara Putra dan Salma.
"Iya, iya. Bentar lagi Putra pulang."
"Anak durhaka! Mau Mama kutuk jadi batu?!"
"Anak durhaka jadi batu udah biasa, Ma. Jadi emas aja kalau bisa. Gimana?" Celetuk Putra asal.
Tawa Salma pecah seketika. Putra merasakan getaran di bahu wanita itu—sebuah tawa yang menghapus sisa-sisa lara tadi. Melihat Salma kembali bisa tertawa, Putra menyunggingkan senyum tipis, namun terasa begitu lega.
"PUTRAAAAA, AWAS KALAU KAMU PULANG!"
Tuuuuut.
Putra menghembuskan napasnya, mematikan ponselnya dan memasukkan kembali benda tipis itu ke dalam saku celananya. Kini, lengannya kembali menangkup bahu Salma dan merapatkan pelukannya lebih erat.
"Putra.." Lirih Salma.
"Hm?" Kata Putra lembut.
"A-Aku gak bisa napas."
Putra tersentak. Refleks, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Salma penuh penyesalan. "Maafin aku." Katanya.
Salma hanya mengangguk. Matanya berpaling menatap langit. "Hujannya udah reda lagi."
Putra mengangguk. "Kita pulang sekarang."
"Ja-Jaket kamu..." Kata Salma sambil melepaskan jaket kulit yang sedari tadi membaluti tubuhnya.
"Ibu kedinginan." Kata Putra.
"Tapi kamu lebih kedinginan, Putra." Salma memajukan tubuhnya, hingga membuat aroma tubuhnya kini menyusup ke indra penciuman Putra. "Lagipula Ibu... aku... ma-maksudnya..." Kalimatnya kabur. Ia kehilangan kata-kata.
Lalu, membisu sesaat.
Dan, keheningan yang tercipta justru terasa bising bagi Putra. Ia kemudian mendesis, jakunnya bergoyang naik-turun dengan kentara—sebuah reaksi refleks atas kegugupan Salma yang terasa begitu intim di telinganya, tentang penyebutan diri.
Tak lama, Putra akhirnya mengangguk. "Baiklah," Katanya di sisa tawa kecilnya. "Aku mengerti."
****