Berkisah tentang dunia Guide.
Sebuah dunia hitam di mana terdapat para Dewa di kayangannya. Dan tiga belas bangsa, namun tiga di antaranya tenggelam dalam pembantaian. Lima kemampuan, beserta lantunan nyanyian aneh yang mengikat semua makhluk dalam perjanjian berdarah.
Tak disangka, demi mengubah nasib, orang-orang dari dunia manusia pun datang ke sana.
Salah satunya Riz si korban perundungan, bersama Toz dan juga Reve sang pembawa ular, mereka malah bertemu rekan-rekan aneh dan jatuh ke dalam peperangan melawan penyimpang.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diriku yang sesungguhnya
“Kenapa rasanya sesakit ini?” Ia mengulangi kembali ucapannya.
Riz mengusap kasar air mata di pipi. “Hentikan! Jangan pukul lagi! Kubilang hentikan!” teriak Riz pada raksasa itu.
Pukulan raksasa yang keras ke arah kristal sekarang mulai melambat. Serigala yang cukup tegang pun debaran jantungnya kembali normal, tapi ia menatap waspada karena cemas jika seandainya raksasa itu menyerang Riz.
Raksasa pun berpaling pada Riz, “jangan memilikinya.”
Riz terkesiap, ia benar-benar tak mengerti apa maksud dari perkataannya. “Jangan memilikinya, atau kamu akan mati,” ulang raksasa sambil berjalan pelan ke arah Riz.
Sementara serigala yang masih terkurung dalam kristal pelindung hanya diam.
“Ke-kenapa? Kenapa kamu berkata seperti itu?”
“Jangan memilikinya, kumohon. Atau kamu akan mati,” lirih raksasa berdiri di hadapan Riz.
Wajahnya begitu kusut, akan tetapi tatapan sendu yang ditampilkan raksasa pada Riz bukanlah suatu kebohongan. Tangisannya begitu tulus, dan Riz sadar akan itu.
Raksasa pun jatuh terduduk, tanpa sadar Riz mendekat dan menyentuh pipinya yang hampir tak terjangkau tangan. Sebuah asap hitam mengepul mengelilingi raksasa dan membuatnya berubah wujud.
“Deg!”
“Ah,” gumam Riz menyadari sosok yang berdiri tepat di depannya. Raksasa yang buruk rupa dan mengerikan pun sekarang berubah wujud menjadi sosok yang mirip dengannya. Begitu mirip, namun aura hitam yang mengelilingi perwujudan raksasa terasa sangat menekan.
“Aku mengerti, ternyata begitu. Sekarang aku mengerti, rupanya itu kamu,” Riz menyentuh wujud yang mirip dengannya dengan kedua tangan.
“Aku mengerti, aku benar-benar mengerti,” ujar Riz memeluknya. “Aku mengerti, ini-” ia semakin terisak-isak. “I-ini, i-ini aku ....”
Riz memeluknya, raksasa yang menyerupai dirinya tak bergerak, namun mulutnya mengatakan sesuatu yang tak terduga.
“Jangan memilikinya, kamu akan mati. Aku mohon, aku mohon ... jangan lakukan itu atau kamu akan mati.”
“Riz semakin erat memeluknya, “terima kasih,” satu kata itu seperti mengandung arti yang tak terkira.
“Jangan memilikinya ....”
Riz benar-benar tak bisa menyembunyikan kesedihannya, setelah ia tahu siapa wujud asli raksasa itu. “Terima kasih, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku, terima kasih diriku yang sesungguhnya.”
Wujud yang menyerupai dirinya membalas pelukan itu, “jangan memilikinya, atau kamu akan mati.”
Sekarang Riz benar-benar paham, dengan satu sentuhan yang ia layangkan ke pipi raksasa menjawab semuanya. Inilah artinya, raksasa itu adalah isi hatinya, isi hati yang sebenarnya. Isi hatinya yang tak murni, sebuah emosi tertahan dan menggumpal dipenuhi kesedihan itulah wujudnya.
Tentu saja ia mengerti, karena itu adalah isi hatinya sendiri. Sebuah gumpalan dari serpihan beberapa pemikiran yang menyatu membentu wujud sendiri. Wujud gelap yang tertinggal di sudut hati namun tak pernah ia lirik kembali. Berharap dirinya takkan termakan pemikiran itu agar tetap menjadi anak baik sebagaimana mestinya.
Anak baik sesuai bayangan yang sudah membatasi dan menjadi kiblat pemikirannya. Sesosok wujud di permukaan untuk menyelimuti dirinya. Tapi itu bukanlah Riz, ia bukanlah anak yang sebaik itu.
Ia hanya anak yang menipu dirinya sendiri agar tak melukai perasaan ibunya. Perlahan, Riz mulai hancur di dalam, dan raksasa itulah wujud dalam hatinya yang retak. Itulah dirinya yang sebenarnya.
Ia tak setegar yang terlihat, ia tak sebaik yang dipikirkan, ia tak sekuat pandangan. Riz hanyalah pemuda biasa yang juga menginginkan kebahagiaan, dan menyalahkan keadaan di dalam hatinya.
Dari awal ia tidak bisa menerima kenyataan hidupnya. Sesayang-sayangnya Riz pada ibunya, rasa pedih akan penderitaan hidup tentu saja menekannya.
Ia tak bisa berucap, karena tidak ingin membebani ibunya. Kalau sebenarnya Riz sudah tak sanggup hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Ia juga tak sanggup hidup menderita di dunia baru ini.
Kenyataan sepihak yang didengar Riz di dunia Guide sudah terlalu membebaninya. Jadi inilah arti dari eksekusi, ujian terakhir untuk dirinya sendiri yaitu hati.
“Terima kasih,” suara Riz terasa bergetar.
“Jangan miliki kekuatan itu atau kamu akan mati.”
Riz tersentuh, “terima kasih, aku tahu ini menyakitkan, tetapi jika aku mengikuti dirimu maka aku takkan bisa menemukan jawaban. Aku sudah sejauh ini, bahkan jika terasa menyakitkan, aku akan menerima kekuatan ini dan memakainya untuk mengubah hidupku."
"Bahkan jika ini terasa menyakitkan, mulai sekarang aku takkan menyesal dan benar-benar akan berubah. Aku tak ingin menyesal atau memendamnya lagi. Karena itu aku takkan mati apa pun yang terjadi. Aku akan pulang dan bertemu dengan ibuku lagi. Percayalah!” lanjutnya.
“Aku mengerti, kalau begitu maafkan aku, terima kasih sudah tegar untuk itu. Aku akan menyatu denganmu, dan selalu mendukungmu bahkan jika rasa sakit ini takkan pernah memudar,” sahut perwujudan itu dengan tubuhnya yang mulai bercahaya.
“Jangan lupakan aku,” jelmaan raksasa yang menjadi dirinya pun memudar dan menyisakan jejak-jejak kuning yang menempel ke jari Riz.
Jejak kuning itu pun membentuk lingkaran di jari tengah tangan kanan Riz, dengan lambang yang tak asing lagi. Lambang itu begitu mirip dengan sosok mata yang ada di dada salah satu patung di ruangan sebelumnya.
I-Ini!” pekik Riz.
“Tankzeas (pelindung) itulah kemampuanmu. Kemampuan yang sudah dianugerahkan dunia Guide untuk orang terpilih sepertimu,” pungkas serigala merah yang sudah terbebas dari kristal. Tak hanya dirinya, keempat serigala lain yang sebelumnya terluka juga berdiri bersamanya.
“Kalian,” Riz pun terdiam sejenak. “Tankzeas (pelindung), jadi itu kemampuanku. Jadi itulah kemampuanku,” Riz tertawa pelan.
“Mungkin kau masih tidak percaya dengan dirimu, tapi kelima kemampuan hanya akan memilih orang yang pantas untuk menyandang kekuatan kami,” sambung serigala kuning. Ia berjalan melingkari tubuh Riz.
“Kelima kemampuan,” Riz pun memandang jarinya yang dihiasi cincin. “Dan aku adalah salah satu pemiliknya, pecundang sepertiku benar-benar memilikinya, di dunia yang mengerikan ini.”
“Tak ada yang mengerikan. Bahkan jika dunia terasa mengerikan, maka yang salah adalah isinya. Jika kau merasa tak sanggup maka kau bisa mati, dewa akan sangat senang menerima hadiah berupa jiwa manusia yang putus asa sepertimu,” jelas serigala hijau panjang lebar.
“Dewa, Siapakah dewa itu? Bukankah dewa akan menyelamatkan orang-orang yang memuja dan berdoa padanya? Kenapa kalian berkata seperti itu? Aku tak tahu dewa buruk apa yang menghuni dunia kalian ini,” Riz menatap sayu mereka.
“Jika kau tahu, maka kau akan mengenalnya. Jika kau mengenalnya, maka kau akan memahaminya. Para dewa sangat menyayangi semuanya, karena itulah dunia ini tercipta. Dan begitu pula dengan kami yang merupakan kekuatan para dewa,” jawab serigala ungu dengan nada penuh penekanan.
“Kalian.”
Serigala kuning berhenti mengelilingi Riz. “Melangkah dan dengarlah, maka kau akan tahu apa artinya. Arti keberadaan kalian di sini, dan juga arti dunia ini bagi semuanya. Jangan percaya, jangan terbuai, untaian kata yang sesungguhnya takkan pernah terjawab sampai kau sendiri menemukannya.”
“Apa maksudmu?”
“Semua hidup dalam kebohongaan, takkan ada kejujuran kecuali mereka memang mengatakannya. Sekarang kau adalah guider tankzeas (pelindung) level pemula. Semakin kau melangkah, semakin kau tahu apa jawabannya,” tubuh serigala merah tiba-tiba bercahaya.
“Tunggu! Apa maksudmu?!” pekik Riz kaget.
“Dunia tak sekejam bayangan, dewa tak sekejam suara, buka mata dan telinga, maka kau akan tahu jawabannya. Dunia tak tercipta untuk melahap kematian mereka yang memimpikannya,” serigala hitam pun lenyap.
“Semoga beruntung, wahai pembawa kemampuan diriku,” serigala kuning pun menghilang seketika begitu mengucapkannya.
Kelimanya tak tampak lagi tersisa, bahkan debu sisanya pun tak ada. Riz menatap udara kosong di mana serigala-serigala itu berdiri sebelumnya.
Semakin ia melangkah di dunia ini, semakin banyak tutur kata yang mengandung makna mendalam menusuk telinga dan hatinya. Kata-kata yang meninggalkan pesan untuk dipecahkan dan diartikan.
Riz terkesima, ia tak tahu apa yang salah dengan dirinya. Tapi Riz tahu kalau semua ini terlalu misteri. Cerita yang pernah diucapkan Doxia mulai terasa aneh di ingatannya. Itu bukanlah suatu kebohongan, tapi kenapa pernyataan serigala terasa begitu tak biasa.
Riz memahami apa artinya, dan sadar kalau itu berkaitan dengan cerita Doxia.
Riz paham namun tak bisa menjelaskannya, ia benar-benar tak bisa menjelaskan ucapan para serigala walau Riz memahaminya.
“Dunia ini tak seperti yang kubayangkan,” Riz pun menutup mata.
maunya season duanya dong
masa udah habis thor
😭😭
aq nungguin lama loooo
kalau dilanjut pasti masih seruu poool
berarti ini beneran dah end apa masih ada boncap bang?
lanjut semangat💪
masih setia menunggu kelanjutan ceritanya
lanjutkan author
semangaaat
semangat bang,💪💪
semangat yaaa
biar bisa tetep lanjut ceritanya
ditunggu up nya