Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Di gedung megah itu, detak jantung setiap hadirin bergemuruh, memenuhi udara dengan ketegangan yang tak tertahankan.
Senyap sesaat sebelum badai dimulai, semua mata tertuju pada pria berjas hitam yang berdiri tegap di podium, memegang mikrofon dengan genggaman penuh wibawa.
“Selamat malam, hadirin sekalian...” suaranya memecah keheningan, bergetar penuh semangat dan harap. “Acara lelang amal resmi kami buka!”
Tepuk tangan pecah menggelegar, seperti gelombang yang menerpa bibir pantai, menggema dan membakar semangat di setiap jiwa yang hadir.
Getaran harap dan cemas bercampur dalam dada, menanti saat di mana mereka bertarung diam-diam, berebut keinginan dan impian yang tergenggam dalam benda-benda yang akan segera dilelang.
Malam itu bukan sekadar tentang barang, tapi tentang hasrat yang menyala-nyala di balik tatapan penuh ambisi.
“Seperti yang Anda semua tahu, malam ini akan ada barang-barang langka yang dilelang—hanya sedikit jumlahnya, dan hanya yang berani menawar paling tinggi yang berhak memilikinya!” MC itu mengumumkan dengan suara penuh semangat, memancing gelombang antusiasme yang membayangi ruangan.
Di pojok sana, Aurora duduk tenang di samping Seina, matanya tajam menatap ke arah panggung, menahan setiap detik dengan napas yang hampir terhenti. Ketegangan menyelimutinya seperti kabut pekat yang mengurung hati.
Tak jauh dari mereka, Arion dan Laskar duduk tenang, tampak fokus, tapi sesekali mata Arion meluncur ke arah Aurora.
Ada getaran samar yang membuat dadanya berdebar seolah sosok itu bukanlah orang asing baginya, tetapi teka-teki yang belum terpecahkan menghantui pikirannya.
Di antara riuh tawar-menawar dan sorak sorai, benih rasa penasaran mulai tumbuh, berkelindan dengan desahan jiwa yang tak bisa diungkapkan.
Kembali ke arena lelang, suasana tiba-tiba berubah tegang ketika seorang wanita mengenakan gaun merah menyala melangkah anggun mendorong troli yang menutupi sebuah kotak besar.
Semua mata tertuju padanya, napas serasa tertahan menanti apa yang tersembunyi di balik penutup itu.
“Baiklah, barang pertama yang akan kami lelang malam ini adalah…” suara MC terhenti sesaat, menciptakan keheningan penuh antisipasi yang menggantung di udara.
Dengan gerakan perlahan penuh dramatis, wanita itu membuka kotak tersebut. Terpampang jelas sebuah senapan jarak jauh CheyTac M200 Intervention legenda dari Amerika Serikat yang terkenal sebagai raja dalam kategori jangkauan ultra-jauh.
Senjata itu bukan sekadar alat, melainkan kombinasi sempurna antara peluru khusus, komputer balistik canggih, dan alat pengukur cuaca, yang mampu memberikan akurasi mengagumkan hingga melewati batas satu mil.
“Lelang dibuka di harga satu miliar rupiah, dengan kenaikan kelipatan dua ratus juta,” ujar MC dengan suara tegas, menggema hingga ke setiap sudut ruangan.
Seisi ruang langsung meledak menjadi gelombang kegembiraan dan ketegangan. Para pemburu senjata bersaing mengangkat papan nomor mereka, suara sorak sorai bersaing dengan detak jantung yang semakin memburu.
Malam itu, perebutan tak sekadar lelang melainkan pertarungan gengsi dan ambisi yang memanas seperti bara api dalam diam.
Aurora duduk dengan tenang, matanya tajam mengamati kerumunan yang saling berebut senapan.
Jenis yang keluar hari ini belum sesuai harapannya, tapi bayangan senapan yang diinginkannya muncul di pikirannya seperti nyala api yang membakar.
Bagaimana jika nanti, saat jenis itu muncul, puluhan bahkan ratusan orang ikut berlomba meraihnya? Kerumunan itu akan jadi medan pertempuran tanpa ampun.
Namun, tidak peduli berapa banyak pesaing, Aurora tahu satu hal pasti senapan itu akan jadi miliknya, meski harus menguras habis tabungan terakhirnya. Tekadnya mengeras, membara, seperti janji yang tak bisa ia ingkari.
...****************...
Malam ini bukan hanya sekedar lelang. Namun, sesuatu yang lebih dari sekedar di sebut 'Lelang' sebab banyak yang mungkin akan saling berebut di sana menghamburkan uang untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Suara MC terus menggema mengeluarkan setiap hal menarik untuk di jadikan barang lelang yang membuat keributan.
"Baik, barang selanjutnya!" suaranya menggantung di udara menyulut penasaran yang di rasakan para pengunjung lelang.
Seorang wanita sexy selanjutnya menggunakan pakaian berwarna putih dengan belahan tinggi berjalan masuk, membawa sesuatu yang menjadi rahasia di balik kain merah.
"Cantik apa yang kamu bawa?" Mc menggoda dengan tangan mencolek pelan dagu pelayan sexy itu.
"Sesuatu yang menakjubkan," jawabnya lembut dengan senyum tipis dan tersipu malu.
"Wah, apa ya kira-kira? Baiklah mari kita buka!" kata MC sambil menarik cepat kain merah sebagai penutup itu.
Sebuah berlian langkah berwarna emerald menyilaukan. Barang yang menjadi incaran para kolektor itu ada di acara lelang bawah. Aurora menatap dingin benda itu ia tak ada niat menawar benda itu karena dirinya tak butuh.
"Kau mau?" tanya Aurora pada sosok Seina yang sejak tadi diam.
"Tidak, aku tak suka perhiasan," jawab Seina cepat.
"Kau bisa memberikan itu pada Mama!" ucapnya penuh bujukkan.
"Ayolah, Mama tak akan menerima kau tahu dia tidak suka berlian," jelasnya.
Aurora mengangguk dia sebenarnya ingin memberikan itu pada Seina sebagai hadiah ulang tahun. Namun, gadis itu menolak sebab dia memang tak suka perhiasan seperti kebanyakan gadis lainnya.
Sedangkan di sisi lain.
Laskar menatap berlian itu penuh minat dan jelas Arion melihat bagaimana Laskar seperti menginginkan itu.
"Kau suka? Berlian itu?" tanya Arion
"Suka, kenapa?"
"Kau mau memakainya?" pertanyaan Arion tak jelas.
"Kau pikir aku belok?" mata Laskar mendelik di balik topeng.
"Hanya bertanya apa salahnya?" kata Arion tak peduli.
Tawar menawar terus terjadi tidak ada yang mau mengalah demi sebuah batu berlian langka itu.
Laskar mengangkat papan nomor, dia menyebutkan nominal dan itu membuat mereka semua berbisik tak percaya.
"Dia menawar setinggi itu?" salah seorang berbisik pada salah satu temannya.
"Benar, Kira-kira siapa orang di balik topeng itu?" yang lain malah menimpali dengan penasaran.
Mereka semua menggeleng, setiap orang berhak menutup identitas mereka sebab tak ada anjuran kalian harus jujur di acara lelang gelap ini.
Aurora juga menyaksikan bagaimana pria itu langsung menawar telak demi sebuah berlian. Namun, ia tak peduli karena ia datang demi sebuah senapan.
...****************...
Sedangkan di sisi lain.
"Aurora belum bisa di hubungi juga, Ma?" tanya Baskara, dia dan Adeline sejak tadi mencoba menghubungi Aurora yang pamit pergi kerja kelompok di rumah sahabatnya.
"Belum, aku khawatir, Pa," kata Adeline, dia merasakan perasaan cemas.
"Ma, tenang saja! Kita akan mencoba terus mencari dan menemukan Aurora!" ujar Kaynen.
"Ma, Pa" Anjani datang dengan wajah menunduk.
"Ada apa, Jani?" tanya Kaynen,"Ingat kita semua sedang khawatir dan jangan membuat masalah!" itu sebuah peringatan di tengah kekhawatiran Kaynen.
"Aku ingin mengatakan sesuatu tentang Aurora, Kak!" ucap Anjani.
Mereka langsung bangun, dan Adeline tanpa basa-basi langsung mendekat pada Anjani,"Jani, bilang pada Mama dimana Aurora?" tanyanya penuh keingintahuan.
"Tadi siang aku melihat Aurora pergi sama seseorang, Ma," jawab Anjani menunduk takut.
"Siapa? Jawab Jani!"
"Dia seorang pria yang seumuran dengan Papa, aku pikir itu Papa. Namun, jelas itu bukan Paps, Ma, dan aku tak tahu kemana mereka pergi!" jawabnya dengan takut-takut. Namun, dalam hati Anjani bersorak senang.
DEGH!
'Pria tua? Tidak mungkin, kan?' batin Adeline tambah cemas.
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄