seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Sepasang mata indah terbuka pelan di pagi hari. Tiffany akhirnya terbangun dari tidurnya. Ia menyadari bahwa semalam ia tidur bersama Ashan, dengan perasaan bahagia mencoba membuka matanya dan ingin melihat Ashan kembali. Tepat saat ia membuka kedua matanya dan melirik ke tempat Ashan tidur, disana hanya terlihat bantal yang digunakan Ashan tanpa ada Ashan.
"Ashan?" gumam Tiffany langsung terbangun dan melirik ke sekitar kamar barunya itu dengan wajah bertanya-bertanya, ke mana Ashan pergi. Sampailah ia teringat akan ucapan Ashan semalam, bahwa dia akan pergi beberapa hari. Membuat Tiffany langsung terlihat sedih. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan mulai bermain di atas kasur dengan malas-malasan, berharap Ashan lekas kembali.
"Ah! Ya, dia sedang sibuk dengan urusan negaranya," ketus Tiffany sambil membuka ponselnya dan kembali berbaring, tanpa menyadari akan bahaya di sekitarnya. Karena dia berasal dari negara yang sudah merdeka, Tiffany tidak menganggap serius keadaan di negara yang sedang ia tinggali itu.
...****************...
"Apa? Ashan pergi!?" teriak Ratu saat mendengar kabar dari Yamin bahwa Ashan keluar dari istana lagi tanpa sepengetahuannya.
"Maaf, Ratu, sebaiknya hal ini dirahasiakan agar kalian tetap aman. Sesuai pesan Pangeran, ia berharap Ratu tidak lagi menganggu kehidupan asmara Pangeran bersama Nona Tiffany, jika Ratu ingin tetap hidup tenang seperti sekarang. Itu yang disampaikan Pangeran Ashan. Maaf jika saya sedikit lancang, Ratu," ucap Yamin di ruangan hiburan sang Ratu.
Ratu terdiam sejenak dan menatap Yamin saat Yamin kembali mengulangi ucapan Ashan.
"Lancang! Aku sudah tahu! Kamu tidak perlu mengulangi ucapan itu lagi!" teriak sang Ratu.
"Baiklah, maafkan saya, Ratu, atas kelancangan saya. Saya akan undur diri. Salam saya kepada Ratu Al-Khansa," pungkas Yamin sambil memberi hormat dan langsung pergi dari sana dengan wajah yang juga kesal.
Ia kesal karena ia juga tidak terlalu suka berbicara dengan Ratu, ia lebih baik berhadapan dengan Pangeran Ashan yang keras kepala dibandingkan Sang Ratu yang sombong.
Saat Ratu melihat kepergian Yamin, ia mulai memikirkan keberadaan Tiffany. Ia memikirkan bahwa ia memiliki kesempatan untuk mengusir Tiffany pergi dari istana saat Ashan tidak ada.
...****************...
Kembali ke Ashan yang sudah melakukan perjalanannya menuju lokasi para pemberontak, ia bersama dengan para tentara bawah yang dipimpin langsung oleh Sait, dengan hanya menunggangi kuda dan menggunakan pakaian khas Timur Tengah untuk pria, terlihat seperti seorang pedagang jalanan. Perjalanan mereka akan memakan waktu sekitar 2 hari untuk bisa mencapai rombongan Abul Zakar.
Tanpa Ashan sadari, di istananya sudah ada beberapa mata-mata yang sudah dikirim Abul Zakar beberapa hari lalu, dan kini mereka sudah berada di dalam Istana, menyamar menjadi pelayan yang baru dikirimkan masuk ke dalam istana. Dan terburuknya lagi, para musuh yang berada di istana yang menyamar menjadi pelayan yang baru masuk, mengetahui bahwa Ashan tidak ada di istana pada saat mereka melayani sang Ratu di ruang hiburannya. Seorang wanita saling menatap ke arah rekan satunya lagi saat mendengar kabar tersebut. Seakan keberuntungan berpihak kepada mereka, tidak tunggu lama mereka pun keluar perlahan dari ruangan hiburan sang Ratu tanpa diketahui orang-orang disana untuk memberitahukan kabar tersebut ke rekan mereka yang bekerja di tempat lain.
...****************...
"Aaahhh... Sunyi sekali tanpa ada Ashan di sini, aaahhh," keluh Tiffany di hadapan cermin saat ia sedang di dandani oleh beberapa pelayan sehabis mandi. Ia kini mulai terbiasa dengan kehidupan istana.
"Haha, mohon bersabarlah, Nona, Pangeran memang sering berpergian untuk bertugas di luar istana. Ia sedang melindungi kita dari beberapa orang yang ingin merusak kedaulatan negara ini," ucap seorang pelayan bernama Tiya.
"Hufh, aku tahu, Tiya, aku hanya bosan tidak diganggu olehnya," ucap Tiffany secara spontan. Ia bahkan sedikit kaget akan ucapannya sendiri.
"Iya, saya tahu, Nona, seseorang yang kita cintai jika tidak ada di dekat kita, bahkan hanya sedetik, membuat kita merasa gelisah dan juga rindu. Bersabarlah, Nona, semoga buah dari kesabaran Nona berbuah manis," ucap Tiya sambil mendoakan kebersamaan Ashan dan juga Tiffany.
Seseorang yang kita cintai? Aku mencintai Ashan? Apa itu benar? Tapi sejak kapan? batin Tiffany bertanya-tanya di dalam hatinya. Tiffany terdiam saat mendengar ucapan dari pelayan Tiya. Ia berisik di dalam hatinya tentang apakah ia mulai mencintai Ashan. Sampai lah lamunannya terhenti saat mendengar seruan keras dari arah pintu.
"OH! Jadi wanita jelata ini berada di sini!" teriak Putri Nagia sambil menunjuk ke arah Tiffany berada. Mendengar teriakan tersebut, Tiffany lekas berdiri dari tempat duduk dan melirik ke arah sumber suara tersebut.
Para pelayan yang melayani Tiffany juga setelah mendandani Tiffany, mereka lekas memberi hormat dan pergi dari sana.
...********BERSAMBUNG********...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍