"Aku mencintainya, tapi akulah alasan kehancurannya. Bisakah ia tetap mencintaiku setelah tahu akulah penghancurnya?"
Hania, pewaris tunggal keluarga kaya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Meskipun seluruh sumber daya dan koneksi dikerahkan untuk mencarinya, Hania tetap tak ditemukan. Tidak ada yang tahu, ia menyamar sebagai perawat sederhana untuk merawat Ziyo, seorang pria buta dan lumpuh yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
Di tengah kebersamaan, cinta diam-diam tumbuh di hati mereka. Namun, Hania menyimpan rahasia besar yang tak termaafkan, ia adalah alasan Ziyo kehilangan penglihatannya dan kemampuannya untuk berjalan. Saat kebenaran terungkap, apakah cinta mampu mengalahkan rasa benci? Ataukah Ziyo akan membalas dendam pada wanita yang telah menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tak Bisa Menolak
Di dalam ruang kerjanya yang luas dan elegan, Diva duduk dengan anggun di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni. Cangkir teh di tangannya masih mengepul, tetapi perhatiannya tidak teralihkan dari pria berbadan tegap yang berdiri di hadapannya. Anak buah kepercayaannya, Reno, baru saja kembali dengan laporan yang ia tunggu-tunggu.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Diva tanpa basa-basi, meletakkan cangkirnya dengan lembut di atas tatakan.
Reno menghela napas pelan sebelum menjawab, "Sepertinya informasi medis Ziyo tidak bisa diakses dengan mudah. Rumah sakit telah membatasi akses terhadap datanya. Hanya dokter utama dan beberapa orang yang ditunjuk yang bisa melihatnya."
Diva menyipitkan mata. "Sejak kapan?"
"Tak lama setelah insiden penukaran obat yang hampir menghambat kesembuhannya."
Diva mengerutkan dahinya. Sesuatu dalam informasi itu membuat pikirannya berputar. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja, berpikir keras. "Itu artinya, seseorang di rumah sakit mulai waspada. Pertanyaannya, siapa?"
Reno mengangguk. "Itu juga yang saya pikirkan. Jika rumah sakit tiba-tiba memperketat keamanan data medis Ziyo, pasti ada seseorang yang cukup berpengaruh untuk memaksa mereka melakukannya. Bisa jadi seseorang yang punya hubungan dengan manajemen atau dokter utama yang menangani Ziyo."
Diva tersenyum kecil, tetapi matanya tajam. "Ada dua kemungkinan. Seseorang di dalam rumah sakit memang melindunginya, atau..." ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "ada orang luar yang cukup kuat menekan rumah sakit untuk melakukannya."
Reno menatapnya dengan penuh perhatian. "Apakah Anda mencurigai seseorang?"
Diva menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku belum tahu pasti. Tapi jika ada yang berusaha melindungi Ziyo dengan cara ini, berarti orang itu bukan orang sembarangan. Siapa pun dia, dia cukup berpengaruh untuk mengubah sistem administrasi rumah sakit dalam waktu singkat."
Reno mengangguk setuju. "Saya bisa menyelidiki lebih dalam. Mungkin ada seseorang yang pernah berinteraksi dengan pihak manajemen rumah sakit terkait hal ini."
Diva menghela napas pelan. "Lakukan. Dan pastikan kita mengetahui siapa yang melindungi Ziyo. Jika ada seseorang yang bermain dalam bayang-bayang, aku ingin tahu siapa mereka dan apa kepentingannya."
Reno menunduk hormat. "Baik, Nyonya."
Setelah Reno pergi, Diva menatap jendela kantornya dengan tatapan tajam. Ada sesuatu yang tidak beres di sini. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi rencananya.
***
Clara masuk ke dalam ruangan Bryan dengan beberapa berkas di tangan, matanya tertuju pada pria itu yang tampak santai di balik meja. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan dokumen-dokumen yang perlu mereka diskusikan. Bryan mengisyaratkan agar ia duduk di sampingnya di sofa, seperti biasa ketika mereka membahas pekerjaan.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Bryan tak sepenuhnya terarah pada dokumen. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Clara, memerhatikannya dengan cara yang membuat jantung wanita itu berdetak tak beraturan. Ia mencoba tetap fokus, menyampaikan poin-poin penting, tetapi aura yang dipancarkan Bryan semakin intens.
Saat pembahasan berakhir, sebelum Clara sempat menjauh, Bryan tiba-tiba meraih pinggangnya dan dengan mudah mengangkat tubuhnya, mendudukkannya di pangkuannya.
"Bryan!" Clara terkesiap, berusaha bangkit, tetapi lengan Bryan mengunci erat di sekitar pinggangnya. "Lepaskan! Ini di kantor!"
Bryan hanya tersenyum tipis, tatapannya semakin dalam. "Justru itu. Menarik, bukan?" bisiknya, suaranya serak, menyentuh telinganya seperti desiran api yang menyulut kehangatan aneh dalam dirinya.
Clara menelan ludah. Jantungnya berpacu lebih cepat, bukan hanya karena terkejut, tetapi juga karena tatapan Bryan yang begitu menguasai, seolah menelanjangi segala pertahanannya. Jemari pria itu menyusup ke sisi pahanya, menyentuh kulitnya dengan sentuhan yang membuat napasnya tersengal.
"Bryan, hentikan!" Clara berusaha menarik tangannya, tetapi pria itu hanya terkekeh, membiarkan bibirnya mendekat, begitu dekat hingga ia bisa merasakan hembusan napasnya.
"Kau tahu, Clara," Bryan berbisik di antara jarak mereka yang nyaris lenyap, "aku ingin mencoba sesuatu yang baru... sesuatu yang menantang adrenalin."
Clara menegang. "Apa kau gila? Ini kantor!" bisiknya, setengah marah, setengah panik.
Tapi Bryan tak peduli. Dalam hitungan detik, ia menutup jarak di antara mereka, menekan bibirnya ke bibir Clara dalam ciuman yang menuntut, membakar, penuh dominasi. Clara seharusnya mendorongnya, seharusnya melawan, tetapi sentuhan Bryan seperti jebakan yang menariknya lebih dalam. Tangannya mengepal di dada pria itu, berniat mendorongnya menjauh, tetapi Bryan semakin memperdalam ciumannya, menghancurkan logikanya sedikit demi sedikit.
Detik demi detik berlalu, udara terasa semakin berat. Entah karena ciuman yang begitu intens, atau karena rasa takut ketahuan bercampur dengan sesuatu yang tak ingin diakui Clara, bahwa dirinya, betapapun ia ingin menolak Bryan, selalu kalah dalam genggamannya.
Bryan menyingkap rok dan blouse Clara, memainkan tubuh wanita itu dengan pakaian setengah terbuka.
"Bryan...hah...hah..." Clara tenggelam dalam kenikmatan terlarang yang diberikan Bryan, pria yang kini di atas tubuhnya, hanya mengenakan kemeja yang berantakan dan celana yang resletingnya terbuka, menggerakkan pinggulnya membuat Clara terombang-ambing di atas sofa, merasakan gelisah, nikmat, sekaligus takut ada yang mengetuk pintu ruangan Bryan.
Ini gila. Tapi tidak bisa dipungkiri, Clara menikmatinya. Bryan begitu lihai membuatnya mendapatkan kenikmatan, hingga mustahil baginya menolak. Tubuhnya menegang saat kenikmatan itu mencapai puncaknya.
Clara merapikan blouse-nya dengan gerakan cepat, berusaha menghilangkan bekas kekacauan yang baru saja terjadi di sofa ruang kerja Bryan. Wajahnya masih sedikit memerah, entah karena rasa malu atau kemarahan yang ia pendam.
Bryan menyandarkan tubuhnya ke sofa, senyum miring terukir di bibirnya. Ia menatap Clara dengan penuh kepuasan, tetapi ada sesuatu di matanya, tatapan yang tajam, penuh kendali. Ia tahu betul bahwa Clara tak bisa menolaknya lagi, bukan setelah video itu ada dalam genggamannya.
"Kamu tahu, Clara… Aku benar-benar mencintaimu," ucap Bryan lembut, suaranya serak namun penuh daya pikat. "Kamu satu-satunya wanita yang pernah aku tiduri. Dan aku ingin kita menikah."
Namun, apa benar Clara satu-satunya wanita yang pernah ia gagahi?
Clara terdiam, matanya berkedip cepat. Ia ingin mempercayai kata-kata Bryan, ingin berpikir bahwa ada perasaan tulus di balik sikap dominannya. Tapi di lubuk hatinya, ada keraguan yang terus menghantui. Apakah Bryan benar-benar mencintainya? Ataukah ia hanya ingin mengikatnya lebih erat, menghilangkan kemungkinan Clara melawan?
"Aku belum bisa meyakinkan Mama…" Clara akhirnya berbisik, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Bryan menghela napas, lalu mengangkat tangannya. Ia mendekat, menelusuri rahang Clara dengan jemarinya. "Mungkin kalau kamu hamil, mamamu tidak akan punya pilihan selain merestui kita," bisiknya di telinga Clara, membuat wanita itu menegang.
Clara menatap Bryan dengan kaget, hatinya berdebar. Ia membuka mulut untuk membantah, tapi tatapan Bryan begitu yakin, seolah rencana itu adalah satu-satunya jalan.
"Aku ingin kita bersama, Clara. Aku ingin kamu menjadi istriku," lanjut Bryan, suaranya lebih dalam. "Atau… kamu ingin aku mengunggah video itu?"
Darah Clara berdesir dingin. Seketika, ia menyadari bahwa cinta Bryan bukanlah cinta yang lembut dan membebaskan, melainkan belenggu yang semakin erat menjeratnya.
Clara tak pernah menyangka bahwa malam penuh dosa itu akan menjadi jerat yang mengekangnya. Malam itu ia tenggelam dalam hasrat, hingga tak sadar pria itu merekam setiap detik kebersamaan mereka di ranjang. Kini, video itu menjadi senjata, alat bagi Bryan untuk memaksanya menyerah pada kehendaknya.
Bryan selalu mengulang kata cinta di bibirnya, tapi apakah itu benar? Clara tak tahu. Baginya, cinta seharusnya membebaskan, bukan mengikat dengan ancaman. Namun, satu hal yang tak ia sadari—Bryan tak pernah benar-benar menginginkannya sebagai pasangan, hanya sebagai alat. Alat untuk memuaskan hasratnya. Alat untuk memastikan dirinya mendapatkan kendali penuh atas perusahaan.
Sementara Clara terjebak dalam dilema dan ketakutan, Bryan terus memainkan perannya dengan sempurna—pria yang seolah-olah mencintainya, namun di balik senyumnya tersimpan ambisi dingin yang tak bisa ditolak.
..."Ketika nafsu berkuasa, logika menjadi buta. Hati nurani pun tak lagi bersuara."...
..."Nafsu adalah api yang membakar akal sehat. Ia menjanjikan kenikmatan sesaat."...
..."Kendalikan nafsumu, sebelum ia menghancurkanmu."...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Tinggal bersama kakak ziyo dan hania...
Diva dilaporkan ke polisi...
Demi ambisimu ingin menguasai perusahaan Clara tega selingkuh dengan Clara...