Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
Rinjani menyeringai. "Menarik."
Tanpa aba-aba, Rinjani langsung melompat ke depan, serangannya secepat kilat. Namun, Kyai Jagakarsa hanya memutar tongkatnya dengan gerakan yang tampak santai tetapi mampu menangkis setiap pukulan Rinjani.
Fandi duduk bersandar pada bulu lebat Momo, menonton pertarungan dengan wajah lelah.
"Aku benar-benar merasa seperti NPC game yang tidak berguna di sini," gumamnya.
Momo mendengus setuju.
Pertarungan terus berlangsung. Rinjani menggunakan kombinasi serangan cepat dan tendangan, tetapi Kyai Jagakarsa seperti bayangan yang tidak bisa disentuh. Gerakannya mengalir seperti air, selalu selangkah lebih maju.
Pada satu momen, Kyai Jagakarsa memanfaatkan celah dalam pertahanan Rinjani dan menekan ujung tongkatnya ke bahu gadis itu.
—Bugh!
Rinjani terpental beberapa meter dan mendarat dengan satu lutut menyentuh tanah. Dia mengangkat kepala, menatap Kyai Jagakarsa dengan ekspresi tidak percaya.
"Kau kalah, Nak," ujar Kyai Jagakarsa dengan nada lembut tapi penuh kemenangan.
Fandi mengangkat kedua tangannya ke udara. "Akhirnya!! Keadilan ditegakkan!!"
"Belum." Kata Rinjani sambil menggertakkan giginya. Tanah di bawah kaki Rinjani merekah, mengeluarkan api kehitaman yang menyelimuti tubuhnya. Asap pekat membumbung ke udara, dan saat dia melangkah maju, setiap jejak kakinya meninggalkan retakan yang membara.
"Aku akan mencabik-cabikmu!"
Rinjani seperti kehilangan kendali atas dirinya. Tatapannya berubah menjadi mengerikan dengan senyum aneh di wajahnya.
Baswara sudah terkejut saat melihat Kyai Jagakarsa. Tapi melihat Rinjani, anaknya memiliki kemampuan itu membuatnya lebih terkejut.
"Sial!" Fandi juga menyadari ada yang tidak beres. Dia segera menghampiri Baswara. "Bawakan aku kuas dan kertas kuning." Kata Fandi dengan tergesa-gesa.
"Untuk apa?" Kata Baswara dengan tidak yakin. Dia tau kemampuan Fandi berkaitan dengan jimat. Jika dia memberikan benda itu, dia takut Fandi akan mencelakai mereka.
"Aduh..." Fandi menjadi kesal, "apa lo nggak lihat ada yang aneh dengan Rinjani. Kalau lo nggak ingin lihat putri lo menghilang. Cepat siapkan itu." Fandi melihat pertarungan Rinjani dan Kyai Jagakarsa dengan penuh perhatian. Dia tidak yakin, namun semoga apa yang dia pikirkan tidak terjadi.
Mendengar ini berkaitan dengan putrinya, Baswara tidak ragu dan segera meminta seorang punggawa untuk mengambilkannya.
Sementara itu, segera setelah Rinjani berubah, dia menghilang dalam kedipan mata. Rinjani melesat seperti bayangan, cakarnya menciptakan kilatan hitam yang meluncur langsung ke leher Kyai Jagakarsa.
Namun sebelum cakarnya menyentuh, sebuah tamparan udara menghantamnya keras. "GHUAKH!" Tubuh Rinjani terpental ke belakang, menghantam sebuah pohon dengan dentuman keras.
Dia mendongak, matanya membelalak. Di hadapannya, Kyai Jagakarsa tetap berdiri di tempat yang sama, bahkan belum bergerak sedikit pun.
"Ilmu Kudratullah."
Di sekelilingnya, udara bergetar hebat. Aksara-aksara Arab kuno berpendar di udara, berputar mengelilingi tubuhnya. Tanah di bawahnya bercahaya, seolah dipenuhi doa-doa yang sudah menumpuk selama berabad-abad.
Rinjani mendesis, lalu mengangkat kedua tangannya. Dari balik punggungnya, sepasang sayap hitam tumbuh, merentang luas seperti kabut kematian. Dengan raungan dahsyat, dia menghentakkan kakinya ke tanah, dan puluhan bayangan hitam melesat keluar dari tubuhnya, menyerbu ke arah Kyai Jagakarsa dari segala arah.
"MATI KAU!"
Namun, tepat sebelum bayangan itu bisa menyentuh Kyai Jagakarsa, udara tiba-tiba berhenti.
"Gustining Langit, Paringana Pangapura."
Hanya satu kalimat. Tapi dampaknya seperti kiamat kecil.
Langit yang tadinya hitam pekat langsung berubah menjadi lautan cahaya keemasan. Ribuan lafaz doa mengalir di udara, menyelimuti tubuh Kyai Jagakarsa. Seperti malaikat turun ke bumi, sosoknya bersinar begitu terang hingga bayangan-bayangan Rinjani menjerit dan menguap dalam sekejap.
Rinjani sendiri merasakan kekuatan itu menghantamnya seperti ombak raksasa. Sayapnya hancur seketika, tubuhnya tertarik ke tanah dengan tekanan luar biasa.
"ARGH! INI TIDAK MUNGKIN!"
Dia meronta, mencoba bangkit, tapi seolah-olah seluruh alam semesta menindihnya. Suaranya berubah menjadi jeritan kesakitan saat cahaya suci merembes ke dalam tubuhnya, membakar energi hitam yang dia miliki.
Dalam cahaya emas, Rinjani perlahan-lahan menjadi putih. Dia terlihat seperti disucikan dan akan menghilang. Saat ini, Fandi segera datang dan melemparkan sepuluh jimat kertas. Wajahnya pucat dan penuh kelelahan.
Kembali saat pertarungan Kyai Jagakarsa dan Rinjani, Fandi menulis banyak jimat. Jimat yang dia tulis mengandung aura, menulis perlahan-lahan dengan sela waktu tidak akan mrnyakitinya. Namun menulis sepuluh dalam sekali jalan, dia merasa energi dalam tubuhnya terkuras.
Kedua telapak tangan Fandi menempel. "Dateng Pangestunipun Gusti Ingkang Maha Pangapunten...." Kesepuluh jimat yang dia lemparkan melayang. ".... Mugi Boten Kenging Bebendu."
Tubuh transparan Rinjani yang hampir menghilang tiba-tiba membeku. Perlahan-lahan, aura tertarik disekitarnya dan Rinjani kembali menjadi utuh. Rinjani melihat ke langit duni gaib yang hijau kehitaman.
"Terimakasih." Katanya dengan tenang. Lalu Rinjani mendesah keras, mengacak rambutnya dengan frustasi. "Baiklah, Aku akan menyerah mengejar Fandi untuk sekarang."
Fandi langsung bersorak. "Bagus. Terimakasih, Kyai! gue bakal buatin teh setelah kita pulang nanti. sebagai rasa terima kasih!!"
Kyai Jagakarsa melirik Fandi dengan tidak berdaya. Dalam beberapa aspek, Fandi mengingatkan Kyai Jagakarsa dengan Nuhdin, kakeknya. "Aku lebih suka kopi, Nak."
Sementara itu, Rinjani hanya mendelik ke arah Fandi. "Ini belum selesai."
Fandi langsung bersembunyi di belakang Kyai Jagakarsa. "Kenapa? lo udah nggak akan ngejar gue lagi, kan."
Alya yang menyaksikan semua dari awal sampai akhir merasa pandangan dunianya tumbang. Mengapa dia tidak pernah tau kalau Fandi sebenarnya sangat sakti.
Kata-kata kekalahan Rinjani menyadarkan Alya. Setelah mendengar pertanyaan Fandi, Alya memutar matanya. "Mas, memang Mbak hantu itu nggak akan ngejar mas lagi. Tapi Mas Fandi masa lupa sama Jepit Rambutnya? Mas harus balikin, kan."
Fandi terdiam. "Tapi gue menggunakan jepit itu untuk ibu gue."
"Aku juga membutuhkannya untuk Ibunda permaisuri ku." Kata Rinjani sambil mendelik. Kini dia sudah bisa berdiri dan terlihat cukup bugar.
Fandi menggaruk kepalanya dengan bingung. Alya juga diam ketika tau kalau masalah ini bukan hal biasa. Momo hanya menguap malas. Tidak ingin mengurusi masalah manusia.
Tiba-tiba terdengar suara cempreng di belakangnya.
"Mas Fandi~ Titi datang untuk menyelamatkan~"
Fandi menoleh dan mendapati sosok Parto datang. Rambutnya disasak tinggi seperti penyanyi dangdut tahun 80-an, bajunya berkilauan, dan bibirnya merah menyala.
Fandi langsung mengusap wajahnya, merasa lelah secara mental. "lo... Kenapa lo disini!"
Satu masalah belum selesai, dan yang lainnya muncul. Dia benar-benar lelah.
"Aku mengikuti kalian ke bagian tengah. Tentu saja aku tau kamu dibawa pergi. Aku butuh banyak waktu untuk menemukanmu, tau~" Parto meletakkan satu tangan di pinggang dan melambai-lambaikan tangannya dengan gaya dramatis. "Setelah tau kamu di mana, aku langsung touch-up bedak. Masa aku mau muncul dengan wajah kusem? Gengsi dooong! Nanti kamu malah takut sama aku~"
Fandi menatapnya tanpa ekspresi. Dia benar-benar tidak peduli!
Parto berkedip genit. "Tenang mas Fandi, Titi akan membantu mu sekarang~"
jd kisah ttg Asti ini nanti jd yg terakhir ya?
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor