King Jayden Wiratama, seorang mafia berdarah dingin yang memiliki wajah tampan bak malaikat. Namun, di balik ketampanan nya itu tersimpan sesuatu yang tak di ketahui orang.
Ayyara Marshka Anggita, seorang gadis yang tak sengaja masuk dan terjebak dalam kehidupan seorang Jayden, membuat nyawa nya terancam bahaya karena musuh menjadikan Ayyara sebagai target untuk membalaskan dendam pada Jayden.
Bisakah Jayden melindungi gadis yang dia cintai itu dengan aman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sendi andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Tempat Paling Nyaman
Ayyara dan Jayden masuk ke dalam unit apartemen nya, pria itu langsung menarik Sherena ke dalam pelukan nya. Dia masih tidak menyangka kalau gadis kesayangan nya ini baru saja di permalukan, dia benar-benar merasa gagal untuk menjaga Ayyara. Gadis itu pasti merasakan sakit di hati nya saat ini. Jayden juga sangat marah pada pria bernama Rendy yang menurut nya sangat tidak bertanggung jawab.
Meninggalkan kekasih nya sendiri di cafe, dengan kebohongan. Itu bukanlah sikap pria yang gentel, bagi Jayden Rendy hanyalah pria brengseek yang harusnya dia basmi.
"Lho, Daddy kenapa?"
"Maafkan Daddy, sayang. Daddy merasa gagal menjaga kamu."
"Tidak kok, Daddy tidak gagal menjaga Ayya. Lagian, Ayya gapapa kok. Soalnya tadi, pas dia mau nampar aku, Om Jack datang dan membuat wanita itu kesakitan." Jawab Ayyara membuat kening Jayden berkerut. Kesakitan? Memang apa yang di lakukan oleh Jack pada pelayan tidak tahu diri itu?
"Kesakitan? Memang nya apa yang Jack lakukan, sayang?"
"Om Jack mencengkeram tangan wanita itu, Dad. Terus gak tahu di gimanain lagi, tapi kedengeran kayak suara tulang patah gitu." Jelas Ayyara, membuat Jayden tersenyum menyeringai.
"Itu hukuman yang setimpal dengan apa yang dia perbuat padamu, sayang." Ucap Jayden sambil mengusap rambut gadis cantik itu, dia masih memeluk erat tubuh Ayyara di dada nya. Dia mendekap nya dengan hangat, membuat Ayyara merasa nyaman.
"Tapi kasian dia, Dad."
"Kamu jangan terlalu baik jadi manusia, nanti di manfaatkan. Biarkan saja, berani melakukan ya harus berani dengan konsekuensi nya. Dia belum tahu saja siapa kamu dan siapa Daddy." Jawab Jayden. Ayyara menganggukan kepala nya, benar kata Jayden. Dia tidak boleh terlalu baik, nanti kebaikan nya akan di manfaatkan.
"Iya, Daddy."
"Hmmm, pengen jatah dong, Bby."
"Lah kok lari nya ke jatah, Dad?" Tanya Ayyara, dia masih betah berada di dalam dekapan Jayden. Pria tampan itu juga membiarkan Ayyara berlama-lama disana.
"Kangen soalnya, hehe."
"Ayya enggak tuh, Ayya lagi gak mau main, Dad." Jawab Ayyara membuat Jayden cemberut. Pria tampan itu sedang sangat menginginkan tubuh Ayyara, tapi disaat gadisnya menolak, memang nya dia bisa apa selain pasrah? Gadis itu masih merajuk, dari pada merajuknya tambah parah, jadi lebih baik di biarkan saja untuk sementara. Nanti juga kalau sudah membaik, Ayyara pasti akan memberikan jatah malam nya.
"Ya sudah, sayang. Kita ke kamar yuk? Manja-manjaan nya di kamar." Ajak Jayden, Ayyara merentangkan tangan nya. Dengan senang hati, Jayden pun langsung menggendong Ayyara ala bayi koala pada ibunya.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, Ayyara terus saja mengecupi leher Jayden hingga meninggalkan bekas-bekas kemerahan. Tentu saja, hal itu membuat Jayden terbawa nafssu. Dia pun langsung menerkam Ayyara dengan ciuman buas nya.
"Aahhh, Daddyhh.." Sherena menggelinjang hebat saat Darren mengerjai dada nya, pria itu benar-benar buas jika itu berhubungan dengan tubuh nya. Pria itu sangat memuja kesempurnaan tubuh Ayyara, hingga selalu memperlakukan nya dengan lembut meskipun terkadang dia menyakiti Ayyara karena nafsuu nya.
"Tolong, berhen-ti aaahh.." Ayyara terus meracau hebat saat Jayden menyentuh titik-titik sensitif di tubuh nya, gadis itu kehilangan kesadaran nya. Jayden benar-benar pandai memuaskan wanita.
"Dad, tolong. Berhenti.." Pinta Ayyara membuat Jayden keheranan, ada apa dengan gadis nya? Kenapa sedari tadi meminta berhenti terus? Tak mungkin rasanya jika dia tidak menikmati permainan nya yang dahsyat ini.
"Aaahh, Daddy.. sakit.." Ayyara menjerit saat Darren menggigit putting miliknya, dia gemas dengan gadis ini. Apalagi buah kenyal milik sang gadis yang sekarang ukuran nya bertambah lebih besar dari pada saat pertama kali dia menyentuh dan memainkan nya.
Jayden tersenyum kecil, dia benar-benar senang melihat wajah Ayyara yang memerah karena menahan nafssu nya.
"Sudah, Dad. Cukup, Daddy akan menyakiti ku.."
"Kenapa? Justru Daddy akan memberikan kamu kenikmatan yang tiada tara, sayang." Jawab Jayden membuat wajah Ayyara semakin memerah saja, seperti nya dia merasa malu atas ucapan Jayden.
"Daddy, jangan.." Ayyara menolak saat Jayden akan membuka celana nya.
"Why, Baby? Biasanya kamu tidak pernah menolak saat Daddy menginginkan nya." Tanya Jayden, dia menatap wajah Ayyara yang masih memerah.
"Sebenarnya aku malu, Dad. Aku sedang menstruasi sekarang." Jawab Ayyara yang membuat Jayden seketika lemas. Bahkan pisang premium miliknya pun yang tadinya berdiri tegak, kini menciut seketika.
"Baby.."
"Maafin, Ayya.."
"Tak apa-apa, Daddy ke kamar mandi dulu." Jawab Jayden, dia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Jujur saja dia kecewa, kenapa gadis itu tidak berterus terang saja pada nya sedari tadi. Kalau dari tadi Ayyara memberitahu nya, pasti dia takkan terbawa suasana dan memilih menahan nya saja. Sekarang, dia sudah terlanjur bernafsuu. Terpaksa lah, dia harus bermain solo di kamar mandi.
"Daddy.."
"Jangan kesini, tidurlah." Jawab Jayden dari dalam kamar mandi.
"Daddy marah ya? Maafin Ayya ya, Dad."
"Tidak apa-apa, Daddy akan menidurkan si junior lebih dulu. Kamu tunggu saja di kamar, atau tidur duluan. Nanti Daddy nyusul, sekalian peluk kamu." Jawab Jayden, tapi Ayyara malah nekat membuka pintu kamar mandi yang tidak di kunci karena Jayden lupa.
"Lho, Daddy sama junior lagi ngapain?"
"Yang kamu lihat Daddy sedang apa, hmmm?"
"Mainin junior."
"Terus?" Tanya Jayden, tanpa menghentikan gerakan tangan nya.
"Tadi katanya Daddy mau nidurin dulu si junior, tapi kok malah di mainin gitu." Tanya Ayyara lagi, membuat Jayden terkekeh.
"Ini Daddy sedang berusaha membuat nya tidur, sayang. Soalnya dia bangun gara-gara Daddy lihat tubuh kamu tadi." Jawab Jayden membuat Ayyara paham. Jadi, kalau tidak melampiaskan nya dengan menyentuh dirinya, inilah yang akan Jayden lakukan? Bermain dengan tangan, memang rasa nya bisa mengalahkan penyatuan ya? Sherena nyengir-nyengir geli melihat kelakuan Jayden.
Tapi, ya ini juga kesalahan nya yang tidak memberitahu kalau dirinya tengah menstruasi dan ini adalah hari pertama nya. Perut nya sedang mulas melilit saat ini, di iringi dengan darah yang terus merembes keluar secara perlahan.
"Pergilah ke kamar mu, sebelum Daddy melakukan hal nekat padamu, sayang."
"Iya, Dad. Maafkan aku ya, kalau sudah selesai langsung nyusul ya?"
"Iya, baby." Jawab Jayden, Ayyara pun meninggalkan Jayden sendirian di kamar mandi. Dia benar-benar tidak menyangka kalau pria berwibawa seperti Jayden juga akan tunduk pada nafssu. Dia memilih bermain jari untuk memuaskan hasraat nya.
Bukan nya tidur, Ayyara malah membuka pintu balkon dan menikmati angin yang berhembus menerpa kulit putih nya. Gadis itu berjalan, lalu berhenti dan berpegangan pada tralis besi. Dia mendongak, lalu tersenyum saat melihat bulan yang bersinar sangat cerah malam ini. Tapi, tidak dengan suasana hatinya yang mendung. Tidak secerah cahaya bulan ini.
Gadis itu memejamkan mata nya, lalu menghembuskan nafas nya dengan kasar berkali-kali. Dia benar-benar merasakan sakit di hatinya saat ini, tapi ingin bicara pada Jayden pun dia merasa tidak enak. Jadi, dia memilih diam saja. Tak ingin bicara, padahal mulutnya sudah terasa gatal ingin bicara tentang rasa sakitnya di permalukan seperti di cafe tadi.
Angin semilir kembali menerpa tubuh nya hingga menerbangkan beberapa helai rambut indah Ayyara, gadis itu berteman dengan angin malam. Angin yang sejuk tidak membuatnya kedinginan sama sekali.
"Kenapa kamu sangat senang menyendiri seperti ini, Baby?" Tanya Jayden, dia merapatkan tubuh nya pada Ayyara. Dia memeluk gadis itu dari belakang, juga menumpukan dagu nya di pundak gadis cantik itu.
"Tidak kenapa-napa, aku menyukai cahaya bulan malam ini. Indah dan cerah sekali ya, Dad?"
"Hmmm, di mata Daddy kamu yang lebih indah, sayang."
"Haha, Daddy gombal."
"Tidak ada hal apapun yang lebih indah dari pada dirimu, sayang." Jawab Jayden lagi membuat Ayyara mengusap tautan tangan pria itu itu.
"Apa Daddy tahu? Kalau aku sangat bersyukur hari itu bertemu Daddy di bar."
"Itu semua sudah takdir, sayang. Kenapa, hmm?" Tanya Jayden pelan.
"Kalau seandainya memang kita tidak di pertemukan oleh takdir, sekarang aku tak tahu harus kemana. Aku benar-benar tak punya rumah untuk pulang, atau sekedar beristirahat." Jawab Ayyara, membuat Jayden tersenyum kecil.
"Baby.."
"Terimakasih karena sudah menjadi rumah ku, tempat ku untuk pulang, tempat bersandar paling nyaman. Aku beruntung memiliki Daddy."
"Kamu terlalu berlebihan, sayang."
"Tidak, aku tidak berlebihan Dad. Memang inilah fakta nya, aku sangat bahagia karena bisa bertemu dan bersama dengan Daddy." Jawab gadis itu, dia melepas pelukan sang pria lalu berbalik dan memeluk tubuh besar Jayden. Gadis itu menyurukkan wajah nya di dada bidang Jayden. Pria itu merasa kalau gadis nya sedang tidak baik-baik saja saat ini, jadi dia hanya membiarkan apapun yang akan di lakukan nya selama itu membuatnya nyaman. Meskipun dia harus mati-matian menekan nafssu nya agar tidak terbawa seperti tadi. Baru saja si junior tidur, sekarang malah hampir bangun lagi.
Jayden mengusap-usap punggung dan kepala belakang Ayyara, Jayden paham benar seperti apa perasaan gadis itu saat ini. Hubungan nya dengan orang tua nya tidak baik, lalu di permalukan oleh orang asing dan pria yang selama ini mengaku sebagai kekasih nya. Jadi, dia benar-benar butuh tempat bersandar saat ini dan pilihan Ayyara benar-benar tepat, Jayden adalah tempat paling nyaman untuk nya bersandar.
Jayden juga merasa senang, karena keberadaan nya benar-benar di butuhkan oleh gadis cantik itu. Sebisa mungkin, dia akan selalu melindungi dan tetap menjadi tempat Ayyara pulang. Begitu juga dengan nya, dia menjadikan Ayyara alasan untuk dia tetap hidup. Dia takkan pernah meninggalkan Ayyara sendirian, itulah janji nya yang akan dia tepati. Jayden tersenyum saat Ayyara semakin menduselkan wajah nya di dada nya.
"Kita ke kamar ya, ini sudah malam. Kamu harus tidur, sayang."
"Hmmm, baiklah Dad." Jawab Ayyara, kedua nya pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
.....
😳🌻🌻🌻🌻
......