NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Teman Ranjang

Bukan Sekedar Teman Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter / Pernikahan rahasia
Popularitas:116.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestary

Xavier, dokter obgyn yang dingin, dan Luna, pelukis dengan sifat cerianya. Terjebak dalam hubungan sahabat dengan kesepakatan tanpa ikatan. Namun, ketika batas-batas itu mulai memudar, keduanya harus menghadapi pertanyaan besar: apakah mereka akan tetap nyaman dalam zona abu-abu atau berani melangkah ke arah yang penuh risiko?

Tinggal dibawah atap yang sama, keduanya tak punya batasan dalam segala hal. Bagi Xavier, Luna adalah tempat untuk dia pulang. Lalu, sampai kapan Xavier bisa menyembunyikan hubungan persahabatannya yang tak wajar dari kekasihnya, Zora!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Between Us

Cahaya pagi merambat masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan lembut yang menari di dinding kamar. Aroma lembut sisa parfum Xavier masih terasa di bantal dan udara, seolah ia baru saja pergi.

Luna menggeliat pelan di atas ranjang, matanya masih berat dan kepalanya sedikit pening. Ia mengulurkan tangan ke sisi lain ranjang—kosong. Sepi. Dingin.

Matanya terbuka sepenuhnya sekarang.

Xavier tidak ada di sana.

Ia terduduk perlahan, selimut masih membungkus tubuhnya. Pandangannya menyapu kamar, koper yang tadi malam masih terbuka kini sudah tak terlihat. Semua rapi. Seolah Xavier tak pernah ada.

Luna menunduk, menyentuh sisi ranjang yang masih sedikit hangat. “Pergi tanpa pamit...” gumamnya.

Baru saja ia hendak bangkit dari tempat tidur, rasa mual tiba-tiba menghantam perutnya.

Luna terdiam sejenak, napasnya tercekat. Tubuhnya refleks menegang.

Ia menutup mulutnya, lalu bergegas turun dari ranjang. Kakinya nyaris goyah saat melangkah menuju kamar mandi, dan sesampainya di sana, ia langsung berlutut di depan kloset.

Mual itu datang seperti gelombang—cepat, menghantam, lalu mengguncang tubuhnya habis-habisan.

Tangannya gemetar saat meraih wastafel, matanya berair karena menahan sisa rasa tak nyaman di kerongkongan. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah yang pucat, mata yang sembap karena kurang tidur, dan bibir yang kering.

"Kenapa belakangan ini... sering begini?" bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Ini bukan kali pertama. Tapi entah kenapa, pagi ini terasa lebih berat dari sebelumnya.

Luna mengambil segelas air dari wastafel, lalu duduk di lantai kamar mandi, bersandar di dinding. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai berkelana ke banyak arah.

“Jangan-jangan...”

Namun ia buru-buru menggeleng. “Tidak mungkin,” desisnya, mencoba menepis kemungkinan yang diam-diam menyusup ke benaknya.

Luna menatap ke arah luar kamar mandi, tempat ranjang itu berdiri diam—sepi, dan kini kosong.

Untuk pertama kalinya, Luna merasa sepi.

Padahal, ia sendiri tahu bahwa Xavier akan pergi selama beberapa hari. Ia tahu, bahkan ikut mendukung keputusannya. Tapi tetap saja, menyambut pagi tanpa sosok pria itu terasa hampa—seperti bangun di rumah asing yang tak lagi menyimpan suara.

Biasanya, Xavier akan ada di dapur dengan secangkir kopi hitam dan suara musik klasik yang mengalun pelan. Kadang dia membaca koran, kadang hanya berdiri di balkon, mengamati langit yang baru berubah warna. Pagi-pagi mereka memang tak selalu ramai, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat ruang ini terasa hidup.

Kini, yang terdengar hanya detak jam di dinding. Luna masih duduk di lantai, mengenakan hoodie kebesaran yang seharusnya dipakai Xavier. Ia memeluk lututnya sendiri, menghadap jendela sambil memandangi langit yang mulai biru.

“Kenapa rasanya kosong sekali, padahal baru beberapa jam dia pergi…” gumamnya.

Ia menghela napas panjang, berusaha menepis sensasi aneh di dadanya. Namun sebelum pikirannya bisa lebih jauh melayang, rasa mual yang sempat reda kembali datang menghantam. Lebih kuat kali ini.

Dengan tergesa, Luna bangkit. Tangannya menggenggam perut, napasnya memburu. Ia kembali berlutut di depan kloset, menahan sisa rasa perih yang menyergap kerongkongannya.

Apa ini hanya karena kecapekan… atau ada sesuatu yang lebih?

Hatinya bergemuruh.

Luna menarik napas panjang dan menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. Pagi ini bukan waktunya untuk terjebak dalam perasaan kosong. Ia harus bangkit. Harus bersiap.

Banyak pekerjaan menantinya hari ini. Pembukaan pameran lukisan yang digelar di lantai galeri rumah sakit akan segera dimulai dalam hitungan jam. Sebagai koordinator visual sekaligus seniman utama, ia tak boleh terlihat goyah—apalagi di depan tim.

Dengan langkah cepat dan tas besar berisi alat cat di bahu, Luna tiba di rumah sakit. Suasana pagi itu sudah cukup sibuk, terutama di sekitar lobi utama tempat event akan digelar. Beberapa anggota tim kreatif berlalu-lalang, membawa standing banner, papan nama, dan katalog mini yang akan dibagikan kepada pengunjung.

“Luna, background lighting-nya sedikit meleset dari layout awal,” seru Reza, tim pencahayaan, sambil menunjuk sisi kiri panggung kecil.

“Aku lihat dulu,” jawab Luna cepat, menghampiri. Ia mengambil tablet dan membuka skema ruangan. “Geser tiga puluh derajat ke kanan, dan naikkan intensitas lampu putihnya. Kita butuh highlight lebih untuk panel itu, karena posisinya langsung menghadap arah masuk.”

Reza mengangguk, langsung memberi instruksi ke teknisi.

Luna berbalik dan berjalan menuju sisi display utama—lima lukisan besar miliknya yang menggambarkan emosi pasien dan tenaga medis. Ia merapikan posisi salah satu frame yang sedikit miring, lalu mengecek label nama dan penjelasan di bawahnya.

“Luna,” suara yang familiar menyapanya.

Luna menoleh. Zora berdiri di sana, mengenakan jas putih dengan ID card yang menggantung di dadanya. Di tangannya ada setumpuk berkas yang tampaknya baru saja selesai ditandatangani.

“Kamu luar biasa,” puji Zora dengan senyum simpatik. “Lukisanmu… menyentuh sekali."

Luna tersenyum kecil. “Terima kasih, Zora. Ini kerja tim juga. Aku cuma menyampaikan cerita yang sebetulnya sudah ada di sekitar kita.”

Zora mengangguk. Ia berdiri di samping Luna, memandang salah satu lukisan berjudul Napasku Untukmu—potret abstrak seorang perawat yang memeluk pasien dengan latar warna merah pekat dan abu-abu kabur.

“Kau tahu…” Zora berkata perlahan, “Xavier pernah cerita, kamu paling bisa menyuarakan hal-hal yang bahkan orang susah ucapkan.”

Luna hanya tersenyum samar.

Seseorang memanggil namanya dari arah panggung. Luna segera pamit pada Zora, “Aku harus kembali ke setting lampu. Kalau kamu butuh sesuatu, tinggal cari aku, ya.”

Zora mengangguk ramah. Ia pergi untuk mengerjakan tugasnya.

Luna kembali ke kerumunan tim, memberi arahan tentang pengaturan sound system dan lalu-lintas tamu undangan. Kepalanya fokus, namun perutnya masih terasa tidak nyaman. Sensasi mual sempat datang kembali saat ia membungkuk tadi, tapi ia menahannya dengan pura-pura sibuk memeriksa daftar acara.

Ini bukan saatnya untuk pingsan di depan semua orang, pikirnya sambil mencengkeram clipboard di tangan lebih erat.

Namun, di sela-sela kesibukan itu, pikirannya tetap melayang.

Tentang Xavier. Tentang rasa hampa pagi tadi. Tentang tubuhnya yang akhir-akhir ini berubah. Dan tentang kemungkinan yang belum sempat ia pastikan.

Jika benar apa yang ia curigai…

*

Aula utama rumah sakit berubah menjadi ruang seni yang elegan. Balon-balon putih keperakan menggantung di langit-langit. Standing banner dengan logo rumah sakit dan tema pameran—“Warna-Warna Harapan”—berjejer di pintu masuk. Musik instrumental mengalun pelan, mengiringi lalu lalang tamu undangan yang mulai memadati ruangan.

Luna berdiri di balik meja registrasi, sesekali menyambut para tamu penting dengan senyum profesional, meski tubuhnya terasa sedikit limbung. Ia menahan mual sejak pagi dan berharap semuanya bisa segera selesai.

“Luna, semuanya on schedule,” bisik Reza dari sampingnya.

Luna mengangguk. “Bagus. Kita tinggal tunggu MC naik panggung.”

Beberapa menit kemudian, tepuk tangan riuh terdengar saat direktur rumah sakit memberi sambutan pembuka. Semua berjalan sesuai rencana. Saat MC memperkenalkan artis utama di balik karya-karya yang dipamerkan, Luna melangkah naik ke atas panggung dengan sorot cahaya menyambutnya.

Ia berbicara tenang, menyampaikan makna di balik karya-karya yang dipajang. Suara tepuk tangan kembali mengisi ruangan begitu ia selesai bicara.

Tapi mata Luna sempat menangkap sosok wanita elegan di barisan tamu VIP—berdiri di sebelah Zora. Wajah itu tak asing. Ia adalah Mama Xavier.

Wajahnya berseri, mengenakan setelan berwarna lavender lembut dengan rambut disanggul rapi. Di sampingnya, Zora tampak cantik dan bersahaja dalam balutan dress navy selutut. Keduanya tampak sangat akrab—tertawa kecil bersama, sesekali berbisik pelan.

“Mama bangga sekali, Zora,” ucap sang wanita sambil menepuk punggung tangan Zora lembut. “Melihat kamu berdiri di sini, menjadi bagian dari acara seindah ini... rasanya seperti melihat menantu sendiri.”

Zora tersenyum, agak salah tingkah. “Terima kasih, Tante… maksudku, Mama.”

“Sudah berapa kali Mama bilang, panggil saja Mama. Kamu sudah seperti anak Mama sendiri. Bahkan Xavier juga bilang, kamu satu-satunya yang bisa mengimbanginya.”

Zora tersipu. “Kami hanya sedang mencoba memperbaiki hubungan, Ma.”

“Dan Mama sangat mendukung,” sahut Mama Xavier cepat. “Xavier memang keras kepala, tapi Mama tahu… dia akan mendengarkanmu.”

Dari atas panggung, Luna mengamati interaksi itu dengan pandangan kosong. Ia menelan ludah perlahan, menahan sesuatu yang terasa sesak di dada.

Sementara MC kembali mengambil alih acara, Luna turun panggung. Ia berjalan pelan, menyelinap ke belakang layar. Nafasnya tidak lagi teratur. Tangannya gemetar.

"Ada apa dengan ku? Apa yang terjadi?" Luna menepuk dadanya pelan.

To Be Continued >>>

1
Lilik24
kok gak ada lanjutnya ya Thor
Ela Laelasari
lanjut Thor...seruu banget
Yunita Asep
jadi mereka tu blum menikah y, kok satu apartemen
Yunita Asep
masih menyimak..
Yunita Asep
lanjut..
Yunita Asep
mampir y thorr...
Bekti Cah Ceriwiz
di tunggu kelanjutannya thorrr
tari
lanjut thor
Ayu_Lestary: siappp 💪💪💪
total 1 replies
Lilik24
semoga itu semua hanya mimpi kapan luna seneng ya isinya penuh kesedihan sampe akhir masak hrs sedih terus
Nengsih Irawati
Berharap nya itu hanya mimpi,,,, kasihan Luna kalo kenyataannya harus seperti itu 🥺
inchieungill
Maaf, tdnya saya suka novelnya, tapi jujur sekarang jadi males bacanya. Masa bayinya mati, rahim diangkat, tragis amat. Sekalian aja Lunanya mati. Maaf ya thor, saya mundur dr novel ini.
Nengsih Irawati
Ka jangan bikin mereka kenapa2,,,ga tega banget deh baru juga bahagia 🥺
Mouse
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Mouse
awal yang sangat menarik😍
Nengsih Irawati
Ku kira Zora dipenjara ternyata cuma direhabilitasi,,,,dan ternyata dia masih saja sama,,,tidak berubah dan masih tetap berambisi untuk bisa mendapatkan Xavier😔 apalagi akan ada orang yang membantunya
Nengsih Irawati
Makasih ka up nya 🥰 semangat
Nengsih Irawati
Xavier sejauh ini sudah bucin k sama Luna tapi tidak yg berlebihan,,, cerita nya sangat menarik.🥰
Ayu_Lestary: Terima kasih 🤗🤗🤗
total 1 replies
La Good
Luar biasa 😍😍😍
Nengsih Irawati
Sedikit rumit tapi kalo dijelaskan dengan jujur,,, Xavier pasti ngerti Luna🥰
Nengsih Irawati
Siapa pria misterius itu 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!