Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Motor matik Serra nyelip-nyelip di jalanan sore yang udah mulai macet. Anginnya dingin, tapi anehnya Anya ngerasa angin ini jauh lebih enak daripada udara pengap di lantai 3 tadi. Tangannya masih nyengkram kuat jaket denim Serra. Kayak kalau dia lepas sedetik aja, dia bakal ketarik lagi ke lorong kantor yang gelap itu.
Sampai kos, hal pertama yang Serra lakuin. ngunci pintu. Kenceng. Tasnya dibanting ke kasur, badannya ambruk di lantai. Anya Langsung nyalain semua lampu. Utama, belajar, hias. Nggak ada yang boleh gelap. Kamar $3 \times 4$ meter itu mendadak silau.
"Pesen Gofood. Sekarang," Serra nyuruh, suaranya pecah. "Yang paling pedes. Aku butuh kebakar biar tau... kita udah aman. Udah di dunia nyata." Napasnya masih belum beraturan.
Anya mengangguk. Jarinya masih gemetar waktu menekan layar ponsel. Setelah pesanannya selesai terkirim, dia duduk di sebelah Serra lalu menyandarkan punggung ke pinggiran kasur.
"Nya...? sekarang cerita," desak Serra. Suaranya pelan tapi sesak. "Tadi kau bilang ada yang aneh dengan kos kau ni."
Pandangan Anya terpaku ke pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Gelap. Gulita. Satu-satunya cahaya cuma pantulan samar dari cermin wastafel, ketangkap kilatan lampu kamar utama.
Anya menelan ludah. Tenggorokannya mendadak kering."Ser... kemarin malam?."
Belum sempat Serra menjawab, suara ketukan terdengar dari arah pintu utama.
_Tok. Tok. Tok._
Tiga kali. Pelan, tapi jelas. Dua-duanya langsung menoleh bersamaan. Jantung Anya berdegup lebih kencang. Siapa jam segini?
Serra langsung berdiri. "Tunggu sini," bisiknya. Saat pintu dibuka perlahan. Cahaya dari lorong kos masuk menyapu lantai. Di luar berdiri tiga orang. Wulan, Tari, dan Tio.
Wulan kelihatan paling panik, rambutnya masih setengah diikat. Tari menggigit bibir, tangannya meremas ujung baju. Sementara Tio berdiri di paling belakang, wajahnya tegang dan matanya langsung mencari Anya di dalam kamar.
"Maaf ganggu malam-malam," kata Wulan cepat. Napasnya agak tersengal. "Kami... kami cuma mau mastiin kamu baik-baik aja, Nya."
Serra belum jawab. Dia cuma minggir, mempersilakan."Masuk dulu," katanya pelan.
Wulan langsung melangkah masuk, diikuti Tari. Tio paling akhir. Begitu pintu ditutup, suasana kamar mendadak pengap.Hening beberapa detik. Yang kedengeran cuma suara napas Wulan yang belum stabil.
Akhirnya Tari yang buka suara. Suaranya gemetar. "Nya... Kamu gak apa-apa kan?"
Anya langsung menegang. Jari-jarinya mengepal di atas selimut. Dia ingat kemaren malam. Air shower tiba-tiba keruh. Lalu tiba-tiba ada bayangan dibalik pintu kaya yang bukan bayangannya.
"Nya?" panggil Wulan pelan waktu lihat Anya diam.
Anya mengangkat wajah. Matanya merah. "Aku...aku denger ada yang manggil nama aku," bisiknya. "Dari dalam kamar mandi. Pas aku mau matiin shower."
Tio langsung menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih kebuka sedikit. Rahangnya mengeras."Kamu sempet liat siapa?" tanyanya.
Anya menggeleng. "Nggak jelas. Gelap. Tapi... rambutnya panjang. Basah. Nempel di kaca."
Wulan spontan memeluk diri sendiri. "Ya Allah Nya. Itu kenapa makanya kami lari ke sini pas dengar teriakan kau. Soalnya habis kau tidur di kamar aku, lampu kamar mandi kos kita kedip-kedip sendiri sampai jam 3."
Serra menarik napas panjang. Dia melirik ke pintu kamar mandi, lalu balik ke Anya."Jadi sekarang kamu mau gimana? Tetep diem di sini, atau kita beresin sekarang? Bareng-bareng."
Semua mata langsung tertuju ke Anya. Dan dari dalam kamar mandi yang gelap itu...
_...tetes._ Suara air jatuh. Padahal kerannya udah dimatiin dari tadi.
Wulan langsung nyentak. "Denger itu?"
Tari spontan genggam tangan Wulan. Wajahnya pucat. Tio udah maju dua langkah ke depan, badannya nutupin Anya dan Serra. Dia memandang ke arah kamar mandi yang gelap.
Anya malah membeku. Tenggorokannya kering lagi. "Kerannya...? aku tutup rapat," katanya lirih. "Sumpah aku tutup."
Serra menatap Anya, lalu menatap pintu kamar mandi. Cahaya dari kamar cuma nyampe setengah, selebihnya gelap. "Udah. Kita cek bareng," kata Serra tegas. "Jangan ada yang misah."
Tio mengangguk. "Aku di depan."
Wulan dan Tari saling gandeng tangan."Kami di tengah." Anya? Dia paling belakang. Kakinya berat buat melangkah.
Mereka jalan pelan-pelan. Lantai keramik dingin ngena ke telapak kaki. Semakin dekat ke pintu kamar mandi, bau apek campur sabun mulai kecium. Bau yang sama kayak semalam. Serra berhenti pas di depan pintu. Tangannya gemetar tapi dia tetap dorong pelan.
_Kreeek..._
Pintu kebuka sepenuhnya. Di dalam gelap. Cuma ada cahaya samar dari lampu lorong yang masuk lewat celah. Shower mati. Lantai kering. Tapi di atas cermin wastafel, ada tulisan.
Pakai uap. Hurufnya gede, belepotan.
*"JANGAN TINGGALIN AKU LAGI, NYA"*
Anya langsung mundur. Dadanya sesak. Napasnya keangkat."Itu...? itu bukan tulisan aku," bisiknya. Air matanya jatuh. "Aku nggak pernah nulis itu."
Tiba-tiba lampu kamar kedip sekali._Kretek._
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara pelan. Kayak ada orang narik napas. tik...tik.. Dari arah cermin. Keempatnya langsung saling pandang. Tio langsung nyamperin saklar. "Keluar. Sekarang."
_Klik._
Lampu kamar mati. Gelap gulita. Cuma sisa cahaya kuning dari lorong yang nyusup lewat celah pintu utama. Lima orang diem di tempat. Napas mereka kedengeran semua.
"Jangan...! jangan nyalain dulu," bisik Wulan. Suaranya ketahan tangis. "Takut."
Tio nggak jawab. Tangannya masih di saklar. Tapi dia nggak neken. Matanya ngarah ke kamar mandi._Tik... tik..._ Bukan suara air. Lebih kayak kuku yang ngetok pelan di kaca. Tiga kali. Berenti. Tiga kali lagi.
Anya langsung nutup mulut. Bahunya kejang. Serra langsung narik Anya ke belakang punggungnya. "Nya....! dengar nggak?" bisik Serra. Dagunya gemetar.
Anya ngangguk pelan."Itu...itu suara yang sama. Pas aku di shower kemarin."
Tari tiba-tiba merapat ke Wulan. "Gimana kalau kita keluar aja dulu? Manggil Bu Kos?"
"Terus ninggalin dia di sini?" Tio nimpalin. Dagunya nunjuk ke Anya. "Kalau dia ngikutin Anya keluar gimana?"
Hening lagi. _Sreeet..._ Kali ini jelas. Suara jari ditarik di kaca. Dari atas ke bawah. Pas di bawah tulisan
*"JANGAN TINGGALIN AKU LAGI, NYA"*
Muncul tulisan baru. Pelan-pelan. Kayak ada yang nulis dari balik kaca.
*"...AKU SENDIRIAN"*
Anya langsung terisak. "Aku nggak kenal kamu! Lepasin aku!"
Begitu Anya ngomong, lampu kamar kedip dua kali. _Kretek. Kretek._ Terus nyala lagi. Silau.
Di dalam cermin wastafel. Tidak ada siapa-siapa. Cuma ada lima bayangan mereka. Dan tulisan uap itu. Tapi air di lantai kamar mandi sekarang basah. Setetes. Dua tetes. Ngebentuk jejak kaki kecil. Basah. Dari dalam kamar mandi menuju keluar. Berhenti pas di depan kaki Anya.
Wulan langsung menjerit kecil. "Nya mundur!"
Serra narik Anya mundur tiga langkah. "Udah. Kita keluar sekarang. Bareng."
Tio yang paling depan udah pegang gagang pintu utama. Tangannya berkeringat. Sebelum dia buka, ada suara lagi. Kali ini bukan dari kamar mandi. Dari belakang mereka. Pelan. Tepat di telinga Anya.
*"Jangan pergi... temenin aku..."*
Anya langsung nengok. Kosong. Cuma kasur. Tapi jaket denim Serra yang dia pegang dari tadi. ujungnya basah. Dingin. Kayak habis dicelup air.
"KELUAR SEKARANG." bentak Tio.
Pintu kebuka. Mereka berlima langsung nyerbu keluar ke lorong. Nggak ada yang nengok belakang. Dari dalam kamar, lampu belajar yang tadi nyala paling terang... tiba-tiba mati.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?