NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Tarian Tiga Elemen dan Duel Melawan Mantan Kesatria

Hawa gersang di bukit kapur itu mendadak mati. Angin yang tadinya berembus kencang seolah tertahan oleh tekanan energi masif yang keluar dari bilah pedang baja di genggaman Askara. Kilatan listrik biru, kobaran api merah murni, dan kabut hitam kutukan yang menyelimuti pedang itu berderit dan berdesis, menciptakan harmoni kehancuran yang mengerikan.

"Jangan gentar! Dia pasti hanya menggertak! Tidak ada manusia yang bisa mengendalikan tiga sihir sekaligus tanpa wadah mana!" teriak sang kapten perampok, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayap di sanubari anak buahnya. "Serang bersamaan! Hancurkan dia!"

Mendengar perintah tersebut, tujuh orang perampok Gagak Merah sisa barisan depan dan samping secara serentak menerjang maju. Mereka melompat dari berbagai arah, mengayunkan pedang-pedang sihir mereka dengan kombinasi tebasan silang yang rapi, berniat mengunci ruang gerak Askara agar tidak bisa menghindar seperti sebelumnya.

Namun, mereka melakukan kesalahan besar. Mereka mengira Askara hanyalah seorang amatir yang baru memegang senjata.

Sebelum Askara menemukan kemampuan unik tubuhnya untuk menyerap sihir, ia telah menghabiskan masa kecil dan remajanya dengan berlatih pedang secara ekstrem di bawah tekanan dan siksaan emosional keluarganya. Bagi Askara, pedang bukanlah hal baru; benda itu adalah perpanjangan dari tangan dan tekadnya sendiri. Latihan fisik murninya selama bertahun-tahun telah menanamkan memori otot yang luar biasa presisi mengenai bagaimana cara menebas, menangkis, dan menusuk dengan efisiensi tertinggi. Kini, dengan adanya energi sihir yang mengalir di bilah senjatanya, kemampuan berpedang Askara melonjak ke tingkat yang belum pernah ia capai sebelumnya.

Syuuutt!

Askara bergerak seperti bayangan hitam yang meliuk di antara celah angin. Dengan satu gerakan kaki yang lincah, ia merendahkan tubuhnya, membiarkan tiga tebasan pedang musuh melesat kosong di atas kepalanya. Di saat yang sama, ia memutar pedang peraknya dalam satu ayunan horizontal melingkar yang sangat cepat.

CRASH! BOOM!

Bilah pedang Askara yang dialiri sihir api dan petir bergesekan dengan zirah ringan para perampok. Ledakan elemen gabungan itu seketika menghancurkan pelindung besi mereka, melontarkan tiga orang perampok hingga menghantam dinding tebing kapur dengan luka bakar dan sengatan listrik yang parah.

Dua perampok lainnya mencoba menusuk Askara dari arah belakang. Namun, tanpa perlu menoleh, Askara memutar poros tubuhnya menggunakan satu kaki, menangkis kedua bilah pedang musuh dengan satu entakan keras. Kontak antar senjata itu memicu sihir kegelapan murni dari pedang Askara merayap, mengikis, dan memadamkan sirkulasi mana yang ada pada pedang musuh dalam hitungan detik.

"A-apa?! Sihir pedangku padam?!" teriak perampok itu panik.

Sebelum rasa syok mereka mereda, Askara melepaskan dua tendangan cepat ke dada mereka, disusul dengan tebasan tumpul menggunakan punggung pedang yang dilapisi petir biru ke arah leher mereka. Ctar! Keduanya langsung tumbang ke tanah, kejang-kejang akibat sengatan listrik murni sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Hanya dalam beberapa pertukaran gerakan yang sangat efisien dan lincah, sebagian besar pasukan perampok Gagak Merah telah dikalahkan dengan mudah. Askara berdiri tegak di tengah medan pertempuran, jubah hitamnya bahkan tidak tersentuh oleh satu pun senjata musuh.

Harun yang menyaksikan tarian maut berpedang dari Askara hanya bisa memegangi kepalanya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar di atas kursi kereta. "Luar biasa... Dia bukan sekadar penyihir aneh. Gaya berpedangnya... itu adalah teknik seorang master!" gumam Harun penuh kekaguman yang teramat sangat.

Kini, area jalan setapak yang sempit itu menyisakan kepulan asap, tubuh-tubuh yang terkapar, dan satu sosok yang berdiri di barisan paling belakang: sang Kapten Perampok.

Melihat seluruh anak buahnya tumbang dalam sekejap, kapten perampok itu menarik napas panjang. Ekspresi panik di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan dingin dan fokus yang tajam dari seorang petarung veteran. Ia melepaskan jubah merah luarnya, memperlihatkan zirah besi berkualitas tinggi milik Kesatria Kerajaan yang sengaja dihapus lambang resminya. Ia adalah seorang mantan kesatria yang membelot menjadi buronan.

"Aku akui, aku telah meremehkanmu, Pengelana Muda," ucap sang kapten dengan suara yang berat dan stabil, menggenggam pedang panjangnya dengan kedua tangan.

Kuda-kuda bertarungnya berubah menjadi sangat kokoh, tanpa ada celah sedikit pun. "Kemampuanmu berpedang dan mengombinasikan elemen memang mengerikan. Tapi, jangan samakan aku dengan para kroco amatir itu. Aku telah melewati ratusan pertempuran berdarah di medan perang kerajaan.

Pengalaman bertarung satu lawan satu bukanlah sesuatu yang bisa kau kalahkan hanya dengan bakat murni!"

Askara mengangkat pedangnya, mensejajarkannya dengan garis matanya. "Pengalamanmu di masa lalu tidak akan mengubah akhir dari pertarungan ini, Kapten," jawab Askara dingin.

Wusss!

Sang kapten menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa. Berbeda dengan anak buahnya yang serangannya mudah dibaca, gerakan mantan kesatria ini sangat rapi. Ia mengayunkan pedangnya yang dialiri sihir angin tingkat tinggi, menciptakan tebasan tak terlihat yang sanggup membelah batu.

TRANG! TRANG! TRANG!

Suara benturan besi yang memekakkan telinga bergaung beruntun di antara dinding tebing. Askara terpaksa mundur beberapa langkah karena tekanan fisik dan teknik bertarung sang kapten yang sangat matang. Setiap kali pedang mereka berbenturan, kapten perampok itu selalu berhasil menggeser sudut pedang Askara untuk menetralisir ledakan elemen api dan petirnya menggunakan pusaran angin di bilah senjatanya sendiri.

"Hahaha! Ada apa, Bocah?! Ke mana kelincahanmu yang tadi?!" seru sang kapten sembari melepaskan tusukan cepat yang mengincar jantung Askara.

Askara memiringkan tubuhnya, membiarkan bilah pedang musuh melewatinya, lalu membalas dengan hantaman siku ke arah wajah sang kapten. Namun, sang kapten dengan sigap mengangkat pelindung lengannya untuk menahan serangan Askara, lalu menggunakan lututnya untuk menyerang perut Askara.

Bugh!

Askara menahan hantaman lutut tersebut dengan tangan kirinya, namun momentum fisik sang mantan kesatria membuatnya terdorong mundur sejauh dua meter. Duel satu lawan satu ini berjalan dengan sangat sengit dan seimbang. Kemampuan bertarung sang kapten perampok memang tidak bisa dianggap remeh; akurasi serangannya, pembacaan langkah kaki, dan efisiensi energinya benar-benar mencerminkan statusnya sebagai mantan kesatria elit kerajaan.

Askara berdiri diam, menstabilkan napasnya. Alih-alih merasa tertekan karena sempat terdesak, sepasang mata di balik tudung hitam itu justru berkilat penuh kegembiraan. Ini adalah duel fisik dan teknik yang selama ini ia cari—sebuah ujian nyata untuk mengukur sejauh mana kemampuannya berpedang setelah dipadukan dengan energi sihir serapan di dalam tubuh fisiknya.

"Sihir anginmu cukup merepotkan untuk ditembus," ucap Askara sembari mengencangkan genggamannya pada gagang pedang perak. "Tapi, pertahananmu tidak akan bertahan di putaran berikutnya."

Kapten perampok itu mendengus kasar, meskipun di dalam hatinya ia mulai merasa cemas melihat stamina fisik Askara yang seolah tidak memiliki batas. "Jangan banyak bicara, Bocah! Mari kita lihat siapa yang akan tumbang lebih dulu di bukit ini!" meraung sang kapten, kembali mengangkat pedangnya dan bersiap meluncurkan rangkaian teknik serangan pamungkas kesatrianya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!