NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 : Astaga?

Aurora masih mengusap pelipisnya sambil menghela napas panjang. "Ya ampun... pria itu benar-benar mengatur semuanya sampai ke dokter..."

Isabel terkekeh pelan. "Kalau menyangkut kesehatan seseorang yang berada di bawah perlindungannya, Don Muda memang tidak pernah main-main."

Aurora mendesah. "Aku mulai percaya itu."

Dokter Ethan tersenyum ramah. "Tenang saja, Nona. Pemeriksaannya tidak akan lama."

Aurora akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah... daripada nanti Don Adrian tahu aku menolak."

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju sebuah bangunan dua lantai yang berada di sisi timur mansion. Bangunannya tidak sebesar rumah utama, tetapi terlihat sangat modern dengan dinding kaca dan taman kecil di depannya.

Di atas pintu masuk terpasang lambang keluarga Moretti berwarna emas.

Aurora kembali tertegun. "Ini klinik?"

Dokter Ethan mengangguk. "Benar."

Aurora memandang bangunan itu dari atas hingga bawah. "Kalau tidak diberi tahu... aku pasti mengira ini rumah sakit swasta."

Dokter Ethan tersenyum geli. "Peralatannya memang hampir setara dengan rumah sakit."

Aurora spontan menoleh. "Hampir?"

"Ya, di sini tersedia ruang pemeriksaan, laboratorium kecil, ruang observasi, hingga ruang operasi darurat."

Aurora membelalakkan mata. "Ruang operasi juga ada?"

Isabel mengangguk. "Semua disiapkan untuk keadaan darurat keluarga Moretti."

Aurora hanya bisa menggeleng pelan. "Astaga..."

Isabel tertawa kecil. "Sepertinya Don Besar benar."

Aurora menoleh. "Benar apa?"

"Kalau Anda akan sering mengatakan kata 'astaga'."

Aurora langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Jangan-jangan nanti itu jadi kebiasaanku."

Ketiganya pun tertawa pelan.

Sesampainya di dalam klinik, Aurora kembali dibuat kagum. Ruangan itu sangat bersih dengan aroma antiseptik yang lembut. Lantai putih mengkilap memantulkan cahaya lampu, sementara berbagai peralatan medis modern tersusun rapi di setiap ruangan.

Beberapa perawat yang mengenakan seragam putih segera membungkukkan badan ketika melihat Dokter Ethan.

"Selamat pagi, Dokter."

"Pagi."

Dokter Ethan kemudian memperkenalkan Aurora. "Mulai hari ini Nona Aurora akan berada di mansion. Tolong bantu kalau suatu saat beliau membutuhkan sesuatu."

"Baik, Dokter."

Aurora langsung melambaikan kedua tangannya. "Tidak usah terlalu formal. Panggil saja Aurora."

Para perawat saling berpandangan sebelum tersenyum. "Baik... Aurora."

Aurora tersenyum canggung. "Setidaknya itu lebih baik."

Dokter Ethan kemudian membuka pintu ruang pemeriksaan. "Silahkan masuk."

Aurora duduk di kursi pemeriksaan.

Dokter Ethan mengenakan sarung tangan medis lalu menyalakan lampu kecil untuk memeriksa wajah Aurora.

"Boleh saya melihat pipi Anda?"

Aurora mengangguk pelan.

Dokter Ethan mengamati bekas tamparan yang kini hanya menyisakan semburat kemerahan. "Hm..."

Aurora mulai gugup. "Parah ya, Dok?"

Dokter Ethan menggeleng. "Justru sebaliknya." Ia tersenyum puas. "Lukanya sembuh jauh lebih cepat dari yang saya perkirakan."

Aurora menghela napas lega. "Syukurlah."

"Salep yang saya berikan cocok dengan kulit Anda."

Ia lalu memeriksa pergelangan tangan Aurora yang sebelumnya sempat memar akibat dicengkeram para rentenir. "Memarnya juga mulai menghilang."

Aurora memperhatikan wajah dokter itu. "Jadi... saya tidak apa-apa?"

Dokter Ethan mengangguk. "Anda hanya perlu istirahat yang cukup dan makan teratur."

Aurora langsung terkekeh kecil. "Kalau soal makan... sepertinya Don Adrian sudah memastikan itu."

Dokter Ethan ikut tertawa. "Itu benar." Ia kemudian menutup map pemeriksaan. "Saya akan melaporkan hasil pemeriksaan ini kepada Don Adrian."

Senyum Aurora langsung menghilang. "Hah?"

Dokter Ethan tampak heran. "Kenapa?"

Aurora memijat dahinya lagi. "Berarti... nanti dia akan tahu kalau saya diperiksa hari ini?"

"Tentu."

Aurora mengembuskan napas panjang. "Entah kenapa... rasanya seperti setiap kegiatanku pasti akan sampai ke telinganya."

Isabel tersenyum geli. "Bukan hanya perasaan, Aurora."

Aurora menoleh. "Maksud Kak Isabel?"

Isabel menjawab tenang. "Karena memang begitu."

Aurora hanya bisa menatap langit-langit ruangan sambil menggeleng pasrah. "Ya Tuhan... apakah pria itu punya seratus pasang mata?"

Isabel tersenyum sambil menggeleng pelan. "Bukan seratus pasang mata."

Aurora menoleh penasaran. "Lalu?"

"Don Muda hanya memiliki banyak orang yang bisa dipercaya."

Dokter Ethan menambahkan sambil tersenyum. "Semua orang di mansion ini akan langsung melaporkan hal-hal penting kepada beliau."

Aurora menghela napas panjang. "Berarti... benar-benar tidak ada rahasia."

"Kalau menyangkut keselamatan Anda," jawab Dokter Ethan, "tidak."

Aurora hanya bisa pasrah. "Baiklah... mulai sekarang saya harus membiasakan diri."

Dokter Ethan kemudian melepas sarung tangannya. "Kalau begitu pemeriksaannya selesai."

Aurora segera berdiri dari kursinya. "Terima kasih, Dok."

"Sama-sama."

Saat mereka hendak keluar dari ruang pemeriksaan, seorang perawat muda tiba-tiba berlari kecil menghampiri Dokter Ethan.

"Dokter!"

Ethan langsung menoleh. "Ada apa?"

Perawat itu menyerahkan sebuah tablet. "Baru saja ada panggilan dari markas."

Mendengar kata markas, Aurora tanpa sadar ikut memperhatikan. Dokter Ethan membaca laporan di layar tablet selama beberapa detik. Ekspresinya yang semula santai berubah sedikit serius.

"Saya mengerti." Ia mengembalikan tablet itu. "Tolong siapkan ruang operasi dan hubungi seluruh tim bedah."

"Baik, Dokter."

Perawat itu segera berlari pergi.

Aurora mengernyit. "Ada apa, Dok?"

Dokter Ethan menghela napas pelan. "Beberapa anggota keamanan keluarga Moretti terluka saat menjalankan tugas."

Aurora langsung terdiam. "Luka parah?"

"Cukup serius."

Isabel pun ikut berubah serius. "Apakah Don Muda juga ada di sana?"

Dokter Ethan menggeleng. "Tidak."

Mendengar jawaban itu, tanpa sadar Aurora mengembuskan napas lega. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Isabel maupun Dokter Ethan. Keduanya saling berpandangan sekilas, tetapi memilih tidak mengatakan apa pun.

Aurora baru menyadari reaksinya sendiri. "E-eh... maksudku..." Ia menjadi salah tingkah. "Aku hanya... ya... karena dia yang menyuruhku ke sini."

Dokter Ethan tersenyum tipis. "Saya mengerti."

Aurora menggaruk pipinya dengan malu. "Semoga orang-orang yang terluka itu baik-baik saja."

"Mereka akan mendapat penanganan terbaik." Dokter Ethan menoleh kepada Isabel. "Maaf, Nona Isabel. Saya harus segera bekerja."

"Tentu, Dokter."

Sebelum pergi, Dokter Ethan sempat menoleh kepada Aurora. "Jangan lupa mengoleskan salep dua kali sehari."

Aurora mengangguk. "Baik, Dok."

Dokter Ethan pun berjalan cepat menuju ruang operasi. Koridor klinik kembali tenang. Aurora memandang ke arah ruang operasi yang pintunya mulai tertutup.

"Berarti... kehidupan keluarga Moretti memang seperti ini, ya?"

Isabel mengangguk pelan. "Tidak semua yang terlihat mewah berarti hidupnya tenang."

Aurora menundukkan pandangannya. "Semalam dikejar rentenir... pagi ini mendengar ada orang yang terluka." Ia menghela napas. "Dunia mereka benar-benar berbeda."

Isabel tersenyum tipis. "Karena itulah Don Muda selalu menempatkan keselamatan orang-orang di sekitarnya sebagai prioritas."

Aurora terdiam beberapa saat, kini ia mulai sedikit memahami mengapa Adrian selalu terlihat dingin, tegas, dan ingin mengatur segalanya. Mungkin... bukan karena ia suka memerintah. Melainkan karena setiap keputusan yang terlambat bisa membuat seseorang kehilangan nyawanya.

Aurora mengangkat kepalanya perlahan. "Ayo, Kak Isabel."

Isabel tersenyum. "Mau ke mana?"

Aurora membalas senyum kecil. "Kau tadi bilang ingin memperlihatkan seluruh mansion kepadaku, kan? Aku ingin belajar dengan sungguh-sungguh."

Isabel mengangguk puas. "Kalau begitu... sekarang kita ke perpustakaan keluarga Moretti."

Aurora berkedip. "Perpustakaan?"

Isabel tersenyum penuh arti. "Perpustakaan yang berisi lebih dari lima puluh ribu buku."

Aurora spontan menepuk dahinya pelan. "Astaga..."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!