PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Ruangan server kembali sunyi.
Suara dengungan komputer yang tadi memenuhi ruangan kini benar-benar lenyap.
Mahendra masih menatap layar hitam di hadapannya.
Rahangnya mengeras.
"Dia sengaja memancing kita."
Ergan mengangguk pelan.
"Victor ingin kita datang ke Pulau Arkan."
"Tapi aku tidak yakin itu jebakan... atau memang satu-satunya jalan."
Eiri berdiri mematung.
Pikirannya dipenuhi ucapan Victor.
"Orang yang membuatmu kehilangan ingatan... bukan aku."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Jika bukan Victor...
Lalu siapa?
"Tuan."
Salah seorang teknisi memecah keheningan.
"Ada satu perangkat yang belum terhubung ke sistem utama."
Mahendra segera menoleh.
"Di mana?"
Teknisi menunjuk sebuah komputer kecil yang tersembunyi di balik lemari besi.
"Sepertinya komputer ini menggunakan jaringan yang berbeda."
Mahendra mendekatinya.
Debu tebal menutupi permukaannya.
Ergan membantu membersihkannya.
Saat tombol daya ditekan...
Komputer itu menyala jauh lebih cepat dibanding perangkat lainnya.
Di layarnya hanya muncul satu kolom.
Masukkan kata sandi.
Ergan mencoba beberapa kombinasi.
EDEN.
Salah.
SUBJEKE.
Salah.
HANZEL.
Salah.
Mahendra terdiam beberapa saat.
Tatapannya jatuh pada foto lama yang masih digenggam Eiri.
Di belakang foto itu tertulis...
17 Agustus 2004.
"Coba masukkan tanggal itu."
Teknisi segera mengetik.
17082004
Layar tetap menolak.
"Aneh..."
Mahendra kembali berpikir.
Eiri memperhatikan foto itu lebih saksama.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
"Tunggu..."
"Di bawah tulisan tanggal..."
"Ada satu huruf yang hampir hilang."
Mahendra mengambil foto itu.
Setelah diterangi senter, terlihat sebuah kata yang nyaris tak terbaca.
LUNA.
"Luna?"
Ergan mengernyit.
"Siapa Luna?"
Eiri menggeleng.
"Aku... tidak ingat."
Mahendra menatap layar.
"Coba."
Teknisi mengetik.
LUNA
Beberapa detik...
Lalu terdengar suara pelan.
Akses diterima.
Semua orang saling berpandangan.
Layar perlahan menampilkan sebuah folder.
Isinya hanya satu dokumen.
DAFTAR PENGAWAS PROYEK EDEN
Mahendra langsung membukanya.
Di dalamnya terdapat belasan nama.
Sebagian diberi tanda silang merah.
Dr. Adrian Hanzel — Meninggal.
Dr. Samuel Roderick — Meninggal.
Dr. Felix Rowan — Hilang.
Victor Hanzel — Aktif.
Mahendra terus menggulir daftar itu.
Hingga matanya berhenti pada satu nama.
Dr. Arka Pradana — Status: Tidak Diketahui.
Di samping nama itu terdapat catatan kecil.
> Pemegang seluruh data asli Proyek EDEN. Menghilang setelah Insiden Pulau Arkan.
Ergan membacanya pelan.
"Insiden Pulau Arkan..."
"Berarti semua benar-benar berawal dari sana."
Belum sempat mereka berdiskusi lebih jauh...
Brak!
Pintu ruang server terbuka keras.
Seorang anggota tim berlari masuk dengan napas terengah-engah.
"Tuan Mahendra!"
"Kami menemukan seseorang!"
Mahendra langsung berdiri.
"Siapa?"
"Dia terluka."
"Dan terus menyebut nama Nona Eiri."
Jantung Eiri langsung berdegup kencang.
"Namaku?"
"Di mana dia?"
"Di lorong utara."
Tanpa menunggu lagi, Mahendra, Eiri, Ergan, dan beberapa anggota tim segera berlari menuju lorong tersebut.
Di ujung lorong...
Seorang pria paruh baya terbaring bersandar di dinding.
Pakaiannya penuh darah.
Napasnya tersengal.
Saat melihat Eiri...
Matanya perlahan terbuka.
"Eiri..."
Suaranya sangat lemah.
Eiri berlutut di sampingnya.
"Anda siapa?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Akhirnya..."
"...aku berhasil menemukanmu."
Mahendra tetap waspada.
"Tolong sebutkan identitasmu."
Pria itu batuk hingga darah keluar dari sudut bibirnya.
"Aku..."
"...mantan peneliti Proyek EDEN."
Semua orang membeku.
"Aku bekerja..."
"...bersama ayahmu."
Ucapan itu membuat mata Eiri membelalak.
Pria itu menggenggam tangan Eiri dengan sisa tenaganya.
"Dengarkan baik-baik..."
"Jangan pernah..."
"...percaya pada orang yang memakai nama keluarga..."
Kalimatnya terputus.
Dari kejauhan...
Terdengar suara tembakan.
Dor!
Peluru menembus dada pria itu.
Tubuhnya langsung terhempas.
"Sniper!"
teriak Ergan.
"Semua berlindung!"
Mahendra refleks menarik Eiri ke balik pilar beton.
Anak buah Ergan segera menyisir arah datangnya tembakan.
Namun...
Di atap gedung yang berjarak ratusan meter...
Sesosok penembak jitu sudah melompat ke dalam helikopter hitam yang langsung terbang meninggalkan lokasi.
Pria yang tertembak itu masih bernapas.
Dengan susah payah ia menyelipkan sebuah kartu memori kecil ke tangan Eiri.
"Simpan..."
"Jangan..."
"...biarkan Victor mendapatkannya..."
Setelah mengucapkan kalimat itu...
Tangannya terkulai lemas.
Dan monitor detak jantung portabel yang dibawa tim medis...
Mengeluarkan bunyi panjang.
Biiiiiiit...
Biiiiiiit...
Suara alat pemantau jantung memecah kesunyian lorong.
Tim medis yang dibawa Ergan segera melakukan tindakan darurat.
"Jauhkan semua orang!"
"Satu... dua... tiga!"
Seorang petugas melakukan kompresi dada.
Petugas lainnya menyiapkan alat kejut jantung.
Bzztt!
Tubuh pria itu terangkat sesaat.
Namun monitor tetap menunjukkan garis lurus.
"Belum ada respons!"
"Ulangi!"
Bzztt!
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya...
Monitor kembali menunjukkan denyut jantung yang sangat lemah.
"Berdebar!"
"Dia masih hidup!"
Semua orang mengembuskan napas lega.
Mahendra segera berlutut di samping pria itu.
"Siapa namamu?"
Pria itu membuka matanya perlahan.
"B... Bram..."
"Aku... Bram Wicaksana..."
"Peneliti..."
"...Divisi Memori..."
Eiri menggenggam tangan pria itu.
"Tolong..."
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Bram menggeleng pelan.
"Aku..."
"...tidak punya banyak waktu."
Tatapannya beralih kepada kartu memori yang kini berada di tangan Eiri.
"Di dalam..."
"...semuanya ada..."
"Data asli..."
"Proyek EDEN..."
Mahendra segera mengambil kartu memori itu.
"Kalau begitu kita buka sekarang."
Bram langsung menggenggam lengan Mahendra dengan sisa tenaganya.
"Jangan..."
"Bukan di sini..."
"Mereka..."
"...masih mengawasi..."
Mahendra mengangkat kepala.
Tatapannya menyapu lorong.
Benar saja.
Di salah satu sudut langit-langit...
Masih terpasang kamera pengawas kecil yang nyaris tak terlihat.
Ergan mengangkat pistol.
Dor!
Kamera itu hancur berkeping-keping.
"Cek seluruh area!"
"Pastikan tidak ada kamera lain!"
Puluhan anggota tim segera menyebar.
Sementara itu...
Di sebuah gedung tinggi di pusat kota.
Victor Hanzel memandangi layar yang tiba-tiba berubah menjadi gelap.
Senyumnya memudar.
"Mereka menemukan Bram."
Darius menundukkan kepala.
"Haruskah kita menghabisinya sekarang?"
Victor berdiri.
"Tidak."
"Dia sudah terlalu lemah."
"Yang lebih penting..."
"...adalah kartu memorinya."
Victor mengambil jasnya.
"Siapkan tim."
"Kita akan mendapatkannya malam ini."
---
Kembali di laboratorium.
Bram mulai berbicara dengan suara lirih.
"Dengar..."
"Proyek EDEN..."
"...bukan hanya eksperimen menghapus ingatan."
Mahendra memperhatikan setiap kata.
"Itu juga..."
"...proyek pencarian."
"Pencarian?"
Bram mengangguk pelan.
"Mereka..."
"...mencari seorang anak."
Eiri mengernyit.
"Anak siapa?"
Bram menatap wajah Eiri cukup lama.
Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya.
"Anak itu..."
"...adalah kamu."
Tubuh Eiri membeku.
"Aku?"
"Kenapa aku?"
Bram tersenyum tipis.
"Karena..."
"Sebelum kamu lahir..."
"Ayahmu menemukan sesuatu..."
"Sesuatu yang seharusnya..."
"...tidak pernah ditemukan."
Mahendra langsung bertanya,
"Apa yang ditemukan ayah Eiri?"
Namun sebelum Bram sempat menjawab...
Ponsel Mahendra berdering.
Layar menunjukkan nama yang membuat wajahnya berubah serius.
RIVAN
Mahendra segera mengangkat panggilan itu.
"Halo."
Suara Rivan terdengar tergesa-gesa.
"Mahendra, dengarkan aku baik-baik."
"Kalian harus segera keluar dari sana."
Mahendra mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena..."
"Ada pasukan bersenjata menuju lokasi kalian."
"Mereka bukan anak buah Victor."
"Mereka jauh lebih berbahaya."
Mahendra langsung berdiri.
"Siapa mereka?"
Beberapa detik...
Tak ada jawaban.
Lalu Rivan berkata pelan,
"Mereka adalah organisasi yang mendanai Proyek EDEN."
"Mereka menyebut diri mereka..."
"THE ECLIPSE."
Belum sempat Mahendra bertanya lagi...
Dari luar gedung terdengar suara baling-baling helikopter.
Wusshhh...
Kemudian...
Puluhan sinar laser merah muncul di jendela laboratorium.
Mengarah tepat ke Mahendra, Eiri, Ergan, dan Bram.
Ergan langsung berteriak,
"Semua tiarap!"
DOR! DOR! DOR!
Rentetan tembakan memecahkan kaca laboratorium.
Perang yang sebenarnya...
Akhirnya dimulai.