NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Di atas tanah yang basah oleh embun, tiga sesosok mayat tergeletak kaku. Bau anyir darah yang hangat mulai menguar di udara, mengundang dengung lalat dan kepakan sayap burung gagak yang mengintai dari kejauhan.

Jangkrik masih berdiri terpaku, memandangi tubuh-tubuh tanpa nyawa itu tanpa berkedip. Ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan secara langsung pertarungan hidup dan mati antara para pendekar. Tidak ada jurus-jurus indah yang memanjakan mata, tidak ada pula teriakan panjang yang mengguncang nyali. Yang ada hanyalah beberapa gerakan sederhana, dingin, dan mematikan.

Sang Warok menyarungkan kembali golok besarnya yang bersimbah darah, lalu melangkah menghampiri mayat pria tertua. Ia berjongkok, dengan tenang menggeledah pakaian korban.

Jangkrik mengernyitkan dahi. "Sedang apa kau?"

"Mencari jawaban."

Tangan kekar Sang Warok mengeluarkan sebuah kantong kain kecil dari balik sabuk kulit pria itu. Isinya tidak banyak—hanya beberapa keping uang logam, sepotong kertas lusuh yang telah ternoda darah, dan sebuah kepingan tembaga berbentuk segitiga.

Seketika itu juga, tatapan Sang Warok berubah menajam. "Hm..."

Jangkrik ikut melangkah mendekat, rasa ingin tahunya terusik. "Itu apa?"

Sang Warok mengangkat kepingan tembaga itu ke arah berkas cahaya matahari yang menerobos celah dedaunan. Di permukaannya yang mulai berkarat, terukir dengan rapi gambar seekor burung garuda dengan tiga garis melintang di bawahnya.

"Sebuah lambang."

"Lambang siapa?"

Sang Warok tidak langsung menjawab. Dengan gerakan cepat, ia justru memasukkan kepingan segitiga itu ke dalam sakunya sendiri. "Bukan urusanmu."

Jangkrik mendengus kesal. "Lagi-lagi begitu."

Sang Warok bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di celananya. "Semakin sedikit yang kau tahu di dunia ini, akan semakin panjang umurmu."

"Tapi aku muridmu!"

"Justru karena itulah kau tidak perlu tahu," sahut Sang Warok dingin sembari memandang jauh ke dalam kelebatan hutan. "Ada orang-orang di luar sana yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar gerombolan perampok."

Jangkrik mengikuti arah pandang gurunya. "Lebih berbahaya darimu?"

Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajah keras Sang Warok. "Ada."

Jawaban singkat itu entah mengapa sanggup membuat bulu kuduk Jangkrik berdiri seketika. Selama ini, ia mengira gurunya adalah monster terkuat yang ada di kolong langit. Namun ternyata... masih ada orang lain yang kekuatannya bahkan diakui berbahaya oleh seorang Warok.

Tang!

Sang Warok mendadak menendang salah satu golok milik ketiga pria yang tewas tadi. Senjata itu meluncur di tanah dan jatuh tepat di depan kaki Jangkrik.

"Ambil."

Jangkrik memungutnya. Golok itu berukuran lebih pendek dan ringan jika dibandingkan dengan milik Sang Warok, tetapi kualitas besinya jauh lebih baik daripada pisau dapur yang selama ini ia gunakan untuk latihan.

"Mulai hari ini, itu senjatamu."

Jangkrik mengusap bilah golok yang dingin dengan ibu jarinya. "Hadiah?"

Sang Warok mendendang tawa remeh. "Pinjaman. Kalau kau mati di tangan orang lain, senjata itu akan kuambil lagi."

Jangkrik tersenyum tipis, membalas tatapan gurunya. "Bagaimana kalau aku yang berhasil membunuhmu nanti?"

"Kalau hari itu benar-benar tiba..." Sang Warok menatap lurus ke dalam manik mata muridnya, "...maka seluruh duniaku dan apa yang kupunya akan menjadi milikmu."

Jangkrik mengangguk pelan, menyelipkan golok itu ke pinggangnya. "Kalau begitu, akan kujaga baik-baik besi ini."

Sang Warok berbalik, melangkah meninggalkan area berdarah tersebut. "Ayo. Kita pulang."

Mereka baru berjalan beberapa puluh langkah ketika Jangkrik mendadak menghentikan kakinya. "Warok."

"Apa lagi?"

"Mayat mereka..." Jangkrik menoleh ke belakang.

"Kenapa dengan mereka?"

"Tidak dikubur?"

Sang Warok melirik sekilas dari balik bahunya. "Tidak."

"Kenapa?"

"Karena hutan ini juga butuh makan."

Jangkrik terdiam, menelan sisa pertanyaannya.

Sang Warok kembali melanjutkan langkahnya. "Dalam dunia persilatan, tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan liang kubur."

Perjalanan pulang ke gubuk berlangsung dalam kesunyian yang pekat. Gelang Baja Wulung yang melingkar di kedua pergelangan tangan Jangkrik membuat setiap langkahnya terasa amat berat membebani bumi. Namun kali ini, keberadaan golok pendek yang terselip di pinggangnya memberikan sensasi yang berbeda. Ada rasa percaya diri yang mulai tumbuh—seolah-olah ia benar-benar telah menapakkan kaki sebagai seorang pendekar.

Saat jarak mereka sudah semakin dekat dengan gubuk... Sang Warok tiba-tiba berhenti.

"Ada apa?" bisik Jangkrik waspada.

Sang Warok mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Jangkrik menutup mulut. Hidung pria tua itu mengendus udara pelan seolah menangkap sekelebat aroma. "Lima orang."

Jangkrik secara refleks langsung mencengkeram erat gagang golok pendeknya. "Musuh lagi?"

Sang Warok menggeleng. "Bukan. Hanya pemburu lokal."

Benar saja, tak lama kemudian, lima orang pria berpakaian kumal keluar dari balik semak-semak pepohonan sambil memikul seekor rusa jantan hasil buruan. Namun, begitu mata mereka menangkap sosok Sang Warok yang berdiri di tengah jalan, wajah kelima pemburu itu seketika berubah pucat pasi bagai kehilangan darah.

"Wa-Warok..." ucap salah satu dari mereka dengan suara bergetar.

Mereka buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam, penuh rasa hormat yang bercampur ketakutan yang amat sangat.

Sang Warok hanya mengangguk datar. "Silakan lewat."

Tak seorang pun dari kelima pemburu itu yang berani mengangkat wajah atau sekadar menatap mata Sang Warok. Mereka mempercepat langkah kaki mereka, setengah berlari, hingga sosok mereka benar-benar menghilang di balik kerimbunan hutan.

Jangkrik memperhatikan seluruh kejadian itu dengan dahi mengernyit heran. "Warok."

"Hm?"

"Kenapa mereka tampak begitu takut padamu?"

Sang Warok menjawab dengan suara yang teramat lempeng. "Karena mereka tahu cara menghargai nyawa dan ingin tetap hidup."

Jawaban itu terdengar sangat datar, tanpa ada nada kesombongan atau kecongkakan di dalamnya. Namun, justru ketenangan itulah yang membuat Jangkrik menyadari betapa besarnya nama dan wibawa Sang Warok di seantero wilayah Pegunungan Sewu.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Jangkrik kembali menanam sebuah janji yang suci.

"Suatu hari nanti... orang-orang juga akan gemetar dan berlutut ketika mendengar namaku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!