Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru yang Bersinar
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse yang megah, membawa kehangatan yang berbeda hari itu. Bagi Mentari, ini adalah pagi pertama dalam sembilan tahun terakhir di mana ia terbangun tanpa rasa sesak di dada. Beban berat berupa rahasia masa lalu, ancaman dari keluarga Bramantyo, serta teror yang sempat menghantuinya, telah runtuh seluruhnya.
Mentari mengerjapkan mata, menyesuaikan diri dengan terangnya ruangan. Ketika ia menoleh ke samping, ranjang berukuran king size itu sudah kosong. Namun, aroma maskulin khas kayu cendana milik Devan masih tertinggal samar di atas bantal.
Dengan langkah perlahan, Mentari bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah keluar kamar menuju koridor lantai dua yang menghadap langsung ke ruang tengah di lantai bawah. Dari atas sana, ia bisa melihat Devan sedang berdiri di dekat meja makan marmer. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, tengah menuangkan kopi ke dalam cangkir. Tidak ada lagi aura dingin nan kejam yang kemarin sempat membungkus tubuhnya; pagi ini, Devan tampak jauh lebih rileks, meski karisma pemimpinnya tetap tidak berkurang sedikit pun.
Mendengar langkah kaki halus Mentari di tangga, Devan menengadah. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman hangat yang seketika membuat jantung Mentari berdesir hebat.
"Selamat pagi," sapa Devan, suaranya bariton dan terdengar sangat renyah di telinga Mentari. "Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"
Mentari turun ke lantai bawah, membalas senyuman itu dengan sedikit canggung namun tulus. "Selamat pagi. Ya... sangat nyenyak. Sudah lama aku tidak tidur se-relax ini."
Devan menggeser salah satu kursi makan, memberi isyarat agar Mentari duduk. Di atas meja sudah tersedia sarapan lengkap berupa roti panggang, telur, dan buah-buahan segar yang tampaknya dipesan dari restoran hotel bintang lima di bawah apartemen mereka.
"Makanlah yang banyak. Wajahmu masih sedikit pucat karena kejadian kemarin," ujar Devan lembut, seraya meletakkan secangkir teh chamomile hangat di depan Mentari.
Mentari menatap teh tersebut, lalu beralih menatap Devan yang kini duduk di hadapannya. "Devan... tentang apa yang kamu katakan semalam..." Mentari menjeda kalimatnya, meremas jemarinya sendiri dengan ragu. "Tentang pembatalan kontrak itu. Apakah kamu... serius?"
Devan meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat dalam dan intens, menatap lurus ke dalam manik mata Mentari.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Mentari," ujar Devan, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Kertas kontrak itu dibuat saat aku masih dikuasai oleh ego dan rasa benci karena kesalahpahaman masa lalu. Aku ingin mengikatmu di sampingku dengan cara memaksa. Tapi sekarang, setelah aku tahu segalanya... aku tidak ingin kamu berada di sini karena selembar kertas sialan atau karena rasa utang budi."
Devan mengulurkan tangannya di atas meja, meraih jemari Mentari dan menggenggamnya dengan kehangatan yang erat. "Aku ingin kamu berada di sini karena kamu memang menginginkannya. Karena kamu ingin memberiku kesempatan untuk menebus sembilan tahun waktu kita yang hilang."
Air mata haru sempat menggenang di pelupuk mata Mentari, namun ia buru-buru menahannya agar tidak jatuh. Perubahan Devan yang begitu drastis dari seorang monster posesif menjadi pria yang penuh pengertian ini benar-benar meluluhkan seluruh pertahanannya.
"Lalu... bagaimana dengan pekerjaanku di kantor?" tanya Mentari pelan.
"Kamu tetap bekerja di Elvano Group sebagai asisten pribadiku, jika kamu mau," jawab Devan dengan kerlingan mata yang menggoda. "Tapi kali ini dengan gaji profesional yang sah, hak cuti yang jelas, dan... tanpa ada pasal tersembunyi yang melarangmu pulang ke flatmu. Meskipun... aku akan sangat menghargai jika kamu memilih untuk tetap tinggal di penthouse ini."
Mentari terkekeh pelan, rasa canggung di antara mereka perlahan mencair. "Aku akan memikirkannya, Pak CEO."
Siang harinya, suasana di kantor pusat Elvano Group tampak jauh lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya. Berita tentang kebangkrutan Wijaya Group dan penahanan kembali keluarga Bramantyo atas dugaan kasus korupsi baru serta pencucian uang telah menyebar di berbagai media finansial. Devan benar-benar membuktikan ucapannya; ia membersihkan kota ini dari orang-orang yang mencoba mengusik kedamaian mereka.
Mentari sedang merapikan beberapa berkas di mejanya ketika pintu lift privat berdenting terbuka. Sosok Rian melangkah keluar dari dalam lift dengan wajah yang dipenuhi kecemasan. Bos kreatif itu langsung menuju meja Mentari setelah mendapatkan izin akses dari keamanan bawah karena urusan pekerjaan agensi yang mendesak.
"Mentari!" panggil Rian setengah berbisik, matanya memeriksa penampilan Mentari dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu tidak apa-apa? Semalam aku mendengar kabar tentang keributan di Restoran Grand Mahakam. Aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif. Apa si Elvano itu melakukan sesuatu yang buruk padamu?"
Mentari terkejut melihat kehadiran Rian. Ia baru saja hendak menjawab ketika pintu kaca ruang kerja CEO bergeser terbuka dengan suara desingan halus.
Devan Elvano berdiri di ambang pintu. Tatapan matanya seketika menajam begitu melihat Rian yang berdiri terlalu dekat dengan meja Mentari. Aura keposesifan yang sempat mereda pagi tadi mendadak kembali memercik, meski kali ini Devan jauh lebih bisa mengendalikan dirinya.
"Direktur Rian," sapa Devan, suaranya dingin dan berwibawa sembari melangkah mendekat. "Kurasa urusan agensi Anda hari ini adalah menyerahkan laporan akhir analisis proyek, bukan untuk melakukan interogasi pribadi terhadap stafku."
Rian tidak gentar. Ia berbalik menghadapi Devan dengan berani. "Pak Devan, saya menghormati Anda sebagai klien besar agensi kami. Tapi Mentari adalah rekan kerja dan teman baik saya. Saya berhak memastikan dia aman, terutama setelah perlakuan kasar Anda padanya di gala dinner tempo hari."
Suasana di lobi lantai lima puluh itu mendadak kembali menegang. Mentari yang panik buru-buru berdiri di antara kedua pria tersebut.
"Pak Rian, tolong," potong Mentari dengan suara tegas namun tenang. Ia menatap Rian dengan tatapan meyakinkan. "Saya baik-baik saja. Benar-benar baik-baik saja. Pak Devan tidak melakukan hal buruk apa pun. Justru... beliau yang membantu saya menyelesaikan masalah pribadi saya semalam. Semua kesalahpahaman di antara kami sudah selesai."
Rian tertegun mendengar pembelaan Mentari untuk Devan. Ia melirik ke arah Devan, lalu kembali menatap Mentari, menangkap ada binar yang berbeda di mata wanita itu—binar kebahagiaan yang tidak pernah ia lihat selama Mentari bekerja di agensinya. Rian mengembuskan napas panjang, sadar bahwa posisi di hati Mentari sudah sepenuhnya terisi dan tidak ada celah sedikit pun untuk pria lain.
"Baiklah kalau begitu," ujar Rian akhirnya dengan nada pasrah yang sopan. Ia meletakkan dokumen laporan di meja Mentari. "Ini berkas yang Anda minta, Pak Devan. Jika sudah tidak ada urusan lain, saya permisi kembali ke kantor."
Setelah Rian melangkah masuk ke dalam lift dan pergi, Devan berbalik menatap Mentari. Pria itu melipat kedua tangannya di dada, menaikkan satu alisnya dengan ekspresi yang sangat gemas sekaligus posesif.
"Membelaku di depan pria lain, hm?" goda Devan, melangkah mendekati Mentari hingga jarak mereka kembali mengikis. "Kurasa itu adalah tanda bahwa kamu sudah resmi memilih untuk tinggal di sangkar emasku secara sukarela."
Mentari merona merah, wajahnya terasa panas. Ia mendorong dada bidang Devan pelan dengan berkas di tangannya. "Ini masih di kantor, Pak Devan. Tolong jaga profesionalitas Anda."
Devan tertawa rendah, sebuah suara tawa yang begitu lepas dan merdu, menandakan bahwa sang monster kini telah sepenuhnya takluk di bawah pesona cinta sejatinya. Lembaran baru kehidupan mereka telah resmi dimulai, berkilau cerah di bawah langit Jakarta tanpa ada lagi bayang-bayang ketakutan dari masa lalu.