Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Mobil yang membawa Queen berhenti tepat di depan rumah besar bergaya klasik modern di kawasan elite Los Angeles.
Gerbang besi tinggi terbuka perlahan. Rumah itu megah, terlalu megah untuk terasa hangat.
Queen duduk diam beberapa detik di dalam mobil, jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Napasnya belum sepenuhnya stabil sejak ia meninggalkan gedung Percy Group.
Bayangan itu masih ada.
Tatapan dingin itu.
Kalimat terakhir itu.
“Pintunya di sana.”
Queen memejamkan mata sejenak. “Fokus…” bisiknya pelan.
Ia turun dari mobil.
Begitu kakinya menginjak lantai marmer teras depan, pintu utama sudah terbuka.
Seorang wanita paruh baya berdiri di sana.
Elegan. Tegak. Tatapannya tajam.
Ibunya.
“Kau baru pulang?” Nada suaranya tenang.
Queen menelan ludah, lalu memaksakan ekspresi biasa. “Iya, Mom.”
Ibunya melangkah sedikit mendekat. Matanya mengamati dari ujung kepala hingga kaki.
“Semalam kau di mana?”
Langsung. Tanpa basa-basi. Detik itu juga, jantung Queen berdetak lebih cepat. Namun ia sudah tahu—ia tidak boleh ragu.
“Di rumah sepupu,”
Satu detik.
Dua detik.
Tatapan ibunya tidak berubah.
“Sepupu yang mana?”
Queen menarik napas perlahan. “Clarisse.” Nama itu keluar mulus.
Sepupunya yang memang tinggal sendiri di apartemen pusat kota.
Ibunya terdiam sejenak … lalu mengangguk tipis.
“Lain kali beri kabar. Kau bukan anak kecil.”
“Iya, Mom.”
Queen melewatinya masuk ke dalam rumah.
Namun langkahnya terhenti saat suara ayahnya terdengar dari ruang tengah.
“Kebetulan kau sudah pulang.”
Queen menoleh.
Ayahnya duduk di sofa besar, dengan beberapa dokumen di atas meja. Tatapannya langsung mengunci padanya.
“Kita perlu bicara.”
Dan Queen sudah tahu—
topik apa yang akan dibahas.
•••
Ruang keluarga terasa lebih dingin dari biasanya.
Queen duduk tegak, Ibunya di sisi kanan, sementara Ayahnya di depan.
“Pertemuan dengan Tuan Armand sudah dijadwalkan malam ini,” ujar ayahnya tanpa basa-basi.
Queen tidak langsung menjawab, namun rahangnya mengeras.
“Daddy rasa ini waktu yang tepat untuk melanjutkan pembicaraan serius.”
Queen tertawa kecil.
Pendek.
Tidak sopan.
Namun ia tidak peduli.
“Serius?” ulangnya pelan.
Ibunya langsung menoleh tajam. “Jaga sikapmu.”
Queen menarik napas dalam.
Menahan.
Menekan.
Karena di keluarga ini—emosi bukan untuk ditunjukkan.
“Maaf,” ucapnya, meski nada suaranya masih terdengar tegang.
Ayahnya melanjutkan seolah tidak ada gangguan.
“Tuan Armand adalah pria dengan posisi yang sangat baik. Stabil. Berpengaruh.”
Queen menatap lurus ke depan. “Dan tua,” potongnya.
Hening.
Ibunya langsung bersuara, lebih dingin. “Usia bukan masalah.”
“Buat kalian mungkin tidak.” Nada Queen masih terkontrol, tapi jelas … mulai retak.
“Ini bukan tentang perasaan,” lanjut ayahnya, “ini tentang masa depan.”
Queen menatapnya lama, lalu tersenyum tipis.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Bukan masa depanku,” katanya pelan, “tapi masa depan keluarga.”
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka tahu—itu benar.
Siang itu, Queen mengurung diri di kamarnya, namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Pintu diketuk dua kali, lalu terbuka tanpa menunggu jawaban.
“Queen?”
Seorang wanita masuk lebih dulu.
Cantik. Percaya diri. Ekspresinya penuh rasa ingin tahu.
“Clarisse...” gumam Queen.
Di belakangnya, seorang pria ikut masuk. Lebih santai. Senyum tipis di bibirnya.
“Dan kau pasti butuh aku juga,” katanya ringan.
“Kayden.” Queen menghela napas.
Dua sepupunya.
Masalah datang lengkap.
“Kami mendengar kabar besar,” ujar Clarisse, langsung duduk di atas sofa.
“Perjodohan abad ini,” tambah Kayden santai.
Queen memejamkan mata sejenak. “Aku tidak ingin membahasnya.”
“Terlambat,” sahut Clarisse cepat. “Semua orang sudah membahasnya.”
Hening sejenak. Lalu—
“Aku muak.”
Kalimat itu keluar pelan. Tapi cukup untuk membuat keduanya diam.
Queen menatap mereka. Matanya tidak lagi sekadar kesal. Ada sesuatu yang lebih dalam.
“Aku hampir…” ia berhenti, menelan ludah.
Kayden menyipitkan mata. “Hampir apa?”
Queen tertawa kecil. Hampa.
“Aku hampir menyerahkan diriku pada seseorang semalam.”
Sunyi.
Clarisse langsung menegakkan tubuhnya. “Apa?”
“Siapa?” Kayden langsung serius.
Queen mengalihkan pandangannya. “Nial Percy.”
Nama itu jatuh pelan. Namun efeknya—jelas.
“Wait—CEO itu?” Kayden langsung berdiri.
Clarisse menatap Queen tidak percaya. “Kau serius?”
Queen mengangguk pelan. “Aku hampir melakukannya … hanya karena aku ingin lari dari semua ini.”
Tangannya mengepal. “Aku bahkan tidak yakin dengan diriku sendiri saat itu.”
Hening panjang memenuhi ruangan. Clarisse menatapnya, kali ini tidak menghakimi. “Dan kau tidak jadi?”
Queen menggeleng. “Aku … malah tertidur.”
Satu detik.
Kayden menatapnya. Lalu—
"Hahahaha!"
Tawa Kayden pecah.
“Kayden!” Clarisse menegurnya.
“Maaf, Queen. Tapi aku harus bilang ini—itu … tragis sekaligus lucu.”
Queen menutup wajahnya. “Aku tahu, jangan diingatkan…”
•••
Malam itu, ballroom hotel tampak berkilau di bawah cahaya lampu kristal. Semuanya sempurna dan justru itu yang membuat Queen merasa semakin terjebak.
Ia berdiri di sisi orang tuanya, tubuhnya tegak, dagunya sedikit terangkat—sebuah sikap yang sudah diajarkan sejak kecil.
Tenang.
Anggun.
Terkendali.
Meski di dalam … semuanya berantakan.
“Dia datang,” bisik ibunya pelan.
Queen menoleh.
Seorang pria berjalan mendekat.
Tua, botak, wajahnya penuh garis usia—Dan saat ia tersenyum, entah kenapa perut Queen langsung terasa bergejolak.
Di sampingnya—seorang anak kecil memanggil, “Grandpa!”
Queen membeku.
“Itu… cucunya?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Ibunya tidak menjawab, karena tidak perlu. Jawabannya sudah jelas.
Dunia Queen terasa berputar. “Ini gila…” gumamnya.
Namun senyum tetap harus ada. Itu aturan.
“Queen,” ujar ayah Queen, nada suaranya formal, “ini Tuan Armand.”
Pria itu berhenti tepat di hadapannya.
Tatapannya turun-naik, menilai tanpa berusaha menyembunyikannya.
“Ah … jadi ini calon istriku.” Nada suaranya berat. Lambat. Penuh kepastian yang membuat Queen ingin mundur satu langkah. Namun ia tidak bisa.
Ia tidak boleh.
Tangan Tuan Armand terulur. Queen ragu sepersekian detik—lalu meletakkan tangannya di sana.
Dalam sekejap—pria itu menarik tangannya lebih dekat.
Queen belum sempat bereaksi ketika punggung tangannya diangkat—
dan disentuh oleh bibirnya.
Cup!
Ciuman singkat namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Queen menegang. Rasa mual naik begitu cepat, hampir seperti refleks yang tidak bisa ia tahan. Napasnya tercekat. Dan suara kecil—nyaris seperti hendak muntah—hampir lolos dari tenggorokannya.
Ia langsung menarik tangannya. Terlalu cepat untuk disebut anggun.
“Maaf…” ucapnya buru-buru, suaranya sedikit bergetar. “Aku … aku izin ke toilet sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban.
Tanpa menatap siapa pun.
Queen berbalik.
Begitu sampai di toilet dan pintu tertutup di belakangnya—semua yang ia tahan runtuh.
Queen mencengkeram wastafel. Napasnya terengah.
“Ya Tuhan…”
Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak bisa…” bisiknya pelan. Tangannya gemetar. "Aku harus kabur."
Pikiran itu muncul tanpa ragu.
Queen menegakkan tubuhnya perlahan.
Menatap dirinya sendiri sekali lagi.
Lalu tanpa berpikir dua kali—
ia berbalik.
Bukan ke arah ballroom.
Tapi ke arah lain.
•••
“Cari dia!” Suara pengawal terdengar dari luar.
Queen panik. Napasnya memburu saat ia mendorong pintu belakang hotel yang jarang digunakan.
Udara malam langsung menyambutnya—dingin, kontras dengan panas yang sejak tadi menekan dadanya.
Sepatunya beradu cepat dengan lantai. Langkahnya tidak teratur. Ia bahkan tidak tahu ke mana harus pergi. Yang ia tahu hanya satu—keluar.
“Dia ke arah sana!”
Suara itu terdengar dari kejauhan.
Jantung Queen seperti jatuh. Ia menoleh sekilas—
bayangan beberapa pria dengan setelan hitam mulai menyebar, mencari.
“Shit…” umpatnya, pelan.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menyeberang jalan.
Lampu kota Los Angeles berpendar terang, mobil-mobil berlalu lalang, klakson terdengar samar—namun semuanya terasa seperti latar belakang yang kabur.
Fokusnya hanya satu—bersembunyi.
Ia melihat sebuah restoran di seberang jalan. Tanpa ragu, Queen langsung masuk. Pintu kaca terbuka—
bunyi lonceng kecil terdengar.
Ia masuk cepat, menunduk sedikit, berusaha menyamarkan diri di antara pengunjung.
Napasnya masih tidak beraturan.
Matanya bergerak cepat, mencari sudut.
Tempat aman. Namun—langkahnya terhenti.
Di luar.
Tepat di depan restoran.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti.
Jantung Queen langsung berdegup lebih keras.
Tidak mungkin. Namun saat pintu mobil itu terbuka sedikit—ia melihatnya.
Nial.
Duduk di dalam. Rapi. Tenang. Seperti biasa. Dan—
tidak sendiri.
Seorang wanita duduk di sampingnya sambil tertawa bahagia.
Sesuatu di dalam dada Queen terasa tertarik. Tidak nyaman. Namun bukan itu yang paling kuat. Yang paling kuat adalah—kesempatan.
Ia menoleh ke belakang. Para pengawal mulai mendekat ke arah restoran.
Waktu habis.
Tanpa memberi dirinya kesempatan untuk berpikir dua kali—Queen bergerak cepat. Mendorong pintu restoran lagi—dan langsung berlari ke arah mobil itu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Jarak semakin dekat.
Dan saat salah satu pengawal hampir melihatnya—
Queen membuka pintu mobil Nial dengan kasar.
“Hey—!” Suara wanita itu langsung terdengar. Namun Queen tidak peduli. Ia langsung masuk, menutup pintu dengan cepat—
dan tanpa ragu—duduk tepat di pangkuan Nial.
Tangannya langsung mencengkeram jas pria itu.
Matanya menatapnya—campuran panik, takut, dan sesuatu yang lain.
“Tolong aku…”
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰